Indonesia
NovelToon NovelToon
Ketika Hati Berubah Arah

Ketika Hati Berubah Arah

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:597
Nilai: 5
Nama Author: Fina Indri

Almeera Naela Al Rashid selalu hidup semaunya. Keras kepala dan tidak bisa diatur. Namun, benteng keangkuhannya runtuh saat lelaki yang paling ia percaya berbalik arah dan memilih perempuan lain.

Kehilangan itu menjadi tamparan keras. Almeera sadar, ia sudah terlalu jauh melangkah dan melupakan Rabb-nya.

Memilih jalan hijrah ternyata penuh liku. Di saat Almeera berjuang melepas luka masa lalu dan memperbaiki salatnya, takdir mempertemukannya dengan seorang lelaki yang kehadirannya sama sekali tidak terduga.

Bukan sekadar obat patah hati, lelaki itu perlahan menjadi bagian dari perjalanan spiritualnya. Apakah ini jawaban atas doa-doanya setelah memilih pulang, atau sekadar persinggahan lain dalam takdirnya?

Sebab bagi Almeera, tidak semua kehilangan adalah akhir. Terkadang, patah hati adalah cara Allah mengubah arah langkahnya menuju tempat yang seharusnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fina Indri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah Pilihan Kecil

Pagi itu Almeera kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa.

Setelah sarapan, ia berpamitan kepada Mama lalu berangkat ke kampus.

Sesampainya di kampus, ia langsung menuju kelas. Eliza sudah berada di sana dan sedang membaca sesuatu dari laptopnya.

“Pagi,” sapa Almeera.

Eliza menoleh.

“Pagi. Tumben cepat.” jawab Eliza.

Almeera menarik kursi lalu duduk.

“Aku kan sekarang rajin.” ucap Almeera.

Eliza tertawa.

“Jangan terlalu percaya diri.” ucap Eliza.

Almeera ikut tertawa.

Beberapa menit kemudian kelas dimulai.

Hari itu dosen memberikan pengumuman mengenai sebuah kegiatan kampus yang akan dilaksanakan beberapa minggu lagi. Setiap mahasiswa diberi kesempatan untuk ikut menjadi panitia atau membantu kegiatan tersebut.

Beberapa mahasiswa langsung terlihat tertarik.

Eliza memperhatikan pengumuman itu.

“Kamu mau ikut?” tanya Eliza.

Almeera membaca kembali informasi yang diberikan dosen.

“Belum tahu.” jawab Almeera.

“Kenapa?” tanya Eliza lagi.

“Takut nggak bisa bagi waktu.” ucap Almeera.

Eliza mengangguk.

“Masuk akal.” ucap Eliza

Almeera sebenarnya ingin mencoba.

Namun ia juga tidak ingin mengambil sesuatu hanya karena terbawa suasana seperti dulu.

Ia ingin mempertimbangkan semuanya terlebih dahulu.

Saat jam istirahat, Almeera dan Eliza duduk di taman kampus.

Eliza kembali membuka informasi kegiatan tadi.

“Aku kayaknya mau daftar.” ucap Eliza

Almeera menoleh.

“Serius?” tanya Almeera

“Iya. Kayaknya seru.” jawab Eliza

“Kamu kan paling males kalau ada kegiatan tambahan.” ucap Almeera.

“Ya sekarang mau coba.” jawab Eliza.

Almeera tersenyum.

“Bagus.” ucap Almeera.

"Kamu nggak ikut?” tanya Eliza

Almeera menggeleng.

“Aku pikir pikir dulu.” jawab Almeera.

Eliza menutup ponselnya.

“Kenapa harus dipikirin lama?” tanya Eliza

“Karena gue nggak mau daftar cuma karena lo daftar.” ucap Almeera.

Eliza mengangguk.

“Benar juga.” jawab Eliza.

Almeera tersenyum.

Dulu ia sering melakukan sesuatu karena orang lain.

Kalau teman mengajak pergi, ia ikut. Kalau seseorang meminta sesuatu, ia berusaha memenuhi. Kalau orang yang ia sayangi ingin sesuatu, ia sering mengesampingkan dirinya sendiri.

Sekarang ia mulai belajar membedakan mana yang benar benar ia inginkan dan mana yang hanya ia lakukan karena tidak enak menolak.

Tidak lama kemudian Rafael dan Daffa lewat di dekat taman. Daffa melihat mereka.

“Eh, kalian.” sapa Daffa.

Eliza melambaikan tangan.

“Sini Ka.” jawab Eliza

Daffa dan Rafael menghampiri.

“Lagi bahas kegiatan kampus?” tanya Daffa.

“Iya,” jawab Eliza.

Daffa duduk.

“Aku mau ikut juga.” ucap Daffa.

Rafael tersenyum.

“Daffa dari tadi memang sudah bilang mau daftar.” jawab Rafael.

Daffa mengangguk.

“Lumayan buat pengalaman.” ucap Daffa.

Eliza mengangguk.

“Aku juga mau ikut.” ucap Eliza.

Daffa kemudian menatap Almeera.

“Kalo Meera, ikut atau ga?” tanya Daffa

Almeera menggeleng.

“Belum tahu.” jawab Almeera.

“Kenapa?” tanya Rafael

“Masih mau lihat jadwalnya dulu.” jawab Almeera.

Rafael mengangguk.

“Bagus kalau dipertimbangkan dulu. Jangan sampai kegiatannya bentrok sama kuliah.” ucap Rafael.

Almeera mengangguk.

“Itu yang aku pikirin.” ucap Almeera.

Daffa tertawa.

“Kalau aku mah daftar dulu. Masalah jadwal belakangan.” ucap Daffa.

Eliza langsung menatapnya.

“Nah itu yang jangan ditiru.” jawab Eliza.

Daffa tertawa.

“Bercanda.” ucap Daffa.

Mereka kembali berbicara mengenai kegiatan kampus. Almeera lebih banyak mendengarkan. Sesekali ia bertanya mengenai jadwal dan tugas yang harus dilakukan.

Tidak lama kemudian bel masuk berbunyi. Mereka kembali ke kelas.

Sore hari, setelah kuliah selesai, Almeera belum langsung pulang.

Ia duduk sebentar di perpustakaan untuk memeriksa jadwal kuliahnya.

Ia membuka kalender di laptop.

Ada beberapa tugas.

Ada beberapa kegiatan akademik.

Namun ternyata masih ada waktu kosong yang bisa digunakan. Almeera kembali membuka informasi kegiatan kampus tadi.

Ia membaca persyaratan dan pembagian tugas panitia. Semakin lama membaca, semakin ia tertarik.

Bukan karena Eliza ikut.

Bukan karena Daffa ikut.

Bukan karena Rafael ada di sana.

Ia tertarik karena memang ingin mencoba sesuatu yang baru.

Almeera tersenyum kecil.

“Mungkin aku coba.” gumam Almeera.

Ia mengisi formulir pendaftaran. Sebelum menekan tombol kirim, ia membaca kembali semuanya.

Nama.

Jadwal.

Bagian yang dipilih.

Semua sudah sesuai.

Akhirnya ia menekan tombol kirim.

Pendaftaran berhasil.

Almeera menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ada perasaan sedikit gugup.

Namun lebih banyak rasa senang. Ia baru saja mengambil sebuah keputusan sendiri. Keputusan kecil. Tapi berarti.

Ketika keluar dari perpustakaan, Almeera bertemu Eliza.

“Kamu belum pulang?” tanya Eliza.

“Belum.” jawav Almeera.

“Ngapain?” tanya Eliza lagi.

“Daftar kegiatan kampus.” ucap Almeera.

Eliza langsung tersenyum lebar.

“Serius?” tanya Eliza untuk memastikan kembali.

Almeera mengangguk.

“Iya.” ucap Almeera singkat.

“Bagian apa?” tanya Eliza

“Belum tahu. Katanya nanti dibagi lagi.” ucap Almeera.

Eliza tertawa.

“Nah akhirnya.” ucap Eliza.

Almeera ikut tersenyum.

“Aku cuma mau coba.” jawab Almeera.

“Bagus.” ucap Eliza.

Mereka berjalan menuju pintu keluar kampus. Di depan gedung, Daffa dan Rafael terlihat sedang berbicara. Daffa melihat mereka.

“Meera, jadi daftar?” tanya Daffa.

Almeera mengangguk.

“Jadi.” jawab Almeera.

“Bagus.” ucap Daffa.

Rafael ikut tersenyum.

“Semoga kegiatannya lancar.” ucap Rafael.

“Amin. Makasih.” jawab Almeera.

Setelah itu mereka berpisah menuju arah masing masing.

Tidak ada percakapan panjang.

Tidak ada kejadian istimewa.

Namun hari itu Almeera pulang dengan perasaan berbeda. Ia merasa baru saja membuktikan sesuatu kepada dirinya sendiri. Bahwa ia bisa mengambil keputusan tanpa bergantung kepada orang lain.

Malam harinya, Almeera kembali membuka buku catatan. Ia menulis

"Hari ini aku mengambil sebuah keputusan kecil."

Ia berhenti sebentar. Kemudian melanjutkan.

"Aku memilih sesuatu karena aku memang ingin mencobanya. Bukan karena seseorang menyuruhku. Bukan karena takut mengecewakan orang lain."

Almeera tersenyum.

Dulu ia sering takut dengan keputusan sendiri. Ia takut ditinggalkan. Takut mengecewakan. Takut dianggap tidak peduli.

Namun semakin ia belajar mengenal dirinya sendiri, semakin ia mengerti bahwa mengatakan iya kepada semua orang bukan berarti dirinya menjadi orang baik.

Begitu pula mengatakan tidak bukan berarti dirinya menjadi jahat. Ada batas yang harus dijaga. Ada pilihan yang harus dipikirkan. Dan ada keputusan yang harus berani diambil sendiri.

Almeera menutup bukunya. Ia kemudian bersiap untuk menjalankan ibadah malamnya. Setelah selesai, ia kembali berdoa.

“Ya Allah, kalau langkah ini baik untukku, mudahkan. Kalau tidak baik, jauhkan.” ucap Almeera.

Ia terdiam sebentar. Doa itu terasa sederhana.

Namun sekarang Almeera tidak lagi meminta semua hal berjalan sesuai keinginannya. Ia hanya ingin Allah membimbingnya dalam setiap pilihan.

Karena ia mulai memahami bahwa hidup bukan tentang memastikan semua keputusan yang ia ambil selalu benar.

Tetapi tentang berusaha memilih dengan baik dan bersedia menerima apa pun hasilnya.

Malam semakin larut. Almeera menutup tirai jendela lalu berbaring.

Besok mungkin akan ada kesibukan baru.

Mungkin ada hal yang membuatnya lelah.

Mungkin juga ada hal yang membuatnya senang.

Ia tidak tahu.

Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa harus tahu semuanya.

Cukup menjalani satu hari.

Kemudian satu hari berikutnya.

Pelan pelan.

Dengan hati yang terus belajar.

Dengan langkah yang mulai memiliki arah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!