Aku terbangun dan menyadari dirinya telah berpindah menjadi Freya, tokoh antagonis yang kejam, sombong, dan ditakdirkan berakhir tragis — dibenci semua orang, diceraikan dengan hina, dan mati muda. Yang lebih menyulitkan: aku memiliki suami, pria tampan namun dingin yang dalam cerita aslinya tak pernah menyayangi Freya dan justru ikut menghancurkannya.
Aku bertekad mengubah takdir. Aku tak ingin berakhir mati. Namun setiap kali aku mencoba bersikap jahat sesuai watak asli Freya demi tidak dicurigai, sang suami justru bersikap sebaliknya.
Orang lain mencela aku? Ia langsung membela dengan tajam.
Aku hanya sedikit terluka? Ia panik seolah nyawaku terancam.
Aku mencoba menjauh? Ia justru menarikku masuk ke dalam pelukannya dan melarang pergi.
"Siapa pun yang berani menyakiti isteriku, harus siap menghadapi aku," ucapnya dengan sorot mata tajam yang tak pernah kulihat dalam cerita aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Dalang di Balik Layar & Ancaman yang Semakin Pribadi
Kami baru saja melangkah keluar dari gerbang kantor polisi, udara pagi yang segar seakan belum sempat menyentuh kulitku, saat ponsel Arga berdering tajam — nada khusus yang membuatnya langsung menegang. Ia mengangkatnya cepat, dan dalam sekejap, wajahnya yang tadi penuh kelegaan kembali berubah dingin dan kaku.
"Aku tahu," ucapnya singkat, lalu mematikan sambungan. Ia menatapku dengan tatapan serius. "Freya, ada yang salah. Pihak yang mendalangi semuanya... mereka tidak hanya membiarkan Laras bekerja sendirian. Mereka sudah bergerak lebih jauh dari yang kita duga."
"Siapa mereka?" tanyaku, meski hatiku sudah menebak jawabannya.
Arga menghela napas berat, menggenggam tanganku erat seakan takut aku akan lenyap dalam sekejap. "Kelompok yang dulu pernah hancur oleh ayahku. Namanya Kelompok Surya. Mereka adalah pesaing paling kejam, yang tak segan menggunakan cara kotor untuk menjatuhkan lawan. Dan sekarang... mereka menganggapku sebagai pewaris yang harus dimusnahkan."
Tepat saat itu, telepon genggamku bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. Kuketuk layarnya, dan darahku seakan membeku.
"Kau mungkin bebas hari ini, Freya. Tapi ingat — kau hanyalah umpan. Dan Arga takkan bisa melindungimu selamanya. Permainan ini baru saja dimulai."
Tanganku gemetar saat memperlihatkan pesan itu pada Arga. Rahangnya mengeras, urat di lehernya menonjol. "Mereka menargetkanmu secara langsung. Karena kau adalah kelemahanku. Dan mereka tahu betul cara melukai aku paling dalam."
Kami segera menuju rumah, namun Arga tak membawaku ke kamar biasa. Ia membawaku ke ruang rahasia di lantai bawah tanah — ruangan yang dirancang khusus untuk perlindungan, dindingnya tebal, dilengkapi sistem pengamanan canggih, dan tak ada satu pun jendela.
"Di sini kau aman," ucapnya, suaranya lembut namun penuh kekhawatiran. "Aku akan menempatkan penjaga di setiap pintu. Tak ada yang boleh masuk tanpa izinku. Dan aku akan mencari tahu siapa pemimpin Kelompok Surya itu — sampai ke akar-akarnya."
"Jangan pergi sendirian, Arga," pintaku, mencengkeram lengan bajunya. "Aku takut kehilanganmu juga."
Ia berlutut di hadapanku, menatap matanya dalam-dalam, lalu menangkup wajahku dengan kedua tangannya yang hangat. "Dengarkan aku. Tak ada yang bisa memisahkan kita. Tak ada ancaman, tak ada musuh, tak ada rencana jahat — tak ada apa pun di dunia ini yang bisa mengambilmu dariku. Aku berjanji. Tapi aku harus menghadapinya. Jika tidak, mereka takkan pernah berhenti."
Sebelum pergi, ia mencium keningku lama, seakan ingin mengabadikan momen itu. Lalu ia berbalik, melangkah keluar, dan pintu besi itu tertutup rapat — memisahkanku dari dunia luar, namun hatiku tetap terhubung erat dengannya.
Sementara itu, di ruangan yang gelap dan berbau asap rokok, seorang pria paruh baya dengan bekas luka melintasi pipi menatap layar monitor yang menampilkan gambar Arga dan diriku. Ia tersenyum miring, senyum yang penuh kebencian dan ambisi.
"Arga Pratama... kau pikir dengan membebaskan istrimu, permainan ini berakhir?" gumamnya pelan, suaranya serak dan mengerikan. "Sebenarnya, baru saja dimulai. Dan kali ini... aku takkan membiarkan satu pun dari kalian hidup."
Pria itu — Surya, pemimpin kelompok itu — mengambil telepon di mejanya, lalu menekan satu tombol.
"Siapkan rencana kedua. Sasaran: Freya. Kali ini, pastikan tak ada yang bisa menyelamatkannya."
Di ruang perlindungan itu, aku duduk diam di tepi tempat tidur, memegang dada yang berdebar kencang. Aku tahu bahaya itu masih ada, bahkan semakin dekat. Namun aku bukan lagi Freya yang pasrah pada takdir. Aku adalah wanita yang dicintai Arga, dan aku takkan menjadi beban baginya. Aku harus kuat. Aku harus membantu. Karena kami berdua — kita — akan menghadapinya bersama, sampai akhir.
🔥 Lanjut ke Bab 19? Dalang mulai beraksi secara langsung! Ancaman makin mendesak, dan Freya mulai menemukan cara untuk tidak hanya menjadi objek perlindungan — tapi ikut berjuang! 🛡️💪 Mau dilanjutkan?