Sena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya—sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir—karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiSena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
Keesokan harinya, kepanikan Sena akibat batas waktu tiga puluh hari masih menyelimuti pikirannya. Namun, saat melangkah menyusuri koridor gedung utama kampus, sebuah fakta kejutan mendadak menghantam kepalanya. Lewat kabar burung yang berembus cepat di antara para mahasiswa, Sena baru mengetahui bahwa Lucian Voss sang miliarder muda sekaligus psikopat tersembunyi ternyata terdaftar di kampus yang sama dengannya! Pria itu mengambil kelas khusus manajemen eksekutif yang ruangannya berada di lantai paling atas gedung perkuliahan.
"Satu kampus?! Demi apa?!" jerit Sena dalam hati dengan mata berbinar penuh tekat nekat.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Sena langsung berlari menyusuri tangga berkarpet merah menuju gedung kuliah eksekutif. Napasnya sedikit terengah-engah saat matanya mendapati pintu ruangan berundak yang agak terbuka. Di dalam ruangan megah yang sepi itu, hanya ada beberapa mahasiswa kelas atas.
Di barisan paling belakang, duduk seorang pemuda dengan posisi tubuh tegak namun terkesan santai. Lucian Voss sedang menatap layar laptop mewahnya dengan jemari panjang yang menari di atas papan ketik.
Sena menyusup masuk pelan-pelan. Ia berjalan setengah membungkuk, menaiki anak tangga ruangan hingga tiba di samping kursi Lucian. Tanpa ragu, Sena mendaratkan tubuhnya di kursi kosong tepat di sebelah pria itu.
Ia mencondongkan tubuhnya rapat-rapt ke arah Lucian, lalu berbisik halus tepat di samping telinga sang pemuda. "Hai, Ganteng... Nggak nyangka ya, ternyata kita satu kampus!"
Lucian tidak langsung menoleh. Gerakan jemarinya di atas papan ketik terhenti sejenak. Hawa dingin yang sangat pekat mendadak memancar dari tubuhnya. Ketika Lucian perlahan memiringkan wajahnya dan menatap Sena, iris matanya yang sehitam malam berkilat tajam dan penuh peringatan bahaya.
"Pergi," berdesis Lucian sangat pelan dengan suara deep voice-nya yang penuh ancaman.
Tatapannya teramat dingin dan intimidatif, sanggup membuat bulu kuduk siapa pun berdiri tegak. Untuk sepersekian detik, jantung Sena serasa berhenti berdetak karena diliputi rasa takut yang nyata. Tatapan itu adalah tatapan seorang pembunuh yang sedang menahan diri.
Namun, ketika mata Sena kembali berfokus pada pahatan wajah Lucian yang sempurna rahang tegasnya, hidung mancungnya, dan garis bibirnya yang menawan rasa takut di dalam diri Sena mendadak menguap bagaikan embun diterpa matahari. Jiwa jomblo akutnya kembali mengambil alih.
Aduh... takut sih takut, tapi mukanya ganteng banget, ya Tuhan! Menolak takut kalau visualnya begini! jerit Sena dalam hatinya.
Sena menyunggingkan senyuman paling manis, mengabaikan desisan tajam pria di sampingnya. "Ayo dong, jangan galak-galak gitu! Nanti selesai kelas kita makan bareng, ya? Aku yang traktir lagi deh di restoran mana aja yang kamu mau!"
Lucian tidak merespons. Ia menutup laptop mewahnya dengan bunyi bamm yang pelan namun tegas, lalu berdiri dari kursinya tanpa menganggap keberadaan Sena. Pria itu melangkah tenang keluar dari ruangan.
"Eh, tungguin dong!" Sena melompat berdiri dan ikut berlari kecil mengikuti langkah jangkung Lucian menuruni koridor gedung.
Namun, baru saja mereka melangkah keluar dari area gedung perkuliahan menuju halaman taman yang rindang, sebuah suara manja yang tinggi memanggil dari arah depan.
"Lucian! Sayang!"
Langkah Lucian terhenti. Sena pun ikut menghentikan kembarannya, berkedip bingung menatap sosok perempuan yang berjalan mendekat dengan gaya anggun dan percaya diri tinggi.
Perempuan itu sangat cantik. Wajahnya dipoles makeup sempurna, rambut panjangnya yang berwarna cokelat terang terurai indah, dan ia mengenakan gaun bermerek yang sangat modis. Perempuan itu langsung mendekati Lucian dan menyampirkan tangannya secara alami di lengan berotot sang pemuda.
Mata perempuan itu kemudian bergulir, menatap Sena dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan yang sangat sinis dan merendahkan.
"Kamu siapa?" tanya perempuan itu dengan nada mengintimidasi. Sebelum Sena sempat menjawab, perempuan itu menyunggingkan senyum miring yang penuh kemenangan. "Asal kamu tahu ya, aku ini pacarnya Lucian. Jadi stop ngikutin cowok aku kayak penguntit murahan!"
DEG!
Kalimat itu menghantam dada Sena bagaikan pukulan telak. Sena berdiri mematung di atas rumput taman, matanya berkedip lambat dengan mulut sedikit terbuka. Rasa tertohok yang luar biasa mendadak memenuhi benaknya.
P-pacar?! jerit Sena dalam hati, jiwanya bagaikan remuk seketika. Si psikopat ini... ternyata udah punya pacar?!
"Ayok, Sayang, kita makan siang sekarang. Aku udah pesenin tempat di restoran favorit kamu," ujar perempuan itu dengan nada manja yang kelewat manis, masih menyangkutkan tangannya di lengan tegap Lucian.
Lucian tidak menolak sentuhan itu. Pria itu hanya menatap datar ke depan, lalu menjawab dengan suara deep voice-nya yang tenang, "Hmm, ayo."
Tanpa menoleh sedikit pun ke arah Sena yang berdiri mematung di atas rumput, Lucian melangkah pergi bersama perempuan cantik tersebut. Pasangan itu berjalan beriringan, terlihat begitu serasi bak sejoli kelas atas yang sempurna dari luar.
Sena berdiri sendirian di bawah rindangnya pohon taman. Mulutnya sedikit terbuka, matanya berkedip lambat menatap dua punggung yang makin menjauh itu. Dadanya serasa dihantam batu besar sampai sesak.
"Anjir... remuk hati adek, Bang!" gumam Sena dramatis seraya memegangi dadanya yang mendadak terasa perih.
Ia langsung meratapi ingatan-ingatan saat membaca novel thriller itu dulu. "Tapi... emang ada ya di novel dijelaskan kalau si psikopat ini punya pacar?! Gue yang lupa apa gimana sih?! Perasaan di cerita dia itu pembunuh berdarah dingin yang kagak peduli sama cinta-cintaan! Tapi kenapa di sini dia malah punya cewek?! Huaaa, Mamaaa! Penonton kecewa berat!" rengek Sena dengan raut wajah ingin menangis.
"Itu namanya Liona."
"Busett jerit Sena histeris sambil melompat setengah meter ke samping.
Tiba-tiba saja sebuah suara menyahut dari arah sampingnya. Sena menoleh cepat dan menemukan seorang gadis berkacamata modis yang sedang mengunyah permen karet, bersandar santai pada batang pohon besar di sebelah tempatnya berdiri.
Sena menyipitkan mata, menatap gadis asing itu dari atas ke bawah dengan raut wajah penuh selidik. "Siapa lo? Datang-datang kayak jelangkung aja!"
Gadis berkacamata itu menaikkan kacamatanya ke atas kepala, lalu terkekeh pelan tanpa dosa. "Santai, Mbak Bidadari. Kenalin, gue Cintia. Anak Bisnis Internasional angkatan 22."
Cintia menyodorkan tangannya seraya tersenyum ramah. Sena yang pada dasarnya mudah bergaul langsung membalas uluran tangan itu. "Gue Estella."
"Gue tahu kok, siapa sih yang kagak tahu Estella Aurora, bidadari kampus yang paling hits?" sahut Cintia santai. "By the way, gue ngeliatin elo dari tadi. Elo beneran nyoba mepet Lucian Voss, ya?"
Sena menghela napas berat, membetulkan posisi tas Chanel-nya di bahu. "Ya... niatnya gitu. Tapi kok malah ada pahlawan bertopeng yang datang ngaku-ngaku jadi pacarnya?! Itu beneran pacarnya si Lucian apa cuma cewek halu yang ngaku-ngaku?"
Mendengar pertanyaan itu, Cintia seketika menyemburkan tawa ngakaknya hingga beberapa mahasiswa yang lewat sempat menoleh.
"Bwahahaha! Aduh, sumpah ya, Mba Estella, lo gatau?!" seru Cintia kocak sambil menepuk-nepuk bahu Sena. "Gue kira bidadari kayak lo serba tahu gosip paling panas di kampus ini!"
"Gue sibuk, kagak sempat pantau lambe turah kampus!" omel Sena cemberut. "Beneran pacarnya, nih?"
"Beneran, Bambang! Udah lima bulan mereka pacaran!" jawab Cintia mantap seraya melipat tangan di dada. "Si Liona itu primadona Fakultas Hukum. Anak konglomerat juga, muka cantik, bodi gitar spanyol, pokoknya tipe-tipe cewek yang biasa dipajang di cover majalah. Mereka berdua tuh udah kayak pasangan abadi di kampus ini. Nggak ada yang berani ngerusak atau deketin Lucian gara-gara pawangnya si Liona!"
KRETAK!
Sena bisa mendengar bunyi imajiner dari hatinya yang mendadak potek berkeping-keping. Harapannya untuk menjadikan Lucian pacar demi selamat dari kejaran maut seketika terasa makin membentur tembok raksasa.
"Lima bulan pacaran... dan ceweknya primadona..." gumam Sena dengan muka lesu, semangat hidupnya mendadak surut sampai dasar bumi. "Lengkap sudah penderitaan gue. Dikejar batas waktu satu bulan buat dibunuh, giliran mau deketin eksekutornya... eh dia udah milik orang lain."
Cintia yang melihat perubahan raut wajah Sena melongo heran. "Lah, kok muka lo mendadak kayak belum bayar kontrakan sepuluh tahun gitu, Na? Ya udah sih, Lucian mah emang kulkas dua pintu, mending cari cowok lain yang lebih ramah lingkungan!"
Sena hanya menyunggingkan senyum miring yang teramat lemas. Manalah Cintia tahu kalau taruhannya bukan sekadar patah hati, melainkan kepala melayang!
"Gue... gue balik dulu ya, Cin," ujar Sena lemas, melambaikan tangannya secara loyo ke arah teman barunya itu. "Gue butuh meratapi nasib di dalam mobil."
"Oke deh, Hati-hati di jalan ya, Na! Jangan frustrasi amat gara-gara cowok kulkas!" teriak Cintia tertawa dari kejauhan.
Sena menyeret kakinya menuju area parkiran mobil dengan gontai. Rencana bertahan hidupnya baru saja mendapat hambatan raksasa yang sama sekali tidak diprediksinya.