Update Setiap Hari dijam yang sama 12.00 WIB
Bagaimana jika jodoh ternyata bukan pilihan sendiri, tetapi dari kiriman ayah?
Reina Lunox harus menghadapi Tuan Muda Angkuh dari anak sahabat ayahnya. Meski, awal ia menolak untuk perjodohan itu. Reina tidak bisa menolak kemauan ayahnya.
Apa yang akan Reina lakukan untuk menaklukkan Tuan Muda Angkuh, Jino West? Ikuti kisah mereka!!
Karya Author// DILARANG PLAGIAT//
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjodohan yang Tak Diinginkan
Suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen putih itu terdengar begitu nyaring di ruang makan utama kediaman keluarga Lunox. Ruangan berukuran luas dengan arsitektur klasik bergaya Eropa tersebut mendadak terasa begitu pengap bagi Reina Lunox. Bagi mahasiswi semester akhir itu, suara peralatan makan yang bergesekan barusan bukanlah pengantar selera, melainkan sebuah alarm bahaya yang siap meledakkan gendang telinganya kapan saja.
Di ujung meja makan yang panjang, sang ayah—Tuan Demian Lunox—duduk dengan wibawa yang tidak terbantahkan. Mengenakan kemeja rapi meski hari sudah malam, wajah paruh baya itu tampak tenang di permukaan. Namun, di balik sorot matanya yang tajam tersimpan ketegasan mutlak yang tidak pernah bisa diganggu gugat oleh siapa pun, termasuk anak kandungnya sendiri. Di hadapannya, Reina mencengkeram erat gelas air putih di atas meja, buku-buku jarinya memutih seolah benda bening itu adalah satu-satunya pelampung di tengah terjangan badai.
"Ayah tidak menerima penolakan, Reina. Keputusan sudah bulat dan mutlak," ucap Demian dengan suara bariton yang tenang, namun menusuk langsung ke relung hati putrinya.
Reina sontak mendongak. Napasnya memburu, dadanya naik-turun menahan gejolak amarah, rasa tidak percaya, dan kekecewaan yang membuncah menjadi satu. Gadis berambut panjang itu menggelengkan kepalanya pelan, menolak mempercayai apa yang baru saja meluncur dari mulut pria paruh baya yang paling dihormati dan disayanginya di dunia ini.
"Tapi Ayah, ini abad keberapa? Aku bahkan baru saja menyelesaikan skripsiku, statusku masih mahasiswi, belum lulus kuliah, dan Ayah mau menikahkanku? Perjodohan kolot seperti ini sama sekali tidak masuk akal!" protes Reina, suaranya bergetar hebat antara rasa frustrasi yang memuncak dan sisa-sisa pertahanan diri yang hampir runtuh. "Aku bukan barang antik, bukan pula aset perusahaan keluarga yang bisa dipindahtangankan begitu saja lewat secarik kontrak kerja sama bisnis! Aku punya hak penuh untuk memilih pendamping hidupku sendiri, menentukan masa depanku sendiri!"
Demian menghela napas panjang. Ia meletakkan garpunya secara perlahan di atas piring, lalu menatap putrinya dengan tatapan penuh beban dan kelembutan yang tersisa. "Ini bukan sekadar urusan bisnis atau perluasan kekuasaan, Reina. Ini tentang masa depanmu, dan yang paling penting, ini adalah janji suci serta amanah terakhir dari mendiang sahabat karibku, Tuan William West. Beliau ingin menyatukan dua keluarga besar kita sebelum..." Demian menghentikan kalimatnya sejenak, sengaja melunakkan nada bicaranya untuk meredam amarah sang putri. "...Sebelum Ayah menyusulnya nanti."
Mendengar kalimat terakhir ayahnya, benteng pertahanan Reina seketika runtuh. Ada rasa nyeri yang luar biasa menghantam ulu hatinya, membuat tenggorokannya tercekat. Ayahnya sedang menggunakan kartu as paling mematikan: kondisi kesehatan dan usia senja. Reina menggigit bibir bawahnya dengan gemetar. Ia tahu persis bagaimana kondisi fisik Demian akhir-akhir ini yang sering menurun akibat kelelahan bekerja. Ia sangat menyayangi ayahnya, tapi dipaksa menikah dengan pria asing yang bahkan belum pernah ia temui—apalagi dikenal sebagai sosok dingin dan arogan—adalah bentuk siksaan batin yang teramat berat.
"Tapi kenapa harus aku, Ayah? Kenapa harus dengan anak dari keluarga arogan itu?" cerca Reina, suaranya kini nyaris berupa bisikan parau namun penuh tekanan emosi.
"Karena Jino adalah pewaris tunggal keluarga West yang sepadan, dan meski usianya sepantaran denganmu—ia sudah dipercaya memegang divisi utama di perusahaan keluarganya—dia adalah pilihan yang tepat untuk membimbingmu," jawab Demian tandas tanpa keraguan. "Minggu depan, kalian akan resmi melangsungkan pertunangan."
Keesokan harinya, nama Jino West seolah berubah menjadi teror yang menghantui setiap detik pikiran Reina. Gadis itu menghabiskan separuh malamnya untuk berselancar di internet dan forum kampus, menggali segala informasi sekecil apa pun tentang calon suaminya yang terkenal angkuh itu. Hasilnya? Alih-alih merasa tenang, kepalanya justru semakin berdenyut hebat.
Jino West adalah definisi sempurna dari seorang pemuda alpha masa kini: dingin, perfeksionis, sangat disiplin, dan tentu saja, luar biasa arogan. Sebagai mahasiswa tingkat akhir di salah satu universitas bisnis bergengsi sekaligus pewaris grup multinasional keluarganya, Jino dikenal sebagai sosok yang tidak pernah mentoleransi kesalahan kecil sekali pun. Di kampus, ia dijuluki sebagai pangeran es yang tidak tersentuh; jarang bergaul, selalu dikawal ketat, dan bermulut tajam jika ada orang yang berani mengusik ketenangannya.
Pria es batu yang arogan seperti itu mau dijodohkan denganku? Yang benar saja! Aku bahkan masih sibuk mondar-mandir mengurus revisi skripsi di kampus! batin Reina mendengus kesal sambil menatap layar ponselnya yang menampilkan wajah tampan namun dingin milik Jino dari sebuah artikel majalah kampus. Di foto itu, Jino berdiri tegak dengan balutan kemeja kasual bermerek, satu tangan dimasukkan ke dalam saku celana, sementara wajahnya menatap lurus ke arah kamera dengan dagu terangkat—memancarkan aura dominasi mutlak.
Baiklah, Tuan Muda Jino West, gumam Reina dalam hati, sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman sinis penuh tantangan. Kalau kau pikir kau bisa memperlakukanku seperti mahasiswi junior yang bisa kauatur dan tundukkan sesuka hati, kau salah besar. Reina Lunox tidak akan pernah membiarkan dirinya diinjak-injak begitu saja.
Peluang pertemuan pertama yang menegangkan itu akhirnya tiba lebih cepat dari perkiraan Reina. Tiga hari setelah perdebatan alot di meja makan rumahnya, Demian memintanya untuk bersiap menghadiri sebuah makan malam privat di restoran fine dining kelas atas yang terletak di pusat kota. Alasannya klasik: pertemuan keluarga untuk "mengenal lebih dekat" sekaligus membahas rencana pertunangan mereka sebelum keduanya benar-benar lulus kuliah.
Begitu pintu kaca restoran berukir ukiran klasik bergaya vintage itu terbuka, aroma wangi lavender berpadu dengan aroma makanan mewah langsung menyergap indra penciuman Reina. Di sudut ruangan VIP yang menghadap langsung ke pemandangan gemerlap lampu pencakar langit kota dari lantai atas, duduklah dua sosok pria paruh baya—Demian dan Tuan William West—yang tengah berbincang ringan. Di samping Tuan William, duduk seorang pemuda seusianya yang berpostur tegap dengan posisi membelakangi pintu masuk.
Punggung bidang itu dibalut kemeja putih formal yang bagian lengannya digulung rapi sebatas siku, memperlihatkan otot lengan yang kokoh serta kilau jam tangan mewah berharga fantastis. Tanpa perlu diberitahu dua kali oleh pelayan, Reina tahu persis siapa pria yang sedang duduk angkuh di sana.
"Reina, sayang, akhirnya kamu datang juga. Sini, bergabunglah dengan kami," panggil Demian ramah saat melihat putrinya tiba didampingi oleh manajer restoran.
Reina menarik napas dalam-dalam, berusaha menetralkan degup jantungnya yang bergemuruh hebat. Ia menegakkan punggungnya, memasang topeng setenang mungkin, lalu melangkah mendekati meja makan dengan langkah anggun namun menyiratkan ketegasan.
Mendengar suara pantulan sepatu hak tinggi yang mendekat ke arah meja mereka, pemuda di hadapan Demian perlahan memutar kursi mewahnya. Gerakannya lambat, terkontrol, elegan, namun dipenuhi oleh wibawa yang menekan.
Detik berikutnya, manik mata cokelat gelap Reina beradu pandang secara langsung dengan sepasang mata kelam milik Jino West. Tidak ada secercah pun senyuman ramah atau kehangatan di wajah tampan berahang tegas itu. Yang ada hanyalah tatapan menilai, dingin, menyelidik, dan menyiratkan ketertarikan nol besar—seolah kehadiran Reina di hadapannya saat ini bukanlah apa-apa selain gangguan kecil yang membuang-buang waktu di tengah jadwal kuliah dan pekerjaannya.
"Kenalkan, Reina. Ini Jino, calon suamimu," ucap Tuan William memperkenalkan dengan senyuman lebar penuh harap.
Jino berdiri perlahan dari kursinya. Tinggi tubuhnya yang menjulang membuat Reina terpaksa harus sedikit mendongak ketika mereka kini berdiri berhadapan dalam jarak yang cukup dekat. Tanpa sedikit pun berniat mengulurkan tangan untuk bersalaman tanda berkenalan, Jino justru memasukkan satu tangan ke dalam saku celana bahan mewahnya, sementara tangan kanannya merapikan lipatan jas di lengannya dengan acuh tak acuh.
"Jadi... gadis desa dari pinggiran kota yang dibanggakan Om Demian ini rupanya yang dipilihkan untuk menjadi tunanganku? Mahasiswi bau kencur yang bahkan belum lulus kuliah?" suara Jino akhirnya keluar. Rendah, berat, dingin, dan terdengar begitu meremehkan. Kalimat itu diucapkan dengan nada datar yang menusuk, seketika menyulut percikan api kemarahan di dada Reina.
Gadis desa? Mahasiswi bau kencur? Sialan, pria ini benar-benar mencari masalah dan ingin mengajak perang denganku sejak detik pertama kita bertemu!
Kendati darahnya mendidih hingga ke ubun-ubun, Reina tidak lantas ciut atau menunjukkan ketakutan. Sebaliknya, sudut bibirnya justru tertarik membentuk sebuah senyuman manis yang tampak sangat dipaksakan. Dengan gerakan perlahan, ia mengangkat dagunya tinggi-tinggi, menatap tajam tepat ke dalam manik mata kelam Jino tanpa berkedip sedikit pun.
"Dan rupanya, Tuan Muda dari keluarga terhormat ini sama sekali tidak memiliki tata krama dasar dalam menyambut seorang tamu wanita. Pantas saja kerjaannya hanya bisa mendompleng kekayaan keluarga tanpa tahu cara menghargai orang lain," balas Reina dengan nada suara yang tenang namun setajam silet, membuat atmosfer di meja makan mewah mendadak membeku kaku seketika.
Demian dan Tuan William yang duduk di dekat mereka sontak tertegun, saling berpandangan dengan cemas tatkala melihat percikan api permusuhan yang langsung menyambar di antara kedua anak muda tersebut.
Pertemuan malam itu bukanlah sekadar acara makan malam perjodohan biasa. Itu adalah titik mula dari medan pertempuran sengit antara dua mahasiswa tingkat akhir dengan ego besar yang sama kerasnya. Dan di dalam hati kecilnya, Reina bersumpah—ia tidak akan pernah membiarkan dirinya tunduk begitu saja di bawah telapak kaki sang Tuan Muda Angkuh.