Indonesia
NovelToon NovelToon
The Promish Hyung

The Promish Hyung

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / CEO
Popularitas:49
Nilai: 5
Nama Author: Dewi_BtsOt7

Di mata dunia, Kim Seokjin adalah Devil.
CEO KIMS GROUP. Dingin. Kejam. Tanpa ampun.
Satu keputusannya bisa membuat EX GROUP bangkrut dalam semalam.

Tapi di rumah...
Dia hanya seorang Hyung.

8 tahun lalu dia berjanji pada ayahnya: "Aku akan menjaga Tae."
Sekarang dia menepati janji itu dengan cara yang salah.
Menelan obat di toilet kantor. Menahan darah di balik jas mahal.
Tersenyum untuk 8 orang yang dia sayangi.

Leukimia. Stadium akhir.
Rahasia yang tidak boleh diketahui oleh Malaikat kecilnya, Taehyung.

Saat EX GROUP mulai mengancam nyawa Tae, Seokjin harus memilih.
Tetap menjadi Devil yang melindungi...
Atau runtuh sebagai Malaikat yang akhirnya butuh dilindungi.

"Di luar aku iblis, Tae. Tapi di depanmu... aku cuma hyungmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi_BtsOt7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

Satu minggu telah berlalu sejak malam mencekam itu. Langit di atas Seoul tampak lebih cerah, seolah-olah alam semesta sendiri turut bernapas lega.

Di mansion mewah keluarga Kim yang terletak di distrik Hannam-dong-sebuah properti bergaya istana modern dengan taman luas dan kolam renang infinity-suasana pagi itu dipenuhi kehangatan yang sudah lama hilang. Meja makan panjang dari marmer Italia kini tidak lagi menjadi tempat rapat tegang, melainkan meja pesta perayaan.

Kim Seokjin duduk di kepala meja. Wajahnya sudah kembali bersinar, pipinya berisi, dan senyumnya tulus. Ia mengenakan kemeja sutra putih longgar, terlihat jauh lebih santai daripada setelan jas kaku yang biasa ia kenakan. Di sebelah kanannya, Taehyung tertawa lepas saat Jungkook mencoba menyuapinya potongan buah dengan canggung, sementara Jimin saling berebut saus pancake.

Namjoon, Yoongi, Hoseok, Chanyeol, Kyungso dan Ken juga hadir, duduk berkelompok dengan suasana akrab. Tidak ada lagi jarak hierarki CEO dan bawahan. Hari ini, mereka hanyalah sebuah keluarga besar yang baru saja selamat dari badai.

"Untuk Kim Seokjin," angkat Namjoon gelas jusnya tinggi-tinggi. "Yang berhasil membuktikan bahwa kebenaran, meski sering terlambat, akhirnya akan menang. Dan untuk Taehyung, yang tetap kuat menjadi sandaran Hyung-nya."

"Dan untuk kita semua!" seru Hoseok ceria. "Karena kita masih utuh!"

Gelas-gelas berdenting. Jin menatap adiknya, Taehyung, dengan tatapan penuh kasih sayang. Ia meraih tangan Taehyung di bawah meja, meremasnya lembut. Taehyung membalasnya dengan senyuman hangat. Luka fisik Jin telah sembuh total berkat perawatan intensif Dokter Wang Do, dan luka batinnya perlahan pulih karena kehadiran orang-orang tercinta di sekitarnya. Tuduhan korupsi telah dicabut resmi oleh kepolisian, saham Kim Corp melonjak naik, dan nama Xiumin serta Chen mulai dicap sebagai pelaku fitnah korporat oleh media, meskipun mereka belum ditangkap secara hukum karena kecanggihan pengacara mereka.

"Hyung," bisik Taehyung pelan, hanya untuk didengar Jin. "Terima kasih sudah bertahan."

Jin tersenyum, matanya berkaca-kaca sedikit. "Aku tidak sendirian, Tae. Itu kuncinya."

Sementara itu, di sisi lain kota, di sebuah mansion minimalis bergaya industrial yang dingin dan megah milik keluarga Park (Xiumin dan Chen), suasana pagi itu sangat berbeda. Udara terasa berat, seolah oksigen habis disedot oleh ketegangan.

Park Jihoon berdiri di tengah ruang tamu yang luas, sebuah koper hitam terbuka di kakinya. Wajahnya keras, rahangnya mengeras, dan matanya menyala dengan kemarahan yang tertahan selama bertahun-tahun.

Di hadapannya, Min Seokhun (Xiumin) dan Jongdae (Chen) duduk di sofa kulit hitam, menonton berita di TV besar yang menyiarkan kemenangan Jin. Wajah Xiumin datar, namun jari-jarinya mengetuk-ngetuk lengan sofa dengan ritme cepat, tanda ketidaknyamanannya. Chen tampak kesal, membuang majalah bisnis ke meja kopi.

"Kau benar-benar akan pergi?" tanya Chen sinis, tidak menoleh pada Jihoon. "Demi mereka? Demi para pengecut yang hampir menghancurkan karir kita?"

"Bukan demi mereka," jawab Jihoon tajam, suaranya bergetar karena emosi. "Tapi demi diriku sendiri. Aku tidak bisa lagi tinggal di bawah atap yang dibangun dari kebohongan dan kejahatan."

Xiumin akhirnya menoleh. Matanya yang biasanya dingin kini menunjukkan kilatan sesuatu yang mirip dengan kepanikan. Ia bangkit perlahan, mendekati adik bungsunya itu.

"Jihoon-ah," suara Xiumin lebih rendah, mencoba terdengar persuasif. "Kami melakukan ini untuk masa depan keluarga. Untuk memastikan kita tidak jatuh. Jin itu... dia lemah. Dia tidak cocok memimpin di era persaingan brutal ini. Kami hanya mempercepat proses alamiah."

"Proses alamiah?" Jihoon tertawa pahit, tawa yang penuh ejekan. "Hyung, kalian menyebarkan fitnah. Kalian mencoba membunuh karakter seseorang. Kalian mengancam anak kecil-Taehyung! Apakah itu yang kalian sebut 'keluarga'? Ayah dan Ibu pasti menangis melihat kalian sekarang."

Mendengar nama orang tua mereka, wajah Xiumin sedikit berkerut. Itu adalah titik lemahnya. Tapi egonya terlalu besar untuk mengakui kesalahan.

"Kami tidak punya pilihan," geram Chen, berdiri dan berjalan mendekati Jihoon. "Dengarkan aku, Jihoon. Pulanglah ke kamarmu. Lupakan omong kosong moralitas murahan itu. Kita masih bisa memperbaiki keadaan. Dengan pengaruh kami, kita bisa-"

"Tidak ada 'kita' lagi!" potong Jihoon keras, membuat Chen terhenti.

Jihoon menatap kedua kakaknya lekat-lekat. Tatapan itu bukan tatapan adik pada kakak, melainkan tatapan seorang manusia pada monster yang pernah ia cintai.

"Aku sudah memutuskan. Mulai hari ini, aku pindah ke apartemen sewaan di Gangnam. Aku tidak akan menggunakan uang keluarga. Aku tidak akan menggunakan koneksi kalian. Aku akan hidup dari hasil kerjaku sendiri sebagai pengacara publik."

Xiumin mencengkeram bahu Jihoon erat-erat. "Jangan bodoh, Jihoon! Dunia luar itu kejam. Tanpa perlindungan kami, kau akan dimangsa. Kembali lah. Kami... aku masih menyayangimu, adikku. Jangan tinggalkan Hyung."

Sentuhan Xiumin terasa dingin, menjijikkan bagi Jihoon. Ia melepaskan genggaman kakaknya dengan kasar.

"Jika Hyung benar-benar menyayangiku, Hyung akan berhenti menjadi monster ini," kata Jihoon, air matanya akhirnya menetes, tapi suaranya tetap tegas. "Ubahlah jalan kalian, Hyung. Sebelum semuanya terlambat. Sebelum polisi benar-benar menemukan bukti fisik, bukan hanya digital. Sebelum kalian kehilangan segalanya, termasuk satu-satunya saudara yang masih peduli pada jiwa kalian."

Jihoon mengangkat kopernya. Ia menatap Xiumin terakhir kali, mencari sisa-sisa kakak yang dulu pernah menggendongnya saat hujan, kakak yang dulu membelikan es krim saat ia menangis. Tapi ia hanya melihat kekosongan dan ambisi buta.

"Aku akan menunggu," bisik Jihoon. "Sampai kalian sadar. Sampai saat itu, jangan cari aku."

Tanpa menunggu respons, Jihoon berbalik dan berjalan menuju pintu utama. Langkahnya mantap, meski hatinya hancur berkeping-keping.

"Jihoon!" teriak Xiumin, suaranya pecah untuk pertama kalinya.

Jihoon tidak menoleh. Ia membuka pintu, langkah keluar ke teras, dan menutup pintu berat itu di belakangnya. Suara klik kunci pintu terdengar seperti vonis akhir bagi persaudaraan mereka.

Di dalam mobil taksi yang sudah menunggu, Jihoon menghela napas panjang. Ia merasa ringan, sekaligus sangat sedih. Ia tahu ini baru permulaan perjuangannya sendiri. Tapi setidaknya, ia tidur dengan hati yang bersih.

Sementara di mansion Kim, laughter terdengar riang. Di mansion Lee, keheningan yang mencekam mulai merayap, membawa serta bayangan penyesalan yang mungkin sudah terlalu terlambat untuk diperbaiki.

...*...

...*...

...*...

Apartemen studio berukuran kecil di Gangnam terasa hampa dan dingin. Jihoon melemparkan kopernya ke sudut ruangan, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur lipat yang baru ia beli. Langit-langit putih menatapnya balik, kosong dan tanpa jawaban.

Ia menutup matanya rapat-rapat, mencoba menahan air mata yang sudah menggenang sejak tadi. Dadanya sesak, seolah ada batu besar yang menekan paru-parunya. Ia sangat mencintai Xiumin dan Chen. Mereka adalah kakak-kakaknya, orang-orang yang dulu melindunginya dari dunia luar, yang mengajarinya berjalan, yang membelikannya mainan pertama. Cinta itu masih ada, berakar dalam di jiwanya.

Tapi cintanya kini bercampur dengan kebencian yang mendalam. Kebencian pada keserakahan mereka. Kebencian pada cara mereka memanipulasi kebenaran. Kebencian karena mereka memilih kekuasaan daripada keluarga.

"Kenapa harus begini..." gumam Jihoon parau, suaranya pecah di keheningan apartemen. "Kenapa kalian tidak bisa berhenti?"

Ia memeluk bantal erat-erat, menangis tanpa suara. Kesepian mulai merayap masuk, menggantikan kemarahan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar sendirian. Tidak ada kakak yang jahat, tapi juga tidak ada kakak yang menyayanginya. Hanya ada dia, dan pilihannya untuk tetap bersih.

Sementara itu, di Mansion Kim yang megah, suasana pagi berubah menjadi siang yang cerah. Kehidupan kembali bergerak normal. Para staf berlalu-lalang dengan efisien, mobil-mobil mewah keluar masuk gerbang utama.

Di lantai dua, terdapat sebuah ruang khusus yang dirancang untuk hiburan. Ruangan itu dilengkapi dengan layar proyektor raksasa, sofa kulit empuk, dan konsol game terbaru. Di sana, tiga sosok muda sedang asik berteriak dan tertawa.

"Kiri! Kiri! Ah, Jungkook, kau mati lagi!" teriak Jimin sambil memukul-mukul stik kontrolnya dengan frustrasi lucu.

Jungkook tertawa terbahak-bahak, tubuhnya bergoyang-goyang di sofa. "Itu bukan salahku, Hyung! Lag! Pasti lag!"

Taehyung, yang duduk di tengah, hanya tersenyum tipis sambil fokus pada layarnya. Jari-jarinya menari cepat di atas tombol. Ia terlihat rileks, wajah tampannya bersinar karena kebahagiaan sederhana. Bagi mereka, momen ini adalah obat terbaik setelah minggu-minggu penuh tekanan. Mereka tidak tahu, tidak merasa, bahwa sahabat mereka, Jihoon, sedang hancur sendirian di sebuah apartemen sempih beberapa kilometer jauhnya. Bagaimanapun, Jihoon memilih untuk merahasiakan kepindahannya hari ini, memberi alasan bahwa ia butuh waktu sendiri untuk berpikir. Dan teman-temannya menghormati itu, meski dalam hati mereka merasa ada yang janggal.

Di sisi lain mansion, tepatnya di sayap timur yang lebih sunyi, terdapat ruang kerja utama Kim Seokjin.

Ruangan itu luas, minimalis, dan didominasi warna putih serta kayu ek. Di ujung ruangan, berdiri meja kerja besar tempat Jin duduk. Namun, ruangan ini unik. Sebuah sekat kaca tebal kedap suara membagi ruangan menjadi dua area. Di balik kaca itu, duduk Min Yoongi.

Yoongi bukan sekadar asisten. Ia adalah tangan kanan Jin, kepala strategi, dan sekaligus dongsaeng bagi Jin dalam hal kebijaksanaan hidup. Meskipun secara hierarki Jin adalah CEO dan atasan, Yoongi selalu memperhatikan gerak-gerik Jin dengan mata elang yang waspada. Kaca kedap suara itu memungkinkan mereka bekerja dalam privasi masing-masing, namun tetap dalam satu ruang pengawasan.

Jin sedang menandatangani tumpukan dokumen pemulihan pasca-skandal. Wajahnya tampak tenang, bahkan sesekali ia tersenyum pada rekan kerjanya yang lewat. Semua orang di luar sana menyebutnya "World Wide Handsome"-gelar yang diberikan media karena ketampanannya yang tak terbantahkan. Jin mewarisi kelembutan fitur wajah ibunya, sementara Taehyung mewarisi struktur wajah tajam dan maskulin ayahnya. Kombinasi genetik yang membuat mereka berdua menjadi pusat perhatian di mana pun mereka berada.

Yoongi, dari balik kacanya, mengangkat alis. Ia melihat Jin terlalu sering mengusap hidungnya. Ia melihat warna kulit Jin yang sedikit terlalu pucat, meskipun make-up sudah menutupinya dengan baik. Insting Yoongi berteriak bahwa ada yang tidak beres.

Tiba-tiba, Jin berdiri mendadak. Kursinya bergeser dengan suara decitan halus. Wajah Jin berubah pucat pasi. Ia memegang hidung kanannya dengan kuat.

"Hyung?" bibir Yoongi membentuk kata, meski suaranya tidak terdengar karena kaca kedap suara. Ia mengetuk kaca, mencoba menarik perhatian Jin.

Tapi Jin sudah berlari kecil menuju pintu kamar mandi pribadi yang terhubung dengan ruang kerjanya.

Di dalam kamar mandi, Jin membungkuk di atas wastafel marmer putih. Darah segar mengalir deras dari hidungnya, menetes ke keramik putih, menciptakan kontras yang mengerikan. Merah pekat di atas putih bersih.

Jin membuka keran air, membasuh wajahnya, mencoba menghentikan aliran darah dengan kertas tisu. Tapi darahnya terus keluar, lebih banyak dari sebelumnya. Kepalanya berputar, pandangannya berkunang-kunang.

"Aish... kenapa harus mimisan lagi sih..." gumam Jin pelan, suaranya gemetar karena lelah dan takut.

Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Matanya cekung, ada lingkaran hitam yang sulit disembunyikan. Dokter Wang Do memang mengatakan kondisinya stabil setelah perawatan seminggu lalu. "Demamnya turun, tekanan darahnya normal," kata dokter itu.

Tapi itu semua kebohongan.

Kebohongan yang dibuat oleh Seokjin sendiri.

Seminggu yang lalu, saat Dokter Wang Do memeriksa ulang, Jin sengaja menyembunyikan hasil tes darah terbarunya yang menunjukkan adanya anomali pada sumsum tulangnya-efek samping dari stres kronis ekstrem dan mungkin, racun ringan yang sempat ia konsumsi tanpa sadar bulan lalu (sebelum kasus ini terungkap). Jin memerintahkan Dokter Wang Do untuk tidak memberitahu siapa pun, terutama Taehyung dan anggota Keluarga lainnya.

"Jika mereka tahu, mereka akan memaksaku istirahat total. Perusahaan akan goyah lagi. Tae akan khawatir dan tidak bisa fokus kuliah. Biarkan aku berpura-pura sehat sampai semua benar-benar aman," pinta Jin saat itu.

Dokter Wang Do, dengan berat hati, menyetujui permintaan pasien setianya itu, namun memberikannya obat penekan gejala yang kuat. Obat itulah yang membuat Jin terlihat baik-baik saja di permukaan.

Jin membersihkan sisa darah di wajahnya, mengambil napas dalam-dalam, dan memaksa senyum tipis kembali ke wajahnya. Ia menatap diri di cermin, memperbaiki dasinya.

"Kau kuat, Kim Seokjin," bisiknya pada pantulannya. "Kau tidak boleh lemah. Belum sekarang."

Ia membuka pintu kamar mandi dan kembali ke ruang kerja, berjalan dengan langkah tegak seolah tidak terjadi apa-apa.

Di balik kaca, Yoongi menyipitkan mata. Ia melihat Jin kembali duduk, tetapi tangannya masih sedikit gemetar saat memegang pena. Yoongi tidak tahu tentang penyakit rahasia itu, tetapi ia tahu Jin sedang menyembunyikan sesuatu yang lebih besar dari sekadar kelelahan biasa.

Yoongi mengambil ponselnya, mengetik pesan singkat ke Namjoon:

"Awasi Hyung. Ada yang tidak beres. Dia terlalu sempurna hari ini."

Di luar jendela, langit Seoul mulai mendung. Badai mungkin sudah berlalu bagi publik, tetapi bagi Kim Seokjin, badai di dalam tubuhnya baru saja dimulai. Dan kali ini, ia berjuang sendirian, dengan topeng senyum yang semakin retak.

1
aytysz
Semangat yaa kak! kalau kakaknya ada waktu luang, boleh dong berkunjung ke profil ku. Di sana ada cerita sederhana yang mungkin kakaknya suka...
Dewi_BtsOt7: siap ka nanti aku mampir kalo lagi luang..

aku lagi ngejar up di 3 platfrom🤭
total 1 replies
AntyKa
penasaran😄
Dewi_BtsOt7: di tunggu kelanjutannya ya ka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!