Di Kerajaan Shanyue, tepat dipinggiran Kota Shiyue seorang gadis tinggal di sebuah desa terpencil bernama Desa Caiyun.
Dia Xia Qinglan, anak seorang Jenderal ternama di Kerajaan Shanyue yaitu Putri Jenderal Xia Agung, Xia Longyuan.
Xia Qinglan memiliki takdir pernikahan dengan Lima Pangeran yang memiliki sikap angkuh, manja, dingin, bahkan ada juga yang menjadi budak cinta. Namun, alih-alih Qinglan menolak mereka justru ia menaklukan kelima Pangeran itu dengan caranya sendiri.
Dibalik kisah Cinta mereka di liputi perjuangan yang penuh tantangan yaitu mereka berenam harus berhadapan dengan Pangeran Ketiga, Xi Zhouyun yang licik.
Xi Zhouyun adik dari tunangan Qinglan yaitu Xi Yunzhi sang Putra Mahkota. Qinglan tidak memihak siapapun ia hanya berdiri pada keputusannya sendiri. Bahkan, kelima Pangeran itu Feng Huang, Xiao Mingye, Gu Yichen, Ling Chen dan Xi Yunzhi di didik secara langsung oleh Qinglan untuk menjadi Pilar Kerajaan Shanyue.
Ikuti kisah petualangan mereka!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titah Sang Naga Langit
Matahari pagi baru saja mengintip di balik deretan pegunungan berkabut, memancarkan cahaya keemasan yang menghangatkan Desa Caiyun. Di antara rumah-rumah kayu yang tertata sederhana, hiduplah seorang gadis bernama Xia Qinglan. Sekilas, ia tampak seperti gadis desa biasa yang kesehariannya dihabiskan dengan mencari kayu bakar di hutan dan merangkai kata-kata menjadi sebuah cerita. Namun, di balik kesederhanaan pakaian kumal dan senyuman tenangnya, tersimpan sebuah rahasia besar yang tak seorang pun di desa itu ketahui.
Xia Qinglan sebenarnya adalah putri tunggal dari Jenderal Xia yang sangat terkenal dan disegani di seluruh penjuru negeri. Identitas aslinya terpaksa ia kubur dalam-dalam sejak tragedi kelam yang merenggut kedua orang tuanya di medan perang. Tragedi itu meninggalkan luka mendalam, terlebih karena jasad ayah dan ibunya bahkan tidak pernah ditemukan hingga hari ini. Memilih menanggalkan seluruh kemewahan, atribut kebangsawanan, dan fasilitas istana, Qinglan memilih hidup dalam pelarian sunyi. Ia menyamar sebagai gadis yatim piatu biasa, hidup mandiri, berjuang mencari kayu bakar demi bertahan hidup, dan menyalurkan isi hatinya melalui lembaran-lembaran buku cerita yang ia tulis sendiri.
Ketenangan hidup yang selama ini ia bangun dengan susah payah mendadak hancur seketika. Hari itu, ketika Qinglan baru saja kembali dari hutan dengan seikat kayu bakar di punggungnya, ia mendapati suasana di depan pintu masuk desa tampak riuh dan tegang. Para penduduk desa berkerumun di dekat papan pengumuman, saling berbisik dengan wajah cemas. Di sana, tertempel selembar kertas resmi berstempel kerajaan dengan tinta hitam pekat yang memancarkan wibawa sekaligus ancaman.
Dengan langkah ragu namun penasaran, Qinglan mendekati kerumunan itu. Matanya menyapu barisan aksara yang tertulis jelas di atas kertas tersebut:
"Siapapun gadis berusia delapan belas tahun harus segera dinikahkan. Jika tidak, akan dibawa ke barak militer untuk dijadikan pelayan di barak. Batas waktu minimal enam bulan, pemerintah akan datang untuk memeriksa."
Qinglan tertegun. Napasnya tercekat di tenggorokan. Lembaran kayu bakar yang ada di genggamannya hampir lepas dari pegangan.
“Alasan yang tidak masuk akal,” batin Qinglan bergemuruh, kemarahan langsung membakar dadanya. “Kaisar yang duduk di singgasana singgahsana emas benar-benar tidak memiliki hati. Bagaimana bisa ia mengeluarkan dekrit semena-mena seperti ini? Mengapa urusan pernikahan rakyat jelata harus diatur sedemikian rupa, seolah-olah kami ini sekadar barang dagang yang di perjualbelikan? Dan kini, gadis sepertiku harus dipaksa menikah dalam jangka waktu enam bulan? Ini gila!" Tapi, bagaimana dengan keadaan kelima tunanganku? Apakah mereka baik-baik saja?"
Di tengah lamunannya yang dipenuhi amarah dan kebingungan, sebuah tepukan tangan mendarat di bahunya, membuyarkan ketegangannya dalam sekejap.
"Qinglan! Sepertinya kau harus segera menikah," suara lembut namun bernada menggoda itu milik Yan Qing, tetangga sekaligus teman akrabnya di desa.
Qinglan menoleh, mengerjap beberapa kali untuk mengembalikan kesadarannya. Ia menatap kertas pengumuman itu lagi dengan kening berkerut dalam, lalu mendengus pelan.
"Sepertinya begitu," jawab Qinglan pasrah, meski ada nada ketus dalam suaranya. "Tapi, di mana aku harus mencari suami secara tiba-tiba? Tidak mungkin kan aku memulungnya di pinggir jalan seperti ranting kayu."
Yan Qing terkekeh geli mendengarnya. "Kau ini, jangan asal bicara. Awas saja kalau nanti ucapanmu itu benar-benar terwujud, baru tahu rasa kau!"
Qinglan memutar bola matanya malas, mencoba mencairkan ketegangan di dadanya dengan sedikit candaan. "Sudahlah, aku mau pergi ke hutan lagi. Siapa tahu aku benar-benar bertemu dengan seorang pangeran tampan yang tersesat di hutan," ucapnya setengah tertawa.
Yan Qing menggelengkan kepalanya pelan, tak kuasa menahan senyum melihat tingkah sahabatnya yang ada-ada saja. "Kau selalu saja bersikap di luar nalar, Qinglan. Semoga saja ucapan sembaranganmu itu tidak menjadi kenyataan. Hati-hati di jalan!" seru Yan Qing melambaikan tangan, melihat Qinglan kembali membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkan desa menuju lebatnya pepohonan hutan.
Langkah kaki Qinglan menyusuri jalan setapak yang biasa ia lewati. Pepohonan besar menjulang tinggi, menaungi jalanan tanah yang lembap oleh embun pagi. Pikirannya masih melayang pada dekrit kerajaan yang tidak masuk akal itu. Enam bulan. Waktu yang sangat singkat untuk mencari seorang pendamping hidup, terlebih bagi dirinya yang menyembunyikan identitas asli dan tidak berniat melibatkan diri dengan urusan kaum bangsawan apalagi istana.
Namun, takdir rupanya memiliki rencana lain yang jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan. Hutan yang biasanya sunyi dan hanya menyuarakan desau angin serta kicauan burung hari itu terasa berbeda. Ada aura misterius yang menyelimuti pepohonan di hadapannya, seolah-olah alam semesta sedang bersiap mempertemukannya dengan takdir yang tak terhindarkan—sebuah pertemuan yang akan menyeretnya masuk ke dalam pusaran intrik istana, rahasia masa lalu, dan kisah cinta rumit bersama lima orang pangeran dingin yang angkuh namun menyimpan luka masing-masing.
Langkah Qinglan terus berlanjut, memasuki bagian hutan yang lebih dalam, tidak tahu bahwa di balik lebatnya semak belukar dan kabut tipis, takdirnya sebagai putri seorang jenderal yang selama ini disembunyikan perlahan-lahan mulai tersingkap, membawanya pada lembaran baru kehidupan yang penuh dengan intrik, bahaya, dan debaran hati yang tak pernah ia duga sebelumnya.