Sungguh tidak menyangka bagi dokter Rembulan. Ia akan mendengar permintaan aneh dari Mentari sahabat sekaligus pasiennya yang sudah dia tangani selama satu tahun. Mentari meminta untuk menjadi ibu bagi Talita. Menjadi ibu tiri anak Mentari berarti Rembulan harus menikah dengan Bintang suami sahabatnya.
Jelas Bintang suami Mentari menolak dengan tegas.
"Tolonglah Mas, Demi anak kita, aku sudah tidak kuat lagi."
"Sayang... jangan berpikir yang aneh-aneh, kamu akan sembuh dan kita akan hidup bahagia selamanya."
Apakah Bulan akhirnya menyanggupi permintaan Mentari? Lalu bagaimana tanggapan Bintang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
"Taksi..." panggil Bulan, tangannya melambai ke arah taksi yang kebetulan melintas. Niatnya untuk memesan taksi online pun urung lalu memasukkan handphone ke dalam tas.
Pintu taksi baru saja ditutup rapat oleh Bulan yang sudah duduk di kursi belakang sopir. Sopir itu mengarahkan kendaraan ke alamat yang Bulan katakan. Kemudian keluar dari area depan restoran, tanpa Bulan sadari, sebuah mobil yang ia tunggu masuk dan berhenti di depan restoran.
Dia adalah Bintang segera melompat turun dari kendaraan, lalu terburu-buru masuk ke dalam restoran. Namun, wajahnya seketika panik saat pandangannya tertuju ke arah meja pojok tempat mereka duduk tadi, bangku tersebut sudah kosong bahkan sudah dibersihkan hingga tidak ada apapun di atas sana.
"Permisi Mbak..." ucap Bintang mendekati karyawan yang sedang mengelap meja.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya pelayan wanita itu ramah.
"Maaf, tadi ada wanita yang makan di sini? Kira-kira kemana ya?" tanyanya, berharap Bulan masih di sekitar sini.
"Saya tidak tahu kemana perginya Tuan..." Pelayan itu, menjawab bahwa tamu di meja itu sudah pergi setelah adzan magrib.
Dengan langkah lebar Bintang menuju kasir, tapi yang membuatnya syok, tagihan makan sore pun sudah Bulan bayar.
"Mati gue!' gumam Bintang, perasaan malu tersirat di wajahnya padahal tidak ada yang bersangkutan di tempat itu.
"Ada apa Tuan?" Tanya kasir bingung rupanya gumaman Bintang terdengar olehnya.
"Tidak," hanya itu jawaban Bintang. Dengan perasaan campur aduk, ia kembali keluar, pandangannya menyapu ke segala arah, karena tidak ada tanda-tanda keberadaan Bulan di tempat itu, Bintang pun memutuskan untuk pulang.
**********
Sementara Bulan, sudah sampai di rumah langsung disambut pelukan oleh Talita, rasa lelah seketika hilang. Tidak ada siapapun di ruang tamu selain Lita, mungkin Entin sedang membantu bibi menyiapkan makan malam.
"Talita lagi nonton apa?" Tanya Bulan tapi seketika menemukan jawaban saat menatap ke layar televisi.
"Nonton film kartun, Mah."
"Eemmm... bagaimana keadaan Bunda sayang..." Bulan khawatir, Bintang meninggalkan dirinya karena Mentari kambuh.
"Bunda bobo-an Mah, tadi Lita ngobrol sama Bunda," jawab Talita. Bulan mengangguk-angguk berarti alasan Bulan meninggalkan dirinya bukan karena Mentari.
"Oh... terus Papa kamu sudah pulang?"
"Belum?" Talita menggeleng.
"Kalau gitu Mama mandi dulu ya..." pamit Bulan tidak mengizinkan Talita lama-lama dekat dengannya sebelum ia mandi dan ganti pakaian.
Ketika Bulan hendak ke kamar Lita ambil baju ganti, ia berpapasan dengan Sherly. Bulan mencoba untuk tersenyum melupakan kejadian pagi tadi. Jika Sherly mau bersahabat, Bulan akan menyambutnya dengan baik. Namun, tidak ada balasan senyum dari Sherly, wanita itu justru menatap Bulan dari atas sampai bawah.
Merasa tidak di respon oleh Sherly, Bulan melanjutkan perjalanan menuju kamar Lita. Ia membuka pintu perlahan-lahan, tatapannya tertuju ke arah di mana pagi tadi koper disimpan tapi sudah tidak ada.
"Dokter... barang-barang Anda sudah dipindahkan ke lantai dua," Bibi memberi tahu.
"Lantai dua?" Bulan kaget, karena di lantai dua hanya ada dua kamar, yang satu ruang kerja Bintang dan satu lagi untuk gudang. Pikiran buruk segera menyelinap masuk, bagaimana jika mertua Bintang yang melakukan itu..
"Mari Dok, saya antar."
Bulan menaiki tangga mengikuti bibi, lalu membuka pintu kamar yang ditunjuk. Dia kaget lalu berhenti sejenak. Ruangan yang jauh lebih luas dari kamar utama itulah ruang kerja Bintang.
"Bibi yakin barang-barang saya disimpan di dalam ruangan ini Bi?"
"Makanya masuk dulu, Dok..." titah bibi sopan.
Bulan pun melangkah masuk ke dalam kamar yang luas nya sama dengan kamar utama. Sudah tidak ada lagi tumpukan dokumen, buku-buku dan foto keluarga yang di tempel di dinding. Tergantikan tempat tidur, lemari pakaian dan fasilitas lain.
Saat Bulan membuka lemari pakaian yang besar dan mewah di sudut ruangan, semua pakaian miliknya sudah tertata, digantung berurutan, dilipat dengan rapi di rak, bahkan barang-barang pribadinya pun sudah diletakkan di laci yang tepat.
Pandangan Bulan beralih ke arah kaca dan meja rias baru sudah tersedia.
"Kapan kamar ini dirapikan, Bi? Lalu dipindahkan kemana barang-barang Pak Bintang?"
"Tuan Bintang yang menyuruh orang, Dok," jawab bibi menceritakan saat pagi tadi Bintang mengirimkan dua anak buahnya untuk membuang barang-barang di gudang, bibi dan Entin yang bagian bersih-bersih dan membantu memindahkan ruang kerja Bintang ke bekas gudang.
"Oh... terima kasih Bi," Bulan sedikit lega lalu masuk ke kamar mandi segera bersih-bersih, setelah ganti pakaian santai ia ke kamar Mentari.
Bulan membuka pintu perlahan-lahan, menatap Mentari yang tengah duduk bersandar di tumpukan bantal. Begitu tahu sahabatnya tidak tidur ia mengucap salam dan tanya kabar hari ini.
"Aku merasa tubuhku semakin ringan Bulan..." lirih Mentari.
"Alhamdulillah..." Bulan tersenyum sambil mengukur tekanan darah sahabatnya.
"Masih agak rendah, makanya jangan lupa dihabiskan dan vitamin juga jangan lupa diminum," ucapnya sambil bergerak ke arah meja kecil meletakkan alat ukur tensi di sana, beberapa detik kemudian kembali.
Bulan berdiri di samping tempat tidur, tangannya menyentuh dahi Mentari yang tidak lagi berkeringat dingin seperti saat serangan sakitnya datang. Ia menyetel stetoskop mendengarkan detak jantung dan suara napas sahabatnya, lalu mencatat angka hasil pemeriksaan terakhir.
"Alhamdulilah... apa aku bilang, keajaiban itu akan selalu ada," ucap Bulan. Senyum penuh haru merekah di wajahnya, meski Mentari masih harus berjuang melawan kanker stadium empat yang dideritanya, tapi semakin hari kondisinya terlihat jauh lebih stabil dibandingkan minggu-minggu sebelumnya.
"Ini semua berkat kamu Bulan... terima kasih..." ucap Mentari berkaca-kaca.
"Yang penting kamu harus semangat Tari, karena semangat yang tinggi cara paling ampuh untuk membantu pemulihan di samping obat," papar Bulan, matanya berbinar bahagia menatap Mentari.
"Benar Bulan, nyeri di perutku mulai berkurang, nafsu makan aku juga mulai kembali dan tubuhku pun terasa lebih kuat," Mentari pun sudah bisa bertutur kata lebih panjang dari sebelumnya yang hanya sekata dua kata.
Hati Bulan terasa lega. Di tengah beratnya perjalanan pengobatan yang masih panjang, sedikit kemajuan ini adalah secercah harapan dan bukti bahwa Mentari masih berjuang sekuat tenaga untuk hidup lebih lama.
Bulan ingin Mentari segera sembuh dan mengembalikan Bintang kepadanya. Mereka hidup bahagia bersama Lita, tanpa harus ada dirinya yang tidak akan sanggup berlama-lama menjalani peran di panggung sandiwara seperti sekarang.
Saat sedang membahas tentang bagaimana kondisi Mentari, pintu kamar ada yang membuka. Dia adalah Bintang berjalan mendekat menatap Mentari lalu beralih kepada Bulan.
"Nanti kalau Entin mengantar makan malam kesini harus dihabiskan ya, supaya tekanan darahmu stabil," pesan Bulan, sebelum akhirnya keluar meninggalkan tempat itu sama sekali tidak menyapa Bintang.
Bulan kembali ke kamar meletakkan peralatan periksa lalu menjatuhkan tubuhnya di kasur.
Tidak lama kemudian pintu kamar dibuka, Bintang masuk sudah selesai mandi dan ganti pakaian. Tanpa ragu ia duduk di tempat tidur.
"Aku tadi kembali ke restoran ternyata kamu sudah pulang?" Bintang menatap Bulan, tapi yang ditatap memunggungi, seolah tidak peduli.
"Hai... kamu marah ya..." Bintang merangkak di atas kasur hingga kepalanya berhenti tepat di atas wajah Bulan. Namun, Bulan justru memejamkan mata sama sekali tidak merespons.
"Kalau tidak mau menjawab aku cium ini," Bintang menurunkan kepala hingga dadanya nempel di pangkal lengan Bulan, bahkan wajahnya sedikit lagi nempel di pipi istrinya itu.
...~Bersambung~...
hrus nya mentari juga jujur dari awal klau bulan istri ke dua binta⭐biar tu mulut duo keong racun diem 😡
Gak abis² beritanya sampe sekarang juga, udah berapa bulan itu berlangsung
Kamu jangan meremehkan jagat maya Bintang karena efek psikologisnya mengena pisan terutama ke korban
Meremehkan netizen, menganggap sepele udah dihapus, selesai dalam pikiran Bintang yang masa bodo
Gak mikir efek psikologis Bulan, Mentari, anaknya & ibu kandung Bintang sendiri
Pret lah Bintang, kau anggap remeh kekuatan nitezen tanpa memikirkan psikologisnya
Secara Bintang tuan rumah, mudah baginya untuk mengusir mertua & afik ipar meski masih berstatus suami Mentari
Tapi gimana lagi 🤷♀️
memang dibuat bodoh & masa bodo agar tetep salah paham antara mertua, ipar, istri kedua & orang tua kandung Bintang sendiri
Sabar aja nunggu episode selanjutnya yang bikin viral nama Bulan ancur karena narasi kejelekan² dari Sherly & Ratih
dimata siapapun bukan diposisi yg salah. orang awam gk akan percaya kalo semua itu istri pertama yg meminta.. mau dijelaskan gimanapun dimata netizen Bulan seorang pelakor..
kasian juga sich sebenarnya.. 😌😌