Indonesia
NovelToon NovelToon
Salman Prakarsa

Salman Prakarsa

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Kanji Wara

"Aku lulus, Bu... Karsa juara satu."

Bagi Karsa, selembar kertas kelulusan di tangannya adalah tiket untuk membawa ibunya keluar dari jerat kemiskinan desa. Ia berlari membelah terik siang dengan dada membuncah oleh bahagia, tak sabar ingin memeluk satu-satunya alasan mengapa ia bertahan menghadapi kerasnya hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

diluar duga'an

Pagi itu... matahari baru saja merangkak naik, membiarkan sinarnya yang masih hangat menerobos celah-celah pepohonan desa. Karsa kembali menuju warung tempat biasanya dia mencari sarapan. Langkah kakinya terasa lebih ringan setelah beban panen kemarin terangkat, walau pikirannya kini sudah mulai dipenuhi rencana mencari kerja.

Sesampainya di sana, suasana warung sudah cukup ramai. Disana ningsih masih sibuk melayani beberapa pelanggan yang hendak sarapan atau sekadar membeli kopi sebelum berangkat ke sawah. Begitu melihat sosok Karsa melangkah masuk, gerakan tangan Ningsih sempat terhenti sesaat, lalu senyum manis langsung terbit di wajahnya.

"Eh mas karsa... Mau makan apa mas.." kata ningsih dengan nada suara yang ramah seperti biasanya.

Karsa mendekati etalase kaca, menatap deretan menu yang tersedia. "Beli lauknya aja sama rokok," kata karsa. Dia berencana membawa lauk itu pulang untuk dimakan bersama nasi yang sudah dia tanak sendiri di rumah.

Namun saat mereka ngobrol dan Ningsih mulai membungkus lauk pesanan Karsa, suasana mendadak berubah tegang. Pak karsono yg berada disana berdehem ringan. Suara deheman yang sengaja dikeraskan itu bagai petir di pagi yang cerah bagi Ningsih. Kalimat "pondasi yang kuat" yang diucapkan ayahnya semalam langsung terngiang kembali di telinganya. Deheman itu sontak saja membuat ningsih menjadi kecut. Senyum di wajahnya langsung memudar, digantikan raut wajah serba salah dan canggung.

Karsa yang menyadari keberadaan Pak Karsono hanya bisa bersikap tahu diri. Dia tidak ingin memperpanjang obrolan agar tidak menimbulkan masalah bagi Ningsih.

Ningsih dengan cepat menyelesaikan bungkusannya dan menyerahkannya kepada Karsa dengan gerakan agak kaku. "Ini mas 20.000," kata ningsih.

Karsa merogoh kantongnya, mengeluarkan selembar uang pas lalu mengulurkannya. "Ini uang nya ... terima kasih," sempat karsa. Tatapan matanya dan Ningsih sempat bertemu sesaat—sebuah tatapan yang menyiratkan banyak hal yang tak bisa diucapkan di depan Pak Karsono.

Karsa pun pulang kembali kerumahnya, berjalan menyusuri jalanan desa yang mulai berdebu dengan bungkusan lauk di tangan kiri dan sebungkus rokok di kantong kemejanya.

Sesampainya dirumah.. Karsa cukup terkejut melihat sebuah sepeda motor yang sudah sangat dia kenal terparkir di bawah pohon mangga depan rumahnya. Budi sudah menunggu disana, duduk santai di bangku kayu teras sambil memainkan ponselnya.

"Ayo masuk bud... Kita makan didalam saja..." ajak Karsa sambil membuka pintu kayu rumahnya yang sedikit berderit.

Budi langsung bangkit dari duduknya dengan semangat, mencium aroma lauk matang yang dibawa sahabatnya. "Skalian ngobrol," kata budi sambil melangkah mengekor di belakang Karsa menuju dapur.

"Hahaha," tawa keduanya pecah, memecah kesunyian rumah tua itu dan mengusir sisa kecanggungan yang sempat Karsa rasakan di warung Ningsih tadi. Obrolan pagi ini tampaknya akan menjadi awal dari rencana besar mereka berdua untuk masa depan.

Di dalam rumah tua Karsa, suasana dapur terasa begitu hangat. Obrolan selepas makan antara Karsa dan Budi masih mengalir seru, dipenuhi tawa ringan yang mengusir penat sisa kerja keras mereka. Namun, saat sedang asyik ngobrol setelah makan, ketenangan itu terusik. Terdengar suara mobil berhenti di depan rumah, disusul suara langkah kaki yang mendekat ke arah teras.

Tak lama pintu pun diketuk. Tok! Tok! Tok!

"Masuk..." kata karsa setengah berteriak dari dalam.

Pintu terbuka pelan. Disana sudah berdiri dewi membawa 1 kantong plastik penuh. Gadis itu berdiri agak canggung di ambang pintu, kontras dengan latar belakang sebuah mobil yang terparkir di halaman.

"Eh dewi..." Karsa bangkit dari duduknya, sedikit terkejut dengan kedatangan tamu yang tak terduga itu.

"Sini Masuk masuk....."

Dewi pun masuk dan tersenyum manis, berusaha menyembunyikan gemuruh di dadanya. Kehadiran Budi di sana sempat membuatnya sedikit kaget, namun dia tetap melangkah anggun.

"Wahaha tumben nih," kata budi menyapa jahil, langsung mencairkan kecanggungan.

Dewi menoleh ke arah Budi lalu kembali menatap Karsa.

"Heh ia nih bud, mau ngasih ini sama mas karsa..." ujarnya sambil mengulurkan kantong plastik bawaannya.

"Eh dew apa'an ini.." tanya karsa dengan dahi berkerut, merasa tidak enak hati karena selalu merepotkan orang lain.

"Cuma dikit ko.. Jgn ditolak," kata dewi cepat. Kalimatnya tegas, mengunci niat Karsa yang hendak menolak pemberian tersebut.

Karsa menerima plastik itu, lalu menoleh pada sahabatnya. "Nih bud bawa kedalam.." Sontak saja budi pun langsung membawa kantong plastik itu menuju dapur dengan cekatan. Mengerti bahwa kedua orang di depannya butuh ruang untuk bicara, Budi tidak langsung kembali. Dia pun skalian membuat minuman di dapur, 1 teh untuk Dewi dan 2 kopi hitam untuk dirinya dan Karsa.

Di ruang tamu, keheningan sempat merayap sesaat sebelum akhirnya Dewi memberanikan diri menatap sepasang mata pemuda yang diam-diam dia kagumi itu.

"Mas," kata dewi membuka percakapan, suaranya sedikit bergetar namun ditahannya. "Besok aku mau ke kota ikut paman.."

"Ngapain dew," kata karsa, agak terkejut mendengar kabar yang begitu mendadak.

"ia habis lulus ayah maunya aku lanjut kuliah.. Disni mana ada fakultas," kata dewi sambil tersenyum kecut, menatap ke arah luar jendela. "Yah terpaksa harus ke kota.."

"Lalu..." selidik karsa, menunggu kelanjutan kalimat Dewi.

Dewi meremas jemarinya sendiri, mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa untuk menyampaikan satu-satunya permintaan yang paling penting baginya. "Mas tolong jngan ganti no hp ya.. Biar gampang aku hubungin," kata dewi. Sorot matanya penuh harap, memohon agar ikatan tipis ini tidak terputus begitu dia pergi nanti.

Karsa yang tidak menyadari arti mendalam dari tatapan itu mengangguk polos. "Owh klo cuma itu ya aku usahakan," kata karsa.

Lalu datanglah budi dengan membawa minuman nampan berisi tiga cangkir yang mengepulkan asap tipis. Di letakkannya cangkir-cangkir itu di atas meja kayu.

"Maaf," kata karsa menyambung ramah,

"sekedar minum saja.."

"Makasih mas," kata dewi sambil mengangguk pelan pada Karsa dan Budi.

Budi mengambil posisi duduk di samping Karsa, lalu menopang dagunya dengan antusias. "Eh dew," kata budi. "DiKota nanti kamu kuliah jurusan apa?" tanya budi penasaran.

"Bidan aja .. biar bisa bantu orang," kata dewi, mengutarakan cita-citanya yang mulia.

"Ahhaha bener juga," kata budi sambil menepuk pahanya sendiri. "Eh nanti klo sakit bisa ke bidan buat minta obat.."

Dewi langsung mencibir gemas mendengar celetukan asal sahabatnya itu. "Yey emangnya mau ngelahirin," kata dewi mendengus.

"Hahaha kamu bud bisa aja," kata karsa ikut tertawa lepas, meruntuhkan sisa kekakuan di antara mereka bertiga.

Setelah tawa mereka mereda, Karsa menatap Dewi dengan pandangan yang tulus. Ada rasa bangga sekaligus haru melihat temannya bisa melangkah maju mengejar impian. "Tapi dew.... semoga sukses ya..." kata karsa dengan senyum terbaiknya.

Dewi langsung terpaku mendengar itu. Senyuman Karsa dan doa tulusnya terasa begitu manis, namun sekaligus menyakitkan karena dia tahu senyuman itu bukan miliknya. Dadanya sesak. Daripada air matanya tumpah di sana, Dewi memilih untuk segera menyudahi pertemuan ini.

"Eh mas aku pamit dulu... Nanti... kita ketemu lagi," kata dewi buru-buru bangkit dari kursinya.

Karsa hanya mengangguk, ikut berdiri untuk mengantar. "Iya, Dew."

Dewi pun pamit dengan langkah yang sedikit tergesa. Dia masuk ke mobilnya dan mulai menjalankan nya, meninggalkan pekarangan rumah Karsa dengan sejuta perasaan yang terpaksa dia bawa pergi ke kota.

Karsa dan Budi berdiri di teras, menatap debu jalanan yang perlahan menutupi bayangan mobil Dewi yang kian menjauh. Budi menyenggol lengan Karsa dengan sikutnya, matanya menyipit penuh selidik.

"Eh sa... kayanya tu anak suka juga sama kamu..." cetus Budi blak-blakan.

Karsa langsung mendengus hambar, menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

"Ah bud mana ada.. Toh kamu liat aja, dia anak orang kaya... Mana mungkin suka sama aku..." Karsa berucap dengan nada minder yang kentara. Baginya, perbedaan kasta sosial mereka terlalu jauh untuk dijembatani oleh perasaan.

"Tapi sa... kamu kan juga dekat sama ningsih.." kata Budi mengingatkan, mencoba membandingkan realita asmara sahabatnya.

Mendengar nama Ningsih disebut, Karsa tidak merasa terhibur. Pikiran Karsa kembali teringat tentang deheman pak karsono saat ningsih melayani dirinya saat diwarung tadi pagi. Deheman peringatan yang secara tidak langsung menegaskan bahwa dirinya yang miskin dan sebatang kara ini tidak punya "pondasi yang kuat" untuk bersanding dengan Ningsih.

Seketika itu juga, semangat Karsa runtuh. Karsa hanya menunduk, menatap ujung sandalnya yang usang dengan hati yang terasa berat.

Budi yang melihat perubahan raut wajah sahabatnya langsung merasa bersalah dan terdiam. Namun, Karsa segera menegakkan kepalanya kembali.

Dia mencoba mengusir kabut kelam di hatinya dengan fokus pada satu dunia realita yang bisa dia usahakan saat ini: pekerjaannya.

"Sudah lah bud.. Lagian cv juga sudah aku sebar... Tinggal nunggu panggilan aja lagi..." kata Karsa, mencoba terdengar tegar dan mengalihkan topik pembicaraan.

Mata Budi langsung membelalak kaget mendengarnya, lalu senyum kagum langsung merekah di wajahnya. "Widihh ... gerak cepat nih!" kata budi takjub dengan ketangkasan sahabatnya yang diam-diam sudah melangkah sejauh itu.

"Haha ia bud," jawab Karsa dengan tawa kecil yang dipaksakan. Di dalam hatinya, Karsa tahu bahwa dia harus sukses dan mendapatkan pekerjaan secepatnya, demi membuktikan diri pada dunia dan pada Pak Karsono, bahwa dia layak untuk diperhitungkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!