Aku menikahi dia, tapi justru pamannya yang membuatku kehilangan akal. Setiap kali pria itu menatapku, ada bara yang tak bisa kupadamkan. Di mata keluarga, pria itu hanyalah paman dari suamiku. Di hatiku, dia adalah pria yang tak pernah boleh kusentuh. Namun, semakin aku menghindar, semakin dekat dia datang, membawa bisikan-bisikan yang memecah pertahananku. Bagaimana jika cinta ini terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KITA BERCERAI SAJA
Seline mengambil ponsel Eric, lalu menekan pengeras suara ponsel sembari menatap sinis kepada suaminya itu. “Ka Eric, aku demam. Kapan kau akan kembali!” terdengarlah suara manja Rania.
Eric menatap canggung kepada Seline. Tidak bisa berkata apa-apa, baru saja tadi dia memeluk Seline dengan rasa penuh khawatir. Sekerang malah suasana damai sudah dirusak, suasana damai yang jarang terjadi akhir-akhir ini diantara mereka.
Seline tidak memberi kesempatan kepada Eric untuk menjawab, malah dia yang langsung menjawab “Setelah mengantarku, dia akan ke tempatmu!”
Setelah mengatakan itu, Seline langsung menutup panggilan dari Riana, dan meletak sembarang ponsel Eric. Sepanjang perjalanan, Seline duduk diam di kursi samping pengemudi. Sejak tadi tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya. Matanya hanya tertuju pada pemandangan di luar jendela yang terus bergerak, sementara pikirannya justru berjalan ke arah yang berbeda.
Sesekali Seline menarik napas panjang, berusaha menahan sesuatu yang terasa berat di dadanya. Dia sudah tahu semuanya. Kecurigaannya pun menjadi nyata, Suaminya berselingkuh. Bukan sekadar bermain-main atau memiliki wanita lain di belakangnya. Perselingkuhan itu sudah cukup jauh hingga Riana mengandung anak suaminya.
Anak yang bahkan belum lahir, tetapi keberadaannya sudah cukup untuk menghancurkan kehidupan rumah tangga yang selama ini dia pertahankan karena perbedaan status mereka.
Seline memejamkan mata sejenak,menarik napas panjang, sejenak mengingat. Selama ini, ketika Eric pulang terlambat, dia selalu berusaha mencari alasan agar dirinya tidak curiga. Ketika Eric mulai sering memegang ponsel dan menjauh darinya, dia memilih untuk tidak bertanya terlalu banyak. Bahkan ketika sikap Eric berubah, Seline masih meyakinkan dirinya sendiri bahwa mungkin suaminya sedang lelah karena pekerjaan.
Ternyata dia hanya sedang dibohongi. Air matanya akhirnya jatuh lagi. Seline cepat-cepat mengusapnya dengan punggung tangan. Yang paling menyakitkan bukan hanya perselingkuhan itu. Melainkan kenyataan bahwa selama ini dia hidup sebagai seorang istri, sementara Eric diam-diam sudah membangun kehidupan lain bersama wanita lain.
Pikiran Seline terasa penuh sesak. Dia menundukkan kepala. ingin menangis sekeras-kerasnya, tetapi yang keluar hanya napas panjang yang bergetar. Merasa jika seandainya Eric mau berubah. Tapi, apa pun yang terjadi, dia tidak akan pernah bisa melihat suaminya dengan cara yang sama lagi.
“Kita bercerai saja!” imbuh Seline sambil manatap keluar jendela mobil. Enggan menatap suaminya itu.
Eric menghentikan mobilnya dengan tiba-tiba sampai suara roda mobilnya terdengar berdecit. “Apa tadi yang kau bilang, bercerai?” kata Eric dengan nada menahan marah.
Seline tersentak, lalu dia menoleh kepada Eric. “Ya, kita bercerai saja. Silahkan pergi, silakan bangun rumah yang baru bersama Riana!”
“Tidak! Tidak bisa…” kata Eric tidak terima sambil mengeratkan rahangnya.
Eric menatap lekat Seline, lalu dia mengulurkan tangannya, mengusap dengan lembut pipi Seline yang masih terlihat sedikit bengkak. “Jangan ungkit lagi ini, Ok!”
“Apa kau tidak ingin memberi status kepada bayi itu?” tanya Serius Seline sembari menepis tangan Eric.
“Soal bayi itu, dia tetap akan mendapatkan status. Tapi, aku tidak akan menikahi Riana!” jawab Eric dengan nada merendah.
“Setelah bayinya lahir, kau yang akan menjadi ibunya, anak itu akan ada dibawah asuhanmu!”
Seline memandang suaminya itu dengan tatapan terkejut, “Apa aku tidak salah dengar, kau mau aku memelihara anak selingkuhanmu itu!”
Mendengar perkataan Eric, lagi-lagi membuat hati Seline merasa sedang terpotek-potek. “Apa kau sudah gila, Aku tidak sudi menjaga buah cinta kalian. Kita bercerai saja!” kata Seline semakin mantap untuk mengajukan gugat cerai.
Wajah Eric memerah, menaham marah. Dia merasa sudah melakukan segala hal untuk mempertahankan pernikahan mereka. Para tetua keluarga MO mulai mempermasalahkan pernikahan mereka yang tidak kunjung di karuniakan seorang anak. Sedang merasa labil, datanglah Rania menggoda, dan dia terbuai.
Ketika mengetahui Rania hamil, hal yang pertama dia pikirkan adalah “bayi ini” bisa membantu dia untuk mempertahankan pernikahannya dengan Seline. Berencana setelah bayi itu lahir, maka Seline yang akan menjadi ibunya. Menjaga dan mengasuhnya.
Eric semakin melajukan mobilnya dengan cepat, benar-benar segera ingin sampai rumah dan mengunci Seline di dalam kamar. Mereka pun tiba, Eric langsung saja menarik Seline keluar dari mobil.
Seline melawan dengan keras, “Lepas!”
Nyonya Gia keluar dari dalam, “Ada ribut-ribut apa ini!”
Seline menghempaskan dengan keras genggaman tangan Eric. Lalu berkata dengan lantang di depan Nyonya Gia. “Aku ingin bercerai!”
“Apa! itu kabar bagus!” kata Nyonya Gia, lalu sambil memandang wajah Eric. Melihat wajah murka putranya itu, dia lansung meralat perkataannya, “Eh maksudnya… bukan kabar bagus!”
Erik menarik tangan Seline dan menariknya lagi dengan kasar. Membawanya masuk ke kamar utama. Mengunci pintu kamar, lalu melemparkan tubuh ramping Seline ke ranjang besar mereka.
Eric menindih tubuh Seline, “Jangan Harap bisa pergi dariku!” bisik Eric lalu menggigit daun telinga Seline. Lalu turun ke leher, mengkecup-kecup dengan lembut.
“Hari ini aku akan memberikanmu bayi juga, ok!” imbuh ajakan Eric untuk bercinta.
Seline menggelengkan kepalanya, dia benar-benar tidak ingin disentuh lagi oleh Eric. Dia pun menendang perut Eric dengan lututnya. Eric jatuh kesampingnya. Seline langsung berdiri berlari. Baru saja tangannya ingin meraih kunci kamar yang masih menyantel di gagang pintu.
Tangan kuat Eric sudah berhasil meraihnya dari belakag, Kedua kaki Seline melayang di udara, menendang-nendang udara. “Eric, lepaskan aku!” teriak Seline.
“Kita harus punya bayi!” kata Eric dengan nada suara berat.
Baru saja melempar Seline ke ranjang, ketukan di pintu berbunyi. “Eric… Gawat, ini gawat! Riana mencoba bunuh diri!” kata Nyonya Gia.
“Bayinya… jangan sampai terjadi apa-apa dengan bayinya!” kata Nyonya Gia dengan nada panik.
Gerakan tangan Eric yang sedang menggerayangi Seline terhenti. Dia pun turun dari tubu Seline. Lalu tanpa berkata apa-apa dia langsung membuka pintu kamar dan pergi.
Nyonya Gia sedikit melihat ke dalam kamar. Terlihat rambut berantakan Seline dan baju yang setengah terbuka. Seline menangis terseguk, tapi Nyonya Gia malah menatap jijik kepada menantunya itu. “Siapa suruh kau mandul!” katanya dalam hati sembari meninggalkan kamar utama tanpa menutup pintunya.
“Hah, menangis saja sepuasanya, sampai kapan juga kau tidak akan pernah bisa punya bayi!” gumam pelan Nyonya Gia merutuki menantu perempuannya lagi seraya menyusul Eric pergi ke rumah sakit.
Pada saat ini, Seline turun dari ranjang, menutup pintu kamar, lalu terduduk bersandar di pintu. Cinta yang dulu menggebu diantara dia dan Eric perlahan telah dibunuh satu persatu sampai tidak tersisa. Pada saat ini yang ingin Seline dapatkan adalah kebebasannya lagi.
seline kamu polos bed
thor pengen visuaaaaalllllll
biar halu ny enak🤭
semoga si pelakor kena jebakan Batman..niat hati menjebak Selin malah dia yg terbukti bersalah
suka banget dg ketegasan tuan Mo..tapi lebih suka lagi kalau mereka di izinkan berpisah biar Selin jadi adik ipar saja 🤭
pph you the best,,,tp maaf bentar lg bkal jd istri paman
xender aku mau satuuuu