Di usianya yang baru 25 tahun, Inayah Putri adalah gabungan sempurna antara kecerobohan, ketomboyan, dan kejeniusan. Ide-ide cemerlangnya sukses mengguncang perusahaan papan atas, melejitkan karier dan gajinya secara instan.
Sayang, sukses di dunia kerja tak sebanding dengan percintaannya. Bertahun-tahun berkorban demi Pasya, Inayah justru menerima kenyataan pahit saat tak sengaja mendengar percakapan Pasya dan ibunya, yang menganggapnya "ATM berjalan". Janji pertunangan dan pernikahan yang diimpikan hanyalah kebohongan belaka.
Dalam keputusasaan di tepi pantai, matanya tertuju pada Abiyan Zimraan, pria misterius berkursi roda yang dikiranya hendak bunuh diri. Tepat ketika ibunya mendesak untuk segera menikah dan Inayah menolak untuk kembali pada Pasya, ia membuat keputusan ternekat dalam hidupnya.
Menatap Abiyan, meski lumpuh tapi memiliki ketampanan memikat, Inayah berpikir: "pria ini seribu kali lebih berharga dibanding pengkhianat seperti Pasya." Tanpa ragu, Inayah melamarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KENYATAAN YANG PAHIT.
"Ide gila macam apa ini, Inayah?!"
Suara berat Pak Budi Santoso, Direktur Eksekutif PT Nusantara Karya, menggelegar di ruang rapat utama lantai dua belas. Seluruh jajaran manajer senior menahan napas. Suasana seketika menjadi dingin, seolah AC di ruangan itu mendadak diturunkan hingga titik beku.
Di tengah kepungan tatapan tegang para petinggi berkemeja rapi, seorang gadis berusia dua puluh lima tahun berdiri santai dengan kemeja oversize biru muda dan celana bahan yang sedikit kedodoran. memakai hijab berwarna senada dengan bajunya.
Gadis itu adalah Inayah Putri.
Inayah sama sekali tidak gentar. Ia justru menyunggingkan senyum tipis, lalu memutar spidol papan tulis di jarinya dengan lihai.
"Bukan gila, Pak Budi, tapi efisien," sahut Inayah santai. Suaranya nyaring, penuh percaya diri, dengan nada cerewet yang khas. "Kalau kita tetap pakai strategi lama dari Tim Pemasaran yang membosankan itu, perusahaan cuma bakal buang-buang anggaran lima ratus juta untuk promosi yang dilewati orang dalam tiga detik di media sosial."
Inayah melangkah mendekati layar proyektor, menyadap papan presentasi dengan spidolnya.
"Tapi kalau pakai konsep interaktif yang saya ajukan, kita cuma butuh separuh dari anggaran itu. Target pasar anak muda langsung kena, konversi penjualan naik tiga kali lipat dalam satu bulan. Kalau strategi saya gagal dalam dua minggu, potong gaji saya seratus persen. Tapi kalau berhasil..." Inayah menggantung kalimatnya, menatap Pak Budi tepat di manik mata, "...saya minta promosi jabatan sebagai Kepala Tim Kreatif muda."
Seisi ruangan berbisik-bisik. Beberapa manajer menggeleng heran melihat ketengilan gadis muda itu. Namun, Pak Budi diam menatap slide presentasi Inayah. Ide itu memang terkesan tidak masuk akal di awal, tapi setelah dipikirkan, logic dan kalkulasinya sangat presisi.
Dua minggu kemudian, prediksi Inayah terbukti tepat sasaran.
Strategi yang ia rancang viral di mana-mana. Angka penjualan produk baru melonjak drastis. Di usianya yang baru dua puluh lima tahun, Inayah Putri resmi diangkat menjadi Kepala Tim Kreatif termuda dalam sejarah perusahaan, lengkap dengan kenaikan gaji yang membuat rekening perbankannya makin tebal.
"Kamu ini memang ceroboh kalau bawa dokumen, tapi otaknya encer sekali, Inayah," puji Pak Budi sambil menandatangani surat kenaikan jabatannya pagi itu.
Hari itu, Inayah merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia. Langkah kakinya terasa ringan menyusuri lorong kantor. Kecerobohannya sempat kumat saat ia hampir tersandung kepingan karpet dan menjatuhkan tumpukan berkas, tetapi tawa riangnya mengalahkan rasa malu.
Gaji naik, jabatan aman. Sekarang waktunya kasih kejutan buat Pasya, batin Inayah dengan mata berbinar.
Pasya Samuel adalah kekasihnya selama tiga tahun terakhir. Pria itu tampan, lembut, dan selalu menjadi tempat Inayah bersandar saat ia lelah. Untuk mendukung karier Pasya yang masih merangkak, Inayah tak pernah perhitungan. Ia menyewakan apartemen yang layak, membiayai cicilan mobil atas nama Pasya, bahkan rutin mengirimkan uang saku untuk ibu Pasya setiap bulan. Bagi Inayah, berkorban demi calon suami adalah hal yang wajar.
Sore itu, Inayah membawa kantong plastik berisi makanan favorit Pasya dan sebuah kue tart kecil untuk merayakan promosinya, Inayah mendatangi rumah orang tua Pasya. Ia sengaja tidak memberi kabar agar jadi kejutan.
Pagar rumah tidak terkunci. Inayah melangkah jinjit melewati halaman depan yang asri. Pintu kayu berukir itu sedikit terbuka, menyisakan celah beberapa senti.
Inayah baru saja hendak mengetuk pintu sambil berseru gembira saat suara percakapan dari dalam ruang tamu menghentikan gerakannya.
"Pasya, kamu harus tegas sama Inayah. Minta dia ganti mobilmu dengan keluaran terbaru. Katanya dia baru saja dapat bonus besar dari kantornya?" Itu suara Bu Rika, ibu Pasya, bersuara tajam dan menuntut.
Inayah mengurungkan niatnya mengetuk. Dahi gadis itu berkerut.
"Ibu tenang saja," jawab suara Pasya. Nada suaranya terdengar sangat santai, jauh dari kesan pria lembut yang selama ini Inayah kenal. "Inayah itu gampang diatur. Asal Pasya manis-manisin sedikit, puji-puji sedikit, dia pasti langsung keluarin uang. Dia kan makin cinta sama Pasya."
Tawa pelan Rika terdengar mendengung di telinga Inayah. "Bagus kalau begitu. Tapi ingat ya, Pasya, jangan cepat-cepat turuti mau dia untuk tunangan, apalagi nikah. Tunda terus kasih alasannya."
"Lho, kenapa begitu, Bu? Kasihan juga Inayah, dia sudah sering nanya kapan Pasya mau melamar," sahut Pasya.
"Kamu ini bodoh atau pura-pura polos?!" tegas Rika dengan nada jengkel. "Kalau kamu nikahi dia sekarang, uangnya bakal diatur sama dia. Kalau cuma pacaran begini, dia merasa punya kewajiban buat senangkan kamu. Biarkan saja dia jadi ATM berjalan kita dulu! Cicilan rumah Ibu, cicilan mobil kamu, belum lagi uang belanja bulanan. Begitu dia sudah tidak berguna atau karirnya meredup, baru kamu cari wanita lain dari keluarga terpandang yang lebih anggun, bukan gadis tomboy dan cerewet seperti dia."
Di luar pintu, jemari Inayah yang memegang kantong plastik gemetar hebat.
Kue tart di tangannya terlepas, jatuh menghantam lantai semen dengan bunyi mendarat yang kusam. Kantong makanan terlepas dari genggamannya.
Darah dalam tubuh Inayah serasa berhenti mengalir. Tenggorokannya mencekat, dingin merambat dari telapak kaki hingga ke puncak kepalanya. Kata-kata itu... ATM berjalan? Hanya dimanfaatkan?
Bertahun-tahun ia memeras otak hingga larut malam, membanting tulang di perusahaan, dan menghemat belanjaan pribadinya hanya demi memastikan Pasya dan ibunya hidup nyaman. Semua pengorbanan, rasa cinta, dan impian masa depannya runtuh dalam sekejap mata.
"Siapa di luar?!" suara Pasya terdengar kaget dari dalam, menyadari ada suara benda jatuh di depan pintu.
Pintu depan terdorong lebar. Pasya berdiri di sana, terkejut setengah mati mendapati Inayah berdiri mematung di ambang pintu. Di bawah kaki gadis itu, kue tart bertuliskan 'Selamat Promosi, Sayang' sudah hancur berantakan.
"In-Inayah?" Wajah Pasya seketika pucat pasi. "Kamu... sejak kapan berdiri di situ?"
Bu Rika ikut menyusul ke depan. Wajah wanita paruh baya itu sempat menyiratkan kepanikan, namun dengan cepat ia merubah raut mukanya menjadi dingin dan acuh tak acuh.
Inayah perlahan menengadahkan kepalanya. Matanya yang biasanya memancarkan binar ceria dan kejahilan, kini meredup total. Tak ada air mata yang menetes. Kehangatan dan kepolosan dalam diri gadis dua puluh lima tahun itu menguap habis, digantikan oleh bara amarah yang membakar habis sisa rasa cintanya.
Inayah menyunggingkan senyum, bukan senyum manis yang biasa Pasya lihat, melainkan senyuman penuh keangkuhan dan kejam yang sanggup membuat bulu kuduk siapa pun berdiri.
"ATM berjalan, ya?" kata Inayah lirih, suaranya begitu tenang namun sarat akan ancaman.
Ia maju satu langkah, menatap Pasya dan ibunya bergantian dengan tatapan menelisik yang dingin.
"Rupanya selama ini aku sedang memelihara dua ekor parasit di rumah ini."
Bersambung...