Angel Martinez dibesarkan untuk satu tujuan: menjadi istri yang sempurna dan penurut bagi pria pilihan ayahnya—seorang bos mafia Spanyol yang menganggap kekuasaan adalah segalanya. Yang ia impikan hanyalah kebebasan: sebuah perpustakaan, kuas dan kertas, dan satu perjalanan ke Italia sebelum hidupnya benar-benar bukan lagi miliknya.
Namun perjalanan itu ternyata sebuah jebakan manis. Di Roma, Angel mendapati dirinya telah dijanjikan kepada Dante Moretti—Don muda paling ditakuti di seluruh Italia. Dingin, arogan, dan terbiasa memiliki apa pun yang ia mau, Dante sama sekali tak berniat mengikat hidupnya pada seorang "putri manja". Sampai gadis bermata biru dan berambut merah api itu menatapnya tanpa gentar… dan meruntuhkan setiap tembok yang ia bangun.
Di dunia penuh darah, aliansi, dan senyum palsu, cinta adalah kelemahan paling berbahaya. Karena di balik pesta megah dan janji-janji setia, ada seseorang yang sudah lama menunggu—seseorang yang tahu persis bahwa cara termudah menghancurkan seorang Don adalah dengan merebut satu-satunya hal yang benar-benar ia cintai.
Ketika pria yang tak pernah takut pada apa pun akhirnya menemukan sesuatu yang tak sanggup ia kehilangan, ia siap membakar seluruh dunia demi mempertahankannya.
"Tak ada yang boleh menyentuh hartaku dan pergi tanpa terluka."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon franericá, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Malam Sebelum Pertunangan
POV Angel
Mansion Moretti gelisah malam itu.
Lampu-lampu menyala, para pelayan berlalu-lalang tergesa di koridor, dekorasi sedang dirapikan… tapi, di balik semua kesibukan itu, ada keheningan ganjil di udara. Keheningan yang berat, seolah ada sesuatu yang sedang mengintai.
Ini malam menjelang pertunanganku.
Besok, aku akan resmi menjadi tunangan sang Don mafia Italia.
Besok, namaku akan dibisikkan dan ditakuti oleh sekutu maupun musuh.
Besok… seluruh dunia Dante akan resmi menjadi duniaku.
Dan itu… membuat perutku terasa dingin.
Kuakui, aku tak pernah membayangkan akan berpikir demikian. Saat pertama kali tiba, inilah satu-satunya hal yang tak kuinginkan, tapi mengenal Dante ternyata sungguh menakjubkan!
Aku berada di taman, duduk di salah satu bangku marmer. Udara sejuk, malam cerah. Bintang-bintang berkilauan, tapi bahkan mereka pun seakan mengawasi dengan hati-hati.
Sambil menyentuh kalung pemberian Dante, kutarik napas dalam-dalam.
"Angel?"
Suaranya sampai padaku sebelum aku melihatnya.
Saat aku berbalik, Dante ada di sana, berjalan ke arahku, kedua tangan di saku, dengan raut serius, tapi matanya… matanya melembut hanya untukku.
Ia duduk di sisiku, cukup dekat hingga aku bisa mencium wangi parfumnya yang beraroma kayu… parfum yang sama seperti saat kencan pertama kami.
"Kau termenung," ucapnya, mengamati wajahku.
"Besok itu… penting," gumamku. "Dan aku juga khawatir, Dante."
Ia mengatupkan rahangnya sesaat. Itu caranya menyembunyikan ketegangan.
"Kenapa?"
"Karena kau berbeda," jawabku tanpa berputar-putar. "Kau memikul sesuatu. Dan aku merasakannya."
Ia mengalihkan pandangan ke langit.
Hening.
Keheningan yang menyakitkan.
"Angel…" akhirnya ia bicara, dengan suara pelan, nyaris bisikan serak, "aku ingin menjauhkanmu dari ini. Besok adalah hari kita. Tapi kau benar. Ada sesuatu yang tidak beres."
Jantungku langsung berpacu.
"Apa yang sedang terjadi?"
Ia menarik napas dalam-dalam, seolah bertarung dengan dirinya sendiri.
Ketika akhirnya ia bicara, suaranya seperti seorang pria yang berusaha memanggul dunia di punggungnya.
"Aku curiga bahwa seseorang yang sangat dekat… seseorang yang berpura-pura menjadi sekutu… sebenarnya melawanku."
Darahku membeku.
Dante menatapku seolah sedang memandang sesuatu yang berharga yang tak ingin ia kehilangan.
"Angel, aku takkan pernah membiarkan siapa pun menyentuhmu. Takkan pernah kubiarkan sesuatu menimpamu. Tapi aku butuh kau waspada. Besok akan menjadi permainan yang berbahaya… dan kau berada di pusatnya."
Kurasakan tenggorokanku terbakar.
"Dante… aku takut," akuku, untuk pertama kalinya. "Bukan untuk diriku… tapi untukmu."
Ia mendekat lagi, lututnya menyentuh lututku, tangannya menutupi tanganku.
"Aku terlahir untuk dunia ini, amore mio. Tapi karenamu…" ia menelan ludah, "karenamu aku merasakan takut untuk pertama kalinya."
Dadaku terasa runtuh.
Cara ia mengucapkannya…
Seolah aku benar-benar titik lemahnya.
Seolah mencintai telah berubah menjadi sebuah kerentanan.
"Dante…"
Ia menyandarkan keningnya ke keningku, bernapas bersamaku.
Lembut. Hangat. Menggebu.
"Kau satu-satunya yang bisa mengeluarkanku dari poros diriku," gumamnya. "Satu-satunya. Dan itu membuatku ketakutan, Angel."
Jantungku berdegup begitu keras hingga terasa sakit.
Saat kuangkat wajahku, tatapannya sudah terpaku pada tatapanku. Tatapan yang seakan menembus jiwaku.
Dante mengangkat tanganku dan mencium jari-jariku perlahan, seolah sedang mengucap sumpah yang tak terdengar.
"Katakan bahwa kau bersamaku," pintanya.
"Aku akan selalu bersamamu!"
Ia tersenyum, tapi itu senyum yang sedih… berat.
Nyaris seolah ia tahu bahwa sesuatu akan segera terjadi.
"Kemarilah," gumamnya.
Aku mendekat… Dan ia memelukku.
Bukan sebagai Don.
Bukan sebagai bos mafia.
Melainkan sebagai seorang pria yang putus asa ingin melindungi apa yang ia cintai.
Wajahku bersandar di dadanya, kurasakan jantungnya berdegup cepat.
Kuat.
Hidup.
Manusiawi.
"Dante…" bisikku pada kemejanya, "aku tak mau kehilanganmu."
Ia menangkup wajahku di antara kedua tangannya, ekspresinya dikuasai oleh kesungguhan yang nyaris mencabik-cabik bagian dalam diriku.
"Kau takkan kehilanganku. Tak akan pernah."
Lalu…
ia menciumku.
Itu bukan ciuman yang tenang.
Itu ciuman yang mendesak. Buas.
Penuh emosi yang terpendam, ketakutan, gairah, dan janji.
Ciuman yang berkata:
"Kalau dunia datang melawan kita, akan kubunuh dunia."
"Kalau ada yang menyentuhmu, akan kuhancurkan segalanya."
"Kalau ada yang mencoba merenggutmu dariku, aku akan mati sambil melawan."
Saat bibirnya lepas dari bibirku, aku sudah pasrah sepenuhnya.
Tanpa napas.
Tanpa keraguan.
Tanpa jalan kembali.
Dante menyandarkan keningnya lagi ke keningku.
"Besok… kau akan menjadi tunanganku. Perempuanku. Dan di hadapan semua orang… akan kulihat siapa yang berani memandangmu dengan niat yang salah."
Cara ia mengucapkannya membuat kulitku meremang.
"Aku akan berada di sisimu," janjiku.
Ia mengelus rambutku, wajahku, seolah berusaha menghafal setiap detailnya.
"Kalau sesuatu terjadi besok, Angel…" suaranya tercekat, "tetaplah di dekatku. Selalu di dekatku."
"Aku janji."
Dan pada saat itu, meski diselimuti oleh wangi malam dan keindahan taman…
Aku tahu. Pertunangan itu akan indah.
Gemerlap.
Mewah.
Tapi juga akan berbahaya.
Awal dari perang yang sesungguhnya.
Dan, sebelum aku sempat mengatakan apa pun lagi…
Dante menarikku ke satu ciuman terakhir, lambat, dalam, penuh cinta dan ketakutan, seolah itu sebuah perpisahan yang sunyi, seandainya ada yang berjalan tidak sesuai rencana.