Indonesia
NovelToon NovelToon
Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO / Menantu Pria/matrilokal
Popularitas:60
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Di malam ulang tahun sang mertua, Raka menyiapkan satu meja penuh masakan—dan menunggu sendirian sampai dingin, karena istri, anak, dan mertuanya malah pergi ke ruang VIP mewah yang dipesan Sebastian, sang cinta lama. Malam itu juga Raka berhenti jadi "kacung": ia mengajukan cerai, pergi tanpa menuntut sepeser pun harta keluarga Prawira, dan melangkah keluar dengan kepala tegak.

Semua orang menyangka si menantu numpang itu akan merengek balik dalam 24 jam. Yang tidak mereka tahu: Raka bukan sekadar pelukis mural berbakat yang bisa membangun kerajaannya sendiri dari nol lewat siaran langsung dan ukiran—ia adalah **putra sejati yang hilang dari Dinasti Giok Adiwangsa**, keluarga konglomerat nomor satu yang mencarinya belasan tahun. Dan perempuan sederhana yang diam-diam mengejarnya? Dialah **Anindya, Sang Ratu Konglomerat Wibisana**, yang menyembunyikan kekayaan triliunan demi cinta yang ia pendam 15 tahun.

Saat Raka naik dari "menantu buangan" jadi tuan muda dinasti giok, saat setiap penghinaan dibalas dengan bukti, bakat, dan kuasa—mantan istri, mertua matrealistis, dan sang cinta lama satu per satu menyesal setengah mati. Larasati akhirnya berlutut memohon rujuk.

Tapi maaf, Bu—**anak dari Ratu Konglomerat sudah dalam kandungan, dan aku tak akan menoleh lagi.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35 — Ukiran yang Menyentuh Hati

Tiga hari berarti tujuh puluh dua jam.

Raka memakai dua belas jam pertama untuk tidak menggambar.

Ia membaca ulang catatan ruang, jalur cahaya, kalimat yang terlihat pada naskah, serta semua hal yang tidak diizinkan disentuh. Setelah itu ia membuat tiga konsep dan membuang dua.

Konsep pertama terlalu penuh.

Konsep kedua terlalu sedih.

Konsep ketiga menyisakan ruang kosong.

Di atas bidang sembilan meter, naga Jawa bergerak rendah dari arah pintu. Tubuhnya tidak menguasai dinding, melainkan membentuk garis perlindungan di sekitar rumpun melati putih. Beberapa bunga mekar, sebagian masih kuncup. Ekor naga mengarah ke ruang baca, lalu berhenti sebelum meja tua.

Karya giok di tengah bukan patung naga besar.

Raka merancang satu cabang melati dengan dua bunga: satu terbuka menghadap pintu, satu lagi belum mekar menghadap ke dalam rumah. Lingkar naga hanya tampak dari ruang negatif di belakangnya.

Pada pagi hari, cahaya masuk melalui sela dan membentuk bayangan menuju foto lama. Menjelang sore, arah bayangan berbalik ke meja tempat naskah belum selesai.

"Pulang, menunggu, lalu hidup tetap berjalan," kata Beni.

"Jangan tulis kalimat itu di proposal. Biarkan bentuknya bekerja."

Bagas datang membawa data empat batu, bukan empat janji.

Setiap kandidat memiliki asal perdagangan, berat, foto seluruh sisi, pemeriksaan retak, hasil uji laboratorium, kisaran harga, dan estimasi kehilangan bahan saat dipotong. Tidak ada batu yang dibeli lebih dulu.

Raka memilih dua untuk dibawa sebagai sampel presentasi.

"Yang ini warna paling rata," kata Bagas.

"Terlalu rata. Melatinya akan terasa mati."

"Yang kedua ada jalur putih."

"Jalur itu bisa menjadi bunga. Tapi retak di bawahnya harus dipindai lagi."

"Akhirnya lo bicara seperti pembeli batu, bukan penjudi."

"Gue tidak pernah mau berjudi dengan uang klien."

Pada hari ketiga, Raka kembali ke Menteng.

Empat proposal lain sudah tersusun di meja. Ada visualisasi emas, marmer impor, burung mitologis, dan satu dinding digital yang dapat berubah warna lewat aplikasi.

Prof. Sutanto melihat papan Raka paling akhir.

"Naga lagi," katanya.

"Bukan untuk kemewahan."

"Semua perancang mengatakan simbol mereka memiliki makna."

Raka tidak menjelaskan lebih dulu. Ia memindahkan model lampu dari posisi pagi ke sore. Bayangan cabang giok bergerak dari arah foto ke meja naskah.

Sutanto berhenti mengetuk tongkat.

"Mengapa satu bunga belum mekar?"

"Karena rumah ini bukan hanya menyimpan seseorang yang sudah pergi. Prof masih tinggal di sini."

Asisten rumah menunduk.

Raka membuka lembar teknis. Teraso lama tidak dibongkar. Relief dipasang pada struktur terpisah dengan titik jangkar yang dapat dilepas. Meja, selendang, foto, dan naskah tidak disentuh. Jalur evakuasi tetap bersih. Batu giok dibeli hanya setelah pemindaian tambahan dan persetujuan tertulis.

"Kalau bayangannya meleset?" tanya Sutanto.

"Kami membuat mock-up satu banding satu pada bagian cahaya utama sebelum produksi. Jika sudutnya tidak sesuai pengukuran, proyek berhenti di tahap itu dan desain diperbaiki."

"Kalau batu retak saat dipotong?"

"Risikonya dicantumkan. Kandidat kedua punya cadangan bentuk yang lebih kecil. Saya tidak menjanjikan cabang sebesar gambar jika struktur batu tidak mengizinkan."

"Kalau saya ingin lebih banyak emas?"

"Pilih tim lain."

Salah satu pesaing tertawa pelan. Sutanto justru menatap Raka lama.

"Berapa biayanya?"

Total proyek Rp1.600.000.000. Tiga puluh lima persen uang muka untuk material, mock-up, struktur, tenaga, dan pengujian. Pembayaran kedua setelah relief dasar dan potongan giok disetujui. Pelunasan sesudah pemasangan, pencahayaan, dokumentasi bahan, dan serah-terima.

Biaya batu dipisahkan dalam lampiran, lengkap dengan rentang risiko.

"Mahal untuk orang yang baru masuk lingkaran ini," kata seorang anggota tim lain.

Sutanto menutup proposal mereka tanpa menoleh.

"Saya tidak meminta komentar peserta lain."

Ia mengambil pena.

"Saya memilih konsep ini. Bukan karena paling mahal atau paling murah. Karena untuk pertama kalinya, ada orang yang tidak mencoba mengganti rumah saya."

Kontrak ditandatangani setelah Wisnu memeriksa hak desain, perubahan ruang, asuransi pekerjaan, risiko batu, dan larangan memakai foto pribadi untuk promosi. Uang muka masuk ke rekening proyek terpisah.

Pekerjaan berlangsung tujuh minggu.

Bagas membawa kandidat giok kedua untuk pemindaian tambahan. Retak bawah ternyata stabil jika orientasi potongan diubah sebelas derajat. Prof. Sutanto menyetujui batu berdasarkan laporan, bukan hanya warna.

Saat potongan pertama dilakukan, enam orang berdiri jauh dari meja. Raka menandai arah serat, memeriksa pendinginan alat, dan mengurangi bentuk cabang tiga milimeter agar tidak memaksa jalur putih.

Pisau ukir bergerak pelan.

Ia tidak tahu dari mana ketepatan itu pertama kali datang. Tidak ada guru keluarga yang ia ingat. Namun ketika tangannya mengikuti serat, ia selalu merasa gerakan tertentu sudah ada jauh sebelum ia mempelajarinya secara sadar.

Bagas memperhatikan dari samping.

"Sudut pisau lo aneh."

"Salah?"

"Tidak. Orang tua di keluarga Adiwangsa pernah mengajarkan arah seperti itu untuk batu berserat. Gue cuma lihat sekali waktu kecil."

Raka berhenti sepersekian detik.

"Banyak perajin bisa menemukan cara yang sama."

"Mungkin."

Mereka tidak melanjutkan percakapan. Liontin di rumah tetap berada dalam kotaknya.

Relief dikerjakan dalam modul. Mitra baru hanya menangani bagian dasar yang sesuai sertifikasi mereka. Raka mengukir garis naga, sisik rendah, melati, dan semua pertemuan bayangan. Beni memeriksa batch, akses, serta cap proyek. Setiap perubahan ditandatangani.

Pada minggu ketiga, jalur cahaya mock-up meleset empat sentimeter karena tirai baru memotong sudut.

Raka tidak menyalahkan rumah.

Ia meminta tirai dikembalikan ke posisi penggunaan normal, mengukur ulang, dan menggeser titik cabang. Sutanto melihat proses itu tanpa komentar.

Pada minggu keenam, bunga giok pertama muncul.

Jalur putih alami batu menjadi kelopak. Hijau lembut membentuk daun. Satu retak kecil yang tidak boleh dipotong justru disembunyikan dalam garis pertemuan dua batang, tanpa lem warna atau klaim bahwa batu sempurna.

"Anda tidak menghapus cacatnya," kata Sutanto.

"Kalau dipaksa hilang, bunganya kehilangan setengah ukuran."

"Istri saya tidak suka benda yang berpura-pura sempurna."

Itu pujian pertama yang ia berikan.

Hari serah-terima tiba tanpa wartawan.

Raka meminta semua lampu buatan dimatikan. Pintu depan dibuka. Cahaya pagi menyentuh cabang giok, melewati rongga naga, lalu menjatuhkan bayangan bunga ke dekat foto lama.

Sutanto berdiri seorang diri di tengah foyer.

Ia tidak bicara selama hampir satu menit.

Kemudian cahaya bergerak sedikit. Bayangan satu kuncup terpisah dari bunga yang mekar dan mengarah ke ruang baca.

Mata lelaki tua itu memerah.

"Dia selalu masuk lebih dulu," katanya lirih. "Saya yang tinggal di pintu memeriksa koper."

Raka tidak menjawab. Penjelasan apa pun akan merusak saat itu.

Sutanto berjalan ke meja lama dan meletakkan tangan di samping pena. Foyer tidak tampak seperti makam. Goresan teraso, kait payung, selendang, dan naskah masih memiliki tempat. Karya baru hanya menghubungkan semuanya.

Pemeriksaan teknis berlangsung sesudahnya. Jangkar, kestabilan, permukaan, pencahayaan, jalur berjalan, dokumentasi material, nomor cap, dan garansi lulus. Sutanto menandatangani berita acara dan memerintahkan pelunasan sesuai kontrak.

Ia juga mengirim undangan kepada dua kurator, seorang pemilik galeri, dan tiga anggota yayasan budaya untuk melihat karya pada pekan berikutnya. Tidak ada janji mereka akan memberi proyek.

"Saya hanya membuka pintu," katanya. "Masuk atau tidak tetap bergantung pada karya Anda."

"Itu sudah cukup."

Orang-orang yang sebelumnya menyebut Raka sebagai pelukis internet kini berdiri lebih lama di depan ukiran daripada di depan portofolio mereka sendiri.

Sutanto mendekati bunga giok dan mengamati bekas potongan di bawah kelopak.

"Teknik ini bukan sekadar hasil melihat video," katanya. "Ada disiplin lama di sudut pisaunya."

Raka menatap karyanya.

"Saya belajar sendiri dari banyak sumber."

"Bisa jadi." Sutanto memandang tangannya. "Tapi ukiranmu memiliki rasa teknik yang diwariskan seorang maestro."

Ia mengangkat wajah.

"Anak muda, sebenarnya kamu berasal dari keluarga mana?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!