“Paman, kenapa ini besar sekali?” tanya Lucia bingung.
“Kau menyukainya?”
“Memangnya itu apa?”
“Jadi kau tidak tahu ini apa? Kau yang membangkitkannya dan kau tidak tahu cara menidurkannya?!”
Lucia polos hanya menggeleng lugu, membuat sang mafia paling ditakuti di seluruh Italia itu menepuk jidatnya kuat-kuat.
****
Disiksa kemiskinan di desa terpencil Calabria dan dijual oleh pamannya sendiri ke sebuah klub malam, Lucia pasrah menunggu takdir kelamnya.
Namun, sebuah penggerebekan menyelamatkannya dan membawanya bekerja sebagai pelayan di mansion megah milik Alessandro Frederick–bos mafia dingin berdarah dingin yang menderita alergi parah terhadap sentuhan manusia.
Satu sentuhan dari orang lain bisa membunuh Alessandro. Tetapi, saat jemari Lucia tak sengaja menyentuhnya, tidak ada rasa terbakar.
Bagaimana bisa seorang mafia kejam menaklukkan hati gadis lugu hingga mengira elusan in-tim adalah usapan rasa kasihan dan ciuman adalah penyembuh rasa sakit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21
“Kemari, Bibi. Ada hal penting yang ingin aku katakan,” panggil Lucia sambil melambaikan tangan mungilnya dengan wajah tanpa dosa.
Setelah cengkeraman di lengannya dilepaskan paksa oleh anak buah Alessandro, Isabella menghentakkan kakinya kesal.
Wanita melangkah menghampiri Lucia dengan tatapan merendahkan layaknya melihat sampah.
Meskipun Mila dan beberapa pelayan senior di ruang tengah sudah menarik ujung baju Lucia, melarang keras gadis itu untuk dekat-dekat dengan model arogan yang terkenal kejam tersebut, Lucia tetaplah Lucia.
Gadis desa itu kelewat ngeyel, keras kepala dan terlalu berprasangka baik pada semua orang.
“Mau bicara apa kau, hah?” ketus Isabella seraya mendudukkan dirinya ke atas sofa tunggal dengan gaya angkuh lalu menyilangkan kaki jenjangnya. “Waktuku sangat berharga. Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni gadis kampungan sepertimu.”
Lucia mencondongkan tubuhnya ke depan. “Boleh aku mendekat sedikit?” tanyanya.
Isabella memundurkan wajahnya dengan raut jijik.
“Jarak satu meter! Jangan sampai kau menyentuh gaun mahalku!”
“Tapi ini rahasia, Bibi. Rahasia penting tentang Paman Tampan,” bujuk Lucia dengan raut wajah sangat serius, seolah sedang memegang kunci keamanan negara.
Rahasia? Isabella mengernyitkan dahi cantiknya.
Sejak kapan ada tikus got yang mengetahui rahasia Alessandro lebih dari dirinya yang sudah mengenal pria itu sedari kecil?
Didorong rasa penasaran yang membakar gengsinya, Isabella menghela napas kasar lalu mengangguk kecil.
“Cepat katakan.”
Setelah mendapatkan izin, Lucia pun menutupi mulutnya dengan sebelah tangan, mencondongkan tubuh dan membisikkan sesuatu yang sukses membuat dunia Isabella runtuh.
“Bibi harus tahu. Akhir-akhir ini, ular peliharaan rahasia di balik celana Paman Tampan sering sekali bangun dan mengamuk. Ularnya bengkak membesar, kaku seperti kayu dan banyak uratnya. Paman sampai kesakitan. Untung saja semalam aku sudah turun tangan mengelus-elus area bawah perutnya dan memberinya susu hangat. Jadi ularnya lemas dan bisa tidur lagi," bisik Lucia dengan kepolosan tingkat tinggi yang sangat mematikan.
Isabella seketika membeku di tempat. Darahnya berdesir hebat memompa ke ubun-ubun. Ia menganga, rahangnya nyaris jatuh menyentuh lantai dengan kedua mata melotot lebar.
“Apa kau bilang?!” pekik Isabella histeris, suaranya melengking nyaring memecah keheningan mansion.
Lucia buru-buru menempelkan jari telunjuk ke bibirnya dengan wajah panik.
“Ssst! Jangan berteriak, Bibi! Nanti semua pelayan tahu kalau Paman sedang sakit. Aku kan kasihan pada Paman Tampan, mukanya sampai merah padam menahan tegang tiap kali ularnya berontak,” ucap Lucia dengan mata bulat yang berkaca-kaca penuh simpati tulus.
Isabella mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga kuku panjang berpoles merah darah itu menancap sakit ke telapak tangannya. Napasnya memburu cepat, dadanya naik turun menahan emosi.
Ia sudah tahu dari Vincent jika selama ini milik Alessandro tidak pernah bisa bangun karena alergi mematikan pada sentuhan wanita.
Tapi sekarang, anehnya kenapa pria es itu malah bereaksi sehebat itu pada gadis gembel ini? Terlebih lagi, Alessandro membiarkan gadis ini menyentuh dan menidurkannya?!
“Sebenarnya siapa dia? Aku baru pertama kali melihatnya, tapi dia sudah melangkah sejauh ini di ranjang Alessandro?!" pikir Isabella dengan dada bergemuruh penuh amarah karena cemburu buta.
Saking murkanya, akal sehat Isabella putus. Ia tiba-tiba berdiri dan mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, bersiap menampar wajah lugu Lucia.
“Gadis ja-lang tidak tahu diri!”
***
Sementara itu, di markas besar pelabuhan.
“Tuan, ada laporan darurat dari mansion,” ucap Vincent seraya menerobos masuk ke ruang rapat dengan wajah tegang bersimbah peluh.
“Nona Isabella memaksa masuk dan saat ini sedang berbicara berdua saja dengan Lucia di ruang tengah.”
Alessandro seketika menggebrak meja bajanya hingga cangkir kopi di atasnya terpelanting.
“Kita pulang sekarang!” seru Alessandro langsung beranjak dari kursinya.
“Tapi Tuan, hari ini ada—”
“Batalkan!” potong Alessandro dengan raut wajah dingin menahan murka. “Aku tidak mau Isabella membuat masalah dengan gadisku. Kau tahu sendiri bukan bagaimana gilanya tingkat obsesi model itu padaku?!”
Isabella menyukai Alessandro sejak kecil. Bahkan sampai mereka dewasa, wanita itu terus mengejar, menyingkirkan saingan dan menempel pada sang mafia bak lem super yang memuakkan.
Vincent menelan ludah pucat. “Ya, sangat tahu, Tuan. Baiklah, saya akan segera menyiapkan mobil utama di lobi!”
Alessandro menarik pistol dari balik jasnya dan mengokangnya sambil berjalan cepat. Rahangnya mengeras, membayangkan leher jenjang Isabella akan patah di tangannya sendiri jika wanita itu berani meninggalkan satu goresan saja di kulit gadis desanya.
“Cepat Vincent. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Lucia, aku akan memastikan keluarga Isabella rata dengan tanah hari ini juga,” titah Alessandro.
makanya sekolahkan dia
biarkan dia cerdas
dia pasti akan memilihmu ,, dalam keadaan apapun
jd aku rasa perlu belajar deh dia biar pinter 🤭
bnr2 saling melengkapi ni si Lucia dg Ale Ale rasa 🍌 ,, 🤭🤭🤭
kasihan Vincent yg trus nahan ketawa ,, takut kembung Dy tuh ,,
semoga Lucia selalu aman dsna jgn sampai ini cuma jebakan biar si ale2 keluar mansion sdang kn target sebenarnya Lucia ,,