Handoko Priambodo dan Mellisa Ariani pernah saling mencintai saat masih kuliah. Namun, impian mereka kandas ketika Handoko melanjutkan studi S2 ke luar negeri, memaksa mereka berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.
Puluhan tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di acara lamaran putra Handoko dengan putri Mellisa. Pertemuan itu membangkitkan kembali cinta lama yang seharusnya telah terkubur.
Di balik status mereka sebagai calon besan, terjalin kembali hubungan terlarang yang mengancam menghancurkan rumah tangga, melukai anak-anak mereka, dan mengoyak dua keluarga sekaligus.
Akankah mereka memilih cinta masa lalu, atau mempertahankan kebahagiaan anak-anak mereka?
Karena terkadang, **besan adalah maut**.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Ketika Batas Mulai Hilang
Handoko memasuki restoran dengan langkah santai. Begitu melewati area utama, ia langsung menuju private room yang sudah mereka sepakati. Tangannya mendorong pintu perlahan.
Begitu pintu terbuka, senyum lebar Mellisa langsung menyambutnya.
Handoko sempat terdiam beberapa detik. Tatapannya menyapu Mellisa dari atas hingga bawah, lalu kembali berhenti pada wajah perempuan itu. Senyum di bibirnya pun melebar.
"Halo, Mel." Handoko melangkah masuk. "Kamu tambah cantik aja."
Mellisa spontan tertawa kecil. Ia menundukkan wajah, berusaha menyembunyikan rona yang mulai muncul di pipinya.
"Masih aja suka gombal."
"Siapa yang gombal?" Handoko duduk di hadapannya. "Aku ngomong apa adanya."
"Ah, masa?"
"Iya." Handoko mengangguk mantap. "Kalau dulu kamu cantik, sekarang..." Ia sengaja menggantung kalimatnya sambil menatap Mellisa lebih lama. "Sekarang kamu bikin aku susah konsentrasi."
Mellisa langsung mengangkat wajah. "Mas!"
Handoko tertawa melihat reaksinya. "Apa? Aku cuma jujur."
"Gombal banget."
"Tapi kamu senyum."
Mellisa berusaha menahan senyumnya, tetapi gagal. Justru semakin lebar.
Beberapa saat mereka larut dalam percakapan ringan, bernostalgia tentang masa lalu dan saling melempar candaan seperti dulu. Namun, di balik tawa dan senyum itu, ada sesuatu yang sama-sama mereka sadari.
Perasaan mereka bukan lagi sekadar nostalgia.
Ketika pembicaraan mulai menyentuh Pratiwi, suasana perlahan berubah. "Mas..." suara Mellisa terdengar lebih pelan. "Kita nggak seharusnya begini, kan?"
Senyum Handoko perlahan memudar. Ia terdiam sesaat sebelum mengangguk. "Aku tahu."
"Aku merasa bersalah sama Mbak Tiwi."
"Aku juga."
Handoko menundukkan pandangan. Ada rasa bersalah yang jelas tergambar di wajahnya. Ia tahu ada seseorang yang bisa terluka jika perasaan ini terus mereka biarkan tumbuh.
Namun, ketika kembali menatap Mellisa, semua pertahanan yang tadi berusaha ia bangun seakan runtuh begitu saja.
"Aku sudah berusaha, Mel," katanya lirih. "Aku benar-benar sudah berusaha buat menganggap semua ini cuma masa lalu."
Mellisa menatapnya dalam-dalam. "Tapi ternyata nggak bisa."
Handoko menggeleng pelan. "Semakin aku mencoba menjauh, semakin aku sadar kalau perasaan itu ternyata masih ada."
Mellisa menarik napas panjang. Matanya mulai berkaca-kaca, bukan karena sedih semata, melainkan karena ia merasakan hal yang sama.
"Aku juga begitu, Mas."
Hening sejenak. Mereka sama-sama tahu bahwa perasaan itu salah untuk dibiarkan tumbuh. Mereka juga tahu ada konsekuensi yang mungkin harus mereka hadapi.
Tetapi hati ternyata tidak semudah itu diperintah.
Tatapan mereka kembali bertemu. Dan kali ini, tak ada satu pun dari mereka yang mampu berpura-pura bahwa perasaan itu tidak ada.
Justru semakin mereka mencoba menahannya, semakin kuat rasa yang selama ini mereka pendam kembali menggebu-gebu.
Handoko masih menatap Mellisa ketika tangannya perlahan bergerak di atas meja. Jemarinya mendekati tangan perempuan itu yang sejak tadi terletak di samping piring.
Mellisa sempat melirik gerakan itu, tetapi tidak menarik tangannya. Justru ketika jemari Handoko menyentuh tangannya, ia hanya terdiam. Handoko tersenyum tipis. Dengan perlahan, ia menggenggam tangan Mellisa.
"Mel..."
"Hmm."
"Jangan lihat aku seperti itu."
Mellisa mengernyit kecil. "Seperti apa?"
"Seperti kamu masih punya perasaan yang sama."
Mellisa terdiam. "Kalau memang iya?"
Senyum Handoko semakin mengembang. "Nah, itu yang bikin aku susah menjaga jarak."
Mellisa tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba menjadi begitu intens.
"Masih suka menggoda."
"Bukan menggoda." Handoko mengusap lembut punggung tangan Mellisa dengan ibu jarinya. "Aku cuma sedang mengingatkan kamu kalau ternyata aku masih seperti dulu."
"Justru itu yang bikin aku takut."
"Takut apa?"
"Takut jatuh lagi."
Tatapan Handoko melembut. "Kalau aku bilang aku juga sudah jatuh lagi?"
Mellisa tidak menjawab. Handoko kemudian mengangkat tangan Mellisa perlahan. Tatapannya tetap terkunci pada wajah perempuan itu sebelum ia mengecup punggung tangannya singkat dan lembut.
Mellisa langsung membeku. "Mas..."
Handoko tersenyum melihat pipi Mellisa yang mulai merona.
"Kenapa?"
"Kamu sekarang makin berani."
"Dulu aku juga begini."
"Dulu kita masih muda."
"Berarti sekarang aku lebih tahu apa yang aku mau."
Mellisa menatapnya, jantungnya berdegup semakin cepat. "Dan apa yang kamu mau?"
Handoko tidak langsung menjawab. Ia hanya menggenggam tangan Mellisa sedikit lebih erat.
"Kamu."
Satu kata itu sukses membuat Mellisa kehilangan kata-kata. Ia menundukkan wajah, berusaha menyembunyikan senyum yang tak mampu lagi ditahannya.
Handoko terkekeh pelan. "Nah, kan."
"Apa?"
"Masih sama seperti dulu."
Mellisa mengangkat wajahnya.
"Apanya?"
"Kalau aku gombalin sedikit, langsung merah."
Mellisa memukul pelan lengan Handoko dengan tangan satunya.
"Ih, kamu!"
Handoko tertawa. Namun di balik tawa mereka, keduanya kembali terdiam ketika menyadari satu hal: semakin mereka saling mendekat, semakin sulit bagi mereka untuk berpura-pura bahwa perasaan itu bisa dihentikan begitu saja.
Makan siang itu akhirnya berlangsung jauh lebih lama dari yang mereka rencanakan. Bukan karena makanan yang tersaji di atas meja, melainkan karena mereka terlalu menikmati kebersamaan yang sudah lama mereka rindukan.
Sesekali Handoko menyodorkan makanan ke piring Mellisa, lalu sengaja menggodanya ketika perempuan itu mengucapkan terima kasih. Mellisa pun tak mau kalah. Ia membalas dengan tatapan menggoda yang membuat Handoko semakin sulit menyembunyikan senyumnya.
Tangan mereka beberapa kali bersentuhan ketika hendak mengambil hidangan yang sama. Awalnya hanya kebetulan, tetapi lama-kelamaan keduanya seperti sengaja membiarkan sentuhan itu terjadi.
Setiap kali mata mereka bertemu, selalu ada senyum yang mengikuti. Handoko bahkan beberapa kali menggenggam tangan Mellisa di atas meja, seolah sudah tak peduli lagi dengan batas yang sebelumnya berusaha mereka jaga.
"Kamu tahu nggak, Mel?" ujar Handoko sambil menatapnya.
"Tahu apa?"
"Aku baru sadar satu hal."
"Apa?"
"Kayaknya aku salah selama ini."
Mellisa mengernyit. "Salah apa?"
"Kenapa dulu aku gak langsung melamarmu, biar kamu gak pergi dari sisiku."
Mellisa terdiam. Handoko tersenyum, lalu mengusap perlahan punggung tangannya.
"Padahal sekarang aku baru sadar, ternyata kehilangan kamu itu salah satu hal paling bodoh yang pernah aku lakukan."
Mellisa menelan ludah. "Mas..."
Handoko justru tersenyum semakin lebar. "Aku suka kalau kamu manggil aku begitu."
"Kenapa?"
"Entahlah. Kedengarannya manis."
Mellisa tertawa kecil. "Kamu memang nggak berubah."
"Berubah, kok."
"Apanya?"
"Dulu aku cuma suka menggoda kamu."
Handoko berhenti sejenak, lalu menatapnya lekat-lekat.
"Sekarang aku serius."
Mellisa langsung kehilangan senyumnya. Handoko kemudian menggenggam tangannya lebih erat.
"Sayang..."
Mellisa seketika membeku. Seolah satu kata sederhana itu membuat seluruh suara di ruangan mendadak menghilang.
Ia menatap Handoko dengan mata membesar.
"Apa?"
Handoko tampak santai, seakan tidak sadar, bahwa baru saja dia membuat jantung Mellisa berdebar tak karuan.
"Kenapa?"
"Kamu tadi panggil aku apa?"
Handoko pura-pura berpikir. "Sayang."
Wajah Mellisa langsung memerah. "Mas..."
Handoko tertawa kecil. "Kenapa? Kamu nggak suka?"
Mellisa menggeleng cepat, tetapi senyum malu-malu justru semakin terlihat jelas. "Enggak bilang begitu."
"Nah." Handoko tersenyum puas. "Berarti aku boleh panggil kamu sayang lagi."
Mellisa menundukkan wajahnya. Handoko semakin gemas melihat reaksinya.
"Sayang..."
Mellisa akhirnya mendongak. "Jangan begitu."
"Kenapa?"
"Jantung aku nggak kuat."
Handoko tertawa pelan. "Kalau begitu jangan salahkan aku kalau jantungmu berdebar. Aku juga sama."
Tatapan mereka kembali bertemu. Kali ini tak ada lagi candaan. Hanya ada dua orang yang sedang berusaha menikmati kebahagiaan kecil yang mereka tahu seharusnya tidak semudah itu mereka rasakan.
Handoko mengusap lembut jemari Mellisa.
"Mel..."
"Hmm."
"Kalau aku terus panggil kamu sayang, kamu bakal marah?"
Mellisa menggeleng pelan. "Kalau begitu..." Handoko tersenyum, "mulai sekarang biasakan."
Mellisa hanya bisa tertawa malu. Dan kini, keduanya membiarkan diri mereka menikmati perasaan yang selama ini berusaha mereka sembunyikan.