Selama bertahun-tahun, Akbar dicap sebagai pembawa sial oleh seluruh warga kampung, bahkan disalahkan atas kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Kelelahan dengan hidup yang penuh penderitaan dan cemoohan, Akbar memutuskan untuk mengakhiri segalanya dengan melompat dari atas jembatan. Namun, tepat sebelum tubuhnya jatuh, sebuah layar hologram mendadak muncul dan memberinya "Sistem Dewa Hoki". Kini, berbekal keberuntungan absolut dari sistem tersebut, Akbar siap membalikkan keadaan, membungkam mulut orang-orang yang merendahkannya, dan membongkar rahasia kelam di balik kematian orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Wushhh!
Angin malam berhembus kencang menembus jaket lusuh yang dikenakan Akbar.
Hujan deras mengguyur tubuh kurusnya tanpa henti sejak dua jam yang lalu.
Tik tik tik!
Suara rintik hujan menghantam aspal jembatan tua itu dengan keras.
Akbar berdiri diam menatap aliran sungai deras yang gelap gulita di bawah sana.
"Dasar anak pembawa sial, pergi kau dari warungku!" Suara makian Bu Tejo kembali terngiang jelas di telinganya.
"Bapakmu mati karena kesialanmu, ibumu juga mati karena penyakit dari kutukanmu itu!"
"Kenapa kau tidak mati saja menyusul mereka berdua, dasar beban kampung!"
Kata-kata menyakitkan itu terus berputar-putar di dalam kepala Akbar seperti kaset rusak.
Dia mencengkeram pembatas besi jembatan itu erat-erat hingga kuku-kuku jarinya memutih pucat.
Dada pemuda berusia sembilan belas tahun itu terasa sesak dan perih luar biasa.
"Apa salahku pada kalian semua?" gumam Akbar dengan suara bergetar menahan tangis yang tertahan.
"Aku tidak pernah meminta dilahirkan dengan nasib seburuk ini."
Brummm!
Suara mesin motor yang dimodifikasi terdengar mendekat memecah keheningan malam.
Sebuah motor sport mahal berhenti tepat dua meter di belakang punggung Akbar.
"Woi, si anak kutukan!" teriak seseorang dari atas motor itu.
Akbar menoleh perlahan dan melihat Dion sedang duduk santai sambil merokok.
Dion adalah anak Pak Kades yang paling hobi menyiksa dan mempermalukan Akbar di kampung ini.
"Sedang apa kau malam-malam berdiri di situ?" ejek Dion sambil tertawa meremehkan.
"Bukan urusanmu, Dion," jawab Akbar datar dan kembali menatap ke arah sungai.
"Wah, gaya bicaramu makin songong ya sekarang." Dion turun dari motornya dan berjalan mendekat.
Dion sengaja menendang genangan air lumpur hingga menciprat ke celana kotor Akbar.
"Jangan bilang kau mau bunuh diri lompat ke sungai itu?" tanya Dion dengan nada riang.
"Kalau iya, baguslah karena kampung kita akan bebas dari aura sialmu."
"Bahkan kalau perlu, aku yang akan mendorongmu ke bawah sana sekarang juga."
Hati Akbar benar-benar hancur mendengar kelakuan manusia tak punya hati di belakangnya ini.
"Bahkan di detik-detik kematianku, masih ada saja manusia iblis yang menertawakanku," batin Akbar getir.
"Tunggu sebentar, jangan lompat dulu!" seru Dion tiba-tiba sambil merogoh saku jaketnya.
Dion mengeluarkan ponsel mahalnya dan menyalakan fitur perekam video.
"Oke, aku sudah merekam, sekarang kau boleh lompat ke bawah sana."
"Video ini akan kujual ke warga kampung buat tontonan syukuran besok pagi."
Akbar menutup matanya perlahan dan mengabaikan semua ocehan sampah dari Dion.
"Ayah, Ibu, maafkan Akbar karena tidak bisa bertahan lebih lama lagi."
Air mata akhirnya menetes deras dari sudut mata pemuda malang itu.
"Akbar sangat lelah hidup sendirian dan terus-terusan disalahkan oleh semua orang."
"Akbar akan menyusul kalian berdua malam ini juga."
Tanpa ragu sedikit pun, Akbar melepaskan pegangannya dari besi pembatas jembatan.
Dia mencondongkan tubuhnya ke depan dan membiarkan gravitasi menariknya.
"Woi, dia beneran lompat dong!" teriak Dion kaget bercampur kegirangan melihat adegan itu.
Wuuushhh!
Tubuh Akbar melayang jatuh menembus kegelapan malam yang pekat.
Angin bergemuruh hebat di telinganya seolah sedang menyanyikan lagu kematian.
Akbar pasrah sepenuhnya menanti rasa sakit yang akan menghancurkan tubuhnya di dasar sungai berbatu.
Ting!
Sebuah suara mekanis yang sangat jernih tiba-tiba bergema di dalam kepalanya.
Waktu mendadak terasa berjalan sangat lambat, seolah dunia di sekitarnya sedang berhenti berputar.
Rintik hujan yang sedang jatuh ke bawah tampak melayang diam tak bergerak di udara.
Akbar membuka matanya lebar-lebar karena terkejut dengan keheningan aneh ini.
Sebuah layar transparan berwarna biru terang mendadak menyala tepat di depan wajahnya.
[Memindai Tuan yang memenuhi syarat krisis kehidupan maksimal.]
Teks berwarna putih muncul berderet di layar biru misterius tersebut.
[Keputusasaan mental terdeteksi mencapai angka seratus persen.]
[Karmic Luck terdeteksi berada di angka minus maksimal tak terhingga.]
"Benda apa ini?" gumam Akbar kebingungan di tengah posisinya yang masih melayang di udara.
"Apakah aku sedang berhalusinasi karena sebentar lagi kepalaku akan pecah?"
[Syarat utama penyatuan sistem legendaris telah terpenuhi sepenuhnya.] Suara mekanis itu kembali terdengar.
[Menginisiasi penggabungan Sistem Dewa Hoki ke dalam jiwa Tuan.]
[Proses penyatuan sepuluh persen... lima puluh persen... seratus persen.]
[Sistem Dewa Hoki berhasil diaktifkan dan siap melayani Tuan!]
Cahaya keemasan yang sangat hangat tiba-tiba menyelimuti seluruh tubuh Akbar.
[Peringatan, Tuan sedang berada dalam bahaya fatal yang mengancam nyawa.]
[Mengaktifkan fitur Keselamatan Hoki Tingkat Dewa secara otomatis!]
Begitu kalimat itu selesai, waktu di sekitar Akbar kembali berjalan normal dengan sangat cepat.
Wuuushhh!
Tubuh Akbar kembali meluncur deras menuju kematian di bawah jembatan.
Tapi sebuah keajaiban yang sangat absurd tiba-tiba terjadi tepat di bawah lintasan jatuhnya.
Brummm!
Suara mesin kapal tongkang tua mendadak terdengar meraung dari arah hulu sungai.
Sebuah kapal barang besar tiba-tiba terbawa arus deras tepat melintas di bawah jembatan itu.
Kapal tongkang itu kebetulan sedang membawa tumpukan gunungan kasur busa rijekan dari pabrik.
Bukk! Tubuh Akbar menghantam tumpukan puluhan kasur busa tebal itu dengan suara teredam.
Daya pantul dari kasur busa yang bertumpuk itu membuat tubuh Akbar terlempar ringan ke atas.
Dia akhirnya mendarat dengan mulus dan terbaring aman di tengah-tengah tumpukan kasur empuk tersebut.
Akbar tidak merasakan sakit sedikit pun di sekujur tubuhnya.
"Hah?" Akbar ternganga lebar menatap langit malam yang masih menurunkan hujan deras.
"Aku... aku belum mati?" Dia meraba wajah dan dadanya dengan tangan gemetar panik.
Tulangnya utuh, tidak ada darah yang mengalir, dan jantungnya berdetak dengan sangat sehat.
Ting!
Layar biru yang tadi dia lihat kembali muncul mengambang di depan matanya.
[Selamat, Tuan telah selamat dari kematian instan berkat perlindungan hoki tingkat dewa.]
"Sistem Dewa Hoki?" eja Akbar perlahan sambil membaca tulisan menyala di depannya.
"Jadi benda aneh bercahaya ini yang baru saja menyelamatkan nyawaku?"
[Benar, Tuan, sistem ini dirancang khusus untuk memutarbalikkan nasib orang paling sial di dunia.]
[Sistem akan mengubah Tuan menjadi orang paling beruntung di seluruh penjuru alam semesta.]
Akbar mendadak tertawa hambar mendengar penjelasan sombong dari sistem itu.
"Paling beruntung di alam semesta katamu?" tanyanya dengan nada sinis.
"Kau mungkin salah memilih orang, karena aku ini dijuluki si kutukan pembawa sial oleh satu kampung."
[Mulai detik ini, julukan konyol itu tidak akan pernah berlaku lagi untuk Tuan.]
[Sistem juga mendeteksi adanya kejanggalan dalam sejarah hidup Tuan.]
[Kecelakaan tragis yang menimpa orang tua Tuan lima tahun lalu sama sekali bukan karena kesialan Tuan.]
Mata Akbar langsung terbelalak sangat lebar membaca deretan kalimat terakhir di layar biru itu.
"Apa maksudmu dengan bukan karena kesialanku?" Nada suara Akbar mendadak meninggi dan bergetar.
"Lalu karena apa mereka mati hari itu, jawab aku!" teriaknya memecah suara hujan.
[Informasi tersebut saat ini masih terkunci rapat di dalam database rahasia.]
[Tuan harus menaikkan level sistem ke tahap yang lebih tinggi untuk membuka kebenaran insiden tersebut.]
Tangan Akbar kembali mengepal kuat, tapi kali ini bukan karena keputusasaan.
Rasa marah, dendam, dan rasa penasaran yang luar biasa meledak-ledak di dalam dadanya.
"Jadi selama lima tahun ini aku dihina dan disalahkan atas sesuatu yang bukan salahku?"
"Dan ternyata ada rahasia kelam di balik kematian Ayah dan Ibu hari itu?"
[Benar, ada campur tangan pihak lain dalam kecelakaan yang merenggut nyawa orang tua Tuan.]
[Untuk memulai perjalanan balas dendam Tuan, Sistem akan memberikan Hadiah Pemula.]
[Apakah Tuan ingin membuka Kotak Hadiah Pemula sekarang juga?]
"Buka sekarang juga!" perintah Akbar tanpa ragu sedikit pun di hatinya.
Ding!
Suara lonceng emas yang merdu terdengar berdentang di telinganya.
[Kotak Hadiah Pemula berhasil dibuka dengan sukses!]
[Tuan mendapatkan hadiah pertama: Skill Pasif Mata Hoki Level 1.]
[Tuan mendapatkan hadiah kedua: Uang Tunai sebesar Sepuluh Juta Rupiah.]
[Uang tersebut telah dikirim ke rekening bank Tuan secara legal dan aman.]
[Tuan mendapatkan hadiah ketiga: Peningkatan Atribut Fisik Dasar sebesar 50 persen.]
Krek krek!
Akbar bisa mendengar jelas suara tulang dan ototnya berderit pelan namun tidak menyakitkan.
Tubuhnya yang selama ini kurus kering dan kurang gizi perlahan terasa jauh lebih padat.
Otot-ototnya mulai terbentuk sempurna dan dia merasa tenaganya berlipat ganda.
Rasa dingin yang menusuk tulang dari air hujan mendadak hilang tanpa sisa.
Kini hanya ada kehangatan tenaga yang mengalir deras di dalam setiap pembuluh darahnya.
Ting!
Ponsel jadul bersolasi di saku celananya tiba-tiba bergetar dan berbunyi.
Akbar buru-buru merogoh sakunya dan menyalakan layar ponselnya yang sudah retak parah itu.
Ada satu notifikasi pesan SMS masuk dari bank tempat dia menabung uang hasil memulung.
"Transfer dana masuk sebesar... sepuluh juta rupiah?" Akbar membaca SMS itu dengan mata tak berkedip.
Ini adalah nominal uang paling banyak yang pernah dia lihat secara langsung seumur hidupnya yang menyedihkan.
Biasanya untuk bisa makan nasi bungkus sehari-hari saja dia harus bekerja keras menjadi kuli panggul pasar.
"Ini... semua ini benar-benar nyata!" Akbar berteriak kegirangan memecah suara bising mesin kapal.
[Sistem Dewa Hoki tidak pernah menciptakan ilusi, semua yang Tuan alami adalah kenyataan.]
[Sistem menerbitkan Misi Utama Pertama untuk Tuan selesaikan malam ini.]
[Detail Misi: Pergi ke minimarket Indomaret di depan kampung dan beli satu tiket undian minuman berhadiah!]
[Hadiah Penyelesaian Misi: 50 Poin Hoki dan satu kotak item misteri kelas perunggu.]
[Hukuman Jika Gagal: Tuan akan mengalami kesialan berturut-turut selama satu minggu penuh.]
Akbar tersenyum sinis dan penuh percaya diri menatap layar biru holografik di depannya.
Hukuman kesialan selama seminggu penuh itu sama sekali tidak membuatnya takut.
Menghadapi kesialan setiap hari sudah menjadi makanan pokoknya sejak dia masih kecil.
Tapi mulai malam ini dan seterusnya, semuanya sudah berubah seratus delapan puluh derajat.
Kapal tongkang pengangkut kasur ini perlahan bergerak menepi bersandar di pinggiran sungai yang agak landai.
Akbar melompat turun dari atas tumpukan kasur dengan gerakan yang luar biasa gesit.
Bahkan dia sendiri kaget saat melihat kedua kakinya mendarat dengan sangat sempurna di tanah berlumpur yang licin.
"Peningkatan atribut fisik lima puluh persen ini efeknya benar-benar gila," gumam Akbar berdecak kagum.
Dia mendongak ke atas menatap jembatan besi tua yang menjulang tinggi di kejauhan sana.
Dia sangat yakin kalau si berengsek Dion pasti sedang tertawa puas mengira dia sudah mati hancur terbawa arus sungai.
"Kalian semua warga kampung yang selalu menganggapku sebagai parasit pembawa sial..."
Akbar mengepalkan tinjunya dengan tatapan mata yang setajam pisau.
"Akan kubuat kalian semua berlutut dan menelan ludah kalian sendiri dalam waktu dekat."
"Dan untuk siapa pun manusia keparat yang menyebabkan kecelakaan orang tuaku dulu..."
"Aku bersumpah pasti akan menyeret kalian ke neraka dengan tanganku sendiri!"
Akbar mulai berjalan membelah derasnya hujan menaiki tebing sungai menuju ke arah jalan raya.
Langkah kakinya yang biasanya gontai kini terasa jauh lebih ringan dan dipenuhi dengan tekad membara.
Malam ini, Akbar si pemuda miskin pembawa sial telah resmi mati di sungai tersebut.
Dan yang lahir kembali dari dasar sungai itu adalah seorang dewa hoki yang siap membolak-balikkan dunia.