Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Albino Sang CEO

Istri Albino Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: QueenMardhiah

Yasmin Nayara, seorang gadis dengan albinisme yang membuatnya selalu menjadi sorotan negatif—dari orang-orang yang takut dan menghindar, hingga keluarga pamannya yang memperlakukannya begitu buruk. Bahkan, Yaya dijadikan pelunas hutang untuk dinikahkan dengan seorang juragan kaya yang memiliki banyak istri.

----------

Tak mampu menanggungnya, Yaya kabur di hari pernikahannya dan merantau ke kota dengan bermodalkan nekat.
Namun takdir punya jalan lain. Di hari pertamanya di kota, Yaya hampir diperkosa oleh seorang pria dalam pengaruh obat, yang ternyata adalah Baskara Narendra yang sedang dijebak rekan bisnisnya.


Baskara yang kalap menarik Yaya ke dalam mobilnya untuk melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Namun aksi Baskara itu dipergoki Warga dan dipaksa menikah secara mendadak.

----------

Apa yang akan terjadi pada hubungan tak terduga ini di tengah perbedaan latar belakang dan masa lalu yang menyakitkan? Apa lagi Baskara terkenal dingin dan pemarah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenMardhiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berbelanja Di Tengah Ancaman

Mereka tiba di pusat perbelanjaan yang ramai. Begitu mobil diparkir rapi di tempat khusus, Baskara tidak langsung membuka pintu. Ia menoleh ke arah Yasmin dan memberi isyarat agar menunggu sebentar. Tangannya meraih kotak penyimpanan di samping tempat duduk, mengeluarkan sebuah topi lebar dan masker wajah, lalu segera memakainya dengan rapi. Ia menyesuaikan posisi topinya hingga menutupi sebagian dahi, dan memastikan masker menutupi hidung serta mulutnya dengan baik.

Yasmin menatapnya dengan pandangan bingung, lalu bertanya pelan, "Pak... Kenapa Bapak memakai itu? Apakah Bapak sedang sakit?"

Baskara menatapnya sekilas, lalu merapikan sedikit ujung topinya. "Bukan. Kau lupa posisi saya? Nama dan wajah Saya dikenal banyak orang, bahkan media sering mengawasi pergerakan Saya. Kalau sampai ada paparazi atau awak media yang memotret kita berjalan bersama, nanti akan timbul pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu. Pernikahan kita ini belum diketahui siapa pun, dan Saya tidak ingin berita yang tidak benar atau spekulasi liar tersebar di mana-mana. Ini demi keamanan keluarga saya, supaya tidak ada gangguan yang mengganggu nantinya."

"Maaf, Pak... Saya tidak memikirkannya sampai ke sana," ucap Yasmin dengan nada menyesal, menundukkan kepala sedikit.

"Tidak apa-apa. Sekarang ingat, tetap berjalan di sampingku, jangan melambat atau berjalan mendahului, dan jangan berbicara terlalu keras di depan orang banyak. Paham?" pesannya dengan nada tegas namun lembut.

Yasmin mengangguk antusias sambil membuka pintu mobil. "Siap, Pak. Saya akan mengikuti langkah Bapak terus, tidak akan lepas."

Mereka berjalan masuk ke dalam gedung yang sejuk dan terang. Suasana riuh suara orang-orang dan musik pengiring membuat suasana terasa hidup. Baskara berjalan di sampingnya, sesekali menoleh ke sekeliling dengan waspada, memastikan tidak ada orang yang mencurigakan atau kamera yang mengarahkan ke arah mereka. Yasmin sesekali menoleh ke kiri dan kanan, matanya berbinar melihat berbagai barang yang dipajang, namun ia tetap menjaga jarak dekat dengan Baskara seperti yang diingatkan.

Saat mereka sampai di bagian kebutuhan dapur, Yasmin mulai mengambil barang-barang yang tercatat di daftarnya. Ia bergerak dengan teliti, memeriksa tanggal kedaluwarsa dan harga dengan hati-hati. Baskara berdiri tidak jauh darinya, sesekali memeriksa ponselnya, namun matanya tetap mengawasi pergerakan istrinya dari sudut pandang, sekaligus mengamati lingkungan sekitar.

"Pak, ini mereknya yang biasa kita pakai, kan? Harganya sedikit lebih mahal dari yang lain, tapi kualitasnya lebih terjamin," tanya Yasmin sambil mengangkat sebuah kemasan beras, memastikan ia tidak salah memilih.

Baskara melangkah mendekat, melirik barang itu sekilas. "Benar. Ambil saja yang itu. Jangan memikirkan soal harga, yang penting barangnya bagus dan berkualitas. Uang bukan masalah, asalkan kau tidak membeli barang yang tidak berguna."

"Baik, Pak. Terima kasih," jawab Yasmin sambil memasukkannya ke dalam keranjang belanja.

Tak lama kemudian, seorang pramuniaga wanita mendekat dengan senyum ramah. "Selamat berbelanja, Pak, Bu. Apakah ada yang bisa saya bantu? Ada promosi khusus hari ini untuk pembelian di atas jumlah tertentu, lho."

Yasmin menoleh sejenak, lalu menatap Baskara seolah meminta persetujuan. Sebelum ia sempat bicara, Baskara sudah menjawab lebih dulu dengan nada yang tetap sopan namun tidak terlalu terbuka.

"Kami cuma membeli kebutuhan pokok saja. Tidak perlu barang tambahan. Terima kasih," ucapnya singkat.

Pramuniaga itu mengangguk mengerti dan pamit pergi. Yasmin menatap suaminya dengan senyum kecil. "Bapak memang cepat sekali mengambil keputusan. Kalau saya, pasti masih bingung menimbang-nimbang dulu."

"Itulah gunanya aku ada di sini. Supaya kau tidak membuang waktu untuk hal-hal sepele. Cepat selesaikan belanjaannya, nanti Saya masih ada urusan lain," jawab Baskara, meski ia sebenarnya tidak memiliki urusan mendesak, ia hanya ingin tetap terlihat sibuk agar alasannya menemani masuk akal, sekaligus memastikan mereka segera meninggalkan tempat umum ini secepatnya.

Sementara mereka sibuk berbelanja, di salah satu sudut yang agak gelap di dekat pintu masuk, seseorang sedang mengintai dari balik tiang penyangga. Orang itu mengintip sambil memegang ponsel, merekam gerak-gerik mereka secara diam-diam. Itu adalah salah satu anak buah yang dikirim untuk memantau, mengikuti arahan dari Juragan Irwan.

"Lihat saja, sepertinya pria itu benar-benar menjaganya dengan ketat. Bahkan dia menutupi identitasnya supaya tidak dikenali. Sulit sekali mendekat saat dia ada di sampingnya," gumam orang itu pelan, lalu segera mengirimkan rekaman dan pesan singkat kepada atasannya.

Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Ia mengangkatnya dengan suara pelan.

"Halo, Juragan. Ya, mereka sedang berbelanja sekarang. Pria itu memakai topi dan penutup wajah, tidak lepas dari sisi gadis itu sama sekali. Sepertinya kita butuh rencana lain kalau mau mendekatinya..."

Suara dari seberang sambungan terdengar rendah namun tegas.

"Biarkan saja mereka dulu. Jangan lakukan apa-apa sekarang. Tugasmu cuma memantau dan melaporkan. Cari tahu kapan pria itu tidak ada, atau kapan gadis itu keluar sendirian. Itu saatnya kita bertindak. Paham?"

"Baik, Juragan. Saya akan terus mengawasi dan melaporkan setiap gerakan mereka."

Setelah sambungan ditutup, orang itu kembali mengawasi dengan hati-hati, memastikan tidak ada yang menyadari keberadaannya.

Sementara itu, di ruang belanja, Yasmin sudah menyelesaikan pemilihan barang. Ia mendekat ke arah Baskara dengan keranjang yang sudah terisi penuh.

"Pak, semuanya sudah selesai. Boleh kita ke kasir sekarang," lapornya dengan senyum puas.

Baskara menatap isinya sekilas, lalu mengangguk. "Baiklah. Ayo."

Saat mereka berjalan menuju kasir, tiba-tiba seorang anak kecil berlari cepat melewati mereka, hampir menabrak Yasmin. Refleks yang cepat, Baskara langsung meraih lengan Yasmin dan menariknya mendekat ke arah dirinya, menjauhkannya dari bahaya.

"Hati-hati! Jangan melamun terus, lihat sekelilingmu!" tegurnya, namun genggamannya di lengan Yasmin terasa lembut dan penuh perhatian, bukan kekerasan.

Yasmin tertegun sejenak, wajahnya memerah karena sentuhan dan perhatian yang tak terduga itu. "Maaf, Pak... saya tidak melihatnya datang. Terima kasih sudah menolong saya."

Baskara menyadari apa yang ia lakukan, ia segera melepaskan genggamannya dan memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan rasa canggung yang tiba-tiba muncul.

"Ya sudah, tidak apa-apa. Cepat bayar, kita pulang," ucapnya cepat, suaranya terdengar sedikit lebih tinggi dari biasanya.

Mereka pun membayar semua barang dan keluar dari gedung menuju tempat parkir. Selama perjalanan pulang, suasana di dalam mobil terasa sunyi namun terasa hangat. Yasmin sesekali melirik ke arah Baskara, mengingat peristiwa tadi. Rasanya, perlahan namun pasti, tembok pertahanan hati pria itu mulai runtuh, dan perhatiannya kini terlihat semakin nyata, meski masih dibalut dengan kata-kata yang tegas.

"Pak..." panggil Yasmin pelan saat mobil berhenti di lampu merah.

"Apa lagi?" jawab Baskara, matanya tetap menatap ke depan, namun telinganya mendengarkan dengan saksama.

"Kalau... kalau suatu hari nanti ada orang yang berniat jahat kepada saya, apakah Bapak akan tetap melindungi saya? Bahkan jika itu berarti Bapak harus menghadapi orang yang kuat dan berkuasa sekalipun?" tanyanya dengan nada ragu, pikirannya tanpa sadar teringat pada peringatan Baskara tempo hari, dan perasaan waspada yang mulai menyelinap masuk ke dalam hatinya.

Baskara terdiam sesaat. Lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, namun ia belum menginjak gas. Ia menoleh ke arah Yasmin, menatap matanya yang terlihat penuh tanya dan sedikit cemas. Tatapan matanya menjadi lembut, jauh lebih lembut dari biasanya.

"Kenapa kau tanya begitu? Apakah ada hal yang mengganggumu? Atau ada orang yang sudah mengganggumu?" tanyanya dengan nada serius, nada bicaranya menjadi lebih rendah dan perhatian.

"Tidak, tidak ada. Saya cuma penasaran saja..." jawab Yasmin cepat, menggelengkan kepala.

Baskara menatapnya lama, lalu menghela napas pelan, memutar kembali wajahnya ke arah jalanan dan mulai melajukan mobil.

"Dengar baik-baik, Yasmin. Saya tidak suka membuat janji kosong, dan aku juga tidak suka berbicara berlebihan. Tapi satu hal yang harus kau ingat..." ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada tegas namun meyakinkan, "Selama kau masih di bawah tanggung jawab saya, dan selama kau masih menjadi istriku, tidak ada seorang pun yang boleh menyakitimu atau membawamu pergi tanpa izinku. Siapa pun orangnya, seberapa pun besar kekuasaannya, aku tidak akan membiarkannya. Saya akan melindungimu, itu sudah menjadi kewajiban Saya. Dan... Saya tidak akan membiarkan apa pun terjadi padamu. Paham?"

Mendengar jawaban itu, mata Yasmin terasa berkaca-kaca. Hatinya berdebar kencang, perasaan haru memenuhi seluruh dadanya. Ia mengangguk perlahan, senyum tulus terukir di bibirnya.

"Terima kasih, Pak... Saya mengerti. Saya merasa sangat beruntung memiliki Bapak sebagai suami saya."

Baskara hanya mendengus pelan, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sulit dilihat.

"Sudah, jangan banyak bicara. Fokus saja duduk dengan tenang. Kita segera sampai di apartemen," ucapnya, namun di dalam hatinya, ia telah membuat tekad yang kuat.

'Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, dan aku juga belum sepenuhnya mengerti perasaan ini. Tapi satu hal yang aku yakin... aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu. Bahkan jika aku harus mempertaruhkan segalanya, aku akan memastikan kau tetap aman di sisiku.'

Di tempat lain, pesan yang dikirim oleh pengintai itu sampai ke tangan Juragan Irwan. Saat ia membaca laporan itu, senyumnya semakin melebar, namun tatapannya terlihat tajam dan penuh perhitungan.

"Jadi, dia benar-benar melindunginya sepenuhnya, bahkan sampai menyembunyikan wajahnya demi menjaga kerahasiaan, ya? Bagus... Itu justru membuat permainan ini menjadi lebih menarik. Tunggu saja. Sebentar lagi aku akan melihat apakah kau benar-benar mampu menjaganya sampai kapan pun..." gumamnya pelan, lalu tertawa kecil, bersiap menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan aksinya.

1
Santy 2a
semoga banyak yang baca semangat kak
QueenMardhiah: aamiin... terimakasih sudah mampir. jangan lupa follow juga ya 🙏🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!