Indonesia
NovelToon NovelToon
Where Your Heart Stays

Where Your Heart Stays

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: Kiara L

Seo Tae-jun telah hidup selama 34 tahun dengan keyakinan bahwa cinta hanya membuat seseorang lemah.
Han Ji-eun justru hidup dengan keyakinan sebaliknya.
Bagi Ji-eun, kehilangan orang yang dicintai memang menyakitkan, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti mencintai.
Pertemuan mereka dimulai dari hubungan profesional.
Tae-jun adalah pewaris sekaligus pemegang kendali jaringan hotel Seo Group.
Ji-eun adalah manager hotel yang telah bekerja keras selama lima tahun untuk mendapatkan posisinya.
Tae-jun awalnya hanya tertarik pada keberanian Ji-eun.
Namun perhatian itu berubah menjadi ketertarikan.
Ketertarikan berubah menjadi kebutuhan.
Dan kebutuhan perlahan berubah menjadi cinta yang membuat Tae-jun mempertanyakan seluruh hidupnya.
Masalahnya, keluarga Seo menyimpan rahasia yang berkaitan dengan kematian orang tua Ji-eun.

Semakin dekat mereka, semakin besar kemungkinan cinta mereka menghancurkan keluarga Tae-jun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiara L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Sudah satu minggu.

Tujuh hari sejak pertemuan terakhir mereka. Selama tujuh hari itu pula, Seo Tae-jun benar-benar menepati perkataannya. Tidak ada pesan pribadi, tidak ada panggilan telepon, bahkan tidak ada sosoknya yang tiba-tiba muncul di meja kerja Han Ji-eun.

Bahkan ketika Tae-jun datang melakukan inspeksi ke Hanseong Grand Hotel dua kali dalam minggu itu, pria tersebut tidak sekalipun mencarinya. Ia datang sebagai direktur, lalu pergi sebagai direktur. Tidak lebih dari itu.

Awalnya Ji-eun merasa lega. Bukankah ini yang ia inginkan? Ia sendiri yang meminta Tae-jun agar mereka tidak terlalu sering bertemu saat berada di hotel. Ia takut seseorang menyadari kedekatan mereka, takut muncul gosip, dan takut hubungan ini justru merugikan Tae-jun. Maka ketika Tae-jun benar-benar menjaga jarak, seharusnya Ji-eun merasa tenang.

Namun ternyata tidak.

Hari Senin terasa biasa, begitu pula dengan Selasa. Pada hari Rabu, Ji-eun mulai beberapa kali melirik ke arah pintu ruangannya tanpa alasan. Kamis, ia bahkan sempat membuka ponsel berulang kali hanya untuk memastikan tidak ada pesan dari Tae-jun. Memang tidak ada.

Jumat sore, Ji-eun akhirnya menyadari sesuatu yang membuatnya menghela napas panjang. Ia merindukan pria itu.

"Astaga..." Ji-eun menutup wajah dengan kedua tangannya.

Bagaimana mungkin seseorang bisa merasa kehilangan hanya karena tidak bertemu selama seminggu? Padahal mereka tidak memiliki hubungan resmi.

Ji-eun menggelengkan kepala lalu kembali menatap laporan di depannya. "Fokus, Han Ji-eun."

Ia baru saja hendak melanjutkan pekerjaan ketika suara ketukan terdengar di pintu.

"Manajer Han."

Ji-eun mengangkat kepala. "Ya?"

Seorang staf berdiri di ambang pintu. "Direktur Seo baru saja tiba."

Jantung Ji-eun rasanya berhenti berdetak sepersekian detik. "Direktur Seo?"

"Ya, Beliau sedang melakukan inspeksi."

"Oh." Hanya satu kata itu yang sanggup keluar. Ji-eun kembali menunduk, namun entah kenapa sudut bibirnya hampir saja terangkat.

Sampai staf itu melanjutkan perkataannya, "Dan malam ini Beliau meminta beberapa manajer dari setiap divisi untuk makan malam bersama."

Senyum kecil Ji-eun langsung menghilang. "Makan malam?"

"Ya. Termasuk Anda, Manajer Han."

Ji-eun terdiam.

Pukul tujuh malam restoran hotel yang berada di lantai dua puluh tiga telah dipenuhi oleh jajaran manajemen. Ji-eun duduk bergabung bersama para manajer lainnya. Ia mengenakan blus putih sederhana dengan blazer hitam. Rambutnya diikat rendah, menampilkan kesan anggun, dewasa, dan profesional.

Saat pintu restoran terbuka, riuh percakapan di dalam ruangan seketika mereda. Tae-jun masuk mengenakan setelan hitam dengan kemeja putih tanpa dasi. Tampilannya sederhana, namun tetap memancarkan aura dominan khas seseorang yang terbiasa menjadi pusat perhatian tanpa perlu berusaha.

"Selamat malam."

"Selamat malam, Pak Direktur."

Tae-jun mengangguk. Tatapannya berkeliling sejenak sebelum akhirnya berhenti pada Ji-eun.

Hanya satu detik, tidak lebih. Namun Ji-eun jelas menyadarinya. Tatapan mereka bertemu, dan untuk pertama kalinya dalam tujuh hari, Ji-eun kembali merasakan tatapan yang begitu familier. Tenang, dalam, dan seolah tidak pernah terjadi apa-apa selama seminggu terakhir.

Tae-jun kemudian berjalan menuju kursinya. Ji-eun cepat-cepat mengalihkan pandangan, tetapi jantungnya sudah terlanjur berdetak liar.

Makan malam dimulai. Pembicaraan mengalir seputar kinerja hotel, tingkat hunian, evaluasi tamu, hingga rencana renovasi beberapa fasilitas. Tae-jun lebih banyak mendengarkan dan hanya sesekali memberikan pendapat. Ji-eun sendiri berusaha setengah mati untuk tidak terlalu memperhatikannya.

Sayangnya, situasi tidak berpihak padanya. Saat salah seorang manajer terlambat datang, satu-satunya kursi kosong yang tersisa justru berada tepat di sebelah Tae-jun.

"Manajer Han, Anda bisa pindah ke sana," ujar salah satu rekan kerjanya.

Ji-eun menoleh ke arah kursi di samping Tae-jun. Ia ingin menolak, tetapi semua orang menganggap hal itu wajar. Akhirnya dengan canggung Ji-eun berdiri dan berpindah tempat.

"Permisi," bisiknya pelan sambil menduduki kursi di samping Tae-jun.

Jarak mereka kini hanya beberapa sentimeter. Ji-eun langsung terhidu aroma parfum khas pria itu, aroma yang sudah seminggu ini tidak hinggap di inderanya. Tanpa sadar, ia menahan napas.

Tae-jun tetap memandang lurus ke depan, tetapi suara rendahnya terdengar sangat pelan. "Kenapa?"

Ji-eun mengerutkan kening. "Apa?"

"Kau menahan napas."

Ji-eun seketika menoleh. Tae-jun masih melihat ke depan sambil meraih gelas airnya.

"Aku tidak menahan napas."

"Kau melakukannya."

"Kebetulan saja."

Sudut bibir Tae-jun terangkat tipis. "Kebetulan?"

Ji-eun menatapnya tajam. "Jangan mulai."

Tae-jun akhirnya menoleh, membuat mata mereka saling mengunci. Selama beberapa detik, riuh suara orang-orang di sekitar mereka seakan meluap begitu saja.

Ji-eun yang salah tingkah buru-buru mengambil gelas minumnya. "Minum saja airmu."

Tae-jun tersenyum tipis. "Baik."

Interaksi singkat itu tak menarik perhatian siapa pun di sana, tetapi sukses membuat desiran aneh di dada mereka berdua.

Malam semakin larut. Salah seorang manajer berniat menuangkan minuman beralkohol ke gelas Ji-eun, tetapi Ji-eun menolaknya halus. "Saya tidak minum terlalu banyak."

"Sedikit saja, Manajer Han."

Sebelum Ji-eun sempat beralasan lagi, tangan Tae-jun bergerak dari samping dan mengambil gelas tersebut. "Dia tidak kuat minum."

Suasana mendadak hening. Semua mata tertuju pada mereka.

Ji-eun membeku di tempatnya. Sadar akan situasi tersebut, Tae-jun tetap berwajah tenang. "Besok pagi dia ada presentasi evaluasi operasional. Lebih baik dia tetap sadar sepenuhnya."

Gelak tawa para manajer seketika mencairkan suasana.

"Direktur Seo benar-benar perhatian pada bawahannya."

"Manajer Han beruntung sekali."

Ji-eun hanya bisa tersenyum canggung. "Terima kasih, Pak Direktur."

Tae-jun mengangguk formal. Namun saat perhatian orang-orang kembali teralih, Ji-eun berbisik sengit, "Aku bisa memenolak sendiri."

"Aku tahu."

"Lalu kenapa kau ikut campur?"

Tae-jun menatap lurus ke depan. "Karena aku ingin."

Jawaban singkat itu sukses membuat wajah Ji-eun mendadak panas. Ia menunduk dan berpura-pura mengambil makanan untuk menyembunyikan rona merahnya.

Saat meraih sumpit, tanpa sengaja jarinya menyentuh tangan Tae-jun. Keduanya tertegun. Tae-jun tidak menarik tangannya, begitu pula dengan Ji-eun. Mereka saling bertatapan dalam diam, hingga suara seseorang memecah keheningan.

"Direktur Seo, saya dengar dari seseorang di kantor pusat bahwa anda akan pindah kesini. Apakah kabar itu benar?"

Tae-jun akhirnya menarik tangannya pelan dan kembali menunjukkan ekspresi profesional. "Sebenarnya, saya ingin menyampaikan sesuatu malam ini."

Seluruh meja mendadak menyimak. Tae-jun meletakkan gelasnya. "Mulai bulan depan, saya akan lebih sering berada di Hanseong Grand Hotel."

Salah seorang manajer tampak terkejut. "Lebih sering?"

"Ya," Tae-jun mengangguk. "Karena ada beberapa proyek besar yang akan dimulai di sini." Ia melempar jeda sejenak sebelum melempar bom informasi berikutnya. "Saya akan memindahkan kantor direktur utama ke hotel ini."

Ji-eun membeku. Kantor direktur? Di Hanseong Grand Hotel?

Ia menatap Tae-jun lekat-lekat, tetapi pria itu enggan balas menatapnya. Entah mengapa Ji-eun merasa keputusan ini bukanlah sekadar kebetulan bisnis biasa. Baru seminggu lalu ia meminta Tae-jun menjaga jarak, dan sekarang... pria ini malah memindahkan kantornya ke tempat yang sama?

"Wah, kalau begitu kita akan lebih sering bertemu Direktur Seo," sahut seorang manajer disambut tawa yang lain.

"Sepertinya begitu."

Ponsel Ji-eun yang diletakkan di paha bergetar. Satu pesan masuk dari Tae-jun. Ji-eun melirik pria di sampingnya yang masih berpura-pura tenang seolah tidak menyentuh ponselnya sama sekali.

Ji-eun membuka pesan itu di bawah meja.

Jangan khawatir. Aku tetap menepati permintaanmu.

Kening Ji-eun berkerut bingung. Tak lama, pesan kedua menyusul.

Aku tidak akan sengaja mencarimu di hotel.

Ji-eun menghela napas lega. Namun, belum sempat ia mengunci layar, pesan ketiga muncul.

Tapi kalau kita tidak sengaja bertemu setiap hari, itu bukan salahku.

Ji-eun mematung menatap layar ponselnya selama beberapa detik, lalu perlahan menoleh. Tae-jun akhirnya balas menatapnya. Kali ini, sebuah senyum tipis terukir di bibir pria itu, senyum kecil yang khusus ditujukan hanya untuk Ji-eun.

Ji-eun buru-buru memalingkan wajah, tetapi ia tak sanggup menahan senyum yang mendadak terbit di bibirnya.

Mungkin jarak selama satu minggu ini memang dibutuhkan agar ia menyadari sesuatu. Ia sebenarnya tidak takut Tae-jun berada terlalu dekat. Yang paling ia takuti adalah jika pria itu benar-benar pergi menjauh.

Dan sekarang, Tae-jun akan berada di bangunan yang sama dengannya setiap hari.

Untuk pertama kalinya, Ji-eun bertanya pada dirinya sendiri. Berapa lama lagi mereka sanggup berpura-pura bahwa semua ini hanyalah sebuah kebetulan?

...****************...

1
Bintang star_nurul22
Semangat author
Kiara L: terimakasih☺️🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!