Bercerita tentang mahasiswa IT yang membuat AI secara mandiri di dalam sebuah Android kentangnya, dan merubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32.Sinyal Gelap di Udara Malam
Malam semakin larut saat sedan coupe Porsche Panamera berwarna midnight blue berhenti dengan sangat halus di depan gerbang Rumah Melisa. Sinar lampu jalanan memantul lembut di atas kap mesin mobil yang mengkilap. Melisa melepaskan sabuk pengamannya, lalu memutar tubuhnya menatap Bayu Anggara yang duduk di kursi penumpang belakang dan Dimas di kursi pengemudi.
"Terima kasih banyak ya, Bayu, Dimas," ucap Melisa dengan suara jernih yang hangat. "Malam ini benar-benar menyenangkan dan sangat berkesan buatku."
Dimas menoleh seraya menyandarkan tangannya di lingkar kemudi. "Sama-sama, Mel! Suatu kehormatan bisa mengantar mahasiswi tercantik Fakultas Ilmu Komputer pulang dengan aman."
Melisa tertawa renyah, lalu tatapannya tertuju lurus pada Bayu. "Hati-hati di jalan ya, Bayu. Sampai ketemu di kampus besok pagi."
Bayu mengulas senyum paling hangat di wajahnya, membetulkan letak kacamata titaniumnya. "Sama-sama, Melisa. Istirahatlah yang cukup. Selamat malam."
"Selamat malam," bisik Melisa tulus sebelum melangkah keluar dari kabin mobil yang harum.
Pintu mobil tertutup pelan. Dimas menginjak pedal gas, melarikan sedan mewah itu membelah jalanan kota yang kian lengang menuju kawasan perumahan Bukit Hijau.
"Bay," panggil Dimas dari balik kemudi, melirik kaca spion tengah dengan cengiran jahatnya. "Tatapan si Melisa pas turun tadi... adem banget, Bay! Gue yakin seratus persen hatinya sudah terkunci mati buat lu."
Bayu menyandarkan punggungnya pada jok kulit nappa yang nyaman, memandangi deretan lampu kota di balik jendela. "Melisa wanita yang sangat peka, Dim. Yang terpenting hubungan kita bertiga tetap berjalan dengan sangat harmonis."
"Iya deh, Tuan Rendah Hati," goda Dimas seraya terkekeh puas.
Dua puluh menit kemudian, mobil memasuki garasi luas rumah berarsitektur minimalis di Bukit Hijau. Suasana rumah sangat tenang, Ibu Rahmi sudah tertidur lelap di kamarnya dalam kondisi tubuh yang bugar dan sehat. Bayu dan Dimas melangkah masuk menuju ruang kerja pribadi Bayu yang terletak di lantai dua. Ruangan berpenyejuk udara itu dilengkapi dengan jajaran monitor definisi tinggi dan server komputer berspesifikasi militer.
Bayu melepas jas abu-abu gelapnya, menyangkutkannya di sandaran kursi kerja, lalu melonggarkan kancing teratas kemeja putihnya. Namun, sebelum Bayu sempat duduk, pendar biru redup pada konsol utama di atas meja mendadak berkedip cepat dengan frekuensi yang tidak biasa.
"Peringatan bahaya jaringan, Bayu," suara sintesis Jarvis mendadak mengalun mendesak dari pengeras suara tersembunyi di sudut ruangan.
Langkah Bayu terhenti seketika. Pembawaannya langsung berubah menjadi sangat fokus, tajam, dan dingin. "Ada apa, Jarvis? Jelaskan parameternya."
Dimas yang baru saja hendak menuangkan air minum di meja kecil ikut menghentikan gerakannya, menoleh kaget. "Ada apa, Jarvis? Ada peretas yang mau coba-coba masuk ke server rumah ini?"
"Bukan ke server rumah ini, Dimas," jawab Jarvis terstruktur seraya menampilkan proyeksi peta digital kota di layar monitor utama. "Dua menit yang lalu, sistem pemantauan pasif saya mendeteksi adanya transmisi sinyal terenkripsi tingkat tinggi yang memancar secara sporadis melintasi jaringan serat optik dan spektrum radio komersial kota."
Bayu melangkah mendekati meja konsol, menatap garis-garis gelombang sinyal berwarna merah darah yang bergerak liar di atas peta digital. "Berapa tingkat kompleksitas enkripsinya, Jarvis?"
"Sinyal ini menggunakan algoritma enkripsi polimorfik sembilan lapis berbasis matriks kuantum buatan," uraian Jarvis mendetail. "Tingkat kerumitan kodenya berada jauh di atas standar enkripsi siber perbankan atau fasilitas sipil biasa."
Dimas meletakkan gelasnya dengan dentangan pelan, membelalakkan mata menatap proyeksi peta. "Algoritma polimorfik sembilan lapis?! Gila! Siapa yang punya teknologi sekeren itu di kota ini selain kita, Bay?"
"Itu bukan teknologi sipil biasa, Dim," pangkas Bayu tegas, jemarinya bergerak cepat di atas papan ketik virtual untuk menganalisis struktur paket data yang tertangkap. "Jarvis, tunjukkan lokasi fisik transmisi dari enam simpul pendar merah itu."
"Memetakan lokasi simpul," tanggap Jarvis presisi. "Simpul pertama memancar dari area pelabuhan barat, simpul kedua dari kompleks pergudangan lama, dan empat simpul lainnya tersebar di titik-titik kabel bawah tanah pusat finansial kota."
Dimas mendekat ke samping Bayu, mengamati grafik lalu lintas data yang terus melonjak tajam. "Target mereka apa, Bay? Jangan bilang mereka mau meretas rekening bank warga lagi?"
"Lihat pola penyusupannya, Dim," tunjuk Bayu pada baris kode yang bergerak di layar. "Mereka tidak menyasar server komersial. Sinyal terenkripsi ini secara merayap sedang menyusup ke dalam protokol kendali sistem distribusi listrik utama kota dan pusat data komunikasi darurat milik kepolisian."
"Apa?!" seru Dimas terperanjat. "Mereka mau melumpuhkan listrik se-kota dan mematikan sistem komunikasi polisi sekaligus?!"
"Ini adalah tahap pengintaian taktis atau di sebut reconnaissance," analisis Bayu dengan suara dingin yang sangat tenang dan teratur. "Jaringan kejahatan ini sedang menguji ketahanan perisai siber infrastruktur vital kota. Jika mereka berhasil menembus pertahanan awal ini tanpa terdeteksi, mereka bisa memadamkan seluruh listrik kota hanya dengan satu tombol klik saat melancarkan aksi kejahatan besar."
Dimas mengepalkan tangannya, memandang Bayu tegang. "Bisa lu putus sinyalnya sekarang, Bay? Lu pakai zirah Ksatria Baja buat hancurkan pemancar fisik mereka di pelabuhan?"
"Jangan terburu-buru, Dim," tahan Bayu bijaksana, menggelengkan kepalanya pelan. "Jika Ksatria Baja turun melumpuhkan simpul fisik mereka saat ini, musuh utama yang mengendalikan sinyal dari balik layar akan langsung menyadari keberadaan kita. Mereka akan memutus akses, menghapus jejak, dan kembali bersembunyi di dalam kegelapan."
"Terus, rencana kita gimana, Bay? Kita biarkan saja mereka meretas sistem kota?" tanya Dimas penasaran.
Bayu membetulkan letak kacamata titaniumnya, senyum tipis yang penuh percaya diri terukir di wajahnya. "Kita gunakan cara yang jauh lebih elegan. Jarvis, aktifkan protokol Ghost Trace dan buat server bayangan atau honey pot, di seluruh jalur lalu lintas mereka."
"Protokol Ghost Trace diaktifkan," sahut Jarvis ramah. "Membuka sembilan lapisan enkripsi musuh secara imperseptibel... Tiga lapisan awal berhasil didekripsi tanpa memicu sensor alarm peretas."
Layar monitor kini menampilkan teks kode terjemahan yang berhasil diurai secara langsung oleh Jarvis.
"Tampilkan fragmen pesan yang berhasil dibaca, Jarvis," perintah Bayu.
"Fragmen pesan teridentifikasi," lapor Jarvis mendetail. "Terdapat instruksi bertuliskan 'Operasi Gerhana', sinkronisasi waktu eksekusi otomatis, dan kode identifikasi digital pengirim."
Dimas mencondongkan badannya membaca layar. "Kode identifikasi digital? Nama kelompok mereka kelihatan nggak di situ, Jarvis?"
"Kode identifikasi digital terkonfirmasi bertuliskan 'Viper Network'," jawab Jarvis presisi. "Berdasarkan pencocokan basis data kriminal internasional, Viper Network adalah sindikat kejahatan siber tingkat tinggi yang menjual akses peretasan infrastruktur kepada kelompok kriminal lokal berdana besar."
"Viper Network..." bisik Dimas seraya bersiul pelan. "Musuh baru yang skalanya internasional, Bay."
"Mereka memang internasional, tapi di kota ini, mereka berurusan dengan pihak yang salah," sahut Bayu mantap. "Jarvis, alihkan seluruh jalur transmisi sinyal terenkripsi Viper Network ke dalam server bayangan buatan kita. Biarkan mereka berpikir telah berhasil membobol pertahanan listrik kota, padahal mereka hanya masuk ke dalam simulasi tiruan yang kita kendalikan."
"Pengalihan jalur dilaksanakan seratus persen, Bayu," lapor Jarvis gembira. "Sinyal Viper Network kini sepenuhnya terisolasi di dalam server bayangan Alpha. Saya juga berhasil memasang pelacak tak kasat mata pada seluruh lalu lintas data balasan mereka."
Dimas tertawa lepas seraya menepuk meja kerja Bayu dengan bangga. "Luar biasa! Lu benar-benar jenius, Bay! Mereka mikir sudah berhasil meretas sistem kota, padahal malah masuk ke dalam kurungan perangkap buatan lu!"
Bayu berdiri dari kursinya, merapikan lengan kemeja putihnya dengan ketenangan mutlak. "Sekarang kita memegang kendali penuh atas pergerakan mereka, Dim. Setiap byte data yang mereka kirim dan setiap koordinat anggota mereka di lapangan akan terekam secara langsung oleh Jarvis."
Dimas mengacungkan dua jempolnya. "Skenario yang sempurna, Bay! Sindikat Viper Network itu nggak bakal sadar kalau Ksatria Baja sudah mengunci leher mereka dari balik bayangan."
"Seluruh data enkripsi Viper Network telah diarsipkan secara aman dalam basis data utama," Jarvis menambahkan dengan nada bangga. "Sistem keamanan infrastruktur kota berada dalam pengawasan mutlak."
"Terima kasih atas pengerjaan cepatmu, Jarvis," ujar Bayu tulus.
"Dengan senang hati, Bayu. Ini adalah tugas saya," sahut Jarvis santai.
Bayu melangkah mendekati jendela ruang kerjanya, memandangi gemerlap lampu-lampu kota yang menyala terang di bawah kegelapan malam. Di balik kehangatan cintanya bersama Melisa dan kebahagiaan keluarganya yang telah pulih, ancaman baru dari jaringan kejahatan kota mulai mengintai. Namun, dengan kecerdasan tinggi, teknologi Jarvis, dan keteguhan jiwa di balik zirah Ksatria Baja, Bayu Anggara selalu siap menjadi benteng pertahanan tak tergoyahkan demi melindungi kedamaian kota dan orang-orang yang dicintainya.