Ribuan tahun sebelum dunia belum mengenal sekte atau Aliran Putih. Era ini adalah Zaman Kekacauan Primordial, di mana dunia dikuasai oleh ras "Keturunan Dewa" tiran yang memperbudak manusia biasa.
Ye Cangtian, seorang budak rendahan yang terlahir dengan meridian cacat bawaan, secara tidak sengaja menemukan inti meteorit purba di tambang kematian. Alih-alih tunduk pada nasib, ia mematahkan aturan langit. Ia menciptakan sistem kultivasi dari nol untuk umat manusia, memimpin pemberontakan terbesar dalam sejarah, dan berperang untuk menyatukan benua.
Namun, perjalanannya tidak berujung pada kebahagiaan abadi. Ia harus menghadapi pengkhianatan sahabatnya sendiri yang kelak melahirkan kutukan "Bayangan Gerhana", serta menciptakan sebuah makam rahasia dan pusaka "Mahkota Kehampaan" sebagai jaminan bagi generasi ribuan tahun di masa depan. Ini adalah kisah tentang bagaimana manusia pertama menjadi Dewa, dan dewa itu mati demi manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 : Deklarasi Perang Benua
Matahari pagi menyinari Kota Fajar, mengusir sisa hawa dingin dari malam yang mematikan.
Di alun-alun utama Akademi Fajar, lima ribu prajurit Pasukan Pembelah Langit berdiri dalam formasi sempurna.
Zirah baja hitam mereka memantulkan cahaya mentari, menciptakan lautan logam yang bergemuruh pelan setiap kali mereka bernapas serempak.
Ye Cangtian berdiri di balkon utama akademi, menatap lautan prajuritnya. Di tangan kirinya, setengah bagian topeng putih milik Jenderal Lian—satu-satunya benda yang tersisa dari sang dewa Bayangan.
Ia mengangkat topeng itu tinggi-tinggi.
"Semalam," suaranya bergema ke setiap sudut lembah tanpa perlu berteriak, "seorang dewa yang mengaku penguasa bayangan mencoba merangkak masuk ke rumah kita."
Ia meremas topeng itu hingga hancur jadi debu putih, membiarkannya tertiup angin pagi.
"Dan semalam, bayangan itu kita bakar hingga tak tersisa."
Sorakan menggelegar meledak dari lima ribu prajurit. Para prajurit memukulkan pedang dan tombak ke perisai, merayakan kematian Jenderal Bintang di tangan kaisar mereka.
Cangtian membiarkan mereka bersorak beberapa detik, sebelum mengangkat tangan kanannya. Keheningan mutlak langsung menyelimuti alun-alun dalam sekejap.
"Tapi ini bukan waktunya berpesta." Raut wajahnya menegang serius. "Tiga Jenderal Bintang sudah mati—Penguasa Surga Tiran tidak akan lagi melihat kita sebagai bintang peliharaan yang memberontak. Dia akan melihat kita sebagai ancaman nyata."
"Dan klan dewa merespons ancaman dengan pemusnahan total. Mulai hari ini, ilusi bahwa kita aman di balik tebing batu Lembah Fajar ini sudah berakhir. Kalau kita hanya duduk diam menunggu di sini, Di Tian akan mengirim sepuluh Jenderal Bintang sekaligus untuk menghancurkan lembah ini menjadi kuburan massal kita."
Dari belakang Cangtian, Xing Yun melangkah maju, membentangkan peta kulit binatang raksasa ke bawah balkon agar terlihat seluruh komandan prajurit di alun-alun.
Peta itu menunjukkan seluruh benua purba, dengan tiga lingkaran merah raksasa digambar tebal memakai darah.
"Laporan intelijen dari Divisi Bayangan." Suara Xing Yun dingin dan efisien. "Surga Tiran menghentikan serangan acak mereka. Saat ini, armada dan pasukan darat klan dewa berpusat membangun tiga basis militer yang bertujuan menyerang Kota Fajar dari tiga arah."
Ia menunjuk ke barat peta. "Basis Barat. Lembah Besi. Mereka memperbudak manusia untuk menambang Kristal Jiwa, bahan bakar utama armada udara mereka."
Tangannya berpindah ke timur. "Basis Timur. Jalur Sungai Perak. Urat nadi logistik mereka, tempat ribuan ton pasokan senjata dan makanan diturunkan dari kapal angkut lapis kedua."
Terakhir, ia menunjuk utara, wilayah dataran tinggi yang luas. "Basis Utara. Titik Kumpul Utama. Di sinilah sisa Pasukan Pemusnah Utama dan armada elit Surga Tiran berkumpul. Kalau ketiga basis ini selesai dibangun, mereka akan meluncurkan serangan serentak yang tidak bisa kita tahan."
Cangtian mengambil alih. Matanya memancarkan cahaya keemasan yang membakar semangat siapa pun yang menatapnya.
"Kita tidak akan menunggu kehancuran datang ke rumah kita." Suaranya menggetarkan udara. "Kita akan membawanya ke depan pintu mereka."
Ia menatap Long Zhan yang berdiri tegap di barisan terdepan Divisi Kedua.
"Long Zhan!"
"Hadir, Kaisar!" Long Zhan menghantamkan tinjunya ke dada.
"Aku mempromosikanmu jadi Jenderal Pelopor. Bawa seluruh Divisi Kedua. Targetmu Basis Barat. Hancurkan tambang mereka, runtuhkan menara jaga mereka." Cangtian memberi penekanan pada kalimat berikutnya. "Dan Long Zhan, bawa pulang rakyat kita yang diperbudak di sana. Hidup-hidup."
Long Zhan menyeringai buas, taringnya berkilat. "Akan kurobek jantung dewa-dewa penambang itu dengan tanganku sendiri."
Cangtian beralih ke Xing Yun di sebelahnya.
"Xing Yun. Divisi Bayangan kini beroperasi di bawah komandomu langsung. Bawa lima ratus mata-mata dan pembunuh elitmu. Targetmu Basis Timur."
Ia mendekatkan wajah sedikit, menatap langsung ke kedalaman mata Xing Yun. "Kuizinkan kau memakai taktik licik, kejam, dan racun jenis apa pun yang kau miliki, hanya pada prajurit dewa. Kalau sehelai rambut budak manusia jatuh karena racunmu, kau akan berurusan dengan pedangku. Mengerti?"
Xing Yun membungkuk hormat. "Kesalahan di Danau Cermin tidak akan terulang, Kaisar. Jalur logistik mereka akan hancur tanpa menyentuh satu pun nyawa rakyat kita."
Terakhir, Cangtian menarik Pedang Pemutus Surga dari sarungnya. Pedang legam itu kini memancarkan cahaya kemerahan.
"Aku sendiri akan memimpin Divisi Pertama. Kita berbaris lurus ke Basis Utara, hancurkan titik kumpul utama mereka sebelum mereka sempat menyatukan kekuatan tempur."
Ia menoleh ke belakang. Su Ling'er berdiri dengan jubah tabib putihnya. Di tangannya, melayang kristal merah raksasa sebesar batu yang berdenyut seperti jantung, Inti Monster Kadal Api.
"Selama kita pergi, Su Ling'er memegang komando mutlak atas Kota Fajar," umum Cangtian. "Dia dan Divisi Medis sedang membangun formasi pertahanan raksasa berbasis elemen Yang murni memakai inti monster purba ini. Tidak akan ada dewa yang bisa menyentuh kota ini selama kita berperang di luar sana."
Ling'er mengangguk pelan, matanya menyiratkan tekad yang tidak kalah kuat dari para prajurit pria di sana.
"Pasukan Pembelah Langit!" raung Cangtian, mengangkat pedangnya tinggi-tinggi ke langit. "Masa persembunyian kita di balik kabut telah berakhir. Hari ini, kita mendeklarasikan Perang Benua melawan Surga Tiran. Kita tidak akan berhenti berbaris sampai panji pedang kembar kita berkibar di ibu kota mereka!"
"Hidup Kaisar! Hidup Umat Manusia!"
Gemuruh lima ribu prajurit itu menciptakan gempa. Semangat tempur mereka melonjak hingga memecahkan awan pagi di atas kota.
Satu jam kemudian, gerbang batu raksasa Kota Fajar berderit terbuka lebar. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, pasukan manusia berbaris keluar bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai tentara invasi yang terstruktur.
Tiga kolom raksasa berlapis zirah hitam berpisah di persimpangan lembah, bergerak seperti tiga naga besi menuju barat, timur, dan utara.
Perang teritorial yang sesungguhnya kini resmi dimulai.
Sementara itu, ribuan mil di atas lapisan benua purba.
Langit biru mendadak terbelah oleh distorsi ruang yang masif. Enam Gerbang Bencana terbuka serentak, menumpahkan badai petir ungu ke atas benua.
Dari dalam portal-portal raksasa itu, puluhan armada kapal udara lapis emas perlahan turun menembus awan. Kapal-kapal ini sepuluh kali lipat lebih besar dan lebih mematikan dari kapal patroli yang dihancurkan Cangtian sebelumnya.
Di geladak kapal bendera yang terbesar, berdiri lima sosok entitas purba dengan aura yang mampu membengkokkan cahaya di sekitar mereka. Lima Jenderal Bintang baru telah turun dari Surga Tiran.
Mereka menatap benua di bawah mereka dengan pandangan sedingin ruang hampa.
"Tiga saudara kita telah dipermalukan oleh kotoran fana," ucap salah satu Jenderal berzirah es berduri. "Mari kita ubah benua hijau ini jadi padang abu yang sunyi. Tidak ada tawanan. Tidak ada budak. Bunuh semuanya."