Indonesia
NovelToon NovelToon
ZHOO, SANG PENAKLUK EST

ZHOO, SANG PENAKLUK EST

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: zai_zuk

Di benua Est, tujuh kerajaan hidup dalam keseimbangan rapuh. Selama ratusan tahun, tidak ada satu pun penguasa yang mampu menyatukan seluruh wilayah. Perang, perebutan takhta, dan dendam antarkerajaan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zai_zuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 19, BISIKAN DI GELAP HUTAN

"Kita benar-benar sendirian?" tanya Naira pelan, duduk sambil memegang luka di bahunya. "Kerajaan lain — Lirael, Morgh — apakah mereka akan membiarkan kita hancur begitu saja?"

Zhoo berdiri, menatap sekeliling wajah-wajah yang lelah namun masih menatapnya dengan harapan. Itu beban terberatnya — setiap mata yang menatapnya seolah berkata: Kau yang memimpin kami. Kau yang tahu jalan. Dan kadang ia tidak tahu. Kadang ia hanya melangkah karena tidak ada jalan lain.

"Mereka belum percaya," jawab Zhoo jujur. "Mereka belum melihat bahwa ini bukan lagi perang antara aku dan Vereon. Ini perang antara kebebasan dan perbudakan selamanya. Mereka menunggu. Menunggu untuk melihat siapa yang akan menang sebelum mereka memilih sisi."

"Jadi kita harus menang dulu sebelum mereka mau membantu kita?" tanya Arvin pahit. "Itu ironi."

"Ya," Zhoo mengangguk. "Dan itulah mengapa kita tidak bisa kalah hari ini, besok, atau kapan pun. Karena setiap kemenangan kecil kita adalah harapan bagi mereka yang masih bersembunyi di kegelapan."

Malam itu, Zhoo duduk sendirian di tepi sungai kecil di dalam hutan. Ia membasahi wajahnya yang berdebu dan berdarah, menatap pantulan dirinya di air. Wajahnya lebih tua dari usianya — garis-garis kelelahan mulai terlihat di dahi, matanya yang dulu penuh mimpi kini penuh tanggung jawab yang berat.

Elara datang tanpa suara, duduk di sampingnya tanpa langsung bicara. Mereka berdua menatap air yang mengalir tenang, seolah waktu berhenti sebentar di tempat itu.

"Kau menyalahkan dirimu atas kematian mereka hari ini?" tanyanya pelan akhirnya.

Zhoo mengangguk pelan. "Setiap kali aku mengangkat pedang, aku tahu ada nyawa yang dipertaruhkan. Tapi hari ini... banyak yang mati karena keputusanku. Karena aku memutuskan untuk berdiri di sini."

"Dan jika kau memutuskan untuk tidak berdiri?" Elara menatapnya lembut namun tegas. "Maka mereka semua akan mati perlahan, ditindas, diperas, diperbudak tanpa pernah tahu rasanya berjuang untuk sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Kau memberi mereka harga diri, Zhoo. Itu bukan hal yang kecil."

"Tapi harga dirinya dibayar dengan nyawa mereka," jawabnya getir. "Dan kadang aku bertanya — apakah aku benar-benar tahu jalan ini? Atau aku hanya membawa mereka semua menuju kuburan bersama?"

Elara meraih tangannya, memegangnya erat. "Ingat saat di lembah utara? Saat kau masuk ke dalam kegelapan sendirian? Kau berkata bahwa kekuatanmu bukan berasal dari dirimu sendiri, tapi dari orang-orang yang percaya padamu. Dan itu masih benar. Kau tidak berjalan sendirian. Dan kau tidak bertanggung jawab atas semua kematian itu — kau bertanggung jawab untuk memastikan kematian mereka bermakna."

Zhoo menoleh, menatap matanya yang tenang dan penuh keyakinan. Di tengah segala kekacauan dan bahaya, ia adalah jangkarnya.

"Terima kasih, Elara," bisiknya. "Tanpamu... aku mungkin sudah lama menyerah."

"Dan tanpa kau, aku tidak akan pernah tahu bahwa dunia bisa lebih baik dari ini," jawabnya lembut. "Kita bersama, Zhoo. Sampai akhir."

Tepat saat itu, terdengar suara langkah kaki di dedaunan kering. Rhaen muncul dari balik bayangan pohon, wajahnya masih pucat namun matanya sudah jernih kembali. Ia terlihat lebih tua, lebih rapuh, tapi ada ketenangan di wajahnya.

"Aku mendengar pembicaraan kalian," ucapnya pelan. "Dan aku membawa kabar — baik dan buruk."

"Bicara," kata Zhoo berdiri.

"Buruknya: Vereon telah mengirim utusan ke Lirael dan Morgh, menawarkan kekayaan dan wilayah jika mereka menyerahkannya kepadamu. Jika mereka menolak, ia berjanji menghancurkan kerajaan mereka satu per satu."

"Dan kabar baiknya?" tanya Elara cepat.

"Baiknya: Tidak semua orang di kerajaan lain diam. Di Lirael, para pedagang dan kapten kapal sudah lama muak dengan pajak Veyra. Mereka diam-diam mengirim pesan — jika kau bisa sampai ke pantai utara sebelum bulan purnama, mereka bersedia mendengarkan. Dan di Morgh... ada kekuatan lama yang bangun. Orang-orang yang dikucilkan, yang hidup di kabut dan rawa, yang dianggap aneh oleh dunia — mereka mulai membicarakan namamu."

"Mereka yang dikucilkan..." gumam Zhoo. "Mereka yang paling memahami rasa tidak diinginkan."

"Benar," Rhaen mengangguk. "Tapi peringatanku — semakin banyak orang yang bergabung denganmu, semakin beragam kepentingan mereka. Menyatukan mereka jauh lebih sulit daripada mengalahkan musuh di medan perang. Vereon hanya perlu menaklukkan tubuh orang. Tapi kau harus memenangkan hati mereka. Dan itu jauh lebih berbahaya — karena di antara mereka yang percaya padamu, bisa jadi ada yang menginginkan sesuatu yang lain."

"Pengkhianatan," Zhoo berkata pelan. "Arvin pernah memperingatkannya sejak awal."

"Dan itu akan datang," kata Rhaen lembut namun tegas. "Bukan dari musuh di depanmu, tapi dari orang yang kau percaya. Karena ketika dunia berubah, orang berubah juga. Dan ambisi bisa tumbuh di hati yang paling tulus sekalipun, jika ia diberi tempat yang cukup besar."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!