"Mas... apakah kamu tidak mencintaiku, walaupun hanya sedikit?" tanya Indah dengan suara bergetar.
Namun jawaban yang ia terima menghancurkan hatinya.
"Lupakan saja, Indah. Aku tidak mencintaimu. Hatiku hanya untuk dia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9 - rencana jahat
Tiba-tiba dering telepon terdengar di dalam mobil. Rizki mengangkatnya menggunakan handsfree, sehingga suara wanita itu terdengar jelas di ruang kabin.
"Halo? Apa, Hana?"
"Kamu di mana, Sayang? Tiba-tiba nggak ada kabar. Aku kangen banget sama kamu," suara Hana terdengar manja dan penuh tuntutan.
"Aku sedang di jalan pulang. Tadi aku ke rumah sakit untuk mengecek kondisi Mama," jawab Rizki tenang.
"Ooh, begitu ya... Kirain kamu pergi ke mana saja," ucap Hana sedikit lega.
Rizki diam sejenak, lalu bayangan peristiwa tadi melintas di benaknya — ia baru saja mengantar Indah pulang. "Kalau Hana tahu tadi aku mengantar Indah pulang, pasti dia bakal menuduh macam-macam. Lebih baik aku tidak memberi tahu dia soal ini," batinnya berhati-hati.
"Kamu tiba-tiba menelepon ada apa, Hana?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Oh iya, Rizki... Kamu bisa bantu mencarikan tempat tinggal untukku?"
Rizki sedikit terkejut. "Kenapa? Tinggalmu di sana ada masalah? Kamu tidak suka tempat itu?"
"Bukan begitu. Orang tuaku datang ke sini, jadi aku butuh tempat tinggal yang lebih luas dan nyaman," jawab Hana dengan nada wajar.
"Baiklah. Nanti aku carikan. Kamu hubungi Dion saja ya, nanti dia yang mengurus semuanya," ucap Rizki tegas namun tetap lembut.
"Terima kasih banyak, Sayang! M..wah..." terdengar suara ciuman dari seberang.
"Ya sudah, aku matikan dulu ya. Aku sedang di jalan."
"Hati-hati di jalan ya, Sayang."
"Oke, Sayang."
🌆.....
Kediaman hana.
Di dalam kamar, Hana berdiri di samping ibunya dengan wajah penuh kemenangan. Ibunya menatapnya penasaran sekaligus penuh harap.
"Gimana, Hana? Sudah dapat rumahnya?" tanya ibunya pelan namun tak sabar.
Hana tersenyum sinis, wajahnya penuh percaya diri. "Tenang saja, Mah. Sudah beres. Tinggal minta ini-itu, pasti dikasih sama Rizki. Dia tuh bucin banget sama aku, Mah. Gak bakal nolak permintaanku."
Ibunya tersenyum puas, matanya berkilat serakah. "Bagus, Nak. Terus kamu manfaatin dia sebaik-baiknya. Dia bakal jadi ladang rezeki buat kita. Kita bakal hidup mewah dan kecukupan di sini, hidup enak tanpa susah lagi."
"Iya, benar sekali kata Mama," jawab Hana angkuh. "Dia bodoh sekali. Aku suruh ini-itu, pasti dia bakal nurut sama aku. Dia udah cinta mati sama aku, Mah. Gak bakal bisa nolak apa pun yang aku minta."
"Benar banget," timpal ibunya menyeringai. "Dia bodoh, sama persis kayak papahnya dulu. Pantas saja gampang tergoda."
Hana membenarkan sambil membetulkan rambutnya dengan bangga. "Iya, jelaslah, Mah. Aku kan cantik, mana mungkin Rizki gak lirik aku. Lagipula... dia ngira akulah yang menolong dia pas kecelakaan lima tahun lalu itu."
Ibunya menggenggam tangan putrinya erat, penuh ambisi. "Kalau begitu, kamu harus manfaatin kesempatan ini sebaik-baiknya, Nak. Jangan sampai dia lepas dari tangan kita."
"Pastilah, Mah. Dia cinta banget sama aku. Semua akan berjalan sesuai rencana kita."
Ibunya menatap Hana dengan mata yang menyala penuh dendam, tangannya mencengkeram bahu putrinya erat.
"Kamu harus balas dendam, Nak! Dulu gara-gara perempuan tua itu — Tante Maya — Mama diusir dari rumah mewah yang seharusnya milik kita! Sekarang giliranmu untuk membalas dendam. Rebut anaknya, habiskan hartanya, Sayang. Semua yang dulu diambil dari kita, harus kembali ke tangan kita!"
Hana tersenyum penuh keyakinan, wajahnya berkilat penuh ambisi dan kebencian yang tak kalah dalamnya.
"Pasti bisa, Mah. Aku bakal jadi nyonya di rumah itu. Semua hartanya keluarga Mahendra bakal jadi milikku. Mama tenang saja ya. Rizki itu gampang sekali diatur. Dia gak bakal berani berbuat apa-apa pada kita. Walau pun Mama dulu punya masalah di masa lalu sama Tante Maya... Akulah cintanya. Dia pasti tunduk sepenuhnya padaku."
"Tentu saja, Nak. Dulu saat Rizki kecelakaan itu... di rumah sakit, saat dia terbaring sendirian dan tak sadar, justru aku yang menyuruhmu duduk di sampingnya. Supaya semua orang mengira kamulah yang pertama kali menolong dan menjaganya. Seolah kamulah penyelamatnya!"
Hana tersenyum lebar, penuh kekaguman sekaligus kebanggaan licik. "Mama memang jenius banget... Rencananya sempurna sekali."
Namun di dalam hati, Hana tahu kebenaran yang tersembunyi itu. "Padahal... sebenarnya bukan aku yang menolongnya dulu. Bukan aku..."
Tapi ia segera menepis keraguan itu, matanya kembali berkilat penuh tekad. "Sudah terlanjur begini. Kesempatan emas seperti ini takkan pernah kulepaskan. Mama tenang saja... Dia milikku seorang. Selamanya."
Keduanya tertawa puas, bersulang dengan gelas di tangan seolah kemenangan sudah di tangan. Mereka merayakan rencana licik itu dengan penuh kemewahan, bersuka ria tanpa sedikit pun merasa bersalah.
"Cheers, Sayang! Untuk masa depan yang gemilang!" ucap ibunya sambil mencium gelasnya dengan gelas Hana.
"Iya, Mah. Semoga semua berjalan lancar dan tak ada yang menghalangi kita," jawab Hana bangga, meneguk minumannya dengan penuh kepuasan.
Mereka begitu senang, berpesta pora dan berfoya-foya merayakan keberhasilan tipu daya mereka. Di tengah tawa dan kemewahan itu, mereka lupa — bahwa di atas kebohongan yang dibangun setinggi apa pun, suatu saat pasti akan runtuh ketika kebenaran mulai terungkap.
...............
Malam itu, Indah sedang menikmati makan malam bersama Papa dan Mama. Suasana di meja makan terasa hangat dan akrab. Mama tiba-tiba membuka obrolan sambil menatap putrinya dengan senyum penuh arti.
"Indah... Kok bisa Rizki mengantarkan kamu pulang tadi? Katanya kalian jarang saling berbicara?"
Indah menghela napas pelan sambil tersenyum tipis. "Tuh kan, Mama mulai lagi deh."
"Ya ampun, Mama cuma nanya aja, Sayang," jawab Mama santai.
"Dia mengantar Indah cuma karena berterima kasih saja, Mah. Soalnya Indah tadi menemani dan merawat Mamanya di rumah sakit," jelas Indah lembut.
"Ooh, begitu ya? Cuma itu saja? Nggak ada yang lain?" tanya Mama tak menyerah.
"Mah, ihhhh... Tuh kan tanya-tanya mulu deh! Dia itu bukan penjahat kok, wajar saja kalau berterima kasih," eluh Indah malu-malu.
Mama menatapnya lembut, matanya berbinar bahagia. "Mama lihat tadi kamu sama Rizki itu... senang ya. Kamu juga suka kan jalan sama dia?"
Indah menunduk pelan, menyembunyikan wajahnya. "Hmm... begitu saja, Mah."
"Tuh kan! Kamu suka kan, Indah?" Mama makin bersemangat.
Papa yang sedari tadi diam tiba-tiba ikut bersuara sambil tertawa pelan. "Mah, Mama ini terus saja meledek anak kita. Dia sudah dewasa lho, jangan diinterogasi kayak anak sekolah begini."
"Iya, Pa. Tapi Mama tanya begini karena kemarin Mama sempat bilang kalau kamu suka sama Rizki kan?"
"Mah, ihhh... Mama bocorin deh!" Indah makin tersipu malu.
"Sudah-sudah. Aku sama dia memang tidak ada apa-apa, Mama. Mama saja yang pikirannya macam-macam," kata Indah berusaha menutupi perasaannya.
"Ya tidak apa-apa kok kalau memang ada hubungan, Nak. Soalnya Mama kenal dia dari kecil," ucap Mama lembut.
"Rizki orangnya gimana sih, Mah?" tanya Papa penasaran.
"Ganteng, gagah, tampan, Pa!" jawab Mama antusias.
"Tapi yang lebih ganteng tetap Papa kan, Mah?" canda Papa.
Mama tertawa renyah. "Iya, iya, gantengan Papa dong!"
Indah hanya tersenyum melihat kedua orang tuanya yang terus saja bercanda dan menggoda dirinya. Suasana hangat di meja makan itu membuat hatinya terasa damai, meski di dalam sana masih ada perasaan yang tak bisa ia ungkapkan.