Seorang santri barusaja bertemu dengan gadis mengerikan ketika menaiki bis, dia tidak jahat. tapi satu negara akan memburunya, tentu dengan sebuah tujuan. dan santri tersebut, dia akan menolong, meskipun tidak tahu apa yang akan dia hadapi selanjutnya. hidup lelaki itu akan berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrosyad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nangis lagi!!!
Terdengar suara tembakan menggetar udara di langit. Pria barusan menembak asal. Di dalam kegelapan, tidak mungkin dia mendeteksi di mana kami.
“Gak masuk ke bis?” Ila bertanya
“gak! Orang tadi bisa saja Langsung menembak kita. Keadaan bis juga sedang rusak, tidak bisa di bawa cepat” balasku tersengal.
Ila menarik kain jaketku. “Terus barang kita gimana?”
Aku terpaksa berhenti. “eh iya” banyak barang berharga di dalam tasku. Kitabku di sana! “jangan sekarang ambilnya, kita sembunyi dulu”
“yaudah” Ila mengangguk. “Tuh bang, di sana ada pohon besar”
Kami langsung menuju pohon yang ditunjuk barusan. Aku membuang nafas lega. Tersengal. Lalu segera menghempaskan tubuh di bawah pohon tersebut.
Kami ternyata memasuki hutan, dan ini adalah pohon yang paling besar.
Ila juga masih tersengal. Dia berdiri di depanku sambil mendongak ke arah di balik pohon. “kamu gak papa kan bang”
Aku mengangkat jempolku. tersengal.
“Syukurlah” Ila ikut duduk di depanku.
Aku sedikit tersenyum. “hampir saja tadi..”
“Ehehe..” Ila balas menyeringai.
Aku sempat kehilangan asa ketika Ila hampir ditembak barusan. Aku sangat takut jika hal itu terjadi. Tapi untung Ila bisa tahu apa yang harus dia lakukan. Jika tidak, jangankan dia, aku yang ingin menyelamatkan aja bisa mati di tembak.
Ila lagi-lagi mendongak ke arah di balik pohon. Apa yang sedang dia lihat?
“ada yang datang kah?” Aku bertanya.
Ila menggeleng. “aman bang. Tapi kok bisnya gak jalan ya?”
“Apa?” Aku ikut mengintip. Benar, jarak hutan ini tidak lebih dari lima puluh meter dengan keberadaan bis yang kunaiki itu. Aku bisa melihat jelas motor perampok masih ada di sana, juga orang-orangnya. Dua diantara mereka sedang mengatur barang rampasan. Tapi si pria bersenjata, seperti akan melakukan aksi lagi. Dia berdiri di depan bis, sambil menodongkan senjatanya ke arah sopir di dalam.
“ngapain lagi mereka” Tanya Ila.
Aku terdiam sebentar. Suasana mencekam hutan menambah sesaat jadi lebih tegang, terlebih detak jantungku habis di porak porandakan sebelumnya. “entah, dah”
Aku kembali bersandar, seperti pasrah menunggu nasib selanjutnya. Hanya ini yang bisa di lakukan. Jika kami ke luar sama saja setor hidup. Tapi berdiam di sini untuk waktu lama juga beresiko. Selain hutan di depanku ini sangat rimba, terlihat berbahaya. Perampok pasti akan berpikir incarannya masuk ke hutan karena mereka tidak begitu saja melepas barusan.
“gimana nih?” Ila berkata cemas. Gadis itu mulai merengkuh lututnya.
Terdiam. Hutan di depan semakin di lihat, semakin mencekam. Sembarang suara serangga dari dalam mengisi lengang atmosfer hutan pada malam hari.
Rasanya tidak tenang berlindung di sini. Mungkin tidak ada hewan buas, hanya itu saja kabar baiknya. Aku tidak mendengar longlongan hewan mamalia.
“bang gimana nih?” Ila bertanya memecah senggang.
Aku juga bingung. Menatap kosong hutan gelap gulita di depan mata. Tidak ada pencahayaan kecuali redup rembulan. Itupun hanya berguna pada Ila yang memakai jaket abu-abu cerah. Aku bisa melihatnya, sama seperti mata yang menyala terang saat ini.
“kita ga mungkin balik ke sana” ujarku. Pasrah.
Ila menatapku. Putih matanya mengedip.
Lengang lagi. Kali ini mulai terdengar suara burung-burung nokturnal yang ikut meriuhkan suasana. Hembusan angin menerpa ribuan daun turut mengisi senyap langi-langit.
Ila tiba-tiba terisak. Nangis lagi. Ini kali kedua aku melihatnya begitu.
“Jangan nangis lah. Aman, ada akumah” aku coba menghibur. “kita kan udah berhasil kabur”
Ila sudah terlanjur menangis. Untung tidak keras. Suaranya terbungkam suasana hutan.
“orang seperti ku tidak seharusnya lahir di dunia” Ila tiba-tiba berkata.
Aku terkesima “eh, jangan bilang gitu. Hidup itu anugrah woyy.. Kamu ga bersyukur, kah?”
“Sumpek, hidup dikejar terus. Gada longgar-longgarnya” Ila semakin merengek.
Sekarang suasana terganti tangisan Gadis itu.
“Emang dikejar apa? Di kejar harapan orang tua? Biasa kalo remaja mah?” Balasku asal.
Ila mendesis sebel “Ihh gak lucu bang. Bukan itu maksudku”
Hehe. Niatku menyurutkan suasana.
“gada yang ngelawak loh. Aku kan cuma nebak” aku merespon lebih seru.
“ihh..” Ila berseru, merengek. “gimana sih, katanya mau bantu”
Aduh iya, aku lupa tujuanku. “Iya-iya, maaf.”
Ila masih terisak.
Lengang.
“Emang kamu sebahaya apa sih? Sampe jadi buronan?” Aku bertanya. Mulai serius. Aku rasa, aku harus tahu tentang itu.
“gak.. Aku ga bahaya bang” Ila malah semakin kencang nangisnya. “parah.. Aku tuh anak baik. Gak pernah aneh-aneh.”
Dahiku mengernyit. “kalo baik. Kenapa ada yang buron kamu?”
“Tau ah, dasar skeptis” balas Ila ketus.
Aku terdiam. Wajarlah. Selalu gagal dalam mendapatkan moment. Aku bukan ahlinya. Suasana pun lengang kembali, menyisakan riuh hutan rimba dan tangis terisak Ila.
Aku mencoba mengintip ke balik pohon. Sudah belasan menit yang terasa panjang sejak terakhir aku memeriksa nya.
Astaga! Kenapa jadi ramai.
Tepat di jalan sana. Bis masih belum bergerak. Keadaan justru semakin buruk dan mengerikan. Tempat itu sekarang di penuhi banyak motor. Jelasnya, bis sekarang di sandra bersama puluhan penumpang di dalam. Lihatlah, banyak orang bersenjata di sana.
Aku segera membalik badan. “Ila, kita ga boleh lama-lama di sini”
Ila menatapku. Putih matanya terlihat. “hah?”
“malah hah, ayo pergi. Kita cari sinyal terus hubungi polisi” ujarku. Mulai berdiri
“Lah.. Aku gimana? Aku kan buronan” Ila kembali merengek.
Aku berhembus. “Emang siapa yang mau kesana menemui polisi nya?”
Ila terdiam. Dia terlihat menyeka air matanya.
Aku menatapnya. “dah, ayo berdiri”
Tepat saat Ila berdiri. Selarik cahaya mulai menyoroti belasan meter dari arah sampingku. Semua pohon di dalam hutan tersibak cahaya tersebut.
Gawat. Benar dugaan ku.
Ila terdiam memandangi sorot senter yang mulai mendekat.
“Ayo lari Ila” lagi-lagi aku harus menarik kain lengan gadis itu.
Kami kembali berlari lebih masuk ke dalam hutan. Tidak ada waktu lagi bersembunyi. Pilihan yang benar harus menjauhi tempat bis sebelumnya. Di sana sudah ramai orang-orang yang jelas tidak baik. Si pria bersenjata yang kuhadapi itu pasti memanggil kawannya.
Kenapa sampai bisa segila ini. Mana sekarang sedang tengah malam. Tidak ada mobil lain yang lewat di jalan barusan.
Aku semakin dalam memasuki hutan. Berlari, berbelok menggocek pohon-pohon yang memadati pandangan mata. Ila juga tetap mengikuti di belakangku. Hutan lebat ini terlalu sempit untuk seukuran mobil sedan biasa. Setiap pohon memiliki jarak satu hingga dua meter dengan pohon yang lain.
Sudah puluhan meter dari tempat sebelumnya. Kami sekarang sudah tidak dapat melihat jalan lagi, benar-benar sudah di dalam hutan. Gelap, tapi aku masih bisa merasakan keberadaan Ila.
Kuputuskan berhenti.
Tersengal semua.
“Kita ada di mana bang?” Ila bertanya.
“Gak tau, setidaknya kita masih bisa aman” Balasku, rasanya terengah-engah. “Nih hpmu”
Aku menarik barang itu dari lempitan pinggang sarungku.
Ila menerimanya.
“Nah ada sinyal. Satu batang” wajah Ila terpapar kan cahaya dari ponsel. Sedikit cerah kali ini. Kita menemukan kesempatan.
Satu batang lebih dari cukup jika sekedar menelpon nomor polisi. “telepon cepat” ujarku.
Ila sudah mengetik beberapa angka. Tapi kami tiba-tiba dikejutkan.
DORR!! Tembakan itu datang lagi. Untung meleset. Entah sejak kapan. Ada yang mengikuti kami. Orang itu sekarang berdiri dua puluh meter dari belakang kami. Agak jauh.
Aku dengan panik menarik lengan Ila. Dia malah tertegun mencari mana orang yang menembak.
Aku dan Ila masih di kejar. Kami lanjut berlari. Kali ini aku tidak melepas Ila. Suara peluru berkali-kali terdengar menghantam batang pohon sekitar. Tidak ada henti-hentinya. Senjata kali ini dapat mengirim peluru beruntun dengan sangat cepat.
Kami berlari zig-zag mengikuti ritme pohon yang tidak beraturan. Ila berseru panik. Meminta lebih cepat lagi.
Dasar. Seharusnya aku yang bilang itu, lamban.
Beberapa detik kemudian terdengar suara mesin motor dari arah lain. Detak jantung ku semakin menderu. Suasana malam dalam hutan terasa memburu.
Aku tetap berlari. Tersengal bersama Ila.
Tembakan berhenti, tapi di ganti suara motor mengejar. Kedengarannya seperti ada beberapa motor. Bagaimana kami bisa lolos kali ini.