Indonesia
NovelToon NovelToon
Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Status: sedang berlangsung
Genre:Menyembunyikan Identitas
Popularitas:286
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Dua tahun lamanya Arya jadi suami yang diinjak dan diremehkan. Ketika istrinya, aktris papan atas **Bella**, berpaling ke cinta lamanya, Arya rela pergi tanpa sepeser pun—tapi begitu surat cerai diteken, "si kodok buangan" itu berbalik jadi pewaris rahasia **Grup Adiwangsa**, dan diam-diam adalah **Tuan Besar**, otak di balik sindikat yang paling ditakuti di Surabaya.

Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan **Anindya**—CEO cantik berhati es yang justru jadi orang pertama yang membelanya di depan umum: *"Berani sentuh suamiku sekali lagi, kurobek kau!"*—Arya mulai membalas satu per satu orang yang pernah menginjaknya. Dari tamparan balik di pesta ulang tahun, perang media sosial, duel bisnis melawan konglomerat, sampai sindikat bertopeng **Sindikat Trisula** dan klub rahasia para taipan **Istana Merah**—setiap kali Arya naik satu tingkat, satu misteri lama makin dekat: *siapa yang membunuh ibunya, sang ilmuwan jenius, sepuluh tahun lalu?*

Semakin dalam ia menggali, semakin banyak topeng yang jatuh. Sampai semua petunjuk—sebuah jempol kaki yang hilang, sebuah foto di balik bingkai—menuntun pada satu nama yang paling tak ingin ia percayai... orang yang selama ini memanggilnya "cucu".

Mereka pikir dia cuma kodok. **Mereka salah besar.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11: Undangan ke Graha Swarna

Tak satu pun dari mereka siap ketika versi tentang Arya mulai retak.

Malam berikutnya, sedan hitam berhenti di bawah kanopi Graha Swarna. Udara Prigen yang sejuk telah berganti angin kota yang lembap, tetapi Anindya tetap menggosok ujung jarinya ketika turun.

Gaun hitam tanpa lengan yang dipilihnya terlihat elegan. Masalahnya, ia menolak membawa selendang.

"Dingin?" tanya Arya.

"Tidak."

"Gigi kamu barusan menjawab berbeda."

Anindya menatapnya. "Kalau Anda menawarkan jas, tawarkan saja."

"Saya hanya mengumpulkan bukti bahwa direktur PE bisa salah memilih pakaian."

Arya melepas jas dan menaruhnya di bahu Anindya sebelum perempuan itu sempat menolak. Ia tidak menyentuh kulitnya. Kain hangat itu jatuh pas, membawa aroma samar kayu dan kopi.

"Kembalikan di dalam," katanya.

"Saya tidak minta."

"Tapi kamu memakainya."

Bara yang berdiri di dekat mobil pura-pura memeriksa pesan. Anindya menarik jas itu lebih rapat, lalu berjalan ke pintu tanpa membalas.

Graha Swarna menempati bangunan kolonial yang dipugar menjadi klub privat. Daftar tamu diperiksa melalui tablet, bukan undangan kertas. Ketika petugas melihat nama mereka, sikapnya langsung berubah.

"Selamat datang, Pak Arya. Bu Anindya. Pak Wira menunggu di ruang utama."

Di dalam, produser, pemilik bioskop, aktor senior, dan pemodal duduk dalam kelompok kecil. Tak ada kamera media. Semua orang justru berbicara lebih bebas karena ponsel tamu diberi segel privasi di pintu.

Sutradara Wira melihat mereka dari jauh dan mengangkat gelas.

"Akhirnya pengantin baru datang!"

Beberapa kepala menoleh. Anindya mengembalikan jas Arya dengan gerakan cepat.

"Om sengaja membuat semua orang melihat," kata Arya setelah mendekat.

"Kalau kau datang diam-diam, hadiah ulang tahun saya hilang." Wira menjabat tangan Arya, lalu membungkuk sopan kepada Anindya. "Bu Anindya, terima kasih sudah menyeretnya ke sini."

"Saya belum perlu menyeret, Pak Wira."

"Belum," ulang Arya.

Wira tertawa dan membawa mereka ke kelompok produser. Dalam sepuluh menit pertama, Arya hanya melontarkan dua lelucon. Namun ketika seorang pemodal membahas perubahan pembagian pendapatan bioskop dan platform digital, Arya mengajukan pertanyaan mengenai jendela tayang eksklusif serta risiko kontrak wilayah.

Ruangan kecil itu mendadak lebih serius.

"Kalau hak digital dijual terlalu cepat," kata Arya, "bioskop akan menekan jumlah layar. Tapi kalau terlalu lambat, biaya promosi kedua kali akan membunuh margin. Yang perlu dinegosiasikan bukan hanya tanggal, melainkan siapa yang membayar kampanye perpindahan platform."

Seorang produser senior mengangguk. "Itu masalah yang sedang kami hadapi."

Anindya menatap suaminya dari samping. Kalimat tadi bukan hasil membaca satu artikel internet. Arya memahami cara modal bergerak di antara produksi, distribusi, dan pemasaran.

Wira menepuk bahunya. "Ternyata otakmu belum rusak."

"Saya menyimpannya untuk acara gratis."

Percakapan bergeser ke proyek baru Wira. Anindya mencoba menyisipkan nama dua artis PE, tetapi seorang pemilik rumah produksi terus mengambil alih pembicaraan dengan cerita panjang tentang bintang pilihannya. Setiap kali Anindya membuka mulut, orang lain memotong.

Arya melihatnya, tetapi belum bergerak.

Mereka kemudian duduk di meja utama. Wisnu berada dua meja di seberang, dikelilingi pengusaha pelabuhan. Ketika matanya bertemu Arya, alisnya terangkat. Wira benar-benar tidak memberitahunya.

Arya mengangkat gelas sebagai salam. Wisnu membalas dengan senyum tipis yang berkata ia akan menagih penjelasan nanti.

Tak lama kemudian Wisnu meninggalkan kelompoknya dan berdiri di belakang kursi mereka.

"Nak Arya," katanya cukup keras agar meja mendengar, "saya kira kau tidak suka acara resmi."

"Saya datang karena Om Wira menjanjikan makanan."

"Dan memakai jas yang layak? Kemajuan besar."

Seorang pemodal tersenyum. "Pak Wisnu, putra Anda tadi memberi analisis yang menarik tentang distribusi digital."

Wisnu menunjukkan keterkejutan yang dibuat dengan sangat baik. "Arya? Analisis? Mungkin dia mengulang video yang ditontonnya di internet."

Tawa ringan muncul. Arya ikut tertawa, seolah tidak menyadari ayahnya sedang menutup jejak kemampuan yang baru terlihat.

"Internet sangat mendidik," katanya.

Anindya menangkap permainan itu. Wisnu sengaja merendahkan, Arya sengaja menerima, dan orang-orang di meja kembali merasa telah memahami keduanya. Hanya Wira yang memandang mereka dengan mata geli.

"Kalau begitu," ujar Wira, "biarkan anak hasil pendidikan internet ini membaca proposal film saya besok. Mungkin dia menemukan uang yang bocor."

"Jangan," balas Wisnu. "Nanti dia meminta saham."

"Saya cukup dibayar dengan kue," kata Arya.

Wisnu menepuk pundaknya dua kali. Tepukan kedua terasa seperti pesan: jangan terlalu banyak menunjukkan diri malam ini.

Arya mengangkat gelas lagi, tanda ia mengerti.

Sebelum kembali ke mejanya, Wisnu menoleh kepada Anindya. "Kalau dia membuat masalah, telepon saya."

"Saya lebih suka menyelesaikannya sendiri, Om Wisnu."

"Bagus." Wisnu tersenyum. "Berarti ada orang lain di rumah itu yang mampu mengendalikannya."

Anindya tidak membantah. Arya mengamati perubahan kecil itu dan menyimpannya seperti informasi lain.

Makanan utama disajikan. Wira kembali membahas pencarian pemeran untuk film barunya. Anindya menatap Arya, lalu menggerakkan ujung sepatu di bawah meja.

Ia menginjak kaki Arya.

Arya menoleh seolah tidak paham.

Anindya menekan sedikit lebih kuat.

"Ada masalah, Bu Anindya?" tanya Wira.

"Tidak, Pak." Senyum profesional muncul. "Saya hanya teringat dua profil yang pernah saya sebut. PE tidak meminta jaminan peran. Kami ingin mereka diberi kesempatan tes kamera."

Pemilik rumah produksi yang tadi memotong langsung menyela. "Pak Wira, jadwal sudah padat. Kami bahkan belum selesai melihat kandidat dari Jakarta."

Arya meletakkan sendok. "Justru karena jadwal padat, dua kandidat tambahan tidak merugikan. Kalau buruk, lima menit selesai. Kalau bagus, Pak Wira menghemat berminggu-minggu pencarian."

"Dan kalau biasa saja?" tanya Wira.

"Om dapat alasan untuk menertawakan selera istri saya."

Anindya menekan sepatunya lebih keras.

Wira tertawa. "Baik. Bawa mereka tiga hari lagi ke studio. Pukul sepuluh. Saya lihat sendiri."

"Terima kasih, Pak Wira," jawab Anindya.

"Jangan terima kasih dulu. Kalau mereka buruk, saya usir sebelum kopi dingin."

"Itu cukup."

Kesepakatan kecil itu mengubah arah malam bagi Anindya. Untuk pertama kali sejak pernikahan, ia memandang Arya bukan sebagai beban yang harus dikelola, melainkan alat tajam yang bisa bergerak bersamanya tanpa instruksi panjang.

"Kakiku," bisik Arya.

Anindya baru sadar sepatunya masih menekan. Ia menarik kaki. "Anggap biaya konsultasi."

"Mahal sekali."

"Anda mampu. Saya melihat kartu hitam itu."

Arya tersenyum. Permainan mereka mulai memiliki ritme.

Di ujung ruangan, pintu utama terbuka. Seorang petugas menerima kotak hadiah besar dari tamu baru. Reno Halim masuk dengan setelan biru tua, satu tangan berada di punggung Bella seolah sedang memamerkan kepemilikan.

Bella mengangkat wajah.

Tatapannya melewati kerumunan dan berhenti tepat pada Arya serta Anindya di meja utama.

Langkahnya terhenti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!