Dia bukan siapa-siapa di keluarganya sendiri. Dihina, dipukul, dan dianggap sampah oleh adik kandungnya sendiri, Su Yu hanya punya satu harga diri tersisa: kepatuhan. Ketika ia diperintahkan masuk ke Hutan Kelabu yang mematikan untuk mencari Tanduk Rusa Malam, ia tidak punya pilihan selain menurut.
Namun di dalam hutan, ia menyaksikan pertarungan antara dua makhluk dahsyat yang seharusnya tidak pernah ia lihat. Ketika seorang peri cantik terjatuh tak berdaya di hadapannya, Su Yu dihadapkan pada pilihan sederhana: pergi menyelamatkan diri, atau mempertaruhkan nyawanya untuk orang asing.
Ia memilih yang kedua.
Tanpa disadarinya, satu tindakan kecil itu akan mengubah takdirnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Sumpah Pernikahan
Cangle menarik napas perlahan, kemudian mulai menceritakan.
"Di Benua Langit, seorang anak yang lahir tanpa pernikahan akan dipandang hina. Aturan itu tidak membedakan apakah ayahnya rakyat biasa atau pemimpin sekte dan klan besar. Bahkan jika darah yang mengalir dalam tubuh anak itu berasal dari keluarga terhormat... dia tetap akan menjadi bahan celaan."
Su Yu mengernyitkan dahi.
Cangle melihat reaksinya, tangannya mengepalkan erat. "Terlebih lagi jika seorang wanita dari klan besar kehilangan kehormatannya sebelum menikah... aib itu tidak akan mudah dilupakan. Ia akan terus dihina, dan keluarganya pun akan ikut menanggung malu."
Mendengar kalimat terakhir itu, tubuh Su Yu menegang. Pengalaman bertahun-tahun menerima hinaan membuatnya memahami beratnya perkataan tersebut tanpa perlu penjelasan lebih jauh.
"Aduh..." Su Yu memijat dahinya, kemudian menghela napas. "Itu terdengar mengerikan nona... tetapi siapa wanita yang tidak beruntung itu? Kasihan sekali dia."
Peri Cangle membeku mendengar jawaban itu.
Jari-jarinya mengepal semakin kuat. Wajahnya merengut sebelum tangannya menghantam permukaan batu.
BRAK!
Permukaan batu retak cukup lebar di bawah telapak tangannya.
"Sial... dasar tidak peka!" gerutu Cangle.
Su Yu sontak membelalak. Ia memandang retakan di batu, kemudian beralih kepada Cangle yang kini memalingkan wajah sambil menyilangkan kedua lengannya di depan dada.
"Jangan-jangan..." gumam Su Yu.
Ia terdiam beberapa saat. Pandangannya bergerak dari wajah Cangle menuju tangannya yang masih terlipat, lalu kembali kepada wajah wanita itu. Sedikit demi sedikit, perkataan yang baru saja didengarnya mulai tersusun dalam pikirannya.
"Maaf, Nona..." Su Yu menggaruk pipinya. "Saya mengerti sekarang. Nona ingin kita menikah... agar perkara seperti itu tidak menimpa Nona. Benar begitu?"
Peri Cangle langsung menoleh.
"Ha?" alisnya terangkat. "Kau terlalu percaya diri, Su Yu... bagaimana bisa kau berpikir aku ingin menikah denganmu? Tidak tahu diri."
Su Yu berkedip beberapa kali. "Kalau begitu... mungkin saya salah menebak."
"Tunggu dulu... jika kau memang memaksa, maka aku juga tidak punya pilihan."
Su Yu menatapnya dengan wajah heran.
Cangle melanjutkan dengan dagu sedikit terangkat. "Aku hanya tidak ingin jalan kultivasimu menjadi lambat karena bayangan penyesalan, akibat tidak menikah denganku. Kalau hal itu sampai terjadi... aku juga akan menyesal karena pernah merelakan Esensi Kunpeng jatuh ke tanganmu."
Su Yu menundukkan kepala sebentar untuk menyembunyikan senyum geli yang muncul di wajahnya. Kemudian ia menatap wanita itu sembari mengangguk.
"Itu benar nona... saya memang sangat memaksa. Semua ini demi perkembangan kunpeng."
"Hmph..."
Cangle mendengus, lalu mengangkat satu tangan. Jarinya bergerak lembut ke depan.
SWISH!
Sebongkah kristal besar yang berdiri tidak jauh dari mereka terbelah menjadi dua.
Kemudian potongan kristal itu melayang mendekat, bergerak melewati udara dengan kendali Cangle, lalu berhenti tepat di antara mereka, membentuk meja dengan permukaan yang halus.
Cangle kemudian menjentikkan jarinya.
Tak!
Dari dalam cincin ruang, dua cawan merah dan satu kendi muncul. Ia mengarahkan jarinya sedikit, membuat ketiga benda itu turun perlahan hingga berada di atas meja kristal.
Setelah itu, Cangle membuka kendi dan menuangkan arak ke dalam kedua cawan. Setelah memastikan isinya cukup, ia mengangkat pandangan kepada Su Yu.
"Sekarang kau tahu apa yang harus dilakukan, bukan?"
Su Yu mengangguk. "Saya mengerti."
Ia menggeser kedua kakinya, bangkit dari posisi bersila, lalu menurunkan tubuh hingga berlutut di hadapan meja. Cangle juga bergerak dari tempatnya dan mengambil posisi berlutut di seberangnya.
Keduanya saling berhadapan.
Su Yu hendak mengangkat cawannya, tetapi Cangle terlebih dahulu mengulurkan jarinya ke depan. "Tahan. Sebelum bersumpah... kita harus mencampurkan darah."
Su Yu haya mengangguk tanpa banyak bertanya. Ia mengumpulkan sedikit energi pada ujung jarinya, kemudian membuat luka kecil di ujung jari yang lain. Setetes darah jatuh ke dalam cawan milik Cangle.
Cangle melakukan hal yang sama. Setetes darahnya jatuh ke dalam cawan Su Yu, lalu keduanya menarik tangan secara bersamaan.
Mereka terdiam sejenak.
Su Yu menurunkan pandangan ke cawan, lalu mengangkatnya, begitu terangkat, pandangan tertuju ke Peri Cangle yang menunduk.
"Hari ini... di kedalaman bumi yang tidak tersentuh cahaya matahari, saya bersumpah di hadapan Esensi Kunpeng yang mengalir dalam tubuh saya dan di hadapan jiwa anda. Saya Su Yu, menjadikan anda sebagai pasangan hidup. Langit mungkin tidak menyaksikan... bumi mungkin tidak mendengar, tetapi Esensi Kunpeng akan menjadi saksi, dan darah saya akan menjadi bukti."
Cangle mengangkat cawannya. Matanya tertuju kepada Su Yu sebelum suaranya terdengar perlahan.
"Hari ini... di dalam kegelapan yang menyelimuti kita, saya bersumpah di hadapan Esensi Naga Phoenix yang berada dalam tubuh saya dan di hadapan jiwa anda. Saya, Xu Cangle, menerima anda sebagai pasangan hidup. Sejak detik ini... jalan panjang anda adalah jalan saya, dan luka yang anda tanggung akan menjadi luka saya juga."
Ia berhenti sejenak, kemudian melanjutkan dengan suara yang lebih tegas.
"Biarkan seluruh hidup saya menjadi saksi atas ikatan ini... dan biarkan darah saya menjadi buktinya."
Keduanya mengangkat cawan lebih tinggi. Kemudian mengucapkan sumpah yang sama pada waktu bersamaan.
"Jika saya mengkhianati ikatan ini... biarkan kekuatan diri sendiri menghancurkan jiwa saya, biarkan kultivasi saya musnah, dan biarkan saya binasa dalam kegelapan abadi tanpa reinkarnasi."
Su Yu menggeser tubuhnya sedikit mendekat. Cangle melakukan hal yang sama, kemudian keduanya melingkarkan lengan agar cawan masing-masing saling bersilang.
Tatapan mereka bertemu.
Su Yu menarik napas pendek, sementara Cangle mengangkat cawannya sedikit lebih tinggi.
Keduanya minum arak tersebut dalam posisi lengan bersilang, kemudian melepaskan tangan secara perlahan. Mereka menurunkan cawan ke atas meja kristal dan saling membungkuk sebagai tanda hormat.
Sesudahnya, keduanya kembali duduk bersila berhadapan.
Tidak seorang pun berbicara.
Su Yu menatap permukaan meja, sedangkan Cangle mengalihkan pandangan ke sisi lain. Beberapa tarikan napas berlalu, suasana menjadi begitu canggung, hingga akhirnya wanita itu memecahkan kecanggungan.
"S... suami," panggil Cangle dengan suara pelan, lalu ia segera mengalihkan pandangan. "Kalau begitu... sudah saatnya saya pergi."
Mendengar itu, Su Yu segera bangkit dari tempatnya. Ia menapakkan kedua kaki dengan mantap, kemudian berdiri di hadapan Cangle yang juga ikut bangkit.
Cangle hendak berbicara lagi, namun Su Yu sudah duluan melangkah mendekat. Pemuda itu membuka kedua lengannya dan memeluk wanita tersebut dengan erat.
Tubuh Cangle tersentak.
Namun ia tidak mendorongnya.
Su Yu menundukkan kepala sedikit dan berbicara dengan suara lirih. "Terima kasih... karena telah hadir dalam hidup saya. Meskipun sebelumnya Nona berniat mencelakai saya, tetapi berkat Nona pula saya mendapatkan jalan kultivasi dan kesempatan untuk terlahir kembali."
Cangle terdiam mendengar ungkapan terimakasih yang tulus itu.
Beberapa saat kemudian, kedua tangannya bergerak perlahan dan membalas pelukan Su Yu.
"Sudahlah..." katanya pelan sembari mengelus punggung suaminya. "Yang telah berlalu, biarkan menjadi kenangan."
Su Yu mengendurkan pelukannya, lalu menatap wajah Cangle dengan tatapan dalam.
Cangle juga menatapnya.
Keduanya tidak berkata apa-apa lagi.
Cup!
......
Diluar goa, cahaya fajar telah menyusup dari celah pepohonan, dan terdengar kicauan burung yang saling bersahutan, menandakan pagi yang cerah telah tiba.
biasanya novel karyamu selalu mendapatkan atensi yang banyak🤔🤔🤔