Indonesia
NovelToon NovelToon
SANCTUARY DI PERKARANG RUMAH

SANCTUARY DI PERKARANG RUMAH

Status: tamat
Genre:Fantasi Isekai / Reinkarnasi / Sistem / Tamat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: AME author

Terlahir kembali sebagai NPC ber-skill ampas [Fortify], Raka—yang kini bernama Kayy—hanya ingin hidup tenang dan memanjakan istrinya, Alya.
Siapa sangka, kebiasaannya merawat gubuk jutaan kali malah mengubah rumah dan pekarangannya menjadi [Sanctuary Domain]—zona perlindungan mutlak terkuat di dunia yang membalatkan semua sihir pemusnah, sementara sayur kebunnya sanggup menyembuhkan luka fatal secara instan.
Kini, di saat dunia terancam hancur oleh Raja Iblis, para Pahlawan malah mengantre dan berlutut di pagar rumahnya demi meminta bantuan. Namun bagi Kayy, tak ada urusan dunia yang lebih penting daripada menyeduh teh sore bersama Alya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA CANGKIR TEH DAN LUKISAN LANGIT KELAM

Gemericik air yang jatuh dari ujung gayung kayu menjadi satu-satunya nada harmoni di sudut pekarangan itu. Udara pagi terasa sejuk, membawa aroma tanah basah yang berpadu dengan wangi manis dedaunan herbal. Di antara gumpalan uap tipis dari tanah, Kayy berlutut santai. Tangannya yang terbungkus celemek kain kusam bergerak penuh kehati-hatian, menepuk-nepuk pangkal batang wortel bercahaya keemasan yang baru saja ia siram.

Sistem di sudut penglihatannya sempat berkedip redup, menampilkan jendela transparan biru yang sangat ringkas:

[Aktivitas: Merawat Struktur & Tanah]

[Pengulangan Skill: Fortify - Level 1 (Selesai)]

[Status Pemilik: NPC - Warga Biasa]

Kayy tersenyum tipis. Ia mengibaskan sisa tanah di tangannya, lalu mengusap keringat dingin di dahi. Tak ada deretan angka status yang rumit, tak ada bilah stamina yang menguras pikiran. Kehidupan ini sungguh luar biasa jika dibandingkan dengan masa lalunya di Bumi—saat ia masih bernama Raka, seorang buruh ketik berusia dua puluh lima tahun yang mati konyol akibat penusukan di lorong apartemennya yang sepi.

Di dunia ini, ia hanya Kayy. Pemuda berusia dua puluh tahun yang tak punya ambisi besar selain memastikan atap rumahnya tidak bocor saat hujan deras tiba.

"Sayang, sarapannya sudah siap," suara lembut itu mengalun dari arah teras, memecah keheningan pagi.

Kayy langsung berdiri seketika. Refleks tubuhnya saat mendengar suara itu jauh lebih cepat daripada reaksi seorang Assassin tingkat tinggi. Ia memutar badan, mendapati seorang perempuan berambut pirang keemasan sedang berdiri menyandarkan tubuh di tiang kayu teras. Alya mengenakan gaun pedesaan berwarna biru pudar yang bersahaja, namun keanggunan alaminya tak pernah bisa disembunyikan. Senyum tipis mengembang di bibirnya yang merah muda, memancarkan kedamaian yang selalu berhasil meluluhkan lelah Kayy.

"Sebentar, ya. Aku cuci tangan dulu," sahut Kayy, membalas senyuman itu dengan binar mata yang hangat.

Ia berjalan menuju gentong air di pinggir teras. Saat melangkah, kakinya tak sengaja melintasi garis batas pekarangan—sebuah garis tak kasat mata yang terbentuk dari pengulangan skill [Fortify] milik Kayy selama bertahun-tahun. Bagi orang luar, area itu hanyalah pekarangan gubuk kayu biasa. Namun bagi sistem dunia, area ini adalah [Sanctuary Domain: Absolute Home], sebuah wilayah dengan tingkat kerapatan energi yang menolak segala bentuk anomali, sihir pemusnah, hingga otoritas dewa.

Tetapi bagi Kayy dan Alya, itu hanyalah halaman rumah yang bersih.

Alya meletakkan nampan kayu berisi dua cangkir teh herbal yang asapnya masih mengepul lembut, berdampingan dengan piring berisi kentang panggang keemasan. Ia duduk di bangku kayu bertingkat, lalu menatap ke arah horizon barat daya dengan pandangan sedikit sendu.

Kayy menyadarinya. Ia mengeringkan tangannya pada celemek, lalu duduk di samping Alya. "Ada apa? Ada yang mengganggu pikiranmu?"

Alya menunjuk ke arah langit barat daya menggunakan telunjuknya yang lentik. "Lihat itu, Kayy. Awan hitamnya makin dekat dari kemarin."

Kayy mengikuti arah pandangan istrinya. Di balik pegunungan yang berjarak puluhan kilometer dari rumah mereka, langit terbelah menjadi dua. Sisi utara tempat gubuk mereka berdiri dihiasi langit biru yang cerah dan matahari pagi yang hangat. Namun di barat daya, awan gumpalan hitam pekat bergulung-gulung bagaikan monster raksasa. Kilatan petir merah dan ungu menyambar-nyambar, diselingi dentuman sihir pemusnah tingkat tinggi yang getarannya bahkan meretakkan gunung di kejauhan.

Raja Iblis dan Pasukan Pahlawan Kerajaan sedang bertempur hebat di sana. Pertempuran yang menentukan nasib seluruh benua.

"Ah... perang itu lagi," gumam Kayy santai. Ia mengambil satu cangkir teh, meniup uapnya perlahan, lalu menyesapnya penuh nikmat. Rasa pahit manis yang menyegarkan langsung mengalir ke kerongkongannya. "Tanaman herbal yang kamu racik makin enak saja, Alya."

"Kayy..." Alya menoleh, matanya yang biru jernih menatap Kayy dengan tatapan cemas sekaligus sedikit gemas. "Mereka bertempur sejak dua hari lalu. Kalau Pahlawan kalah, ledakan sihir Raja Iblis bisa menjangkau desa ini. Apa kita tidak perlu bersiap-siap? Atau setidaknya... mengungsi?"

Alya adalah mantan Saintess utama Kerajaan. Ia tahu betul seberapa mengerikannya daya hancur sihir tingkat Supreme. Meski ia sengaja memalsukan kematiannya demi melarikan diri dari tekanan istana dan menemukan kedamaian bersama Kayy, insting lamanya sebagai penyihir terkadang membuat dadanya sesak saat melihat kehancuran sebesar itu.

Kayy menurunkan cangkir tehnya. Tangannya yang agak kasar meraih jemari Alya yang halus, menggenggamnya erat dengan sentuhan hangat.

"Alya, dengarkan aku," kata Kayy dengan nada suara yang sangat tenang namun penuh keyakinan. "Pagar kayu yang kubuat di depan itu sangat kokoh. Aku sudah memperkuatnya berkali-kali dengan [Fortify]. Jangankan badai sihir dari barat daya, seandainya meteor jatuh tepat di atas gubuk kita pun, atap ini tidak akan bergoyang sedikit pun."

Alya menatap mata cokelat Kayy. Ada kebohongan dalam alasan matematis suami sederhananya itu—karena Alya tahu betul bahwa [Fortify] standar tidak mungkin sanggup menahan sihir pemusnah benua. Namun, Alya juga tahu ada rahasia tak terhingga di dalam diri suami "NPC"-nya ini. Dan kehangatan genggaman tangan Kayy selalu berhasil melenyapkan seluruh rasa takut di hatinya.

Alya menyandarkan kepalanya perlahan di bahu Kayy. "Aku percaya padamu, Sayang. Hanya saja... aku kasihan pada orang-orang yang terjebak di tengah perang itu."

"Mereka punya pahlawan untuk diandalkan," sahut Kayy sambil mengusap lembut rambut pirang Alya. "Sedangkan tugas utamaku hanya satu: memastikan kamu bisa minum teh sore nanti dengan tenang tanpa perlu memikirkan debu atau sisa ledakan."

Tiba-tiba, suara retakan udara yang sangat keras membahana di atas gubuk mereka!

BOOOOM!

Sebuah bola api raksasa—sisa ledakan sihir Meteoric Flare milik jenderal Raja Iblis dari jarak lima puluh kilometer—terlempar menembus atmosfer dan meluncur deras tepat menuju arah gubuk mereka. Kecepatannya membelah udara, menciptakan suara raungan yang sanggup merobek gendang telinga manusia biasa.

Alya sempat tersentak, refleks memegang lengan baju Kayy.

Kayy tidak bergeming. Ia bahkan tidak beranjak dari duduknya. Tanpa melepaskan genggaman tangannya dari Alya, Kayy mengambil sebuah kerikil kecil yang tergeletak di samping kakinya menggunakan tangan kiri.

Dengan gerakan yang tampak seperti orang membuang sampah sembarangan, Kayy menyentil kerikil itu ke atas.

[Skill: Precision Kinetic]

FWOOOSH!

Kerikil kecil itu meluncur ke udara, berubah menjadi garis cahaya tipis yang hampir tak kasat mata. Begitu kerikil tersebut bersentuhan dengan bola api raksasa yang besarnya hampir seukuran gubuk mereka, bola api itu langsung terbelah dua secara sempurna, lalu lenyap menguap menjadi partikel cahaya tanpa meninggalkan efek ledakan maupun tekanan udara sedikit pun.

Langit di atas gubuk kembali cerah seketika. Burung-burung kecil kembali berkicau di pohon mangga samping rumah.

Alya mengedipkan matanya beberapa kali, lalu mengembuskan napas lega yang panjang. Ia menatap kerikil-kerikil di tanah, lalu menatap suaminya yang kembali santai menyesap tehnya.

"Sentilanmu makin rapi, Sayang," puji Alya dengan senyuman kecil.

"Efisiensi gerakan," sahut Kayy pendek seraya terkekeh. "Sayang kalau tehnya kemasukan debu."

Namun, kedamaian pagi itu tak bertahan lama. Dari balik semak-semak di luar pagar pekarangan mereka, terdengar langkah kaki yang terseret-seret dan napas terengah-engah yang memburu.

Sesosok pria berzirah emas yang sudah hancur lebur, tubuhnya dipenuhi darah dan luka bakar akibat sihir Raja Iblis, merangkak kepayahan menuju pintu pagar kayu Kayy. Pedang suci di tangannya sudah patah separuh.

"To... tolong..." bisik pria itu, sang Pahlawan Utama Kerajaan, sebelum akhirnya pingsan menabrak pagar kayu pekarangan Kayy.

Kayy menghentikan usapan tangannya di bahu Alya. Ia menghela napas panjang, memasang wajah datar yang memancarkan rasa malas tingkat tinggi.

"Alya," panggil Kayy pelan.

"Ya, Sayang?"

"Lain kali, tolong ingatkan aku untuk memasang papan tulisan 'Dilarang Pingsan di Depan Pagar' yang lebih besar."

1
Eka P
v
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!