Valencia Florence mengira penderitaannya telah usai setelah palu hakim meresmikan perceraiannya dengan Julian Edgar. Namun, sebuah fenomena misterius justru melempar jiwanya melakukan time travel kembali ke tiga tahun lalu—tepat di tahun kedua pernikahan mereka yang dingin.
Kembali menjadi Nyonya Edgar berarti Valencia harus mengulang fajar pernikahan tanpa cinta. Dia kembali menghadapi Julian, suami sedingin es yang menguburnya dalam kemewahan finansial dan fasilitas jet pribadi, namun memperlakukannya tak lebih dari sekadar pajangan rumah. Valencia sadar diri, dia hanyalah pengantin pengganti untuk mendiang saudara kembarnya, Gracia Florence, yang tewas menjelang pernikahan. Di kesempatan kedua ini, Valencia bersumpah tidak akan lagi mengemis cinta yang tidak pernah ada. Dia akan menjalani sisa waktu pernikahan ini dengan caranya sendiri, bersiap untuk pergi sebelum hatinya hancur untuk kedua kalinya.
#by_Parkha
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGULANG LUKA Bab 34: Bayangan Cemburu dan Batas Profesional
...MENGULANG LUKA...
...Bab 34: Bayangan Cemburu dan Batas Profesional...
Mobil sedan putih milik Valencia berhenti mulus di pelataran studio lukisnya yang berarsitektur modern minimalis. Bangunan berdinding kaca transparan itu merupakan tempat perlindungan utamanya, satu-satunya ruang di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa bayang-bayang nama besar keluarga Edgar.
Valencia melangkah masuk menyusuri koridor studio yang tenang, disambut aroma khas cat minyak dan kain kanvas yang selalu berhasil menenangkan pikirannya. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama saat matanya menangkap sosok pria berambut cokelat gelap sedang berdiri membelakanginya di area pameran pribadi.
"Selamat pagi, Nyonya Edgar," sapa Lucas Frederick seraya berbalik dengan senyuman hangat yang khas. Pria itu mengenakan kemeja santai berkerut rapi dengan lengan digulung, memegang dua cangkir kopi panas di tangannya.
Valencia agak terkejut mendengar sapaan sopan di studio lukisnya. "Tuan Frederick? Anda datang cepat sekali."
"Saya sengaja datang lebih awal untuk meninjau sketsa awal kolaborasi kita," jawab Lucas ramah sambil menyerahkan salah satu cangkir kopi pada Valencia. Jemari mereka sempat bersentuhan singkat saat Valencia menerima cangkir tersebut. "Lagipula, sebuah kehormatan bisa menyeduh kopi untuk seorang Nyonya Edgar sebelum kita mulai bekerja."
Valencia menunduk tipis, menyesap kopinya sebentar demi menutupi sisa-sisa rasa lelah akibat perdebatan dinginnya dengan Julian pagi ini. "Terima kasih, Tuan Frederick. Anda tidak perlu repot-repot seperti ini."
Lucas menatap Valencia lebih dalam. Pengamatan tajamnya dengan cepat menangkap bayangan lelah yang tersirat di balik mata anggun wanita itu. Pria itu melangkah satu pijakan lebih dekat hingga jarak mereka menipis, menatapnya penuh rasa peduli.
"Anda terlihat sedikit tegang hari ini, Nyonya Edgar," suara Lucas melembut, bernada perhatian yang tulus. "Apakah ada masalah di rumah... atau Tuan Edgar membuat Anda tertekan lagi? Anda tahu kan kalau Anda selalu bisa mengandalkan saya saat dunia di luar sana terlalu menekan Anda?"
Kehangatan dan perhatian yang ditunjukkan Lucas membuat Valencia menegakkan posisinya. Di masa lalunya yang kelam, Lucas adalah sosok yang selalu memberinya ruang untuk bernapas ketika Julian sibuk mengabaikannya. Namun sekarang, dalam alur waktu yang telah berubah ini, ada batas tegas yang harus tetap dipagari secara bijaksana.
"Terima kasih atas perhatian Anda, Tuan Frederick," sahut Valencia tenang namun memancarkan ketegasan yang tak terbendung. "Tapi saya harap Anda tidak mencampuradukkan masalah rumah tangga saya dengan kerja sama kita. Saya mau kita tetap berada di jalur profesional."
Lucas sempat tertegun sejenak, terkejut oleh jawaban lugas itu, sebelum akhirnya mengangguk pelan seraya tersenyum menghargai batas tegas yang ditarik oleh wanita di hadapannya. "Tentu, Nyonya Edgar. Saya menghormati keputusan Anda."
Sementara itu, di lantai teratas gedung pencakar langit Edgar Group, suasana justru berbanding terbalik. Julian duduk di kursi kebesarannya dengan raut wajah yang menggelap. Matanya menatap tajam dokumen-dokumen di atas meja, tetapi pikirannya sepenuhnya tertuju pada Valencia yang saat ini berada di studio lukis bersama Lucas Frederick. Rasa cemburu dan gelisah terus membakar dadanya, membuatnya tidak bisa fokus sedikit pun pada pekerjaan.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan di pintu ruang kerja memecah keheningan. Diego, asisten pribadinya, melangkah masuk dengan wajah tegang dan penuh kehati-hatian.
"Permisi, Tuan Edgar," ucap Diego ragu-ragu. "Di luar... Nona Clarissa datang mencari Anda."
Julian mendongak seketika, alisnya bertaut tajam. "Clarissa?"
"Benar, Tuan. Nyonya Besar Sita yang memintanya datang ke sini secara pribadi untuk menemui Anda," tambah Diego pelan, tak berani menatap langsung mata atasannya yang kian mendingin.
Julian mengepal jarinya kuat-kuat di atas meja. Rahangnya mengeras seketika. Mami Sita rupanya masih belum menyerah juga. Meski ia sudah memutus kerja sama dengan Baskoro Corp demi membela Valencia, ibunya tetap bersikeras menyusupkan wanita lain pilihan keluarganya untuk merusak pernikahan yang tengah berusaha ia pertahankan.