Keluarga Adrian dikenal sebagai salah satu keluarga paling terpandang dan kaya.
Di mata publik, mereka adalah keluarga sempurna.
Kaya.
Terhormat.
Bahagia.
Namun di balik rumah besar itu, tersimpan banyak rahasia.
Persaingan bisnis, pengkhianatan, iri hati, dan orang-orang yang ingin menghancurkan keluarga Adrian mulai bermunculan.
Semuanya berubah ketika lahir seorang gadis kecil bernama Adeline Adrian Wijaya.
Sejak kecil, Adeline memiliki kemampuan aneh:
dia dapat mendengar suara hati manusia.
Dia bisa mendengar kebohongan yang tidak pernah terucapkan.
Dia bisa mengetahui seseorang yang tersenyum tetapi sebenarnya membenci.
Dia bisa mendengar rasa sakit yang disembunyikan seseorang.
Awalnya keluarga menganggap itu hanya imajinasi anak kecil.
Namun perlahan, kemampuan Adeline menyelamatkan keluarganya.
Ketika seseorang berpura-pura baik.
Ketika ada anggota keluarga yang diam-diam berkhianat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Kemenangan di ruang rapat seharusnya membuat hati Adeline lega. Victor telah dipermalukan di depan semua orang dan posisi ayahnya aman. Namun beberapa hari kemudian, suasana di rumah besar Wijaya kembali berubah. Seorang kerabat jauh yang jarang berkunjung, Bibi Nina, datang dengan membawa gosip dan keraguan.
Bibi Nina adalah adik dari ibu William, seorang wanita tua yang selalu merasa lebih tahu dari orang lain. Dia duduk di ruang tamu dengan secangkir teh di tangannya, matanya menatap Adeline dengan tatapan aneh.
"Kudengar keluarga ini sedang dilanda banyak masalah," kata Bibi Nina dengan suara mendesis. "Dan kudengar semua itu karena anak kecil ini yang suka bicara tentang hal-hal gaib. Aku tidak percaya pada semua omongan aneh itu. Anak kecil hanya berimajinasi."
Elena yang mendengar perkataan itu, langsung membela putrinya. "Bibi, Adeline memiliki kemampuan istimewa. Dia sudah membuktikannya berkali-kali."
Bibi Nina tertawa kecil. "Ah, Elena, kamu terlalu percaya pada anakmu. Semua anak kecil suka bercerita. Mereka belum bisa membedakan antara dunia nyata dan imajinasi. Jangan biarkan dia terus menerus bicara tentang suara-suara aneh. Dia akan tumbuh menjadi anak yang aneh."
Adeline yang duduk di sudut ruangan, merasa dadanya sesak. Bibi Nina tidak percaya padanya. Dan bukan hanya Bibi Nina. Beberapa anggota keluarga lain yang hadir juga mulai mengangguk-angguk setuju, seolah-olah Bibi Nina benar.
"Memangnya benar, Bu? Adeline hanya bercerita?" tanya salah satu kerabat lainnya.
"Anak itu pasti cari perhatian," tambah yang lain. "Mungkin dia iri karena perhatian semua orang terbagi."
Adeline merasakan air mata menggenang di matanya. Dia sudah berusaha sekuat tenaga membantu keluarganya. Dia sudah menyelamatkan mereka berkali-kali. Tetapi orang-orang masih menganggapnya sebagai anak kecil yang suka berimajinasi. Kata-kata mereka menyakitkan, lebih menyakitkan dari suara-suara jahat yang sering dia dengar di kepalanya.
"Aku tidak bohong," bisik Adeline pelan, tetapi suaranya tenggelam dalam percakapan orang dewasa.
Tidak ada yang mendengarnya. Tidak ada yang memperhatikannya. Semua orang sibuk mendengarkan Bibi Nina yang terus berbicara tentang betapa berbahayanya membiarkan anak-anak berbicara tentang hal-hal yang tidak mereka mengerti.
Adeline bangkit dari kursinya dan berlari ke kamarnya. Dia menutup pintu dengan pelan lalu duduk di lantai sambil memeluk boneka beruangnya. Air mata yang selama ini dia tahan akhirnya jatuh. Dia menangis dalam diam, tidak ingin siapapun mendengar isaknya.
"Kenapa mereka tidak percaya padaku?" bisik Adeline pada boneka beruangnya. "Aku sudah berusaha keras. Aku sudah menyelamatkan mereka. Tapi mereka tetap menganggapku anak kecil yang hanya berimajinasi."
Dia menutup telinganya dengan kedua tangan, mencoba menghalangi semua suara-suara yang memenuhi kepalanya. Tetapi suara hati Bibi Nina masih terdengar jelas, penuh dengan keraguan dan ejekan. Suara hati kerabat-kerabat lain juga ikut berbicara, memperkuat keraguan yang sudah ada.
Pintu kamar terbuka perlahan. Nathan masuk dengan langkah pelan dan duduk di samping adiknya. Dia tidak mengatakan apapun, hanya memeluk Adeline erat-erat.
"Kakak tahu," kata Nathan akhirnya. "Kakak mendengar apa yang Bibi Nina katakan. Kakak tahu itu menyakitkan."
Adeline terisak di pelukan kakaknya. "Kenapa mereka tidak percaya padaku, Kak? Aku sudah menunjukkan semua bukti. Aku sudah membuktikan bahwa aku bisa mendengar suara hati. Tapi mereka tetap menganggapku aneh."
Nathan mengusap rambut adiknya dengan lembut. "Karena mereka takut, Ade. Orang dewasa tidak suka hal-hal yang tidak bisa mereka mengerti. Mereka lebih memilih percaya pada kebohongan yang nyaman daripada kebenaran yang menakutkan."
"Tapi aku tidak menakutkan," kata Adeline dengan suara bergetar. "Aku hanya ingin membantu."
Nathan menatap mata adiknya dengan penuh ketulusan. "Aku tahu, Ade. Aku tahu kamu tidak menakutkan. Kamu adalah gadis kecil paling berani yang pernah aku kenal. Dan aku percaya padamu."
Adeline menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca. "Kamu benar-benar percaya padaku, Kak?"
Nathan mengangguk dengan mantap. "Aku selalu percaya padamu. Sejak hari itu di ruang tamu, ketika aku melihat bagaimana kamu berusaha melindungi keluarga kita. Aku tahu kamu tidak berbohong. Aku tahu kemampuanmu nyata. Dan tidak ada yang bisa membuatku berubah pikiran."
Adeline memeluk kakaknya erat. Untuk pertama kalinya hari itu, dia merasa tidak sendirian. Ada seseorang yang percaya padanya, seseorang yang tidak meragukan kemampuannya meskipun semua orang berkata sebaliknya.
"Tapi bagaimana dengan yang lain, Kak?" tanya Adeline pelan. "Bagaimana jika mereka terus tidak percaya?"
Nathan tersenyum tipis. "Mereka akan percaya pada waktunya. Tapi selama mereka belum percaya, kita berdua akan tetap berdiri bersama. Kakak akan selalu berada di sisimu, apapun yang terjadi."
Adeline tersenyum. Senyum itu kecil, tetapi nyata. Dia tidak lagi merasa sendirian. Dia memiliki kakaknya yang selalu percaya padanya.
Malam itu, ketika semua orang sudah berkumpul di ruang keluarga, Adeline dan Nathan datang bersama. Mereka berdua duduk berdampingan, tangan Nathan menggenggam erat tangan Adeline.
Bibi Nina yang melihat mereka, tersenyum sinis. "Nah, anak-anak itu sudah kembali. Semoga mereka tidak membawa cerita-cerita aneh lagi."
Nathan menatap Bibi Nina dengan tatapan tajam. "Bibi, aku tidak suka dengan cara Bibi berbicara tentang adikku. Dia tidak berbohong. Kemampuannya nyata dan dia sudah menyelamatkan keluarga ini berkali-kali. Jika Bibi tidak percaya, itu urusan Bibi. Tapi jangan pernah merendahkannya di depanku."
Bibi Nina terkejut mendengar kata-kata Nathan. Dia tidak menyangka bahwa seorang remaja akan berani berbicara seperti itu padanya. "Kamu tidak bisa berbicara seperti itu pada orang yang lebih tua, Nathan!"
"Aku hanya membela adikku," jawab Nathan tegas. "Dan aku tidak akan pernah berhenti melakukannya."
Adrian yang mendengar percakapan itu, berdiri dan berjalan mendekati kedua anaknya. "Nathan benar," katanya dengan suara mantap. "Adeline adalah bagian dari keluarga kita dan dia pantas dihormati. Kemampuannya telah menyelamatkan perusahaan dan keluarga kita. Jika ada yang meragukannya, mereka harus berbicara padaku."
Elena juga ikut berdiri di sisi suaminya. "Kami semua percaya pada Adeline. Dan kami akan selalu melindunginya."
William yang duduk di kursi favoritnya, mengangguk setuju. "Adeline adalah cucu kesayanganku. Dan aku tidak akan membiarkan siapapun merendahkannya."
Bibi Nina terdiam. Dia melihat bagaimana seluruh keluarga bersatu membela Adeline. Tidak ada yang bisa dia katakan lagi. Dia hanya menghela napas dan menggelengkan kepalanya.
Adeline menatap keluarganya dengan mata berkaca-kaca. Ayahnya, ibunya, kakeknya, dan kakaknya semuanya berdiri di sisinya. Mereka percaya padanya. Mereka melindunginya. Dan dia tidak pernah merasa lebih dicintai dari saat ini.
"Aku sayang kalian semua," bisik Adeline pelan.
Nathan memeluk adiknya erat. "Kami juga sayang padamu, Ade. Dan kami akan selalu bersamamu. Apapun yang terjadi."
Malam itu, ketika semua orang sudah tidur, Adeline duduk di dekat jendela kamarnya dan menatap bintang-bintang. Dia tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, dia merasa benar-benar aman. Dia memiliki keluarga yang mencintainya dan percaya padanya. Dan dia memiliki kakaknya, sahabat terbaiknya, yang selalu berdiri di sisinya.
"Terima kasih, Kak," bisiknya pada malam yang sunyi. "Karena selalu percaya padaku."