Indonesia
NovelToon NovelToon
Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO / Menantu Pria/matrilokal
Popularitas:60
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Di malam ulang tahun sang mertua, Raka menyiapkan satu meja penuh masakan—dan menunggu sendirian sampai dingin, karena istri, anak, dan mertuanya malah pergi ke ruang VIP mewah yang dipesan Sebastian, sang cinta lama. Malam itu juga Raka berhenti jadi "kacung": ia mengajukan cerai, pergi tanpa menuntut sepeser pun harta keluarga Prawira, dan melangkah keluar dengan kepala tegak.

Semua orang menyangka si menantu numpang itu akan merengek balik dalam 24 jam. Yang tidak mereka tahu: Raka bukan sekadar pelukis mural berbakat yang bisa membangun kerajaannya sendiri dari nol lewat siaran langsung dan ukiran—ia adalah **putra sejati yang hilang dari Dinasti Giok Adiwangsa**, keluarga konglomerat nomor satu yang mencarinya belasan tahun. Dan perempuan sederhana yang diam-diam mengejarnya? Dialah **Anindya, Sang Ratu Konglomerat Wibisana**, yang menyembunyikan kekayaan triliunan demi cinta yang ia pendam 15 tahun.

Saat Raka naik dari "menantu buangan" jadi tuan muda dinasti giok, saat setiap penghinaan dibalas dengan bukti, bakat, dan kuasa—mantan istri, mertua matrealistis, dan sang cinta lama satu per satu menyesal setengah mati. Larasati akhirnya berlutut memohon rujuk.

Tapi maaf, Bu—**anak dari Ratu Konglomerat sudah dalam kandungan, dan aku tak akan menoleh lagi.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11 — Follower Naik, Perceraian Diulur demi Bursa

Jakarta baru saja mengingat nama Raka, dan internet bergerak lebih cepat daripada yang ia perkirakan.

Dalam sembilan hari, potongan ucapan Prof. Damar ditonton puluhan ribu kali. Pengikut Studio Nusa Karya naik dari seribu tiga ratus menjadi delapan ribu tujuh ratus. Bukan angka selebritas, tetapi cukup untuk membuat kotak pesannya penuh ukuran dinding, foto ruangan, dan pertanyaan harga.

Raka tidak menerima semuanya.

Ia memilih dua panel kecil yang dapat dikerjakan tanpa mengganggu proyek TK Bintang Cemerlang, menjadwalkan satu survei kafe, dan menolak klien yang meminta bahan murah ditulis sebagai material premium. Dua pekerja lepas dikontrak per tahap dengan upah dan ruang lingkup tertulis. Dana proyek tidak bercampur dengan belanja rumah.

Saldo gift dari LangitSenja akhirnya lolos masa penyelesaian. Setelah potongan platform, uang bersihnya masuk. Raka menyisihkan pajak, membeli pelindung kerja, lalu membuka rekening pencatatan nafkah Keisha. Transfer pertama ia kirim dengan keterangan jelas meski putusan pengadilan belum turun.

Larasati tidak membalas bukti transfer tersebut.

Sebagai gantinya, surat dari kuasa hukumnya tiba.

Permohonan penjadwalan ulang mediasi.

Raka membaca alasannya: termohon memiliki agenda profesional yang tidak dapat ditinggalkan dan memerlukan waktu untuk menyiapkan dokumen rumah tangga. Tanggal mediasi yang seharusnya berlangsung awal pekan berikut diminta mundur dua minggu.

Ia menelepon kuasa hukum yang membantunya mengurus perkara.

"Apakah pengadilan sudah menyetujui?"

"Belum, Pak Raka. Ini baru permintaan pihak mereka," jawab suara di ujung sambungan. "Mediator dapat memberi satu penyesuaian yang wajar. Tetapi mereka tidak bisa menahan perkara tanpa batas. Simpan semua komunikasi dan tetap hadir pada jadwal resmi kecuali ada penetapan perubahan."

"Kita tidak menolak mediasi. Kita tolak penundaan tanpa alasan yang bisa dibuktikan."

"Saya siapkan jawaban tertulis."

"Cantumkan bahwa saya tersedia pada tanggal semula dan dua tanggal pengganti terdekat," kata Raka. "Saya juga bersedia mediasi daring bila pengadilan mengizinkan. Saya tidak mau mereka bilang saya yang menghambat."

"Baik. Saya akan meminta semua permohonan penjadwalan disampaikan melalui sistem perkara. Jangan berdebat lewat pesan pribadi."

Raka menyimpan nasihat itu. Ia membuat folder baru berisi panggilan, bukti kehadiran, usulan jadwal, transfer nafkah Keisha, dan seluruh pesan Larasati. Bila pihak Prawira ingin mengubah keterlambatan menjadi cerita bahwa ia suami yang lari dari tanggung jawab, garis waktunya sudah siap menjawab.

Raka menutup telepon dan kembali memeriksa jadwal proyek. Penundaan itu mengganggu, tetapi tidak akan ia biarkan menghentikan pekerjaan.

Di tempat lain, alasan sebenarnya tak pernah tertulis dalam surat kepada Pengadilan Agama.

Ruang rapat Balet Larasati dipenuhi papan proyeksi dan map keuangan. Di layar terpampang judul: Restrukturisasi Menuju Pasar Modal.

Sulastri duduk di kursi utama meski tidak memegang jabatan operasional. Ratna membolak-balik presentasi penasihat korporat. Larasati berdiri di dekat jendela, masih mengenakan pakaian latihan.

"Tim komunikasi sudah bilang apa?" tanya Sulastri.

Ratna menunjuk satu grafik. "Citra Laras adalah aset utama. Sponsor membeli kisah perempuan sukses dengan keluarga stabil. Kalau perkara cerai meledak sekarang, calon investor akan bertanya apakah ada sengketa harta, kepemilikan nama, atau tuntutan yang mengganggu restrukturisasi."

"Raka sudah menyatakan tidak menuntut harta," kata Larasati.

"Pernyataan di rumah bukan dokumen final," balas Ratna. "Selama belum ada putusan, pasar bisa berspekulasi."

"Jadi kalian ingin aku menahan perceraian?"

Sulastri menatap putrinya seolah jawabannya sudah jelas. "Bukan menahan. Mengatur waktu. Setelah pengumuman rencana masuk BEI dan penilaian awal selesai, biarkan hakim memutus apa pun."

Larasati meremas botol air. "Dia tidak akan setuju."

"Dulu dia menunggu lima jam untuk makan malam. Dua minggu bukan apa-apa."

Ucapan itu seharusnya terdengar meyakinkan. Namun Larasati teringat cara Raka menyebutnya Bu Laras di Graha Utama. Tak ada amarah di wajahnya, juga tak ada harapan. Lelaki yang dulu menunggu memang sudah tidak ada.

"Dan kalau video pertengkaran di pameran naik lagi?" tanyanya.

Ratna tersenyum tipis. "Justru itu alasan menjaga status pernikahan. Kita bisa bilang masalah telah diselesaikan secara pribadi. Sebastian juga sedang membantu membuka jalur penasihat dan calon mitra. Jangan rusak semuanya karena Raka sedang ingin membuktikan diri."

Nama Sebastian membuat Larasati tidak langsung menjawab.

Sulastri mengambil ponsel. "Kirim pesan. Katakan kau ingin bicara baik-baik. Kalau dia datang, minta dia tidak membuat pernyataan publik sampai proses pasar modal aman."

"Itu bukan bicara baik-baik. Itu memakai pernikahan untuk menutup risiko bisnis."

"Pernikahan itu lima tahun menguntungkan dia. Sekarang biarkan sekali saja menguntungkan kita."

Larasati menatap ibunya. Untuk pertama kali, kalimat tersebut terdengar buruk bahkan di telinganya sendiri.

Namun pada akhirnya ia tetap mengirim pesan.

Mas, kita perlu bicara sebelum mediasi. Bisa datang ke sanggar malam ini?

Balasan Raka tiba dua belas menit kemudian.

Jika berkaitan dengan perkara, kirim melalui kuasa hukum. Jika berkaitan dengan Keisha, tulis kebutuhannya dengan jelas.

Tidak ada ruang ketiga untuk nostalgia, tekanan, atau kepentingan perusahaan.

Larasati membaca balasan itu lama.

Ratna mengambil ponsel dari tangannya. "Dia sengaja bersikap dingin supaya kita panik."

"Atau dia memang tidak mau kembali," kata Larasati pelan.

Ruangan mendadak senyap.

Sulastri segera memotong, "Omong kosong. Tunggu sampai uang proyek kecilnya habis."

Pada saat yang sama, Raka sedang berdiri di lokasi TK Bintang Cemerlang. Perbaikan dua titik lembap telah selesai dan dicatat dalam berita acara. Ia menguji permukaan, memasang garis kontrol, lalu membagi zona kerja dengan pita pengaman.

Bu Rina datang membawa helm proyek kecil. "Tim sekolah menyetujui rancangan final. Orang tua murid juga memilih jalur sentuh sebagai fitur favorit."

"Berarti besok bentuk dasar dimulai. Selama area kerja aktif, akses koridor ini ditutup."

"Ada satu hal lagi." Bu Rina menunjukkan layar ponselnya. "Video Prof. Damar membuat beberapa media ingin meliput. Saya tidak mau wajah murid terlihat."

"Kita buat jadwal tanpa anak dan minta persetujuan tertulis sebelum kamera masuk. Kalau mereka menolak, tidak ada peliputan."

Bu Rina mengangguk. "Itu jawaban yang saya harapkan."

Ponsel Raka bergetar lagi. Kali ini pemberitahuan resmi dari sistem perkara.

Permintaan perubahan jadwal telah diterima untuk diperiksa mediator. Para pihak diminta menunggu pemberitahuan berikutnya.

Tak sampai satu menit kemudian, kuasa hukumnya mengirim tangkapan dokumen baru: pihak Larasati melampirkan jadwal roadshow sponsor dan rapat restrukturisasi Balet Larasati sebagai alasan ketidakhadiran.

Di bagian bawah presentasi yang ikut terbawa dalam lampiran, terdapat satu frasa yang seharusnya tidak relevan dengan rumah tangga mereka:

Target pengumuman awal menuju pencatatan di Bursa Efek Indonesia.

Raka menatap kalimat itu, lalu akhirnya memahami mengapa keluarga yang kemarin menyuruhnya pergi kini mendadak membutuhkan pernikahan mereka tetap hidup di atas kertas.

Mereka bukan ingin mempertahankan dirinya.

Mereka sedang mempertahankan valuasi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!