Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Mengira Itu Kamu

Aku Mengira Itu Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:121
Nilai: 5
Nama Author: Ri7

"Ternyata selama ini aku salah mengira. Perempuan yang kutemui di pondok baru itu bukanlah perempuan yang mengajakku ta'aruf. Aku terlalu cepat menyimpulkan hanya karena namanya sama. Ah, betapa cerobohnya aku... Seandainya sejak awal aku tidak terburu-buru membuat penilaian, mungkin kebingungan ini takkan pernah terjadi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gemuruh Hati

Pukul sembilan malam, aku akhirnya selesai dari semua pekerjaanku.

Aku merebahkan tubuh di atas kasur. Sebenarnya ingin tidur lebih awal malam ini, tetapi rasa kantuk belum juga datang. Pandanganku menerawang ke langit-langit kamar, sementara pikiranku justru kembali pada percakapan tadi di dalam mobil.

Kenapa percakapan itu terus mengusikku?

Aku menghela napas panjang.

Ustadz Syaiful adalah kakak ipar dari ibu Ustadzah Aisyah. Beliau sudah beberapa kali memintaku untuk segera menikah. Bahkan, beliau berusaha mencarikan calon untukku. Wajar saja, mungkin karena selama ini beliau sudah menganggapku seperti anak sendiri.

Sudah tujuh tahun aku berada di pondok beliau.

Tujuh tahun belajar dan mengajar. Belajar kepada beliau, sekaligus mengajar santri-santri beliau. Banyak hal yang kulewati selama berada di pondok ini. Dan selama itu pula, hubungan kami semakin dekat, sampai rasanya beliau bukan sekadar seorang guru bagiku.

Sudah beberapa kali beliau menawarkan calon.

Namun, tawaran yang ketiga kali ini terasa berbeda.

Namanya Ustadzah Aisyah.

Keponakan beliau sendiri.

Entah kenapa, kali ini aku tidak langsung menolak. Atau mungkin lebih tepatnya, aku belum memberikan jawaban.

Aku baru membaca CV-nya. Belum ada pembicaraan lebih lanjut. Bahkan Ustadz Syaiful pun belum menyinggung lagi tentang kelanjutan tawaran tersebut.

Tapi anehnya...

Beberapa kali aku melihat Ustadzah Aisyah, dan setiap kali itu pula jantungku selalu berdebar.

Aku memejamkan mata.

Apa sebenarnya yang terjadi padaku?

Bukankah selama ini aku selalu bisa bersikap biasa saja ketika diperkenalkan dengan seorang perempuan?

Lalu kenapa kali ini berbeda?

Aku membalikkan badan, membelakangi lampu kamar yang masih menyala.

Mungkin aku hanya terlalu banyak berpikir.

Bisa jadi rasa berdebar itu tidak berarti apa-apa. Bukankah jantung memang bisa berdetak lebih cepat hanya karena gugup? Atau karena seseorang merasa canggung ketika berhadapan dengan lawan jenis?

Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri.

Tapi semakin kucoba melupakannya, wajah itu justru semakin jelas dalam ingatan.

Ustadzah Aisyah.

Aku bahkan tidak banyak berbicara dengannya. Tidak ada percakapan panjang. Tidak ada sesuatu yang istimewa di antara kami. Hanya beberapa kali bertemu, beberapa kali berpapasan, dan sesekali melihatnya dari kejauhan.

Namun entah kenapa, setiap kali pandangan kami bertemu, ada sesuatu yang sulit kujelaskan.

Aku masih ingat caranya menundukkan pandangan.

Sederhana.

Tidak ada senyum berlebihan. Tidak ada sikap yang sengaja menarik perhatian.

Justru kesederhanaan itu yang membuatku semakin sulit mengabaikannya.

Aku mengusap wajah.

"Astaghfirullah..."

Aku segera mengalihkan pikiran.

Bukankah aku belum tahu apa-apa tentang dirinya?

Yang kubaca baru sebatas CV. Nama, pendidikan, pengalaman, dan beberapa informasi umum lainnya. Itu saja.

Lalu mengapa pikiranku sudah sejauh ini?

Aku tertawa kecil pada diriku sendiri.

"Belum apa-apa sudah begini."

Aku terdiam lagi.

Namun ada satu hal yang membuatku lebih gelisah.

Bagaimana jika ternyata aku memang menyukainya?

Pertanyaan itu membuat dadaku terasa sesak.

Aku tidak takut pada perasaan itu sendiri.

Yang kutakutkan adalah kemungkinan bahwa perasaan itu tumbuh sebelum aku benar-benar siap.

Menikah bukan sekadar tentang seseorang yang membuat jantung berdebar. Ada tanggung jawab besar setelahnya. Ada keluarga. Ada kehidupan yang harus dibangun bersama. Ada seseorang yang kelak akan menjadi amanah di pundakku.

Dan aku tidak ingin memilih hanya karena perasaan sesaat.

Tapi...

Bagaimana kalau justru perasaan itu adalah salah satu cara Allah mengarahkan hatiku?

Aku terdiam cukup lama.

Pertanyaan itu membuatku tidak mampu menjawab.

Selama ini aku selalu berpikir bahwa ketika waktunya tiba, aku akan memilih dengan kepala yang tenang. Tidak terburu-buru. Tidak terpengaruh perasaan.

Namun malam ini aku mulai menyadari satu hal.

Ternyata hati manusia tidak selalu mau diajak berunding.

Ia bisa saja diam-diam tertarik kepada seseorang, bahkan sebelum akal sempat memberikan izin.

Aku menarik selimut hingga ke dada.

"Kalau memang dia bukan untukku, kenapa setiap kali melihatnya aku merasa seperti ada sesuatu yang berbeda?"

Aku tersenyum tipis, lalu segera menggeleng.

"Jangan berharap terlalu jauh."

Belum ada apa-apa.

Belum ada jawaban.

Belum ada pembicaraan tentang ta'aruf.

Bahkan mungkin Ustadz Syaiful sendiri sudah melupakan tawaran itu.

Namun anehnya, justru aku yang malam ini tidak bisa melupakannya.

Aku menutup mata.

Bayangan wajah Ustadzah Aisyah kembali muncul.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa takut pada satu hal yang selama ini selalu kunantikan.

Jatuh hati.

Bukan karena aku tidak ingin mencintai seseorang.

Tetapi karena jika benar hatiku mulai tertambat kepadanya, aku tidak tahu apakah kelak aku akan menemukan namanya di ujung doa-doaku...

atau justru harus belajar mengikhlaskannya.

1
MF015
menarik novelnya 👍
R
Nama yang sama orang yang berbeda😄
Dini
Agak mendayu, bagai riak kecil yang akhirnya menjadi akhir perpisahan bersama teman-temannya.

jangan lupa masukkan untuk karya ku.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
😄🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!