Seorang Ceo yang merahasiakan pernikahannya dengan wanita yang di cintainya. Semua itu di lakukan karena keinginan sang istri. Sang istri ingin membuktikan diri ke keluarganya jika ia mampu berdiri sendiri. Bukan tanpa alasan, semua itu terjadi karena selama ini. Sang istri selalu mendapatkan perlakuan tidak adil dari keluarganya sendiri.Sang istri juga tahu jika pernikahan mereka berdua tidak akan di restui oleh keluarga suaminya karena latar belakangnya sangat berbeda jauh. Bagaimana kisah cinta mereka jika tahta dan sosial menjadi penghalang utama hubungan mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Armelia Melmel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.23 Hadiah yang membuat penasaran
"Apa sekarang kamu mulai merasa hebat?"
Lily yang sedang mencuci tangan menoleh ke belakang.
Ana sedang berjalan ke arahnya. Tatapan sepupunya itu terlihat tidak senang.
Lily hanya tersenyum kecil dan kembali mencuci tangannya.
"Apa kamu memohon atau kamu menjual diri agar kamu bisa mendapatkan perjalanan bisnis ini?"
Pertanyaan Ana membuat Lily menghela nafas berat.
"Aku tidak seperti dirimu. Apa kamu lupa? Tuan Hartono mengatakan jika aku terpilih karena proposal itu. Apa kamu lupa?"
Lily menatap sepupunya.
Tangan Ana mengepal kuat. Wajahnya memerah karena menahan amarahnya.
"Kamu.."
"Aku tidak akan membiarkan mu melakukan hal yang sama lagi saat kita kuliah dulu."
Tangan Ana terangkat hendak memukul Lily.
"Jangan mencoba melakukannya. Aku tidak akan membiarkan mu Ana."Ujar Lily menatap tajam ke arah sepupunya itu.
Ana menurunkan tangannya perlahan-lahan. Tatapan Lily membuat nyalinya ciut. Selama ini Lily hanya menunduk di hadapannya.
Tapi sekarang, sepupunya itu mulai menatap dirinya. Lily sudah mulai tidak takut lagi.
Lily berjalan pergi meninggalkan Ana seorang diri di dalam toilet.
Sementara Lily melenggang pergi dengan tenang.
"Sabarlah Lily. Semuanya akan baik-baik saja. Kamu harus menghadapi mereka semua."Batin Lily.
Dia kembali ke meja kerjanya.
"Kamu sudah kembali? Aku sudah membelikan mu kopi. Sepertinya malam ini kita akan lembur. Besok pagi, persiapkan dirimu. Kita akan berangkat bersama."
Grace tersenyum bahagia.
Lily membalas senyuman sahabatnya.
"Lakukan yang terbaik untuk besok."
"Siap bos."
Lily duduk di meja kerjanya.
Di sisi lain, Eldrick duduk di meja kerjanya. Pria itu sedang fokus menatap layar komputer miliknya.
"Besok pagi kita akan berangkat bersama dengan nyonya tuan."
"Persiapkan semuanya dengan baik Will."
Eldrick tetap menatap layar komputer miliknya tanpa menoleh kepada Wil.
"Bagaimana dengan yang aku minta?"
"Sepertinya sebentar lagi akan tiba tuan."
"Aku mengerti."
Will berjalan keluar dari ruangan atasannya dan kembali ke meja kerjanya.
Sementara itu, seorang kurir baru saja berhenti di depan perusahaan. Pria itu membawa buket bunga yang cukup besar dan juga kado di tangannya.
Kedatangannya menjadi pusat perhatian. Para karyawan penasaran dengan siapa yang akan di berikan buket tersebut.
"Atas nama Lily?"
Seluruh karyawan menoleh kepada kepada kurir yang sedang berdiri di hadapan mereka semua.
Ana yang berada tidak jauh dari kurir seketika menoleh kepada Lily. Wajahnya terlihat begitu kesal.
"Siapa yang bernama Lily? Suami anda mengirimkan buket ini khusus untuk anda dan juga kado."
"Ini dia pak?"Grace menunjuk ke arah Lily.
Amber dan Jane berdiri.
"Apa anda tidak salah? Namanya Lily?"Jane bertanya karena tidak percaya.
Sang kurir mengangguk.
"Iya nona."
Lily maju.
Dia mengambil buket dan kado di tangan kurir tersebut.
"Terimah kasih pak."Ujar Lily tersenyum kecil.
Dia menatap buket dan kado di tangannya.
"Kenapa dia melakukan hal seperti ini?"Batin Lily meletakkannya di atas meja.
Grace mendekat sambil tersenyum kecil.
"Suami mu sangat perhatian Lily."Puji Grace.
"Entahlah. Biasanya dia tidak melakukan hal seperti ini."
"Apa mungkin ada sesuatu yang kamu lakukan membuatnya terharu?"
Lily terdiam sejenak dan teringat soal semalam.
"Jangan terlalu sombong. Mungkin saja hanya kado biasa."
Sindir Amber.
Dia mendekat dan meraih kado Lily. Grace hendak menghentikannya tapi Lily menggelengkan kepalanya. Dia membiarkan Amber membukanya.
Begitu Amber membukanya. Wanita itu menutup mulut.
Jane mendekat.
"Ada apa?"
"Jam tangan Rolex." Pekik Jane.
Semua karyawan mendekat. Begitu juga dengan Ana.
"Apa ini palsu?"Gumam Amber.
Ana meraihnya dan melihatnya dengan seksama. Sebagai wanita yang tahu barang-barang mahal. Jam itu jelas asli.
Ana meletakkannya kembali.
"Ada apa Ana? Apa ini palsu?"
Grace mengambilnya.
"Tentu saja ini asli."
Grace meletakkannya kembali ke dalam kotak. Dia tahu bahwa, atasan mereka adalah suami Lily. Tentu saja jam tangan itu adalah asli.
"Kembali ke meja kalian."Ujar Ana.
Semua orang menurut dengan patuh. Meski rasa penasaran masih menguasai kepala mereka.
Dada Ana bergemuruh hebat.
Rasa penasaran semakin membuat wanita itu kesal. Dia tidak tahu pasti, siapa sosok laki-laki yang telah menjadi suami sepupunya itu.
Selama ini, dia hanya mengarang jika suami Lily adalah seorang sopir. Semua orang percaya dengan mudah hal itu.
Ana kembali melirik Lily.
"Jika suami mu seorang sopir. Dia tidak mungkin mampu membeli hadiah semahal itu.Siapa sebenarnya laki-laki yang sudah menikahi mu Lily?"Batin Ana.
Tangannya meremas berkas di hadapannya tanpa sadar. Dia berusaha mencari tahu. Tapi dia tidak menemukan jawabannya.
Ana menghembuskan nafas kasar.
Berbeda dengan Lily. Wanita itu tersenyum bahagia.
Beberapa menit kemudian. Lily menghentikan lamunannya.
Dia kembali melanjutkan pekerjaannya.
Tepat jam makan siang. Semua karyawan mengantri untuk makan siang. Begitu juga dengan Lily dan Grace.
"Lily, Grace makanan kalian."Ujar ibu kantin dengan ramah.
Lily dan Grace meraih makanan mereka.
"Terimah kasih bibi."
Lily dan Grace berbalik.
Brak..
"Auu.."Pekik Ana.
Semua orang yang ada di dalam kantin mendekat.
Amber dan Jane terlihat begitu panik.
"Apa kamu baik-baik saja?"
Amber dan Jane bertanya dengan panik.
Lily mendekat.
"Maaf Ana. Kami sama sekali tidak sengaja. Kami tidak menyangka jika kamu akan berdiri tepat di belakang kami. Semua orang mengantri dengan rapi."
"Aku hanya ingin mengambil sesuatu. Tapi kalian tiba-tiba menyiram kuah sup itu di tangan ku."Ujar Ana.
Ana sengaja mengatakan hal. Semua itu dia lakukan agar orang-orang berpikir Lily sengaja melakukan hal itu.
"Dia pasti iri Ana. Secara kamu ini adalah tunangan bos kita."Timpal Amber sengaja mengompori mereka semua.
"Amber benar."
"Lily, kamu harus bertanggung jawab dan meminta maaf."Ujar salah satu karyawan lain.
"Apa yang mereka katakan tidak seperti yang kalian kira. Ana tiba-tiba berdiri di hadapan kami."Bela Amber.
"Aku tidak mempermasalahkannya Lily. Hanya saja jika kamu melakukan ini karena mau pamer. Aku sama sekali tidak setuju dengan hal itu."Ujar Ana.
Semua karyawan yang ada di kantin itu mulai menatap Lily. Tatapan mereka terlihat tidak senang.
"Maaf Ana. Tapi aku sama sekali bukan orang seperti itu." Ujar Lily dengan tenang.
Lily tahu jika sepupunya itu pasti sengaja melakukannya. Dia melakukannya untuk membuat orang-orang membencinya.
Sementara itu, kabar itu sudah sampai di telinga Eldrick.
Pria itu menggebrak meja karena kesal.
"Aku yakin, wanita itu dengan sengaja melakukannya."
"Kita lihat saja tuan. Bagaimana nyonya menghadapi mereka. Karena akan tidak lucu jika tuan turun tangan."Ujar Will.
Eldrick menghembuskan nafas kasar.
"Aku tidak ingin melihat orang-orang merendahkannya seperti itu Will."Tatapan Eldrick begitu sendu.