Hampa, itulah yang dirasakan Tristan dengan rumah tangganya. Sampai suatu hari, dia kedatangan sekretaris baru yang cantik jelita. Saat itulah tiang kesetiaan Tristan goyah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11 - Berubahnya Sang Istri
Nayla menarik napas terakhir untuk merapikan lipatan jas kecil yang menyatu dengan setelan barunya. Kainnya jatuh sempurna di bahu, memberikan kesan rapi, cerdas, namun tetap memancarkan keanggunan alami yang sulit disembunyikan. Dia menatap pantulan dirinya sekilas di sisi lemari tinggi, lalu berbalik perlahan menghadap sosok yang masih berdiri kaku di dekat jendela itu.
"Selesai, Pak," ucapnya pelan, sedikit ragu karena keheningan yang terasa begitu tebal di ruangan itu.
Perlahan‑lahan Tristan berbalik. Gerakannya terasa berat, seolah ada kekuatan tak terlihat yang menahannya di tempat. Saat pandangan matanya bertemu dengan sosok Nayla yang kini berdiri tegak dan bersinar di hadapannya, napasnya kembali tersendat. Pakaian itu tidak hanya menutupi tubuhnya, malah seolah menonjolkan setiap kelebihan bentuknya yang baru saja dilihatnya secara utuh melalui pantulan kaca tadi. Lehernya yang jenjang, lengkungan bahu yang halus, hingga pinggang yang ramping itu kini terbingkai rapi namun tetap hidup di dalam kain berkualitas tinggi itu.
Tristan menelan ludah dengan susah payah. Ada rasa panas yang menyebar dari ulu hati turun ke perutnya, menjalar tajam ke bagian paling bawah tubuhnya, rasa yang sudah lama tidak terasa begitu kuat dan tiba‑tiba menyerangnya tanpa belas kasihan. Dia berusaha mempertahankan tatapan profesionalnya, namun matanya terasa sulit mengikuti aturan pikirannya sendiri.
"Bagus," ucapnya akhirnya, suaranya terdengar lebih serak dan dalam dari biasanya. "Kita berangkat sekarang!"
Perjalanan menuju restoran tempat pertemuan itu berlangsung berjalan dalam keheningan yang padat. Tristan menyetir dengan konsentrasi yang terbagi dua, mata menatap jalan raya, namun setiap detik bayangan kulit putih halus dan lekuk tubuh Nayla terus berputar di kepalanya seperti film yang tak mau berhenti diputar ulang. Di dalam dadanya perang batin berkecamuk hebat. Dia adalah pemimpin yang dihormati, suami yang terikat janji, namun sensasi panas yang membakar aliran darahnya saat ini membuatnya merasa seperti lelaki lain yang lemah di hadapan pesona wanita.
Restoran itu elegan dan tenang, cocok untuk pembicaraan tingkat tinggi. Selama pertemuan berlangsung berjam‑jam, secara luar mereka tampak pasangan kerja yang sempurna. Nayla cekatan mencatat, menjawab pertanyaan ringan dengan cerdas dan senyum yang sopan. Di hadapan para investor asing, dia menjadi perwakilan yang menaikkan nama baik perusahaan.
Namun di balik meja mewah itu, Tristan merasakan siksaan nyata. Setiap kali lengan atau lutut mereka tanpa sengaja bersentuhan di bawah meja, atau setiap kali dia mencium samar wangi tubuh Nayla yang bercampur dengan aroma sabun lembut, panas di dalam tubuhnya semakin meluap. Dia menyadari betul bahwa hasratnya telah bangkit sepenuhnya, tubuhnya bereaksi secara jantan dan tegas, mengingatkannya betapa lama dia dikurangi haknya sebagai lelaki, dan betapa segarnya sumber gairah ini muncul di hadapannya sekarang. Dia harus duduk dengan posisi sangat hati‑hati, sering kali menyilangkan tangan di depan perut atau menaruh berkas di pangkuannya sekadar untuk menutupi kenyataan pahit yang sedang berkecamuk di balik pakaian kerjanya yang rapi itu.
Segera setelah pembicaraan selesai dan salam perpisahan terucap, Tristan tidak memberi ruang untuk percakapan lebih lanjut. Dia merasakan kendali dirinya makin menipis, jika berlama‑lama berdiri di dekat gadis itu dalam keadaan tergoda begini, dia takut akan meledak atau melakukan tindakan bodoh yang merusak segalanya.
"Pertemuan sudah selesai," ucapnya singkat namun tegas saat mereka berdiri di depan pintu keluar restoran. "Kamu boleh langsung pulang, Nayla. Tidak perlu kembali ke kantor malam ini."
Nayla sedikit terkejut namun hanya mengangguk sopan. "Terima kasih, Pak. Hati‑hati di jalan."
Saat sosok itu menghilang di keramaian menuju kendaraannya, Tristan menghela napas panjang yang terasa seperti mengangkat beban berat namun menyisakan kekosongan yang mengganggu. Dia tahu dirinya harus pergi ke satu tempat yang aman dan satu‑satunya tempat yang berhak menenangkan badai ini, rumahnya, dan istrinya, Olivia.
Di sepanjang jalan pulang, tekadnya mengeras. Ini sekadar gejolak sesaat karena penahanan yang terlalu lama. Begitu sampai di rumah, dia akan memeluk Olivia, mengungkapkan cintanya, dan melampiaskan segala rindu serta panas ini di dalam ikatan suci pernikahan mereka. Dia ingin membuktikan bahwa hatinya dan tubuhnya tetap milik istri sahnya, tidak peduli bayangan siapa pun yang sempat melintas sesaat.
Namun kedatangan di rumah tidak membawa sambutan yang dia harapkan. Rumah besar itu terasa sunyi dan suram meski lampu‑lampu terang menyala di lorong. Dia melangkah masuk melewati ruang tamu yang kosong, menuju kamar anaknya. Di sana, di bawah selimut lembut, terbaring Denis, anak mereka satu‑satunya yang sudah terlelap pulas, napasnya teratur dan wajahnya damai dalam tidur. Tristan mencium kening anak itu sekilas dengan rasa kasih yang mendalam, lalu kembali berdiri di tengah kesepian rumah itu.
"Olivia?" panggil Tristan pelan, namun tidak ada jawaban.
Dia meraih ponsel dan menekan nomor istrinya berulang kali, hanya suara nada sambung yang panjang dan dingin, hingga akhirnya beralih ke pesan suara. Dia mencoba menghubungi sekali lagi, namun hasilnya tetap sama, tidak diangkat, tidak ada kabar.
Langkah kaki Tristan terasa berat saat berjalan menuju kamar tidur utama mereka. Ruangan itu luas, bersih, namun terasa kosong sampai ke tulang. Tidak ada jejak kehadiran wanita yang menjadi pelabuhannya selama ini.
Tristan berjalan mendekati jendela terbuka, menatap kegelapan malam di luar sana, namun pikirannya masih tertahan di dalam dinding kulitnya sendiri. Rasa yang tadi sempat ditekan saat di jalan justru kembali bangkit dengan kekuatan yang lebih ganas dan menyakitkan. Dia jujur pada dirinya sendiri di keheningan itu, kenyataan pahit yang sudah berlangsung bertahun‑tahun kini terasa semakin tajam.
Selama sekian lama menikah, Olivia perlahan namun pasti menutup pintu itu baginya. Pelukan hangat menjadi jarang, keintiman fisik dianggap sebagai beban atau gangguan. Malam‑malam yang seharusnya menjadi tempat meluruhkan lelah justru menjadi ruang penantian yang sunyi. Dia tidak pernah berkhianat, selalu sabar mencoba mencari alasan atau kesempatan, namun faktanya tetap sama, istrinya tidak pernah lagi memberinya "jatah ranjang", membiarkan api dalam dirinya menumpuk dan menjadi bara yang kini membakar tanpa jalan keluar.
Tristan meremas pinggiran meja rias dengan kuat hingga buku jarinya memutih. Bayangan lekuk tubuh Nayla yang murni dan indah tadi kembali menyeruak ke dalam benaknya, bukan karena dia menginginkannya, tapi karena itulah satu‑satunya gambar hidup dan menyala yang didapatkan hari ini di.
Tristan ingin melupakan, ingin menghapusnya demi kesetiaan yang dia jaga mati‑mati, tapi hasrat itu sudah menanam akar yang dalam hari ini. Tubuhnya masih tegang, penuh tuntutan yang tak terjawab, sementara di sampingnya tempat tidur itu masih kosong dan dingin seolah selamanya begitu. Tristan jatuh terduduk di tepi kasur yang luas itu, menutup wajahnya dengan kedua tangan, berjuang keras menahan gelombang keinginan yang memberontak.
"Olivia... Apa salahku?..." lirih Tristan. Dia tak tahu kenapa istrinya bisa berubah seperti sekarang. Dan sungguh, karena perubahan itu, dirinya merasakan kesepian mendalam.