Baska tak pernah tertarik pada olahraga hidupnya cuma berputar antara kantor dan kasur. Sampai suatu hari, karena tak sengaja merusak koleksi berharga sahabatnya, ia terpaksa ikut main padel sebagai ganti rugi. Siapa sangka, sebuah smash yang meleset dan membuat kepalanya berdarah justru mempertemukannya dengan Zia admin lapangan yang cantik, ramah, dan punya cara sendiri membuat siapa pun merasa nyaman di dekatnya. Dari luka kecil di pelipis, tumbuh benih cinta yang membuat Baska rela mengambil kelas privat, bukan demi jago bermain, tapi demi alasan untuk terus kembali menemuinya. Namun kebahagiaan yang mereka bangun perlahan diuji ketika bayangan masa lalu Zia seorang mantan bernama Ali tiba tiba muncul kembali, membawa kesalahpahaman demi kesalahpahaman yang nyaris menghancurkan semuanya. Akankah cinta yang tumbuh dari lapangan sederhana itu cukup kuat bertahan melawan kecemburuan, keraguan, dan bayang bayang masa lalu yang menolak pergi? Kamu di Lapangan Padel adalah kisah tentang bagaimana cinta sejati sering kali lahir dari hal paling tak terduga dan diuji oleh hal yang paling sulit untuk dilepaskan: kepercayaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa penasaran dibalik meja resepsionis
Setelah kepergian Baska hari itu, Zia melanjutkan pekerjaannya seperti biasa, namun ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya mengenai pertanyaan mendadak pemuda tersebut soal kelas privat. Selama bekerja di Sport Padel, dia sudah terbiasa dengan berbagai macam pelanggan, namun jarang sekali menemukan seseorang yang begitu jelas terlihat tidak berminat olahraga di hari pertama, kemudian tiba-tiba berubah pikiran secepat itu.
"Aneh juga ya, Mas yang kemarin kena smash itu," gumam Zia pelan pada diri sendiri, sambil merapikan berkas pendaftaran kelas privat yang baru saja dia siapkan untuk Baska.
Reta, yang kebetulan lewat membawa tumpukan handuk bersih untuk disimpan di lemari penyimpanan, mendengar gumaman tersebut dan langsung penasaran. "Ngomong apa sih, Zi? Ada yang aneh?"
"Itu lho, Ret, yang kemarin kena smash Dika terus gue obatin. Tadi dia balik lagi, katanya mau balikin raket, terus tiba-tiba nanya soal kelas privat," jelas Zia sambil menunjukkan formulir pendaftaran yang baru saja diisi Baska tersebut.
Reta membaca nama yang tertera di formulir tersebut, alisnya terangkat penuh minat. "Wah, jangan-jangan dia naksir lo tuh, Zi. Coba deh perhatiin, orang yang tadinya males olahraga banget kok tiba-tiba mau ikut kelas."
"Ih, kok bisa mikir ke situ sih. Kan wajar aja kalau orang mau belajar lebih serius abis kena insiden kemarin," bantah Zia, meski dalam hatinya sendiri dia juga tidak sepenuhnya bisa menampik kemungkinan tersebut.
Percakapan tersebut, meski diselingi canda, membuat Zia mulai memperhatikan sedikit lebih detail mengenai sosok Baska yang sebenarnya belum terlalu dia kenal. Sepanjang sore itu, di sela-sela kesibukannya melayani pelanggan lain, pikirannya sesekali kembali pada ekspresi wajah Baska yang begitu berbeda antara hari pertama yang malas-malasan dengan hari ini yang terlihat lebih antusias, meski masih diselingi kecanggungan yang kentara.
Menjelang sore, ketika lapangan mulai sepi dan Zia bersiap untuk bergantian shift dengan admin lainnya, Coach Yudha mendatanginya untuk membicarakan jadwal kelas privat yang baru saja masuk tersebut. "Zia, ini yang daftar kelas privat namanya Baska ya? Kapan kira-kira dia mau mulai?"
"Belum ditentuin jadwalnya, Coach. Tadi katanya nanti saya kasih tau info lengkapnya dulu," jawab Zia sambil memeriksa kembali data pendaftaran tersebut.
"Oke, nanti tolong konfirmasi ke dia ya, biar bisa saya masukin jadwal minggu depan," ujar Coach Yudha sebelum akhirnya kembali sibuk dengan urusan lapangan lainnya.
Zia mengambil ponselnya, mencari nomor kontak yang tertera di formulir pendaftaran Baska, kemudian mengirimkan pesan singkat berisi informasi jadwal kelas privat yang tersedia. Beberapa menit kemudian, balasan dari Baska masuk dengan cepat, seolah pemuda tersebut sudah menunggu pesan itu sejak tadi.
"Makasih infonya, Mbak Zia. Saya ambil yang hari Rabu sore aja kalau masih ada slot," balas Baska, sebuah respons yang meski sederhana, membuat Zia tersenyum tanpa sadar membaca kesungguhan yang terpancar dari kalimat singkat tersebut.
"Oke, Mas Baska, nanti saya konfirmasi ke Coach Yudha ya," balas Zia, mengetik pesan tersebut dengan nada profesional meski ada perasaan penasaran yang mulai tumbuh dalam dirinya mengenai bagaimana perkembangan pemuda tersebut nantinya dalam belajar padel.
Sepulang kerja hari itu, dalam perjalanan pulang menggunakan motor maticnya, Zia tanpa sadar memikirkan kembali percakapan singkat dengan Baska tersebut, sebuah pemikiran yang jarang sekali dia alokasikan untuk pelanggan biasa. Dia menepis pikiran tersebut dengan menganggapnya sekadar rasa penasaran wajar terhadap perkembangan seorang pemula, tidak menyadari bahwa benih-benih ketertarikan yang lebih dalam mulai tumbuh secara perlahan dalam dirinya sendiri, seiring dengan semakin seringnya nama Baska muncul dalam berbagai percakapan ringan di tempat kerjanya tersebut.
Sesampainya di rumah, Zia mendapati ibunya sedang menyiapkan makan malam di dapur, aroma sayur asem dan ikan goreng memenuhi seluruh rumah kecil mereka. "Zia, cuci tangan dulu, makan malam udah siap," ujar Bu Marlina sambil menata piring di meja makan.
"Iya, Bu, bentar," jawab Zia, meletakkan tasnya di kamar sebelum akhirnya bergabung dengan ibunya di meja makan tersebut.
Sepanjang makan malam, Bu Marlina memperhatikan putrinya yang sesekali tersenyum sendiri sambil menatap ponselnya, sebuah kebiasaan yang jarang dia lihat belakangan ini. "Zia, senyum-senyum sendiri liat apa sih dari tadi?"
"Nggak ada apa-apa, Bu. Cuma ada pelanggan baru yang lucu aja, kemarin kena smash pas main padel," jawab Zia sekadarnya, tidak ingin terlalu banyak bercerita mengingat dia sendiri belum yakin apa yang sebenarnya dia rasakan terhadap pemuda tersebut.
Bu Marlina hanya mengangguk sambil tersenyum, tidak terlalu mempermasalahkan jawaban singkat putrinya tersebut, meski dalam hatinya dia menyimpan sedikit rasa penasaran mengenai perubahan kecil yang mulai dia perhatikan pada diri Zia belakangan ini, sebuah perubahan yang meski masih samar, menandakan babak baru yang mungkin akan segera dimulai dalam kehidupan putri semata wayangnya tersebut.