Indonesia
NovelToon NovelToon
Dipaksa Menikahi Pewaris Lumpuh Ternyata Penguasa Grup Terkaya

Dipaksa Menikahi Pewaris Lumpuh Ternyata Penguasa Grup Terkaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Perjodohan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sinyo widi Official

Alena Wijaya, 24 tahun, tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah total hanya karena satu tanda tangan di atas kertas. Perusahaan keluarganya di ambang kebangkrutan setelah ayahnya terjerat masalah bisnis yang tidak lagi bisa ditutupi, dan satu-satunya jalan keluar datang dari pihak yang paling tidak ia duga: keluarga Mahardika, salah satu konglomerat terbesar di negeri ini.
Syaratnya sederhana di atas kertas—Alena harus menikahi Adrian Mahardika, putra sulung yang dikenal publik sebagai pewaris lumpuh sejak kecelakaan dua tahun lalu. Satu tahun menikah, utang lunas, lalu bercerai baik-baik. Tidak ada cinta yang diminta, hanya status di depan dewan direksi dan media.
Alena datang ke rumah keluarga Mahardika dengan satu niat sederhana: bertahan selama setahun, lalu pergi tanpa menoleh ke belakang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinyo widi Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ISTRINYA ADA TAPI DIA SEPERTI SENDIRIAN

TOK TOK TOK.

Alena mengetuk pintu ruang kerja Adrian untuk ketiga kalinya pagi itu, tidak ada jawaban dari dalam. Ia sudah tahu jawabannya bahkan sebelum mengetuk—tiga hari terakhir, Adrian menghabiskan hampir seluruh waktunya di ruangan itu, keluar hanya untuk makan sekadarnya, lalu kembali menghilang di balik pintu yang selalu terkunci.

Ia mendorong pintu itu perlahan, sedikit terbuka karena memang tidak dikunci sepenuhnya. Adrian duduk di depan tiga layar komputer sekaligus, matanya merah, rambutnya berantakan, jelas belum tidur dengan layak sejak malam Dhea datang.

"Adrian."

Tidak ada respons. Pria itu terus mengetik, matanya tidak lepas dari deretan data di layar.

"Adrian," Alena mengulang, kali ini lebih tegas, berjalan mendekat.

"Sebentar," jawabnya singkat, tanpa menoleh sedikit pun.

Alena berdiri di sampingnya, menunggu, tapi lima menit berlalu tanpa ada tanda-tanda Adrian akan berhenti. Akhirnya ia meraih tangan Adrian dari keyboard, memaksanya berhenti.

"Adrian, lihat aku."

Pria itu akhirnya menoleh, matanya kosong, dipenuhi kelelahan yang mendalam. "Ada apa?"

"Ada apa?" Alena hampir tidak percaya dengan pertanyaan itu. "Adrian, ini udah hari ketiga kamu ngurung diri di sini. Kamu nggak makan dengan benar, nggak tidur dengan benar, bahkan nggak ngomong sama aku lebih dari lima kalimat sehari."

"Aku lagi cari sopir itu, Alena. Ini penting."

"Aku ngerti ini penting. Tapi kamu juga penting, Adrian. Aku juga penting." Suara Alena mulai bergetar, campuran antara kesal dan sedih yang sudah tertahan berhari-hari. "Aku tahu kita nikah karena kontrak, tapi aku pikir kita udah lewatin fase itu. Sekarang kamu malah balik jadi orang asing yang cuma kebetulan tidur satu kamar sama aku."

Adrian terdiam, rahangnya mengeras, tapi kali ini bukan karena marah pada Alena—lebih pada dirinya sendiri.

"Aku nggak tahu gimana caranya bagi fokus," akhirnya ia mengaku, suaranya lelah. "Setiap detik yang aku buang buat hal lain selain nyari kebenaran ini, rasanya kayak aku ngasih kesempatan buat Om Wirawan nutupin semua jejaknya."

"Adrian, kamu boleh fokus cari kebenaran. Tapi jangan sampai ngorbanin dirimu sendiri, dan jangan sampai bikin aku ngerasa kayak orang asing di rumah ini." Alena duduk di kursi sebelahnya, menatap wajah lelah suaminya. "Aku di sini bukan cuma buat jadi tameng di depan wartawan, Adrian. Aku di sini karena aku beneran peduli sama kamu."

Kalimat itu menohok sesuatu di dalam diri Adrian. Ia menatap Alena lama, rasa bersalah jelas terlihat di matanya. "Kamu benar. Aku minta maaf."

"Nggak usah minta maaf. Aku cuma mau kamu izinin aku bantu, bukannya ngurung diri sendirian kayak gini."

Adrian meraih tangan Alena, menggenggamnya erat. "Deal. Tapi kamu juga harus janji, kalau aku mulai kelewatan lagi kayak gini, tarik aku balik. Jangan biarin aku tenggelam sendirian."

"Deal," jawab Alena, tersenyum kecil meski matanya masih sedikit berkaca-kaca dari kekesalan yang baru saja mereda.

Adrian menutup laptopnya, lalu untuk pertama kalinya dalam tiga hari, benar-benar beristirahat sejenak dari deretan data dan rekaman yang selama ini memenuhi pikirannya. Ia menarik Alena ke dalam pelukan singkat, cukup untuk menyampaikan permintaan maaf yang tidak sanggup ia ucapkan dengan kata-kata.

"Makasih udah nyeret aku keluar dari sini," bisiknya.

"Itu gunanya istri, kan? Nyeret suaminya balik ke dunia nyata kalau udah mulai keterlaluan."

Adrian tertawa kecil, suara yang jarang sekali terdengar sejak Dhea datang membawa kabar berat itu. "Aku beruntung banget nikah sama kamu, ternyata. Meskipun awalnya dipaksa."

"Jangan keenakan," balas Alena, ikut tersenyum, "aku masih inget kok, kamu pernah bilang aku cuma solusi cepat buat masalah keuanganmu."

"Itu aku yang bodoh," Adrian mengaku, "belum kenal kamu yang sebenarnya waktu itu."

Sore harinya, atas desakan Alena, Adrian akhirnya keluar dari ruang kerjanya, duduk bersama di taman belakang sambil menikmati udara segar untuk pertama kalinya dalam beberapa hari. Tim investigasi yang ia sewa diam-diam terus bekerja mencari jejak sopir pengganti dari malam kecelakaan itu.

"Gimana progresnya sejauh ini?" tanya Alena, menyerahkan segelas jus jeruk segar ke tangan Adrian.

"Tim udah nemuin identitas sopir itu. Namanya Doni. Tapi—" Adrian menghela napas berat, "—dia udah nggak tinggal di alamat terakhirnya sejak enam bulan lalu. Kabur, atau sengaja dipindahkan ke tempat lain."

"Sengaja dipindahkan?"

"Kalau memang bener dia dibayar buat tutup mulut, wajar kalau orang yang bayar dia juga mikirin cara buat pastiin dia nggak gampang ditemuin lagi." Adrian menyeruput jusnya pelan, matanya menerawang jauh. "Tapi tim aku nemuin satu petunjuk—Doni sempat kirim uang secara rutin ke seorang wanita di Bandung. Kemungkinan besar itu istrinya."

"Kamu mau ke sana?"

"Aku mau kirim orang buat ngobrol sama wanita itu. Kalau memang bener istrinya Doni, mungkin dia tahu ke mana suaminya pergi, atau setidaknya tahu kenapa dia harus kabur."

Alena mengangguk, lalu memberanikan diri bertanya sesuatu yang sejak tadi mengganjal di kepalanya. "Adrian, kalau semua ini nanti kebukti bener Om Wirawan yang jadi dalangnya... kamu bakal ngapain?"

Pertanyaan itu membuat Adrian terdiam lama, matanya menatap kolam kecil di taman yang airnya bergerak pelan tertiup angin sore.

"Aku nggak tahu," jawabnya jujur. "Sebagian diriku pengen langsung hadapin dia, tuntut dia di depan hukum, buat dia bayar semua yang udah dia rebut dariku selama dua tahun ini. Tapi sebagian lagi... takut. Takut ngerusak apa yang tersisa dari keluarga aku, terutama buat Ayah."

"Ayahmu bakal ngerti, Adrian. Kebenaran, sepahit apa pun, tetap lebih baik daripada terus hidup di bawah bayang-bayang orang yang udah mencoba bunuh anaknya sendiri."

Adrian menoleh, menatap Alena lama. "Kamu selalu tau cara ngomong yang bikin semuanya kedengeran lebih jelas."

"Itu karena aku nggak punya kepentingan apa pun di sini selain pengen kamu baik-baik aja," jawab Alena tulus. "Dan pengen keluarga ini nggak terus-terusan dihantui rahasia yang seharusnya udah selesai dari dulu."

"Kalau nanti semua ini beneran kebuka," Adrian melanjutkan, suaranya lebih pelan, "kamu masih mau tetep di sisi aku? Bahkan kalau ternyata prosesnya bakal lama, dan mungkin berbahaya?"

Alena menatap Adrian lurus, tidak ragu sedikit pun. "Adrian, aku udah pernah mau kabur waktu semuanya masih terasa asing dan cuma soal kontrak. Sekarang, ini bukan lagi soal kontrak buat aku. Jadi ya, aku tetep di sini. Selama itu kamu masih mau aku di sini."

"Selamanya," jawab Adrian pelan, hampir seperti janji yang diucapkan pada dirinya sendiri sekaligus pada Alena.

Kata itu menggantung di udara sore itu, sederhana tapi terasa jauh lebih berat dari kalimat cinta paling puitis sekalipun—karena keduanya tahu, di balik kata itu ada risiko nyata yang harus mereka hadapi bersama, bukan sekadar janji manis tanpa beban.

Malam harinya, saat mereka baru saja hendak tidur, ponsel Adrian berdering. Nomor dari kepala tim investigasinya. Adrian menjawab cepat, wajahnya tegang menunggu kabar.

"Ya, halo? ... Apa? ... Kapan itu terjadi? ... Ada saksi?"

Alena memperhatikan wajah Adrian yang perlahan berubah pucat, tangannya mulai gemetar memegang ponsel.

"Oke, terima kasih infonya. Jaga keamanan tim di sana." Adrian menutup telepon, meletakkan ponselnya dengan tangan gemetar.

"Ada apa?" tanya Alena, jantungnya ikut berdebar cemas.

"Doni," jawab Adrian, suaranya berat, "ditemukan meninggal dua hari lalu di Bandung. Katanya kecelakaan motor tunggal, di jalan sepi, malam hari."

Dada Alena mencelos. "Kamu pikir itu bener kecelakaan?"

Adrian menatap Alena lama, matanya penuh kemarahan yang tertahan sekaligus ketakutan yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.

"Dua hari setelah tim kita mulai gali informasi soal dia," ucap Adrian pelan, "orang yang jadi satu-satunya saksi hidup dari kecelakaanku, tiba-tiba meninggal karena 'kecelakaan' juga. Kamu masih pikir ini kebetulan, Alena?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!