Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM PINTAR MENJADI SUPERSTAR

SISTEM PINTAR MENJADI SUPERSTAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Stevan Alvaro kehilangan segalanya dalam semalam ketika sebuah konspirasi menghancurkan pita suaranya dan merenggut mimpinya menjadi penyanyi besar, yang disusul oleh pengkhianatan kekasihnya yang memilih pergi meninggalkannya di titik terendah. Namun, di saat dunia seakan runtuh, sebuah suara misterius dari Sistem Pintar bangkit di dalam benaknya, memberinya kemampuan absolut dalam komposisi, produksi, dan penguasaan alat musik meski tanpa suara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Matahari mulai terbenam di ufuk barat, memancarkan cahaya jingga kemerahan yang menyorot jalanan berbatu di belakang kompleks Institut Musik Nusantara.

Stevan berjalan dengan langkah pelan dan penuh kewaspadaan, tas ransel besarnya tersampir erat di bahu kiri, menutupi sebagian punggungnya.

Clara berjalan setengah langkah di belakangnya dengan tangan mungil yang terus menggenggam ujung kemeja Stevan.

Suasana jalan pintas ini sangat sepi, tidak ada satu pun pejalan kaki lain yang lewat sejak mereka berbelok sepuluh menit yang lalu.

"Kak, perasaanku sangat tidak enak sejak kita meninggalkan studio," bisik Clara sambil menoleh ke kiri dan kanan dengan pandangan panik.

Stevan menghentikan langkah kakinya seketika.

Ia tidak langsung menoleh ke belakang, melainkan memiringkan kepalanya sedikit untuk mendengarkan.

[TING!]

[Deteksi ancaman fisik meningkat hingga 99 persen.]

[Ada empat individu tidak dikenal yang mendekati tuan rumah dari arah belakang dengan niat agresif.]

Stevan menutup matanya sejenak dan memfokuskan Pendengaran Absolut miliknya ke arah sumber suara.

Tap... tap... sret...

Suara langkah kaki itu sangat berat, pelan, dan sesekali terdengar suara logam yang bergesekan pelan dengan kain.

Itu pasti adalah suara pisau lipat atau tongkat besi yang sedang disembunyikan di dalam jaket mereka.

Stevan menarik napas panjang dan mengetik satu kalimat pendek dengan sangat cepat di ponselnya.

Ia menyodorkan ponsel itu ke dada Clara agar gadis itu bisa langsung membacanya.

"Saat aku bilang lari, lari sekencang mungkin menuju minimarket bercahaya di ujung jalan dan jangan pernah menoleh ke belakang," bunyi tulisan di layar ponsel Stevan.

Mata Clara terbelalak membaca instruksi darurat tersebut.

"Tapi Kak Stevan, bagaimana dengan..."

"Hei, anak muda! Jalannya jangan terburu-buru begitu dong," potong sebuah suara kasar dari arah belakang mereka.

Clara langsung menoleh dan menjerit tertahan melihat empat pria berwajah sangar telah memblokir jalan mereka.

Pria yang berdiri paling depan adalah Bopeng, preman berwajah hancur yang disewa oleh Dion kemarin malam.

Ia tersenyum licik memperlihatkan deretan giginya yang hitam, sementara tangannya menggenggam sebatang pipa besi berkarat sepanjang setengah meter.

"Serahkan gitar kalian dan gadis manis berhoodie itu pada kami dengan baik-baik," ucap Bopeng dengan nada sangat meremehkan.

"Kalau kalian menurut, kami janji hanya akan mematahkan dua jari tangan kirimu saja, anak bisu."

Ketiga preman lainnya tertawa serak mendengar ancaman brutal dari bos mereka.

Stevan berdiri dengan posisi sangat tenang, ia sama sekali tidak terlihat panik atau berniat memohon ampun pada mereka.

Ia membalikkan badannya menghadap para preman itu dan mendorong bahu Clara dengan lembut ke arah depan.

"Lari sekarang!" batin Stevan memberikan isyarat kuat dari tatapan matanya yang sangat tajam.

Clara yang awalnya ragu, menelan ludah dan akhirnya berbalik arah untuk berlari sekuat tenaga menuju ujung jalan yang terang.

"Hei! Gadis itu mau kabur, Bos!" teriak salah satu preman berbadan kurus sambil bersiap mengejar.

Bopeng meludah ke tanah dan mengayunkan tongkat besinya ke udara.

"Jangan pedulikan gadis itu dulu! Habisi si bisu ini dan patahkan tangannya sekarang juga!" perintah Bopeng dengan buas.

Keempat preman itu langsung berlari menerjang ke arah Stevan yang masih berdiri seperti patung batu.

[TING!]

[Klaim Darurat: Peningkatan Refleks Saraf dan Keahlian Bela Diri Jarak Dekat Tingkat Lanjut aktif!]

Detik itu juga, sebuah aliran listrik panas menyambar ke seluruh jaringan otot di tubuh Stevan.

Dunia di sekelilingnya tiba-tiba terasa bergerak jauh lebih lambat dari biasanya, seolah waktu telah dimanipulasi oleh otak jeniusnya.

Preman pertama mengayunkan pipa besi lurus ke arah dahi Stevan dengan sekuat tenaga.

Wusss!

Pipa besi itu membelah udara dengan suara yang tajam, namun hanya mengenai tempat kosong.

Stevan menunduk dengan kecepatan yang luar biasa, membiarkan serangan itu lewat hanya beberapa milimeter dari atas kepalanya.

Ia kemudian menggunakan momentum putaran bahunya untuk menghantam telapak tangan kanannya tepat di dada kiri preman tersebut.

Brak!

"Argh!" preman itu mengerang kesakitan dan terhuyung mundur hingga punggungnya menabrak dinding batu bata dengan keras.

Preman kedua dan ketiga yang terkejut melihat teman mereka terjatuh langsung menyerang secara bersamaan dari sisi kanan dan kiri.

Satu orang menggunakan pisau lipat kecil dan yang lainnya menggunakan rantai besi yang melilit di tangannya.

Stevan tidak mundur selangkah pun dari posisi berdirinya.

Ia mengangkat tas ransel besarnya yang berisi buku tebal dan menggunakannya sebagai perisai untuk menangkis sabetan rantai besi.

Tring!

Rantai itu terpental mengenai tas ransel Stevan dengan keras.

Di saat yang sama, Stevan memutar tubuhnya dan menendang pergelangan tangan preman yang memegang pisau dengan sangat presisi.

Krak!

Bunyi tulang pergelangan tangan yang bergeser terdengar sangat jelas di jalanan sepi itu.

"Tangan kananku patah! Aaaaargh!" jerit preman berpisau itu sambil berlutut menjatuhkan senjatanya.

Bopeng yang sejak tadi berdiri santai kini membulatkan matanya tidak percaya melihat pemandangan brutal di depannya.

Hanya dalam waktu kurang dari sepuluh detik, tiga anak buah terbaiknya telah lumpuh oleh seorang mahasiswa kurus yang bahkan tidak bisa bersuara.

"Bajingan! Kau ternyata ahli bela diri juga ya?!" teriak Bopeng yang kini kehilangan kesombongannya.

Ia mencengkeram pipa besinya dengan kedua tangan dan berlari menerjang Stevan dengan membabi buta.

"Mati kau, anak bisu sialan!"

Bopeng mengayunkan pipa besi itu secara brutal ke arah tulang rusuk Stevan dari arah samping.

Stevan menyipitkan matanya tajam, tidak ada kepanikan sama sekali dalam gerakannya.

Ia menangkap tangan Bopeng yang sedang mengayun tepat di pergelangan lengannya dengan cengkeraman sekuat catut baja.

Grep!

Tubuh Bopeng terhenti secara paksa, tenaganya seakan menabrak dinding beton yang tidak bisa ditembus.

Bopeng berusaha menarik tangannya dengan panik, namun cengkeraman Stevan tidak bergeming sedikit pun.

Mata Stevan yang sedingin es menusuk tepat ke kedalaman mata bos preman itu.

Stevan menggeser kaki kirinya dan menggunakan teknik bantingan bahu yang sangat telak.

Bruk!

Tubuh besar Bopeng terlempar melayang di udara dan menghantam jalanan berbatu itu dengan sangat keras hingga menciptakan suara deburan debu.

Pipa besi di tangannya terlepas dan menggelinding menjauh ke selokan.

Bopeng terbaring di tanah sambil mengerang kesakitan, memegangi pinggangnya yang terasa seperti patah.

Stevan berdiri tegak merapikan kerah kemejanya yang sedikit berantakan.

Ia berjalan mendekati tubuh Bopeng yang sedang merintih kesakitan, lalu menunduk untuk mengambil ponsel sang preman yang terjatuh.

Ponsel usang itu dalam keadaan layar menyala karena baru saja digunakan untuk menelepon seseorang.

Dan di layar panggilannya yang masih terhubung, tertera nama kontak "Tuan Muda Dion".

Sudut bibir Stevan melengkung tajam di balik masker hitamnya, ia sangat puas mengetahui bahwa tebakannya 100 persen akurat.

Stevan menekan tombol pengeras suara pada ponsel tersebut dengan santai.

"Halo? Bopeng? Kenapa berisik sekali di sana? Apakah kau sudah mematahkan tangan si bisu itu?!" teriak suara Dion dari ujung telepon dengan penuh amarah.

Bopeng mencoba menjawab, namun dadanya terasa sesak karena bantingan keras tadi.

Stevan meletakkan ponsel itu di tanah tepat di sebelah wajah Bopeng, lalu ia menarik sebatang pipa besi milik preman itu.

Ting... ting... ting...

Stevan memukul pelan pipa besi itu ke aspal jalan, menciptakan suara dentingan mengerikan yang menggema di ujung sambungan telepon.

Suara dentingan itu berirama sangat familiar.

Itu adalah nada ketukan progresi intro dari lagu Bayangan Bisu yang sedang viral.

Di seberang sana, Dion yang mendengar nada ketukan mematikan itu seketika membeku kaku di tempatnya.

"N-nada lagu sialan ini..." gumam Dion dengan suara bergetar dan napas terputus-putus.

"Kau... Stevan?! Bagaimana mungkin?!"

Stevan tidak menjawab apapun karena ia memang tidak bisa bersuara.

Namun, ia mengakhiri ketukan nadanya dengan satu hantaman keras pipa besi itu tepat dua sentimeter di samping kepala Bopeng.

Brak!

Asap jalanan beterbangan, dan Bopeng memejamkan mata erat-erat karena mengira kepalanya akan pecah.

Stevan menekan tombol tutup pada ponsel itu lalu menginjaknya hingga layarnya hancur berkeping-keping.

Ia melempar pipa besi kotor itu ke tanah dengan rasa jijik dan berbalik melangkah pergi meninggalkan para preman yang terkapar tak berdaya.

Pertempuran fisik itu telah usai dalam hitungan detik.

Di ujung jalan dekat minimarket yang bercahaya terang, Clara berdiri dengan napas terengah-engah dan air mata ketakutan yang mengalir deras di pipinya.

Ia sedang bersiap-siap untuk berteriak meminta tolong kepada warga sekitar.

Namun ketika ia menoleh ke arah gang gelap tadi, matanya terbelalak melihat Stevan berjalan santai menembus bayang-bayang.

Pria itu berjalan mendekatinya tanpa ada luka sedikit pun di tubuhnya, hanya pakaiannya saja yang sedikit berdebu.

Clara berlari menghampiri dan langsung memeluk lengan Stevan dengan sangat erat karena lega yang luar biasa.

"Kak Stevan! Kakak tidak apa-apa?! Mana preman-preman jahat itu?!" tanya Clara sambil menangis keras.

Stevan menepuk lembut kepala Clara untuk menenangkannya.

Ia mengambil ponselnya sendiri dan mengetik pesan balasan dengan senyum tipis di balik maskernya.

"Mereka sudah tidur siang di jalanan."

"Mulai sekarang tidak akan ada lagi yang berani menyentuh kita secara fisik."

Clara membaca pesan itu dengan perasaan campur aduk antara tidak percaya, lega, dan kekaguman yang semakin membuncah pada pria jenius di depannya ini.

Ia tidak mengerti bagaimana seniornya ini bisa mengalahkan preman bersenjata dengan tangan kosong, namun ia tidak peduli lagi.

Bagi Clara, selama ia berada di samping Stevan, ia berada di tempat paling aman di seluruh dunia.

Stevan menarik tangannya perlahan dan mengetik instruksi terakhir untuk malam ini.

"Kita pulang sekarang, suara resonansimu sudah sempurna."

"Persiapkan dirimu, karena besok pagi kita akan naik ke panggung semifinal dan merobek mulut semua orang yang menghina kita."

Clara menganggukkan kepalanya dengan senyuman yang merekah cerah di wajahnya, menghapus semua sisa air mata ketakutannya.

Pertarungan fisik sudah Stevan menangkan secara telak.

Sekarang, saatnya mereka memenangkan pertarungan mutlak di atas panggung musik dan menghancurkan harga diri Dion hingga ke akar-akarnya.

1
Rifqy Channel
nah gini dong 😭🙏🤣🤣
Rifqy Channel
tolong dong itu the zeros mereka harus ungkap identitas biar supaya mereka shock itu. jangan pelit dengan hadiah nya lah.
Nissa Safira: Sabar yaa kak🤣🙏
Aku mau mereka shocknya pas lagi di atas tahta, bukan pas masih di tangga. Tunggu final, hadiahnya bukan cuma identitas yang kebuka, tapi satu industri yang runtuh. Janji deh gak bakal pelit hadiahnya🤣🤣🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!