Yamada adalah seorang jenius.
Ia mampu memahami hampir segala sesuatu dengan cepat—akademik, olahraga, teknologi, strategi, bahkan berbagai keterampilan yang dianggap sulit oleh orang lain.
Masalahnya hanya satu.
Dia terlalu malas untuk menggunakannya.
Bagi Yamada, hidup yang ideal hanyalah hidup tenang tanpa masalah.
Tidak perlu menjadi nomor satu.
Tidak perlu mendapat perhatian.
Tidak perlu berusaha lebih keras dari yang diperlukan.
Sampai suatu hari, kehidupannya berakhir.
Ketika membuka mata kembali, Yamada mendapati dirinya berada di dunia yang tidak pernah ia kenal.
Lebih aneh lagi, ia tidak terlahir sebagai bayi.
Ia terbangun dalam tubuh seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun.
Tubuh itu memiliki kehidupan, keluarga, kenangan, dan sebuah rahasia yang tidak diketahui Yamada.
Kemudian sebuah suara terdengar di kepalanya.
[System Initialization.]
[Host detected.]
[Synchronization rate: 17%.]
[Warning.]
[This body already possesses an owner.]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardyan1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5,1
Yamada memiringkan kepala, menatap api itu dengan tatapan malas.
"Jadi? Sepuluh menit itu sudah cukup lama. Bukunya tipis. Kalau bukunya setebal kamus, mungkin butuh dua puluh menit."
Bagaimana bisa?! Bagaimana caranya?! Apa kau sudah bisa sihir dari kehidupan sebelumnya?!
Yamada berpikir sejenak, mencari jawaban yang paling jujur dan paling malas.
"Sepertinya sihir tidak terlalu sulit. Hanya butuh pemahaman pola. Dan kebetulan, aku cukup bagus dalam melihat pola. Apalagi kalau polanya membantuku untuk jadi lebih malas. Misalnya, daripada harus cari korek api, lebih mudah buat api sendiri dari mana."
Pemilik tubuh terdiam cukup lama. Sangat lama. Api kecil di atas kertas itu masih menari-nari, memantulkan cahayanya di mata Yamada.
Kemudian berkata pelan, dengan nada yang campuran antara kagum, takut, dan pasrah.
"Kau... kau monster."
Yamada tersenyum, senyum yang benar-benar tulus untuk pertama kalinya. Dia mematikan api itu dengan menjentikkan jarinya, dan api itu hilang menjadi asap tipis.
"Mungkin. Tapi monster yang malas. Jadi tidak terlalu berbahaya."
Api kecil itu padam, meninggalkan sedikit bekas hangus melingkar di atas kertas.
Namun sebelum Yamada sempat melanjutkan eksperimennya, sebelum dia sempat mencoba membuat lingkaran untuk elemen air agar bisa minum tanpa harus berjalan ke dapur—
[Skill acquired.]
Suara mekanis itu muncul lagi. Lebih keras, lebih jelas dari sebelumnya.
Yamada membeku. Tangannya yang masih memegang arang berhenti di udara.
Jendela sistem muncul, kali ini dengan warna yang berbeda, warna keemasan yang berkilauan.
[Skill: Basic Magic Analysis - Lv. 1]
[Skill proficiency: 1%]
[Description: Kemampuan untuk menganalisis, memahami, dan mereplikasi struktur lingkaran sihir dasar dengan kecepatan tinggi.]
Yamada menatap tulisan tersebut, dengan alis terangkat.
"Skill? Jadi aku dapat skill hanya karena menggambar satu lingkaran?"
[Skill acquired through understanding and successful execution.]
[Your trait [Lazy Genius] has accelerated skill acquisition.]
Yamada menyipitkan mata, menatap jendela transparan itu dengan tatapan curiga yang baru, teringat tulisan di kristal tadi.
"Jadi sistem memberiku skill? Begitu saja?"
[Affirmative. Skill is a reward for learning.]
"Apakah skill ini memang muncul karena aku mempelajari sihir? Atau karena kau ingin aku mempelajarinya?" Yamada bertanya, dengan nada yang lebih tajam. Pertanyaan jebakan.
[Affirmative. Skill is a result of host action.]
Yamada terdiam. Jawaban itu terlalu normatif, terlalu aman.
Kemudian dia bertanya, pertanyaan yang paling penting,
"Kalau begitu, apa yang dimaksud dengan Lazy Genius? Jelaskan lebih detail. Jangan kasih deskripsi singkat seperti di toko."
[Unique Trait: Lazy Genius]
"Kenapa aku punya trait itu? Kenapa namanya seperti itu?"
[Host possesses abnormal learning efficiency that defies common logic. Host subconsciously seeks the most efficient, least energy-consuming path to solve any problem.]
"Seberapa abnormal? Seberapa efisien?" Yamada mendesak.
Sistem tidak langsung menjawab. Jendela itu berkedip-kedip selama beberapa detik, seolah-olah sedang menghitung, atau sedang mencari alasan.
Beberapa detik kemudian, tulisan baru muncul.
[Insufficient data for precise calculation. Further observation required.]
Yamada tersenyum, senyum tipis yang penuh arti. Senyum seorang pemalas yang baru saja menemukan celah dalam argumen lawan.
"Menarik."
Apa yang menarik? Tanya Yamada yang asli, yang masih belum pulih dari keterkejutan melihat sihir.
"Dia tidak bisa menjawab semuanya." Jawab Yamada, menatap jendela sistem itu lekat-lekat. "Dia bilang insufficient data."
Siapa?
"Sistem." Yamada mengulurkan tangan dan mencoba menyentuh jendela transparan itu, tapi tangannya menembusnya. "Kalau sistem benar-benar mahatahu, mahakuasa, yang mengirimku ke dunia ini, seharusnya dia bisa menjawab seberapa abnormal kemampuanku. Dia tahu segalanya tentang tubuh ini, kan? Dia tahu ada dua jiwa. Tapi dia tidak tahu batas kemampuanku sendiri?"
Jadi kau mulai tidak mempercayainya? Tanya suara itu, dengan nada hati-hati.
"Belum." Yamada menggeleng, mematikan jendela sistem dengan kibasan tangan. "Aku hanya tidak akan mempercayai sesuatu tanpa bukti yang jelas. Tulisan di kristal bilang 'Jangan percaya sistem'. Tapi tulisan itu sendiri juga belum ada buktinya siapa yang menulis. Jadi untuk sekarang, aku tidak akan percaya 100% pada sistem, dan juga tidak akan percaya 100% pada tulisan di kristal itu. Aku hanya percaya pada apa yang kulihat dan kulakukan sendiri. Seperti api tadi."
Malam tiba dengan cepat.
Setelah makan malam yang canggung bersama keluarganya— di mana ibunya terus-menerus menambahkan lauk ke piringnya dengan senyum khawatir, dan ayahnya hanya diam mengamati setiap gerak-geriknya dari balik meja— Yamada kembali ke kamar.
Kali ini dia membawa sebuah buku yang berbeda dari rak buku. Bukan buku sihir, tapi buku yang jauh lebih tebal dan berat.
Judulnya, terukir dengan huruf emas yang sudah agak pudar di sampul kulitnya:
Sejarah Kerajaan Asteria dan Benua Arkania - Edisi Lengkap
Yamada menyalakan lampu minyak kecil di atas meja dan membaca perlahan, dengan lebih serius daripada saat membaca buku sihir tadi.
Kerajaan Asteria. Salah satu dari Tujuh Kerajaan Besar di Benua Arkania. Kerajaan manusia yang terletak di bagian selatan benua, terkenal dengan hasil pertaniannya yang subur dan kesatria sihirnya yang kuat.
Benua Arkania. Benua yang sangat luas, terdiri dari pegunungan beku di utara, gurun pasir tak berujung di timur, hutan terlarang di barat, dan lautan badai di selatan.
Tujuh kerajaan besar yang saling bersaing dan bersekutu, dengan politik yang rumit.
Ras manusia yang merupakan ras mayoritas, tapi bukan satu-satunya.
Elf, yang hidup ratusan tahun di dalam Hutan Suci mereka, dengan telinga panjang dan sihir alam yang indah.
Dwarf, pengrajin ulung yang tinggal di dalam gunung, pembuat senjata dan kristal terbaik.
Beastfolk, manusia setengah hewan dengan kekuatan fisik luar biasa, yang tinggal di dataran savana.
Dan berbagai monster yang hidup di luar wilayah manusia, di dalam dungeon, di dalam hutan terlarang, di dalam jurang kegelapan, yang setiap saat bisa menyerang desa-desa perbatasan.
Sihir merupakan sesuatu yang umum di dunia ini. Bukan hal langka seperti di cerita-cerita. Hampir semua orang memiliki sedikit mana, tapi hanya sedikit yang bisa menggunakannya menjadi sihir. Para penyihir memiliki tingkatan, dari Apprentice hingga Archmage.
Pendekar memiliki tingkatan, dari Pedang Kayu hingga Pedang Suci.
Bahkan petualang yang menjelajahi dungeon memiliki sistem peringkat, dari Rank F yang paling rendah hingga Rank S yang legendaris.
Yamada membaca semuanya, halaman demi halaman, dengan mata yang semakin menyala karena informasi.
Semakin lama dia membaca, semakin dia menyadari satu hal yang membuat rasa malasnya sedikit terusik oleh rasa kagum.
Dunia ini jauh lebih besar, jauh lebih rumit, dan jauh lebih berbahaya daripada dunia lamanya yang hanya berisi sekolah, tugas, dan toko kelontong dengan roti krim vanilla.
Namun ada satu bagian di dalam buku itu, di Bab 12, yang menarik perhatiannya lebih dari bagian lain, yang membuatnya berhenti membaca dan menahan napas.
Judul bab itu adalah: Wilayah Terlarang dan Anomali Mana.
Dan sub-judulnya adalah: Hutan Elaria.
Yamada berhenti membaca sejenak, menyesuaikan posisi duduknya, dan melanjutkan dengan lebih pelan.
Itu adalah hutan tempat tubuh ini ditemukan dua hari lalu, dalam keadaan koma, di dalam lingkaran sihir.
Menurut buku, Hutan Elaria merupakan salah satu dari tiga wilayah terlarang di Kerajaan Asteria, bersama dengan Jurang Kegelapan dan Puncak Beku Abadi.
Bukan karena seluruh wilayahnya berbahaya dan penuh monster Rank A. Bagian luar hutan sebenarnya relatif aman, banyak penduduk desa yang mencari jamur dan kayu bakar di sana.
Melainkan karena...
tidak ada yang tahu apa yang berada di pusat hutan.
Tulisan itu tercetak tebal.
Bahkan ekspedisi yang dipimpin oleh tiga Archmage dan sepuluh Kesatria Sihir Rank S dari kerajaan tidak pernah berhasil kembali dari pusat Hutan Elaria. Kompas tidak berfungsi di dalamnya. Sihir pemetaan gagal. Bahkan waktu pun dikatakan berjalan dengan aneh di dalamnya. Semua yang masuk terlalu dalam, tidak pernah kembali dengan ingatan yang utuh. Mereka yang beruntung kembali dalam keadaan gila, menggumamkan satu kata yang sama: "Mata".
Yamada menutup buku itu perlahan, dengan suara 'buk' yang pelan tapi berat.
Ayah melarangku pergi ke sana.
Dan aku ditemukan di sana, di tengah lingkaran sihir yang bahkan sistem tidak bisa menganalisis sepenuhnya.
Semuanya mulai terhubung, membentuk sebuah pola yang tidak menyenangkan.
Yamada berdiri. Dia berjalan menuju jendela kamarnya yang terbuka sedikit. Angin malam yang dingin masuk, membawa aroma tanah basah dan aroma hutan yang jauh.
Bulan terlihat di langit, bulan purnama yang besar dan pucat, menerangi atap-atap rumah desa dan ujung Hutan Elaria yang terlihat hitam pekat di kejauhan.
"Kalau aku ingin tahu apa yang terjadi... apa yang terjadi padaku, pada tubuh ini, pada dua jiwa ini..." Dia menatap jauh ke arah hutan hitam itu, ke arah tempat yang dilarang oleh ayahnya, oleh buku sejarah, oleh kerajaan.
"...aku harus pergi ke sana. Aku harus kembali ke tempat di mana aku ditemukan. Jawabannya ada di sana."
Tidak.
Suara pemilik tubuh yang asli langsung terdengar, dengan nada yang sangat keras, sangat tegas, penuh ketakutan yang mendalam. Ketakutan yang jauh lebih besar daripada saat dia tahu ada dua jiwa di dalam tubuhnya.
Yamada mengerutkan kening, terkejut dengan reaksi keras itu.
"Kenapa? Kenapa tidak boleh? Kau kan juga ingin tahu apa yang terjadi padamu?"
Karena aku ingat sesuatu. Suara itu bergetar, seperti anak kecil yang kedinginan. Sesuatu yang baru saja kembali... setelah kau membaca buku itu.
Yamada terdiam, memberi ruang bagi jiwa lain itu untuk berbicara.
"Apa? Apa yang kau ingat?"
Saat aku berada di hutan itu... saat cahaya itu muncul dan semuanya menjadi putih...
Suara tersebut bergetar semakin keras, hampir tidak bisa membentuk kata-kata.
Ada seseorang. Seseorang berdiri di dalam lingkaran itu bersamaku.
"Siapa? Temanmu? Reno?"
Aku tidak tahu. Aku tidak bisa melihat wajahnya. Semuanya terlalu terang. Tapi... tapi dia bukan Reno. Bukan Mira. Bukan Jio.
"Seperti apa? Apa yang dia lakukan?"
Hening. Keheningan yang panjang dan penuh perjuangan untuk mengingat.
Kemudian— dengan suara yang hampir tidak terdengar, seperti bisikan dari dasar sumur yang dalam—
Dia memanggil namaku. Dia tahu namaku. Padahal aku belum pernah bertemu dengannya.
Yamada merasakan bulu kuduknya berdiri, dari tengkuk hingga ke lengan. Angin malam yang masuk dari jendela tiba-tiba terasa jauh lebih dingin.
"Namamu? Yamada?"
Ya.
"Apa yang dia katakan? Apa yang dia katakan padamu?"
Suara itu semakin pelan, semakin pelan, seolah-olah pemiliknya takut bahwa 'seseorang' itu masih bisa mendengarnya bahkan dari dalam ingatan.
Dia berkata...
Yamada menunggu, menahan napas, menatap kegelapan Hutan Elaria di kejauhan.
'Akhirnya kau kembali.'
Satu kalimat. Empat kata.
Yamada tidak berbicara. Otaknya yang biasanya mencari jalan pintas paling malas, kini dipaksa bekerja keras mencerna kalimat itu. Akhirnya kau kembali. Berarti pemilik tubuh ini pernah pergi dan sekarang kembali? Atau berarti jiwa Yamada yang pendatang yang akhirnya kembali? Kembali ke mana?
Angin malam masuk melalui celah jendela, menggoyangkan lampu minyak kecil di atas meja, membuat bayangan di kamar itu menari-nari.
Dan tepat pada saat itu— tepat saat kalimat "Akhirnya kau kembali" itu masih menggema di dalam kepala mereka berdua—
[System notification.]
Suara mekanis itu muncul lagi, memecah keheningan malam dengan bunyi 'ding' yang nyaring.
[Hidden Quest detected.]
[Condition met: Host has remembered the location of origin.]
Yamada menatap tulisan tersebut, yang muncul dengan warna ungu, warna yang belum pernah dia lihat sebelumnya dari sistem.
[Hidden Quest: Return to Elaria]
Objective: Return to the location where the host was discovered - The Center Circle of Elaria Forest.
Reward: Unknown.
Failure: Unknown.
Penalty for Refusal: Synchronization -10%
Yamada tersenyum tipis, senyum yang dipaksakan, senyum yang terlihat lebih seperti seringai kaku di bawah cahaya bulan.
"Sepertinya..." Dia menatap hutan yang jauh di luar jendela, hutan hitam yang memanggilnya. "...aku memang harus kembali. Sistem pun menyuruhku kembali. Dia bahkan mengancam mengurangi sinkronisasi kalau aku menolak."
Kemudian, tepat di bawah quest ungu itu, satu kalimat tambahan muncul. Kalimat dengan warna merah darah yang sama seperti peringatan penolakan tubuh tadi, dengan font yang lebih kecil, hampir seperti bisikan.
[Warning: Do not trust the second consciousness. He is not who you think he is.]
Yamada terdiam. Senyum tipisnya perlahan menghilang, terkikis habis oleh kalimat terakhir itu.
Perlahan dia menghapus senyumnya, wajahnya kembali datar, pucat di bawah cahaya bulan.
Di dalam pikirannya, suara pemilik tubuh yang asli juga tidak berkata apa-apa. Tidak ada protes, tidak ada pertanyaan "apa maksudnya?". Hanya keheningan yang mematikan, keheningan yang penuh dengan rasa dikhianati.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu di dalam kegelapan...
kedua Yamada yang berbagi satu nama, satu tubuh, satu takdir...
saling mencurigai.
Dan tidak satu pun dari mereka tahu
siapa yang sebenarnya sedang dibohongi. Apakah sistem yang berbohong, atau tulisan di kristal yang berbohong, atau ingatan itu sendiri yang berbohong.