Di malam ulang tahun sang mertua, Raka menyiapkan satu meja penuh masakan—dan menunggu sendirian sampai dingin, karena istri, anak, dan mertuanya malah pergi ke ruang VIP mewah yang dipesan Sebastian, sang cinta lama. Malam itu juga Raka berhenti jadi "kacung": ia mengajukan cerai, pergi tanpa menuntut sepeser pun harta keluarga Prawira, dan melangkah keluar dengan kepala tegak.
Semua orang menyangka si menantu numpang itu akan merengek balik dalam 24 jam. Yang tidak mereka tahu: Raka bukan sekadar pelukis mural berbakat yang bisa membangun kerajaannya sendiri dari nol lewat siaran langsung dan ukiran—ia adalah **putra sejati yang hilang dari Dinasti Giok Adiwangsa**, keluarga konglomerat nomor satu yang mencarinya belasan tahun. Dan perempuan sederhana yang diam-diam mengejarnya? Dialah **Anindya, Sang Ratu Konglomerat Wibisana**, yang menyembunyikan kekayaan triliunan demi cinta yang ia pendam 15 tahun.
Saat Raka naik dari "menantu buangan" jadi tuan muda dinasti giok, saat setiap penghinaan dibalas dengan bukti, bakat, dan kuasa—mantan istri, mertua matrealistis, dan sang cinta lama satu per satu menyesal setengah mati. Larasati akhirnya berlutut memohon rujuk.
Tapi maaf, Bu—**anak dari Ratu Konglomerat sudah dalam kandungan, dan aku tak akan menoleh lagi.**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9 — Memberi Nama Sasa, Memberi Ulang Tahun
Raka telah melihat celah pertama dalam penyamaran Nindya, tetapi ia tidak punya waktu untuk membongkarnya.
Pagi berikutnya, Dinas Sosial menelepon.
"Pak Raka, anak yang Bapak laporkan terus menanyakan Anda," kata pekerja sosial yang menangani perkara itu. "Bapak boleh datang sebagai pihak pendukung. Namun ada beberapa hal yang perlu kami jelaskan sebelum kunjungan."
Raka menutup kotak alatnya. "Saya datang satu jam lagi, Bu."
Di kantor Dinas Sosial, ia tidak langsung dipertemukan dengan sang anak. Pekerja sosial menunjukkan rangkaian proses yang telah berjalan: pemeriksaan medis awal, wawancara ramah anak, verifikasi dokumen Pak Leman, serta keterangan dua tetangga.
"Ada pola kekerasan dan pengabaian," jelasnya. "Memarnya terbentuk pada waktu berbeda. Tetangga juga menguatkan bahwa tangisan terjadi berulang, bukan sekali."
"Apakah dia harus kembali ke Pak Leman?"
"Tidak selama perlindungan sementara berlaku. Tetapi memutus status pengasuhan bukan keputusan lisan Dinas. Dokumen dan asal-usul anak harus diperiksa, lalu bila sengketa berlanjut, prosesnya masuk Pengadilan Negeri."
Raka mengangguk. Ia membaca salinan ringkasan asesmen yang boleh dilihat pihak pelapor. Tak ada foto luka yang disebarkan. Semua dokumentasi tersimpan sebagai berkas perlindungan anak, bukan bahan tontonan.
Pintu ruang kunjungan dibuka.
Gadis kecil itu duduk di kursi dengan jaket biru kebesaran. Begitu melihat Raka, ia turun terlalu cepat dan hampir tersandung.
"Kamu tidak perlu lari," kata Raka sambil berjongkok.
Anak itu berhenti tepat di depannya. "Kamu datang."
"Saya sudah janji."
"Bapak bilang semua orang bohong."
"Kadang orang memang berbohong. Karena itu, lihat apa yang mereka lakukan setelah bicara."
Gadis itu memikirkan kalimat tersebut dengan wajah serius, lalu mengulurkan satu jari. Raka menyambutnya. Baru setelah itu seluruh tangan kecilnya menggenggam telunjuk Raka.
Selama seminggu berikutnya, ia datang sesuai jadwal, tidak pernah terlambat. Ia membawa buku gambar, bukan hadiah mahal. Mereka menggambar rumah dengan jendela besar, kucing yang bentuknya seperti kentang, dan matahari berwarna ungu karena pensil kuning patah.
Sementara itu, proses bergerak.
Pak Leman datang dalam keadaan setengah mabuk saat diminta memberi keterangan tambahan. Ia menolak menandatangani pelepasan apa pun dan bersikeras bahwa biaya yang pernah dikeluarkannya memberi hak untuk membawa anak itu pulang.
"Saya punya surat pengasuhan!" bentaknya di ruang pelayanan. "Dia milik saya."
Raka yang duduk di seberang langsung mengangkat kepala. "Anak bukan barang milik."
"Lo diam! Ini gara-gara lo."
Pekerja sosial menekan bel pemanggil petugas keamanan. "Pak Leman, dokumen Bapak sedang diverifikasi. Dugaan kekerasan tidak hilang hanya karena Bapak menolak bekerja sama. Semua ucapan hari ini juga dicatat."
Pak Leman menendang kaki kursi lalu digiring keluar untuk menenangkan diri. Ancaman masih keluar dari mulutnya, tetapi kali ini tercatat di ruang yang memiliki saksi dan kamera.
Setelahnya, pekerja sosial memandang Raka. "Bapak pernah menyatakan bersedia menjadi pendukung tetap. Apakah masih?"
"Ya."
"Kondisi Bapak akan dinilai. Tempat tinggal, penghasilan, catatan kepolisian, kesiapan mengasuh, dan jaringan pendukung. Saya perlu jujur: permohonan pengangkatan anak oleh pria yang hidup sendiri, terutama untuk anak perempuan, memiliki batas yang ketat. Terlebih status perkawinan Bapak belum selesai dan istri sah Bapak tidak menjadi pemohon bersama."
"Saya tidak meminta jalan pintas. Apa yang mungkin dilakukan sekarang?"
"Pengasuhan sementara dengan pengawasan ketat dapat dipertimbangkan karena hubungan aman yang sudah terbentuk. Itu bukan adopsi. Akan ada kunjungan setiap minggu, evaluasi, dan hak penempatan dapat dicabut jika syarat tidak terpenuhi."
"Nilai saya berdasarkan keadaan yang sebenarnya."
Dua hari kemudian, petugas datang ke kontrakan.
Raka tidak menyembunyikan ukuran kamar atau saldo pendapatannya. Ia menunjukkan kuitansi sewa, catatan pinjaman Bagas, formulir pesanan, jadwal kerja, serta rencana ruang tidur. Sebuah partisi lipat memisahkan sudut kasur anak. Raka akan tidur di tikar dekat meja kerja. Bu Yati dan Bu Nani bersedia menjadi kontak lingkungan. Polsek mengonfirmasi keterangannya dalam perkara Pak Leman dan tidak menemukan catatan kekerasan.
"Tempatnya kecil," kata petugas.
"Saya tahu."
"Pendapatan Bapak belum stabil."
"Saya juga tahu. Semua pemasukan dan pengeluaran saya catat. Kalau penilaian Ibu menyatakan belum aman, saya akan tetap datang sebagai pendukung di tempat perlindungan. Saya tidak akan membawa anak itu diam-diam."
Kejujuran itu tidak mengubah kekurangan kamar. Namun ia menunjukkan bahwa Raka memahami batasnya.
Pada akhir minggu, Dinas Sosial menyetujui penempatan pengasuhan sementara dengan syarat kunjungan mingguan, pemeriksaan kesehatan lanjutan, larangan memindahkan domisili tanpa laporan, dan evaluasi berkala. Status Pak Leman belum terputus. Adopsi permanen belum boleh diajukan.
Raka menandatangani setiap lembar setelah membacanya.
Sore itu, mobil layanan sosial berhenti di depan kontrakan. Gadis kecil turun membawa satu tas kain berisi dua stel pakaian, buku gambar, dan jaket biru.
Ia berdiri di ambang pintu, tak berani masuk.
"Sepatunya boleh dipakai di dalam?" tanyanya.
"Boleh kalau kamu mau. Tapi lantainya sudah bersih."
"Kalau aku salah, aku tidur di luar?"
Raka menahan napas. "Tidak. Kalau kamu salah, kita bicara. Tidak ada anak yang tidur di luar karena menumpahkan air atau memecahkan piring."
Anak itu menatap partisi, kasur kecil dengan seprai bergambar awan, dan kotak pensil di atas bantal.
"Itu buat aku?"
"Ya. Tidak mahal, tapi milikmu selama kamu di sini."
Ia masuk satu langkah. Lalu satu langkah lagi.
Pekerja sosial menyelesaikan serah-terima, mengulang jadwal kunjungan, dan mengingatkan bahwa Raka harus segera melapor bila Pak Leman mendekati anak tanpa pendamping. Setelah mobil pergi, gadis kecil berdiri kaku di tengah kamar.
"Saya belum tahu harus memanggilmu apa," kata Raka. "Di berkas sementara hanya ada nama panggilan yang berbeda-beda. Kamu punya nama yang paling kamu suka?"
Anak itu menggeleng. "Bapak panggil aku Hei. Kadang Bocah."
"Itu bukan nama."
Raka mengambil buku gambar dan menulis perlahan: Salsabila.
"Salsabila berarti sesuatu yang baik dan menyegarkan," katanya. "Tapi ini baru nama yang kamu pilih untuk dipakai sehari-hari, bukan perubahan dokumen resmi. Kalau kamu tidak suka, kita cari yang lain bersama petugas."
Gadis itu mengeja dengan susah payah. "Sal-sa-bi-la."
"Bisa dipanggil Sasa."
"Sasa." Untuk pertama kalinya, senyum kecil muncul di wajahnya. "Aku suka."
Ketukan terdengar dari pintu.
Nindya berdiri membawa sekotak pensil warna sederhana dan dua potong bolu dari warung. Matanya melebar ketika melihat anak di belakang Raka.
"Saya mengganggu?"
"Tidak. Ini Sasa. Dia tinggal sementara di sini dalam pengawasan Dinas Sosial."
Nindya tidak langsung menyentuh atau membanjiri anak itu dengan pertanyaan. Ia berjongkok pada jarak aman dan meletakkan kotak pensil di lantai.
"Halo, Sasa. Aku Nindya, tetangga yang kadang salah ambil kartu pembayaran."
Sasa menatap Raka. Setelah mendapat anggukan, ia mengambil kotak itu. "Terima kasih, Tante Nindya."
Nindya tersenyum. "Sama-sama."
Raka menaruh satu lilin kecil di atas bolu. "Sasa tidak tahu tanggal lahirnya. Saya pikir hari dia datang ke tempat aman bisa menjadi ulang tahun pilihannya. Bukan tanggal resmi untuk dokumen. Hari untuk merayakan hidup baru."
"Boleh punya ulang tahun meski tidak lahir hari ini?" tanya Sasa.
"Boleh punya hari yang mengingatkan bahwa kamu selamat," jawab Nindya pelan.
Raka menyalakan lilin. Cahaya kecil itu memantul di mata Sasa.
"Buat permintaan," katanya.
Sasa tidak langsung meniup. Ia menatap Raka lama sekali.
"Kalau aku panggil kamu Ayah, boleh?"
Kamar sempit itu mendadak terasa sunyi.
Raka pernah mendengar Keisha meminta pria lain menjadi papa. Kini seorang anak yang bahkan belum memiliki tanggal lahir meminta satu kata darinya, seolah kata itu adalah rumah.
Ia berlutut agar mata mereka sejajar. "Boleh."
"Ayah tidak pergi?"
"Selama aturan mengizinkan kamu tinggal di sini, Ayah akan menjaga kamu. Kalau aturan belum mengizinkan, Ayah akan tetap datang dan memperjuangkannya dengan cara yang benar."
Sasa memeluk lehernya. Pelukannya ringan, tetapi Raka menahan tubuh kecil itu seolah sedang menerima sesuatu yang jauh lebih berharga daripada seluruh harta yang ia tinggalkan.
Di dekat pintu, Nindya mengusap cepat sudut matanya.
Sasa meniup lilin. Asap tipis naik di antara mereka.
Malam itu Raka memberi seorang anak nama, panggilan, dan hari ulang tahun. Namun di atas meja, salinan keputusan penempatan sementara tetap terbuka pada satu kalimat yang tak bisa diabaikan:
Pengasuhan ini bukan pengangkatan anak, dan dapat ditinjau kembali setiap saat.