Anyara menikahi Juned, pria dari keluarga berkecukupan, tapi hidupnya jauh dari nyaman — suami pelit karena terlalu penurut pada ibunya, mertua cerewet tak henti mencela, tetangga sibuk menggosip. Di balik itu, Juned diam-diam membiayai wanita lain.
Takdir mempertemukan Anyara dengan Hans, pria kaya yang ia selamatkan dari preman dengan cara kocak yang justru membuat Hans jatuh hati diam-diam. Ketika Hans kelak balas menyelamatkan Anyara dari bahaya, kedekatan mereka tumbuh perlahan — hingga kebohongan Juned akhirnya terbongkar, dan Anyara harus memilih jalan hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB DUA PULUH DELAPAN
Pagi itu, Anyara bangun dengan perasaan yang jauh lebih tenang dibanding malam-malam sebelumnya. Ia sudah mengambil cuti kerja hari itu, mempersiapkan diri untuk pertemuan penting dengan Pak Bram yang akan menjadi titik balik dalam hidupnya.
Hans menjemputnya sesuai janji, membawa mobilnya berhenti di depan gang dekat rumah seperti biasa, menghindari perhatian tetangga yang mungkin masih penasaran dengan kehidupan rumah tangganya.
"Siap, Mbak?" tanya Hans, begitu Anyara masuk ke mobil.
"Siap, Pak. Aneh rasanya, saya kira bakal deg-degan banget, tapi malah lebih ke tenang," jawab Anyara, menatap ke depan dengan mata yang menunjukkan ketegasan baru.
Perjalanan menuju kantor Pak Bram terasa singkat, meski di dalam hati Anyara, ribuan kenangan tentang tiga tahun pernikahannya berkelebat—hari pernikahan sederhana mereka, saat-saat awal yang masih dipenuhi harapan, hingga perlahan berubah menjadi rutinitas penuh kebohongan yang berujung pada keputusan besar hari ini.
Di kantor Pak Bram, dokumen gugatan sudah tersusun rapi di atas meja, menunggu tanda tangan terakhir.
"Bu Anyara, sebelum kita lanjut, saya perlu pastikan lagi, apakah Ibu benar-benar sudah yakin dengan keputusan ini? Karena setelah ditandatangani, prosesnya akan berjalan secara resmi," ucap Pak Bram, menatap Anyara dengan serius.
Anyara menghela napas panjang, menatap dokumen yang berisi rangkuman kronologi pernikahannya yang penuh kepahitan. "Saya yakin, Pak. Bahkan setelah kejadian kemarin—soal Sinta yang hamil—saya makin yakin ini keputusan yang tepat."
"Baik, kalau begitu, mari kita mulai," ucap Pak Bram, menyerahkan pena kepada Anyara.
Tangan Anyara sedikit gemetar saat menandatangani setiap halaman dokumen itu, tapi tekadnya tidak goyah sedikit pun. Setiap goresan tanda tangan itu terasa seperti melepaskan satu per satu beban yang selama bertahun-tahun ia pikul sendirian—kebohongan Juned, tekanan dari Ratih di masa lalu, gosip tetangga yang tak pernah berhenti, dan rasa tidak berharga yang selama ini tertanam dalam dirinya.
Setelah tanda tangan terakhir dibubuhkan, Pak Bram merapikan dokumen itu dengan hati-hati. "Baik, Bu. Selanjutnya, saya akan segera mengajukan berkas ini ke Pengadilan Agama. Prosesnya mungkin akan memakan waktu beberapa minggu sampai bulan, tergantung respons dari pihak suami."
"Terima kasih banyak, Pak. Saya nggak tau harus gimana kalau nggak ada bantuan Bapak dari awal."
"Sama-sama, Bu Anyara. Saya salut sama keberanian Ibu menghadapi semua ini. Tidak semua orang punya kekuatan untuk mengambil keputusan sebesar ini."
Sepulang dari kantor Pak Bram, Hans mengajak Anyara mampir sebentar ke sebuah taman kota yang tenang, memberi waktu bagi Anyara untuk mencerna semua yang baru saja terjadi.
Mereka duduk berdampingan di bangku taman, menyaksikan anak-anak bermain di kejauhan, suasana sore yang tenang jauh berbeda dari gejolak emosi yang baru saja Anyara lalui.
"Gimana perasaannya sekarang, Mbak? Udah lega?" tanya Hans, memecah keheningan.
Anyara menghela napas panjang, menatap langit sore yang mulai berwarna jingga. "Campur aduk, Pak. Ada lega, ada sedih, ada juga takut soal masa depan. Tapi yang paling dominan sih rasa lega, akhirnya saya berani ambil keputusan buat diri saya sendiri."
"Itu langkah yang luar biasa, Mbak. Nggak banyak orang yang berani kayak gitu, apalagi dengan situasi serumit yang Mbak alami."
Anyara menoleh menatap Hans, tersenyum tipis. "Semua ini juga nggak akan bisa saya lalui tanpa dukungan Bapak. Dari awal ketemu di gang itu, sampai sekarang, Bapak selalu ada."
Hans menatap balik, matanya menunjukkan ketulusan yang sudah lama ia simpan. "Saya seneng bisa jadi bagian dari perjalanan Mbak, meski awalnya cuma niat nolong biasa. Tapi lama-lama, saya sadar, saya pengen lebih dari sekadar jadi temen yang bantuin dari jauh."
Anyara terdiam, merasakan jantungnya berdebar mendengar pengakuan itu, meski ia tahu, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk memikirkan hubungan baru, mengingat statusnya yang masih dalam proses perceraian.
"Pak Hans, saya hargai banget perasaan itu. Tapi saya rasa saya butuh waktu buat benar-benar menyelesaikan semua ini dulu, sebelum mikirin apa pun yang lain."
"Saya ngerti, Mbak. Saya nggak akan maksa apa pun. Saya cuma pengen Mbak tau perasaan saya, dan saya siap nunggu kapan pun Mbak siap, tanpa tekanan."
Anyara mengangguk, menghargai kesabaran dan pengertian yang ditunjukkan Hans, sebuah sikap yang jauh berbeda dari segala kebohongan dan manipulasi yang selama ini ia alami dari Juned.
Malam itu, sesampainya di rumah, suasana terasa sunyi. Juned masih belum berani keluar dari kamar tamu, sementara Ratih menyambut Anyara dengan pelukan hangat yang jarang sekali ia berikan sebelumnya.
"Gimana, Nak? Udah selesai semuanya?" tanya Ratih, suaranya masih terdengar lelah setelah kejadian kemarin.
"Udah, Bu. Surat gugatannya udah saya tanda tangan, tinggal nunggu proses di pengadilan," jawab Anyara, membalas pelukan mertuanya dengan perasaan haru.
"Ibu minta maaf lagi, Nak, atas semua yang udah Ibu lakuin ke kamu selama ini. Kalau dari awal Ibu lebih ngedengerin kamu, mungkin semua ini nggak akan separah ini."
"Nggak apa-apa, Bu. Yang penting sekarang kita udah sama-sama tau kebenarannya," jawab Anyara, tersenyum tipis meski hatinya masih menyimpan banyak luka yang perlu waktu untuk sembuh sepenuhnya.
Malam itu, sebelum tidur, Anyara menatap langit-langit kamar yang kini terasa berbeda—bukan lagi kamar yang penuh kepura-puraan dan kebohongan, melainkan ruang yang perlahan menjadi miliknya sendiri untuk memulai lembaran baru, apa pun bentuknya nanti.