Demi menyelamatkan nyawa adik kecilnya yang mengidap penyakit jantung, Ekaterina rela melakukan apa pun—bahkan menerima "pekerjaan satu malam" yang menjebaknya ke pelukan Viktor Morozov, sang pewaris kerajaan mafia paling ditakuti di kota.
Satu malam yang seharusnya hanya jebakan. Satu malam yang mengubah segalanya.
Ketika Viktor menyadari ia telah masuk perangkap, ia mencampakkan Ekaterina dengan kata-kata paling kejam. Tapi takdir punya rencana lain: gadis miskin yang ia hina itu kini mengandung anaknya—dan menolak menyerahkan apa pun pada pria yang telah menghancurkannya.
Viktor terbiasa memiliki segalanya: kuasa, uang, dan rasa takut orang lain. Yang tak pernah ia miliki adalah sebuah keluarga. Kini, demi merebut kembali wanita yang ia sia-siakan dan dua gadis kecil yang perlahan meruntuhkan tembok es di hatinya, sang mafia siap membakar dunia sampai rata.
Namun luka tak sembuh hanya dengan janji. Ekaterina sudah terlalu sering dikhianati untuk percaya dengan mudah, dan masa lalu yang kelam—seorang ayah pemabuk, utang yang menumpuk, rahasia yang bisa menghancurkan semuanya—masih membayangi.
Bisakah seorang pembunuh berdarah dingin belajar mencintai? Bisakah sebuah keluarga yang lahir dari kebohongan berubah menjadi cinta yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 — Tertarik Secara Berbahaya
Ekaterina
Keesokan harinya, Ivan mengajakku bertemu di sebuah mal di pusat kota.
Begitu melihatku, dia menelitiku dari kepala sampai kaki seakan sedang menilai barang dagangan.
"Kau lumayan manis juga," komentarnya dengan nada meremehkan. "Tapi malam ini aku butuh perempuan yang mematikan."
Aku memutar bola mata dalam hati, tapi tetap diam.
Kami masuk ke sebuah butik yang terlalu mahal untuk ukuran hidupku.
Ivan memilih semuanya tanpa sekali pun menanyakan pendapatku.
Gaun merah itu seakan menempel di kulitku saking ketatnya. Belahan dadanya membuatku langsung tak nyaman.
Jelas ini bukan diriku.
Lalu dia membeli sepasang sepatu hak tinggi yang mungkin harganya lebih mahal dari seluruh isi rumahku. Parfum, riasan, dan pakaian dalam; kalau benda itu masih pantas disebut pakaian dalam...
"Aku mau kau di bar pukul sepuluh malam," katanya sambil membayar semua belanjaan.
"Alamatnya akan kukirim."
Aku hanya mengangguk.
Dan, syukurlah, dia pergi tak lama kemudian.
Untuk pertama kalinya hari itu, aku bisa bernapas tanpa Ivan mengintili.
Aku langsung kembali ke rumah sakit.
Begitu masuk ke kamar, aku menerima kabar tentang operasi Lis.
Dua hari lagi.
Dua hari.
Jantungku langsung berdebar bahagia.
Aku memeluk adikku begitu erat sampai dia tertawa.
"Kathy... kau meremukkan aku."
Aku ikut tertawa.
Karena untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama...
sepertinya ada hal baik yang akhirnya terjadi.
Kemudian, sambil merapikan rambutnya pelan-pelan di ranjang rumah sakit, aku memberanikan diri berkata:
"Malam ini aku harus bekerja."
Lis langsung menatapku.
Dan aku melihatnya.
Rasa takut itu.
Dia berusaha menyembunyikannya, tapi aku hafal setiap ekspresi adikku.
Dia benci tidur sendirian di rumah sakit itu.
Benci sunyinya dini hari.
Bunyi mesin yang berdenyut.
Lorong-lorong yang dingin.
Tapi meski begitu...
dia hanya mengangguk.
Terlalu kecil untuk memikul pengertian sebesar itu.
"Tidak apa-apa."
Tenggorokanku tercekat.
"Kau yakin?"
Dia memaksakan senyum kecil.
"Kita butuh uangnya."
Hatiku hancur dalam diam.
Karena Lis tak pernah mengeluh.
Tak pernah meminta apa pun.
Tak pernah menyalahkan siapa pun atas hidup tak adil yang dijalaninya.
Dia hanya menerima.
Dan itu jauh lebih menyakitkan dari yang seharusnya.
Sisa sore itu kuhabiskan untuk mengalihkan perhatian Lis.
Kami menonton kartun.
Aku bercerita.
Kubiarkan dia menyisir rambutku dengan cara berantakannya, hanya demi mendengar tawa renyah yang memenuhi kamar itu.
Tapi di balik setiap senyumku... ada rasa bersalah.
Karena aku tahu malam ini aku akan meninggalkannya sendirian di rumah sakit itu.
Ketika malam tiba, aku mengecup keningnya lama-lama.
"Aku pulang cepat, ya? Kau bahkan takkan sempat merasakannya."
Lis menggenggam tanganku di antara kedua tangannya.
"Janji?"
Dadaku sesak.
"Janji."
Dia tersenyum, mencoba tampak berani.
Tapi aku tetap melihat ketakutan di matanya.
Dan aku nyaris membatalkan semuanya.
Nyaris.
Aku keluar dari rumah sakit dengan dada terasa berat lalu pulang ke rumah.
Rumah petak kecil kami terasa makin sempit malam itu.
Sunyi.
Lelah.
Aku mandi lama, mencoba membasuh kecemasan yang melekat di kulitku.
Lalu aku mulai berdandan perlahan.
Pelan-pelan.
Seolah dengan mengulur waktu, aku bisa mencegah malam itu terjadi.
Ketika selesai...
aku nyaris tak mengenali diriku sendiri.
Gaun merah itu terlalu ketat.
Kainnya memeluk seluruh tubuhku, menonjolkan lekuk yang biasanya kusembunyikan.
Belahan dadanya berani.
Tak senonoh.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku tampak persis seperti tipe perempuan yang dilirik para pria di bar-bar mahal.
Dan itu langsung membuatku tak nyaman.
Ponselku berbunyi.
Ivan.
Aku membuka pesannya dengan tangan gemetar.
Alamat bar.
Dan satu pesan lagi menyusul:
"Aku akan berkomunikasi denganmu lewat sini. Begitu dia datang, kuberi tahu siapa orangnya."
Perutku bergejolak.
Beberapa menit kemudian, satu pesan lain muncul di layar.
"Misinya: taklukkan Viktor Morozov."
Aku menatap nama itu beberapa detik.
Morozov.
Bahkan tanpa mengenal pria itu...
nama keluarganya sudah terdengar berbahaya.
Berat.
Seolah membawa serta segudang masalah.
Aku menarik napas dalam-dalam lalu memanggil taksi.
Karena sekarang...
sudah terlambat untuk mundur.
Aku tiba di bar beberapa menit kemudian.
Begitu masuk, aku langsung menyesal.
Tempat ini terlalu mewah.
Remang.
Megah.
Penuh orang-orang cantik berbalut pakaian mahal, tampak benar-benar milik dunia itu.
Aku tak termasuk.
Tatapan-tatapan mulai tertuju padaku hampir seketika karena gaun merah ini.
Itu langsung membuatku tak nyaman.
Aku mendekap tas ke tubuh dan berjalan ke arah bar sambil berusaha berpura-pura percaya diri.
Tapi tanganku dingin membeku.
Bartender itu mendekat dengan sopan.
"Nona mau minum apa?"
Aku menggeleng cepat.
"Tidak usah."
Karena aku terlalu gugup.
Dan karena aku belum pernah minum seumur hidup.
Ponselku bergetar di dalam tas.
Ivan.
Aku langsung mengangkatnya.
Suaranya keluar dingin dan tajam dari seberang sana:
"Dia sudah datang."
Jantungku berpacu.
"Pria tinggi, pirang, kemeja hitam. Sedang menuju ke arahmu... jangan menoleh sekarang."
Seluruh tubuhku menegang.
"Perhatikan baik-baik, Ekaterina. Cari cara. Kau hanya boleh keluar dari bar itu bersamanya."
Aku memejamkan mata sejenak.
"Dan dia harus jadi tak bisa dihubungi."
Tenggorokanku langsung kering.
Lalu Ivan menambahkan, kejam:
"Pakai kewanitaanmu itu untuk sesuatu yang berguna. Aku mengawasimu."
Dan dia memutus sambungan begitu saja.
Aku terpaku beberapa detik sambil menggenggam ponsel erat-erat.
Terhina.
Ingin rasanya pergi dari sana.
Tapi kemudian aku memikirkan Lis.
Operasi yang sudah dijadwalkan.
Senyumnya saat berkata akhirnya dia bisa berlari seperti anak-anak lain.
Dan aku menelan seluruh rasa maluku.
Semuanya.
Lalu...
kurasakan sebuah kehadiran berhenti di sisiku di meja bar.
Tinggi.
Berwibawa.
Berat.
Jantungku langsung berdegup kencang.
Tanpa perlu menoleh...
Aku tahu. Ini dia.
"Boleh kutemani, atau kau sedang menunggu seseorang?"
Suaranya membuat seluruh tubuhku meremang.
Aku memalingkan wajah perlahan.
Dan melihatnya untuk pertama kali.
Pirang.
Tinggi.
Terlalu tampan.
Tipe pria yang tahu persis efek yang dia timbulkan pada orang lain.
Dan jelas berwajah bajingan.
Meski begitu... jantungku tetap berpacu.
Aku tersenyum tipis.
"Aku sendirian."
Mata beningnya menelitiku sekilas sebelum dia duduk di sampingku.
"Viktor."
Suara beratnya cocok sempurna dengannya.
Bartender kembali seketika.
Viktor memesan minuman keras tanpa repot melihat daftar menu. Lalu mengalihkan perhatiannya lagi padaku.
"Dan kau mau minum apa?"
"Minuman tanpa alkohol."
Dia mengangkat sebelah alis.
"Tanpa alkohol?"
Aku sedikit salah tingkah.
"Aku tak pernah minum."
Senyum geli muncul di sudut bibirnya.
Dan, anehnya...
itu membuatku sedikit kurang gugup.
Minuman kami tiba beberapa menit kemudian.
Ponselku bergetar diam-diam di dalam tas.
Aku melirik pesan itu cepat.
"Gadis pintar. Sekarang tinggal buka kakimu, dan tugas selesai."
Perutku langsung mual.
Aku mengunci layar cepat sebelum Viktor menyadarinya.
"Siapa namamu?" tanyanya.
"Ekaterina."
Dia mengulang namaku perlahan.
Seakan sedang mencicipi bunyinya.
Dan aku benci fakta bahwa tubuhku bereaksi terhadap itu.
Karena aku sama sekali tak berpengalaman dengan pria seperti Viktor Morozov.
Sebenarnya...
aku tak berpengalaman dengan pria mana pun.
Dia lebih banyak bicara ketimbang aku sepanjang waktu itu. Menanyakan beberapa hal tentangku, melempar lelucon nakal, mengomentari orang-orang di bar.
Dan sedikit demi sedikit...
aku mulai rileks.
Sampai seorang temannya muncul.
Pria itu mendekat sambil tersenyum dan menyapa Viktor dengan penuh semangat.
Diam-diam aku nyaris bersyukur atas interupsi itu.
Karena kehadiran Viktor terlalu memikat.
Tapi temannya tak lama berada di situ.
Begitu pria itu pergi, Viktor mencondongkan tubuh diam-diam ke arahku.
Terlalu dekat.
Aroma parfumnya langsung menyelimutiku.
"Kau mau pindah ke tempat yang lebih tenang?"
Jantungku berdebar kencang.
Seketika aku teringat Ivan.
Pesan-pesan itu.
Uang itu.
Operasi Lis.
Lalu aku mengangguk.
"Iya."
Viktor tersenyum puas dan bangkit berdiri.
Dia menuntunku keluar sambil meletakkan tangan diam-diam di punggungku.
Dan aku berusaha mengabaikan betapa hal itu mengguncangku.
Di luar, mobilnya mewah luar biasa.
Megah.
Mengintimidasi.
Segalanya di dunia Viktor terasa terlalu besar untukku.
Begitu kami masuk ke mobil, keheningan terasa berat beberapa detik.
Lalu Viktor mencondongkan tubuh ke arahku tanpa aba-aba.
Dan menciumku.
Seluruh tubuhku meremang.
Karena ciuman itu pas sempurna.
Seolah dia tahu persis apa yang harus dilakukan.
Dan untuk pertama kalinya malam itu...
Aku benar-benar lupa kenapa aku ada di sini.
Viktor menarik diri, hanya cukup untuk menyalakan mobil.
Aku masih berusaha menata napas selagi dia mengemudi menyusuri jalan-jalan kota yang berpendar, seolah tak ada yang baru saja terjadi.
Tapi seluruh tubuhku masih merasakan ciuman itu.
Jantungku berdetak terlalu cepat.
Dan itu membuatku takut.
Tak lama kemudian, mobil masuk ke garasi sebuah hotel mewah.
Kegugupanku kembali seketika.
Semuanya terasa terlalu cepat.
Terlalu kuat.
Lift naik dalam sunyi.
Dan ketika aku sadar...
kami sedang masuk ke sebuah kamar yang luas.
Begitu pintu tertutup di belakang kami, Viktor menatapku dengan cara yang membuat perutku bergolak.
Seakan di saat itu, yang ada hanya kami berdua.
Dia mendekat perlahan.
Tanpa terburu-buru.
Lalu menangkup wajahku dan kembali menciumku.
Rasa alkohol menyeruak ke dalam mulutku selagi tangannya menjelajahi tubuhku perlahan, membangunkan sensasi yang tak pernah kurasakan sebelumnya.
Seluruh tubuhku meremang.
Dengan terlalu mudah, Viktor menemukan ritsleting gaunku dan membukanya hanya dengan satu tangan.
Kainnya meluncur di kulitku.
Dan aku seharusnya menghentikan ini.
Seharusnya ingat kenapa aku ada di sini.
Tapi tubuhku pun menginginkannya.
Mungkin lebih dari yang seharusnya.
Gaun itu jatuh ke lantai di kakiku.
Viktor menjauh sedikit.
Cukup untuk mengamatiku.
Tatapannya menyusuri tubuhku perlahan... dalam... panas.
Dan pipiku langsung terbakar.
Karena tak pernah ada yang menatapku seperti itu sebelumnya.