Indonesia
NovelToon NovelToon
Calon Istri Nomor 33

Calon Istri Nomor 33

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Tamat
Popularitas:951.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

32 wanita menyerah. Vivi adalah calon istri nomor 33.

Menikah dengan duda beranak lima seharusnya menjadi solusi bagi dirinya yang divonis tak bisa punya anak sejak muda.

Namun tidak ada yang memberitahunya bahwa lima anak Pak Baskara telah bersekutu untuk mengusir setiap wanita yang mencoba menggantikan posisi ibu mereka. Akankah Vivi bertahan, atau menjadi nama berikutnya dalam daftar kegagalan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9

Sean lalu menoleh ke arah adik-adiknya. "Ayo." Kelima anak itu serempak menundukkan kepala. Kemudian Sean memimpin doa. Tetapi doa itu bukan yang membuat Vivi sakit. Yang membuatnya sakit adalah kalimat setelahnya. "Kami berdoa untuk Mama."

Yuan ikut menambahkan. "Semoga Mama tetap jadi satu-satunya mama kami."

Vivi langsung terdiam. Ella mulai menunduk. Saka memandangi piringnya. Tidak ada yang menoleh ke arahnya. Tidak ada yang mengajaknya masuk ke lingkaran kecil mereka. Dan untuk pertama kalinya sejak datang ke rumah itu, Vivi benar-benar merasa seperti orang asing.

Namun ternyata ujian belum selesai. Setelah makan malam berakhir, Sean berdiri. Lalu berjalan ke arah lemari ruang keluarga. Dari sana ia mengambil sebuah bingkai foto besar. Foto seorang wanita cantik yang sedang tersenyum. Mendiang ibu mereka. Sean meletakkan foto itu tepat di tengah ruang keluarga. Posisi yang sangat mudah terlihat oleh siapa pun yang masuk rumah. Kemudian ia menoleh ke Vivi. "Ini Mama kami." Nada suaranya datar. Tetapi pesannya jelas. Kami sudah punya ibu. Tidak butuh yang baru.

Yuan ikut berdiri. "Kami tidak akan memanggil Tante Mama."

Saka mengangguk. "Aku juga."

Ella memeluk bonekanya lebih erat. "Aku cuma mau Mama."

Lili yang tidak sepenuhnya mengerti situasi itu ikut berkata lirih, "Mama..."

Dan seketika suasana menjadi sangat menyakitkan. Karena tidak ada satu pun teriakan. Tidak ada penghinaan. Tidak ada kenakalan. Tidak ada tindakan kasar. Yang ada hanyalah lima anak yang merindukan ibu mereka. Dan tanpa sadar menjadikan kerinduan itu sebagai tembok untuk menghalangi orang lain masuk.

Vivi berdiri mematung. Dadanya terasa sesak. Karena semua yang dikatakan anak-anak itu benar. Mereka memang sudah punya ibu. Ibu yang mereka cintai. Ibu yang mereka rindukan setiap hari. Dan siapa dirinya sampai berani meminta tempat di hati mereka?

Beberapa detik berlalu. Sean menunggu. Mungkin ia mengira wanita nomor tiga puluh tiga ini akan menangis. Atau marah. Atau pergi ke kamar. Seperti yang mungkin pernah dilakukan wanita-wanita sebelumnya.

Namun Vivi justru melangkah mendekati foto itu. Ia memperhatikannya cukup lama. Lalu tersenyum kecil kepada sosok dalam bingkai tersebut. Dan berkata pelan, "Ibu kalian cantik sekali."

Kelima anak langsung terdiam.

"Kalian pasti sangat sayang sama beliau." Tidak ada jawaban. Tetapi mata mereka mengatakan iya.nVivi mengangguk. Lalu menatap Sean. "Kalian nggak perlu memanggilku Mama."

Sean terlihat terkejut.

"Aku juga nggak akan meminta kalian melupakan Mama kalian." Ruangan kembali sunyi. Karena itu bukan jawaban yang mereka siapkan. Vivi tersenyum tipis. "Aku cuma berharap kita bisa tinggal di rumah yang sama tanpa saling menyakiti. Anggap saja aku teman kalian. Bagaimana?"

"Nggak. Kami nggak butuh teman baru. Kami sudah cukup berlima. Berenam dengan ayah." jawab Yuan.

"Oke, sekarang belum mau berteman juga tidak apa-apa. Mungkin nanti. Kita saling menghormati saja kalau begitu." Vivi masih mencoba masuk, ia masih tegar, toh hal ini masih biasa dilakukannya pada murid-muridnya.

Malam semakin larut. Jam di dinding sudah menunjukkan hampir pukul sembilan malam. Bagi Vivi, itu sudah cukup malam untuk anak-anak seusia Sean, Yuan, Saka, Ella, dan terlebih lagi Lili. Namun ruang keluarga masih ramai. Televisi menyala. Mainan berserakan. Saka dan Yuan masih bermain permainan papan. Ella sibuk dengan bonekanya. Lili bahkan mulai menguap, tetapi tetap memaksa duduk bersama kakak-kakaknya. Sementara Sean tampak sengaja bertahan. Seolah tidak ingin menjadi anak pertama yang masuk kamar.

Di sisi lain rumah, Baskara masih berada di ruang kerjanya. Pintu ruangan itu sesekali terbuka karena ia keluar menerima berkas atau panggilan telepon. Saat itulah ia melihat keadaan ruang keluarga. Anak-anak masih berkeliaran. Vivi duduk di dekat mereka dengan ekspresi yang mulai bingung.

Baskara menghampiri sebentar. "Aku masih ada pekerjaan."

Vivi mengangguk meski sebenarnya ia bingung. Ini hari pertama kita menjadi suami istri, yakin dia mau menyerahkan semuanya begitu saja? Padahal Baskara belum melakukan serah terima anak-anaknya. "Lalu?"

"Tolong kondisikan anak-anak. Suruh mereka istirahat." Setelah mengatakan itu, Baskara kembali masuk ke ruang kerjanya. Pintu tertutup lagi.

Dan tanggung jawab itu kini jatuh sepenuhnya kepada Vivi. Wanita itu menarik napas panjang. Kemudian mencoba tersenyum. "Anak-anak..." Tidak ada yang menoleh. "Sudah malam." Masih tidak ada respons. "Kita tidur yuk."

Saka langsung menjawab. "Aku belum ngantuk."

"Aku juga," sahut Yuan.

Sean bahkan tidak mengangkat kepala. "Kami masih mau main."

Vivi berusaha tetap sabar."Tapi besok sekolah."

"Itu besok. Lagipula kami homeschooling, tak ada guru. Santai!" jawab Sean.

"Kalian perlu istirahat."

"Tapi kami belum ngantuk." Jawaban mereka datang hampir bersamaan.

Vivi mulai memahami sesuatu. Ini bukan soal tidur.Ini soal perlawanan. Kalau ia mengalah sekarang, anak-anak akan tahu bahwa kata-katanya tidak memiliki arti. Tetapi kalau ia terlalu keras, mereka akan semakin membencinya. Situasi yang sulit. Sangat sulit. Vivi mendekati Ella terlebih dahulu. "Ella." Anak kecil itu mengangkat wajahnya. "Kalau tidur terlalu malam nanti capek."

Ella melirik Sean. Kemudian menjawab, "Aku masih mau di sini."

Vivi menoleh ke Sean. "Sean, bantu Tante ya."

Sean akhirnya mengangkat kepala. Tatapannya tenang.Terlalu tenang."Kami biasa tidur jam berapa pun kalau Ayah lagi sibuk."

Kalimat itu langsung membuat Vivi kehilangan pijakan. Karena ia tidak tahu apakah itu benar atau hanya cara Sean menolaknya. Meski begitu, ia tetap mencoba. "Lili sudah ngantuk."

"Kami yang urus Lili." Jawaban Sean cepat. Tidak memberi ruang.

Vivi mulai merasa sendirian. Sangat sendirian. Karena tidak satu pun anak di ruangan itu mau bekerja sama. Namun ia tetap bertahan. "Sepuluh menit lagi, lalu semuanya ke kamar. Oke?" Tidak ada yang menjawab. Tetapi Vivi menganggap itu sebagai persetujuan diam-diam. Sepuluh menit berlalu. Lalu lima belas menit. Dua puluh menit. Dan tidak ada satu pun anak yang bergerak. Vivi kembali mendekat. "Kita ke kamar sekarang."

"Kami belum mengantuk."

"Sean."

"Belum."

"Yuan."

"Belum."

"Saka."

"Beluuuum." Jawaban itu terdengar hampir mengejek.

Dan tepat saat kesabaran Vivi mulai diuji Pintu ruang kerja terbuka. Baskara keluar. Wajahnya tampak lelah. Mungkin karena pekerjaan. Mungkin karena suara anak-anak yang masih terdengar dari luar. Matanya langsung menangkap keadaan ruang keluarga. Anak-anak masih bermain. Jam sudah hampir pukul sepuluh. Dan Vivi masih berdiri di tempat yang sama.

Baskara mengernyit. "Kalian belum tidur?" Tidak ada yang menjawab. Lalu pandangannya beralih kepada Vivi. Hanya beberapa detik. Tetapi cukup membuat Vivi merasa dihakimi. Kemudian Baskara berkata, "Kamu nggak bisa bawa anak-anak ke kamar?" Kalimat itu sederhana.Tidak diteriakkan. Tidak kasar. Namun tetap terasa seperti tamparan.

1
mimma
Luar biasa
Inooy
dengan kata lain..bu Mega bisa meninggalkan Baskara dn anak2 nya dengan tenang, karena mereka udh ada d tangan yg tepat..
Inooy
hhuuaaaa,,jd keingat ibu aq yg udh pergiii 😭😭😭😭

ternyata firasat bu Mega begitu cepat terjadi,,,pantas aj bu Mega mendesak Vivi teroos utk d jadiin menantu nya, ternyata beliau tidak ingin meninggalkan anak dn cucu2 nya tanpa pendamping hidup..kini bu Mega udh tenang meninggalkan Baskara dn anak2 nya, karena bu Mega udh percaya dengan Vivi yg akan menjaga dn melindungi cucu2 nya termasuk Baskara....
bab paling mengsedihkan 😭😭😭
Inooy
s kulkas 7 pintu mulai terserang virus bucin 😂
jaga kewibawaan mu Baas,,maaasa jealous ama anak2 sendiri Baas..Baaass...ckckck
Wulhan Agustyna Ismail
Bisanya cuman bisa bikin anak lima pula, tapi tidak tau mengurusnya
Inooy
mantap Vii jawaban mu..biar mikir tuh suami muu 😂
Inooy
punya dendam apaan siih dook,,sumpah aq puyeng mikirin dendam nya dokter..emg dokter g cape apaa tiap hari mikirin dendam? mendingan d lepasin aj dook,,nanti klo ketahuan Vivi kebusukan dokter..citra dokter d mata Vivi pasti runtuh karena kebusukan hati dokter 😮‍💨
Inooy
makin puyeng aq gara2 dokter Sinta yg d panggil TANTE ama Vivi,,ternyata berhati buuuussuuuukk...😤
Inooy
waduuuhh,,makin mencurigakan aj nih dokter Sinta...
ada masa lalu apa nih sampe2 sekelas dokter Sinta menutupi kebenaran yg seharus nya Vivi ketahui...apakah dulu Vivi sempat menolak cinta nya anak dokter Sinta, ato bagaimana niih??
karena dr cara dokter Sinta melihat kebahagian Vivi seperti tidak teriiimaa....
Inooy
nah lhooo,,maksud nya apa nih dokter Sinta tidak mo menerima kedamaian Vivi? apakah ada yg d sembunyikan dr dokter Sinta,,ada rahasia apakah d balik vonis ketidak mampuan Vivi utk mengandung seorang anak?
hheem semakin mencurigakan nih dokter Sinta yg kata nya temen ibu nya Vivi ini..🤔
Hesty Mamiena Hg
yeee MP dehh 🫣🤭
Hesty Mamiena Hg
Klinik itu punya dokter Sinta? Karena selama 10 th ini dia gk pindah2 ke tempat lain,.. dan betah memelihara dendamnya demi jadi dokter konsul Vivi 😌
Hesty Mamiena Hg
Apa alasanmu dokter Sinta? Kamu dendam sama siapa? Sama Vivi? 🤔
Hesty Mamiena Hg
Naahhh...😌
Hesty Mamiena Hg
Kenapa Vivinya pulang sendiri aja?
Harusnya Baskara dan anak2 ikut, silaturahmi kermh ortu Vivi utk pertama kalinya 🙄
Inooy
bab termewek,,siapa pun anak nya pasti akan merasa tersisihkan jika ayah nya menikah kembali...karena banyak kenyataan nya yg seperti ini, apalagi anak2 nya masih d bawah 12 tahun yg pola pikir nya belum dewasa utk mencermati setiap masalah orang dewasa,,khusus nya masalah orangtua...
Inooy
perang mu akan segera d mulai Vii,,tp ini lain perang nya..anak2 yg pada dasar nya tidak nakal, akan lebih cepat menurut dengan pendekatan, pengertian dn tentu nya dengan kasih sayang yg tulus..
karena inti nya anak2 yg d tinggal meninggal oleh ibu nya, mereka tidak mo memiliki ibu tiri yg stigma nya udh jelek dr jaman dulu..dn mereka tidak mo posisi ibu nya d gantikan oleh siapa pun, apalagi klo ibu nya termasuk ibu idaman bagi anak2 nya..
jd ini PR bwt kamu Vii utk meluluhkan hati anak2, termasuk ayah nya..😂
Inooy
ini sih aq bangeet Vii, suka panas dingin klo d ajak k rumah orang yg belum begitu dekat 😁
Inooy
klo mesin mobil udh d matiin, itu tanda nya udh nyampe Baaas...🤦‍♀️😁
Inooy
irit banget jawaban mu, Baas...

beri sedikit semangat kek apa kek..ini kaya orang lg ngirit uang belanja aaaja 🤦‍♀️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!