"Tolong... tolong saya... ada yang mengejar saya..." bisik Elara dengan suara parau dan napas yang membakar kulit dada pria itu.
Detik berikutnya, dua pria yang mengejar Elara mendobrak keluar dari semak-semak. Mereka menghentikan langkah seketika saat melihat pemandangan di depan mereka. Namun, sebelum salah satu dari mereka sempat membuka mulut untuk meminta maaf atau melarikan diri, Haidar—sang bos mafia yang memimpin wilayah tersebut—beralih pandang. Mata tajamnya yang sedingin es menatap kedua pria pengganggu itu. Tanpa rasa ragu atau sepatah kata pun, Haidar mengarahkan moncong pistolnya ke bawah dan menembak pergelangan kaki pria terdepan.
DOR!
Suara dentuman senjata api memecah keheningan hutan. Pria yang tertembak itu menjerit histeris, terhuyung jatuh ke tanah sambil memegang kakinya yang hancur, sebelum akhirnya merangkak mundur bersama temannya dengan wajah pucat pasi sambil terus membungkuk dan berteriak meminta maaf hysterical kepada Haidar. Mereka tahu betul siapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TANDA-TANDA YANG MENAKUTKAN
Malam makin larut di dalam kamar sempit berdinding kusam di sudut dapur. Elara duduk bergeming di tepi ranjang berukuran tunggal, memandangi jemari tangannya yang kini memerah dan lecet setelah seharian dipaksa merapikan tumpukan perabotan tua oleh kedua istri Pak Surya. Rasa lelah yang luar biasa menjalar di sekujur tubuhnya, namun pikirannya terus berkelana menembus kegelapan malam.
Dalam kesendirian yang menyiksa ini, Elara memeluk kedua lututnya erat-erat. Di kepalanya, ia membayangkan kehidupan kelam yang harus ia jalani berbulan-bulan—atau mungkin bertahun-tahun—ke depan sebagai pelayan tak bertuan di rumah ini. Bagi Elara, tidak ada lagi penolong. Dunia telah membelakanginya, ayahnya telah menjualnya, dan takdir seolah sengaja mengunci rapat-rapat setiap celah harapan yang ia miliki.
Elara bahkan tidak pernah tahu bahwa di luar sana, seorang pria yang pernah membagikan malam dengannya sedang merajut jalan untuk menariknya keluar dari neraka ini. Dalam ingatannya, sosok pria bernama Haidar hanyalah sekadar bayangan asing yang ia temui secara tidak sengaja di tengah hutan—seorang bos mafia dingin bersenjata yang menyelamatkannya dari kejaran dua pria jahat malam itu. Elara sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa pria yang sama, yang tak pernah ia ketahui namanya, kini sedang mengawasinya dari kejauhan.
Ia tidak tahu bahwa Haidar—pria yang paling ditakuti di dunia bawah tanah—akan menjadi orang yang kembali melangkah menembus bahaya demi menyelamatkannya untuk kedua kali. Bagi Elara, malam di klab hanyalah peristiwa tragis yang telah usai. Namun bagi Haidar, benang merah yang telah terikat di antara mereka tidak akan pernah dibiarkan putus begitu saja.
Dua minggu berlalu bagai neraka yang berjalan lambat bagi Elara. Setiap hari, dari sebelum fajar menyingsing hingga larut malam, ia dipaksa melakukan pekerjaan rumah tangga yang tak ada habisnya oleh kedua istri Pak Surya. Jemari cantiknya kini makin kasar, dan tubuhnya yang makin kurus terlihat kian rapuh. Namun, ketahanan fisik Elara mulai mencapai batasnya ketika sebuah perubahan aneh melanda tubuhnya dalam beberapa hari terakhir.
Pagi itu, saat Elara sedang menyajikan teh hangat di meja makan utama, aroma pekat dari cairan teh yang biasanya biasa saja tiba-tiba memicu rasa mual yang luar biasa di dasar perutnya. Dada Elara bergemuruh hebat, dan tenggorokannya mendadak serasa terbakar.
Tanpa sempat menahan diri, Elara melepas cangkir yang ia pegang ke atas nampan dan berlari terburu-buru menuju kamar mandi terdekat di lantai dasar.
Ugh... hoek!
Elara berlutut di depan wastafel, memuntahkan cairan bening karena perutnya yang sebenarnya masih kosong. Kepalanya berputar hebat, diiringi rasa pusing yang membuat pemandangannya berkunang-kunang. Keringat dingin membasahi dahi dan lehernya, sementara seluruh sendi tubuhnya terasa lemas tak berdaya.
Langkah kaki yang berderak nyaring menghentikan rintihan pelannya. Di ambang pintu kamar mandi, berdiri istri pertama dan istri kedua Pak Surya. Kedua wanita itu melipat tangan di dada, memperhatikan Elara yang terkulai lemas dengan tatapan mata yang penuh selidik, curiga, dan tajam.
"Ada apa denganmu?" tanya istri pertama dengan nada suara dingin dan menusuk. "Baru disuruh kerja sedikit saja sudah berakting sakit?"
"Tunggu dulu," sela istri kedua, melangkah mendekat sambil memicingkan mata curiga ke arah Elara yang sedang memegangi perutnya. "Lihat reaksinya. Mual, muntah-muntah, dan wajahnya pucat pasi seperti itu... Jangan-jangan kau..."
Istri kedua menggantungkan kalimatnya, menatap istri pertama dengan raut wajah yang mendadak berubah tegang. Mereka berdua tahu pasti bahwa Pak Surya sama sekali belum pernah menyentuh Elara sejak hari pertama wanita muda itu menginjakkan kaki di mansion ini.
"Kau hamil?!" gertak istri pertama seketika, matanya membelalak lebar memancarkan amarah dan kebencian yang meluap-luap. "Katakan! Anak siapa yang sedang kau kandung itu, wanita murahan?!"
Elara mematung di lantai dingin. Pertanyaan itu menghantam kesadarannya bagai petir di siang bolong. Hamil? Otaknya mendadak membeku saat ingatan tentang malam dua minggu lalu di mansion mewah milik pria asing bersenjata itu berputar hebat di kepalanya.