"Aku lulus, Bu... Karsa juara satu."
Bagi Karsa, selembar kertas kelulusan di tangannya adalah tiket untuk membawa ibunya keluar dari jerat kemiskinan desa. Ia berlari membelah terik siang dengan dada membuncah oleh bahagia, tak sabar ingin memeluk satu-satunya alasan mengapa ia bertahan menghadapi kerasnya hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
menuju jalan mandiri
Aroma jerami kering dan debu padi yang beterbangan perlahan mulai tenang, mengendap bersama sisa matahari sore yang kian condong ke barat. Di gubuk bambu itu, tumpukan karung-karung goni yang terisi penuh menjadi saksi bisu akhir dari perjuangan panjang mereka.
Panen sudah usai....
Karsa menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan yang kotor oleh tanah kering. Tubuhnya terasa remuk, namun ada perasaan lega yang menyeruak di dadanya melihat bulir-bulir padi peninggalan ibunya kini sudah aman di dalam karung. Dia menatap Budi yang duduk bersandar pada tiang gubuk dengan napas yang masih naik turun.
"Terima kasih," kata Karsa jujur. Dia merogoh kantong celananya, lalu menyerahkan beberapa lembar uang pada Budi.Budi spontan menegakkan duduknya, menatap lembaran uang di tangan Karsa dengan kening berkerut.
Dia mendorong kembali tangan sahabatnya itu. "Sudahlah Sa... Kita ini kawan..."
"Bukan begitu, Bud... Jangan pernah nolak rejeki," kata Karsa tegas, menolak untuk menarik kembali tangannya. Tatapannya lurus, memperlihatkan watak keras kepalanya yang tidak mau berutang budi, bahkan pada sahabat sendiri.
Budi menatap Karsa sesaat, tahu betul kalau sudah begini, tidak ada gunanya mendebat. "Ah ya ya, debat denganmu gak bakalan menang," kata Budi sambil tertawa lepas. Dia akhirnya menerima uang itu dan memasukkannya ke dalam saku.
Suasana kembali hening sejenak, hanya menyisakan deru angin sore yang menggoyang dedaunan di tepi sawah. Budi meluruskan kakinya yang pegal, lalu menoleh ke arah Karsa.
"Oh ia Sa... habis ini kamu ngapain??
"Karsa mengembuskan napas panjang. Pandangannya beralih menatap hamparan sawah yang kini telah gundul, menyisakan batang-batang jerami sisa potongan arit.
"Ia sih Bud.. Jujur saja untuk lahan.. Aku gak bisa garap kalau sendirian.. Kemaren pas panen saja harus kamu yang bantu," kata Karsa.
Suaranya terdengar realistis, tanpa nada mengeluh, hanya sebuah pengakuan jujur atas keterbatasan fisiknya jika harus mengurus sawah yang begitu luas tanpa figur orang tua lagi.
Karsa menjeda kalimatnya sejenak, memikirkan langkah apa yang harus dia ambil agar dapur rumahnya bisa terus mengepul. "Sebaiknya aku kerja yang lain saja," di kata Karsa.
Budi mengangguk-angguk paham, namun ada satu hal yang mengganjal di kepalanya sejak lama mengenai potensi sahabatnya ini. "Maksudku... apa kamu gak lanjut kuliah?? Nilaimu kan bagus," kata Budi, mengingatkan Karsa pada lembar-lembar piagam dan nilai raportnya yang selalu memuaskan.
Karsa tersenyum getir, sebuah tawa hambar yang menyembunyikan impian yang harus dikubur dalam-dalam. "Haha maunya sih gitu Bud.. Tapi kamu tau sendiri, siapa yang ngasih ongkos?"
Kalimat itu menutup perdebatan soal kuliah. Budi terdiam, tidak mampu membantah realitas pahit yang sedang dihadapi Karsa. Namun, Karsa segera mengubah arah pembicaraan agar suasana tidak kembali muram. Sorot matanya kembali fokus dan bertekad.
"Malam ini kamu mulai cari info lowongan kerja di.. Siapa tau bakal nemu. Percuma kan kalau ijazah SMK Otomotif," kata Karsa yang sedikit membanggakan diri.
Mendengar Karsa yang mulai bisa menyombongkan ijazahnya lagi, tawa Budi kembali pecah. Suasana gubuk yang sempat melow langsung mencair seketika. "Haha bener ... Kamu bener," kata Budi setuju.
Karsa tersenyum kecil, lalu merogoh kantong kemejanya yang lusuh untuk mengeluarkan sebungkus rokok yang baru dia beli dari warung tadi siang. Dia menyodorkannya ke depan dada Budi. "Nih rokok kalau mau," kata Karsa.
Mata Budi langsung berbinar begitu melihat merek yang tertera di bungkusnya. "Widiiihhhh kretek mantap ini!" kata Budi girang, langsung mengambil sebatang dengan cekatan.
Karsa ikut mengambil sebatang untuk dirinya sendiri, lalu menyalakan korek api. "Ah sekali kali Bud," kata Karsa sambil mengembuskan asap pertama yang tebal ke udara sore.Di bawah langit desa yang mulai memerah, kedua pemuda SMK itu duduk berdampingan di atas amben bambu, menikmati hisapan kretek mereka setelah kerja keras yang tuntas. Untuk malam ini, urusan sawah sudah selesai, dan lembaran baru untuk mencari kerja baru saja dimulai.