"Ternyata selama ini aku salah mengira. Perempuan yang kutemui di pondok baru itu bukanlah perempuan yang mengajakku ta'aruf. Aku terlalu cepat menyimpulkan hanya karena namanya sama. Ah, betapa cerobohnya aku... Seandainya sejak awal aku tidak terburu-buru membuat penilaian, mungkin kebingungan ini takkan pernah terjadi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu
Pulang dari rumah sakit, suasana hatiku benar-benar tidak menentu.
Kejadian kecelakaan tadi masih terbayang jelas di kepalaku. Suara benturan itu, darah yang mengalir, kepanikan orang-orang, sampai akhirnya kami bisa membawa korban ke rumah sakit.
Namun anehnya, di antara semua kejadian itu, ada satu hal sederhana yang justru terus terngiang-ngiang.
Sebotol air yang diberikan ustadzah Aisyah kepadaku.
Entah kenapa hal sesederhana itu terasa begitu berarti.
Mungkin karena selama ini aku terlalu terbiasa menerima semuanya sendiri. Menyelesaikan masalah sendiri, menahan lelah sendiri, bahkan menyembunyikan sisi-sisi diriku yang tidak ingin diketahui orang lain.
Tapi hari ini, aku merasa seperti seseorang telah melihatku sedikit lebih dekat.
Aisyah melihat aku dalam keadaan lelah. Melihat kepanikan dan kekuranganku. Melihat bahwa aku tidak selalu setenang yang orang-orang kira.
Dan anehnya...
aku justru merasa lega.
Bukankah kalau seseorang benar-benar ingin berjalan bersamaku, dia memang harus tahu siapa diriku sebenarnya?
Dia harus tahu bahwa aku punya banyak kekurangan.
Bahwa aku bisa salah.
Bahwa terkadang aku bingung menentukan sikap.
Bahwa aku juga bisa lelah, takut, dan membutuhkan seseorang untuk sekadar berkata, “Tidak apa-apa.”
Aku tersenyum kecil.
Mungkin selama ini aku terlalu sibuk memikirkan bagaimana agar terlihat baik di hadapannya.
Padahal kalau suatu hari nanti Aisyah benar-benar menjadi seseorang yang dekat denganku, aku tidak mungkin terus memakai topeng.
Dia harus mengenal diriku yang sebenarnya.
Bukan hanya sisi yang terlihat kuat.
Bukan hanya ketika aku sedang memimpin, mengajar, atau menyelesaikan masalah.
Tapi juga diriku yang diam-diam menyimpan banyak kegelisahan.
Diriku yang terkadang tidak tahu harus berkata apa ketika berhadapan dengannya.
Diriku yang jantungnya bisa berdetak lebih cepat hanya karena sebuah perhatian sederhana.
Aku menghela napas panjang.
“Harapan...” gumamku pelan.
Aku bahkan masih ragu menyebutnya sebagai harapan.
Terlalu dini untuk menyimpulkan apa pun.
Tapi untuk pertama kalinya, aku tidak ingin buru-buru menyingkirkannya.
Biarlah harapan itu ada.
Kalau memang Allah tidak menakdirkannya, semoga aku diberi hati yang lapang untuk menerimanya.
Namun jika ternyata Allah sedang membuka jalan yang selama ini tidak pernah kuduga...
aku ingin menjalaninya tanpa harus berpura-pura menjadi seseorang yang bukan diriku.
Karena mungkin, dicintai bukan tentang menemukan seseorang yang tidak memiliki kekurangan.
Tetapi menemukan seseorang yang bersedia mengenal kekurangan kita, lalu tetap memilih untuk berjalan bersama.
Dan entah kenapa, malam itu aku mulai bertanya kepada diriku sendiri...
“Mungkinkah Aisyah adalah orang itu?”
Hammad membuka pintu kamar dan seketika membuyarkan lamunanku.
“Kamu masih trauma, Lam?” tanyanya.
Aku mengangguk pelan.
Hammad meletakkan sesuatu di atas meja, lalu duduk di hadapanku.
“Sebenarnya aku hanya mendengar sebagian kejadian yang menimpamu setahun lalu. Tapi aku tidak tahu detailnya seperti apa. Tapi sepertinya masalah serius.”
Aku terdiam.
Tatapanku jatuh ke lantai.
Setahun.
Waktu yang cukup lama untuk membuat orang mengira sebuah kejadian telah selesai.
Tapi ternyata tidak semua luka sembuh hanya karena waktu terus berjalan.
Ada hal-hal yang memang tidak lagi terlihat dari luar, tetapi masih terasa ketika sesuatu mengingatkannya kembali.
Dan hari ini...
kecelakaan tadi seperti membuka pintu yang selama ini sengaja kututup rapat.
Aku menarik napas panjang.
Apakah aku sudah siap menceritakan semuanya?
Selama ini aku tidak banyak bercerita kepada orang lain. Bukan karena aku tidak percaya kepada mereka, tetapi karena ada beberapa kisah yang terlalu berat untuk diucapkan kembali.
Kadang menceritakan sebuah luka terasa seperti mengalaminya untuk kedua kalinya.
Hammad menatapku tanpa memaksa.
“Kalau kamu belum siap, nggak apa-apa,” katanya.
Aku mengangkat wajah.
Entah kenapa kalimat sederhana itu justru membuat pertahananku sedikit runtuh.
Mungkin aku memang belum sepenuhnya siap.
Tapi mungkin juga...
aku sudah terlalu lama menyimpan semuanya sendirian.
Aku tersenyum tipis.
“Ham...”
“Iya?”
“Aku nggak tahu harus mulai dari mana.”
Hammad diam beberapa detik, kemudian menjawab dengan tenang.
“Mulai dari bagian yang paling mudah kamu ceritakan.”
Aku kembali terdiam.
Kalimat itu sederhana.
Tapi malam itu, untuk pertama kalinya setelah satu tahun, aku mulai mempertimbangkan untuk membuka kembali kisah yang selama ini kukunci rapat-rapat.
Aku menundukkan kepala.
“Kalau begitu...” ucapku lirih.
“Cerita itu dimulai sekitar setahun yang lalu.”
“Waktu itu aku masih koas,” aku mulai bercerita.
Hammad tidak menyela. Ia hanya mendengarkan.
“Aku tinggal bersama Pras, temanku sesama koas.”
Aku menarik napas sebelum melanjutkan.
“Waktu itu kami bangun kesiangan. Hari sebelumnya kami jaga dua sif sekaligus, jadi badan benar-benar sudah capek. Sebenarnya perjalanan dari kos-kosan kami ke rumah sakit tidak jauh. Paling lima belas menit kalau jalanan normal. Kalau sepi, bahkan bisa kurang dari itu.”
Aku berhenti sebentar.
“Tapi hari itu kami tergesa-gesa.”
Tanganku mengepal tanpa kusadari.
“Aku masih ingat suasana jalan waktu itu. Kulihat sebenarnya tidak ada orang yang sedang menyeberang. Jalanan juga terlihat biasa saja. Tapi entah kenapa... tiba-tiba terdengar suara motor melaju kencang.”
Aku menelan ludah.
“Setelah itu semuanya terjadi begitu cepat.”
Hammad masih diam.
“Yang tertabrak itu bagian belakang motor kami. Waktu itu aku yang berada di depan. Sedangkan Pras...” Suaraku mulai berat. “Pras terpental cukup jauh.”
Aku menundukkan kepala.
“Waktu aku mendekatinya, aku masih bisa melihat dia bernapas.”
Aku menarik napas panjang, mencoba mengendalikan suara yang mulai bergetar.
“Aku langsung berusaha melakukan pertolongan pertama. Aku pikir... dia masih bisa diselamatkan.”
Aku terdiam cukup lama.
“Tapi entah bagaimana...”
Suaraku nyaris berbisik.
“Pras pergi.”
Kamar mendadak terasa begitu sunyi.
Aku menatap kedua tanganku.
“Yang paling sulit bukan ketika aku tahu dia meninggal, Ham.”
Hammad menatapku.
“Tapi karena sampai sekarang aku masih sering berpikir... seandainya waktu itu aku lebih cepat. Seandainya aku melakukan sesuatu yang berbeda. Seandainya aku tidak tergesa-gesa.”
Aku tersenyum pahit.
“Padahal aku tahu, sebagai orang yang belajar di bidang kesehatan, aku seharusnya paham bahwa tidak semua kematian bisa kita cegah.”
Aku mengusap wajah.
“Tapi hati ini nggak selalu mau menerima apa yang sudah dipahami kepala.”
Hammad tidak mengatakan apa-apa.
Dan untuk pertama kalinya setelah satu tahun, aku membiarkan seseorang mendengar bagian dari kisah yang selama ini hanya kusimpan sendiri.
“Aku selamat, Ham,” lanjutku lirih.
“Tapi sejak hari itu... rasanya ada bagian dari diriku yang tertinggal di jalan itu bersama Pras.”
jangan lupa masukkan untuk karya ku.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
😄🙏🙏🙏