Indonesia
NovelToon NovelToon
EQUILIBRIUM

EQUILIBRIUM

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Fantasi Isekai
Popularitas:79
Nilai: 5
Nama Author: RIKI RIFEL

Dunia tersusun atas struktur kosmologi yang agung: tujuh lapis langit yang suci, dunia bawah yang kelam, dan bumi yang terhampar di tengah-tengahnya.

Sejak awal penciptaan, Tuhan telah melahirkan dua entitas yang saling bertolak belakang demi mengisi semesta ras Elf Cahaya yang menguasai dunia langit, dan ras Iblis Kegelapan yang mendiami dunia bawah. Sementara di antaranya, hiduplah umat manusia yang mendiami bumi.

Namun, kedamaian itu runtuh akibat keserakahan manusia. Melalui ambisi tanpa batas, manusia menggali tanah teramat dalam demi mengeruk sumber daya, sekaligus menembak langit menggunakan uji coba senjata pemusnah massal terlarang yang bernama Nuklir.

Tanpa diduga, hantaman destruktif tersebut bergetar hebat hingga menjebol dinding dimensi semesta. Batas dunia runtuh; ras Iblis merangkak naik ke permukaan, sementara ras Elf turun ke bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIKI RIFEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sombong, Gagu dan Barbar

Di sanalah mereka Leo, Cheeta, dan Rheno menyusuri jalanan ramai di IKN, Ibu Kota Kerajaan Nova Castra. Target utama mereka hari ini sangat jelas: mencari tempat penampungan atau pasar gelap yang mau membeli barang jarahan hasil melucuti si Bos dan pasukannya kemarin, yaitu beberapa set jas hitam dan beberapa butir batu magis murni.

Namun, kenyataan di lapangan sungguh di luar ekspektasi. Tidak ada satu pun dari barang jarahan itu yang laku dijual. Jas-jas hitam yang mereka bawa sudah terlalu lusuh, robek, dan berbau hangus akibat ledakan sihir di gubuk kemarin.

Sementara itu, di dalam kota besar yang aman dan damai seperti ini, batu magis murni sangat jarang penggunanya sehingga tidak memiliki nilai jual yang tinggi.

Para pedagang di toko-toko resmi memandang mereka dengan tatapan curiga, membuat trio ugal-ugalan ini perlahan merasa jengkel karena kota ini terlalu bersih dan terlalu teratur untuk orang-orang yang terbiasa hidup dengan hukum rimba.

Beruntung, mereka masih memegang sedikit koin emas dan perak sisaan dari kantong celana si Bos dan anak buahnya. Koin-koin itulah yang menyelamatkan mereka dari status gelandangan total di hari pertama.

"Sudahlah, kita simpan saja batu magis ini dan buang jas lusuh itu. Lebih baik kita cari makan dengan sedikit uang yang kita dapat sekarang," ucap Cheeta, memberikan solusi paling rasional seperti biasanya.

Sementara itu, Leo dan Rheno hanya bisa mengangguk setuju dengan lemas. Bagi trio yang terbiasa hidup ugal-ugalan dengan hukum rimba di luar benteng, beradaptasi di kota yang damai dan tertib seperti ini rasanya akan sangat sulit. Aturan ada di mana-mana, dan mata para penjaga keamanan kota seolah terus mengawasi setiap gerak-gerik mereka.

Namun untuk saat ini, urusan perut jauh lebih mendesak. Sisa jatah makanan di karavan pedagang tadi pagi sama sekali tidak cukup untuk memulihkan tubuh mereka yang luar biasa kelelahan pasca-mengamuk akibat efek samping buah magis. Perut mereka terus berbunyi, menuntut kalori yang besar setelah energi mereka terkuras habis dalam pertempuran kemarin.

Mereka pun segera melipir ke sebuah kedai lokal. Di pojok meja yang agak tersembunyi, sambil menyantap makan siang dengan lahap, mereka mulai membicarakan misteri yang mengganjal di kepala sejak terbangun tadi pagi.

"Hey kalian... apakah kalian sadar kalau kekuatan super kita saat di hutan kemarin sekarang benar-benar hilang?" tanya Cheeta penasaran, menatap kedua temannya bergantian.

Mendengar hal itu, Leo dan Rheno langsung mencoba merasakannya kembali. Mereka menggerakkan lengan dan meremas jemari mereka, tetapi rasanya benar-benar biasa saja.

Tubuh mereka tidak lagi terasa seringan kapas, dan otot mereka tidak lagi memiliki daya hancur yang mengerikan seperti kemarin. Tidak ada aliran energi hangat yang mengalir di pembuluh darah mereka, menandakan mereka telah kembali menjadi manusia biasa yang lemah.

"Apakah... apakah kita sudah telanjur menghabiskan seluruh energi dari buah magis itu saat mengamuk?" jawab Leo mendadak panik, membayangkan dirinya kembali menjadi pencuri lemah. Ketakutan terbesar Leo adalah kembali menjadi sosok tak berdaya yang tidak bisa melindungi diri sendiri di dunia yang kejam ini.

Rheno ikut menundukkan kepalanya, tampak sedikit sedih dan kecewa mengetahui kekuatan dahsyatnya telah lenyap begitu saja. Leo yang menyadari perubahan raut wajah temannya itu langsung mencoba mencairkan suasana dengan lidah tajamnya.

"Hei, Rheno! Jangan bilang kamu sedih karena batal membangun kandang anjing dengan pohon besar untuk tempat tidurmu?!" celetuk Leo menyindir kekonyolan Rheno mendukung rencana Cheeta yang menyedihkan untuknya.

"Cukup! Kalian tenang dulu!" potong Cheeta tegas, membuat Leo dan Rheno seketika langsung bungkam dan fokus memperhatikan.

"Kalian ingat si Bos dan pasukannya? Mereka bisa menggunakan sihir dan memiliki kekuatan fisik yang konstan tanpa kehilangan kesadaran, kan? Artinya, kekuatan dari buah itu seharusnya permanen," lanjut Cheeta, mulai menganalisis situasi dengan serius.

Pandangan Cheeta menajam, merumuskan langkah mereka selanjutnya. "Ini berarti ada mekanisme atau cara kontrol yang belum kita ketahui. Jalan satu-satunya bagi kita untuk bertahan hidup di kota ini adalah: kita harus mencari pengguna kekuatan buah magis yang asli, lalu berguru kepadanya!"

Namun, diskusi serius itu harus terhenti secara dramatis saat tagihan makanan datang. Ketika mereka hendak membayar, alangkah kagetnya mereka mengetahui bahwa uang yang mereka punya ternyata kurang.

“Hah!, mahal sekali!” protes keras Cheeta, bukan karena terlalu mahal tapi karena tahu uangnya kurang.

“Maaf sebelumnya tapi saya hanya menghitung saja, total nya memang segitu” jawab pelayan mencoba menjelaskan bahwa semua itu sesuai tanpa dilebih-lebihkan.

Pelayan perempuan itu mulai menatap mereka dengan pandangan waspada, mengira mereka adalah komplotan penipu makanan.

Rheno hanya pasrah dengan keadaan, lalu Leo mencoba bernegosiasi dengan pelayan.

“Mba pelayan!, bagaimana kalau begini, kami hanya ada segini, sisanya ambil batu magis ini” usaha Leo yang sia-sia. Ia menyodorkan sebutir batu magis dari kantongnya, berharap si pelayan mau menerimanya sebagai jaminan resmi.

“Maaf tuan tetap tidak bisa” ucap pelayan. Di kota ini, mata uang resmi adalah koin kerajaan, bukan batu magis mentah yang tidak jelas kualitasnya.

“Bagaimana kalau sekarang segitu dulu nanti kami pasti kembali” Leo yang masih berusaha.

Keributan di meja pojok membuat para penjaga keamanan berdatangan. Situasi mendadak tegang. Sebelum terjadi keributan, sesosok pria cantik berambut panjang terurai melempar kantong berisi uang ke meja mereka. Kantong itu mendarat dengan dentingan koin yang nyaring, langsung membungkam kecurigaan si pelayan dan para penjaga keamanan.

“Biar aku yang bayar” tanpa memperlihatkan wajahnya secara langsung, lalu pergi sambil berkata, “hadiah dariku, pemakan buah magis”.

Leo dan Rheno sigap langsung berdiri membungkuk kompak. Rasa lega yang luar biasa membuat mereka tidak berpikir panjang.

“Terimakasih banyak nyonya” ucap kompak mereka, tidak menyadari dia itu pria ataupun ucapan terakhirnya.

Berbeda dengan Cheeta yang hanya menyipitkan mata penuh curiga. Pasalnya, hanya dia yang mendengar jelas bisikan terakhir orang itu: "pemakan buah magis".

Setelah insiden kekurangan uang yang memalukan di kedai tadi dan untungnya diselamatkan oleh pria cantik misterius itu, Leo, Cheeta, dan Rheno segera pergi secepat mungkin. Uang pemberian orang asing itu sengaja mereka hemat habis-habisan untuk membeli sedikit perbekalan darurat.

Mereka mencoba peruntungan mencoba mencari kerja untuk menambah sisa uang yang mereka pegang.

"kamu yakin bisa kerja" tanya kepala toko pada Leo.

"hah, pertanyaan bodoh! tentu saja aku ini pro" jawab Leo dengan sombong maksimal seketika sukses memancing emosi pemilik toko.

"pergi!!" ucap pemilik toko.

Lalu Rheno pun mencoba dan hasilnya tidak lebih baik dari Leo. Rheno mungkin kandidat yang bagus; besar dan bisa diandalkan dalam pekerjaan berat. Pegawai tingkat bawah tidak akan lepas dari ketangguhan, akan tetapi…

"bicara! ayo bicara jangan cuma mengangguk aku butuh pegawai yg bisa bicara!!! Pergi!!" teriak pemilik toko lain.

Dan sekarang tiba giliran Cheeta yang mencoba peruntungan. Gadis cantik penakluk hati bos mafia memiliki prediksi tingkat keberhasilan yang tinggi. Dunia memang selalu seperti itu pada good looking, namun mungkin tidak untuk Cheeta.

"emm.. dari pada jadi pelayan toko, lebih baik jadi istri ku" goda pemilik toko lainnya lagi. Tidak perlu ditanya lagi, mendengar godaan itu Cheeta mengamuk dan memukul keras pemilik toko.

“pergi sana!, Dasar perempuan barbar!” ucap pemilik toko itu dan Mungkin ini akan jadi kalimat terakhirnya.

Seketika Cheeta kembali menghajarnya lagi hingga babak belur. Untung saja Cheeta masih punya hati pemilik toko masih bisa mengucapkan kalimat lagi setelah sembuh.

Usaha mereka sia sia sisa koin yang sangat sedikit membuat mereka harus memutar otak agar bisa bertahan hidup melewati hari pertama di ibu kota tanpa harus tidur di emperan jalan.

Entah mereka bertiga yang salah atau dunia yang salah.

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!