Kisah ini mengikuti perjalanan jiwa seorang wanita yang terjebak dalam siklus reinkarnasi lintas zaman demi mengejar satu cinta sejati yang selalu berujung tragis.
Pada kehidupan pertama (Era Romawi), ia adalah wanita dari kasta rendah yang mencintai seorang putra mahkota. Cinta mereka terhalang status sosial dan berakhir tragis dengan kematian.
Terlahir kembali di era kolonial (kehidupan kedua) sebagai putri gangster kaya raya, ia membawa ingatan masa lalunya dan berhasil menemukan kembali cinta pertamanya. Namun, takdir kembali merenggut kebahagiaan mereka akibat permusuhan darah antar keluarga besar.
Merasa lelah dengan takdir yang selalu menyakitkan, pada kehidupan ketiga (Era Modern) ia terlahir di keluarga biasa yang harmonis dan bertekad untuk menyerah serta menghindari cinta masa lalunya. Sialnya, semesta mempertemukannya kembali dengan pria tersebut yang kini menjadi CEO dingin di perusahaannya. Terikat kontrak kerja tiga tahun dengan penalti besar, ia mati-matian menghindar. Namun, tingkah lucunya justru meluluhkan hati sang CEO. Seiring berjalannya waktu, sang pria juga mulai mengingat kembali memori masa lalu mereka. Dan badai tidak di restu itu kembali menghatam cinta mereka, akan mereka kembali berpisah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 : Perangkap Politik dan Fitnah Keji
Udara pagi di dalam istana kekaisaran Roma tidak pernah terasa begitu menyesakkan. Fajar baru saja merekah di ufuk timur, tetapi bayang-bayang gelap intrik politik telah bergerak lebih dulu menyelimuti seluruh penjuru dinding batu marmer putih. Di ruang sidang utama Dewan Senat, aroma dupa wangi dicampur dengan ketegangan para pejabat tinggi menciptakan atmosfer yang siap meledak kapan saja.
Senator Gaius berdiri di hadapan meja besar beralaskan kain purpura. Di hadapannya, beberapa orang pengawal istana berlutut dengan kepala tertunduk, membawa sebuah kotak kayu tua yang berisikan barang-barang bukti palsu. Hari ini, sebuah skenario busuk telah dirancang dengan sangat rapi untuk memastikan bahwa tidak ada lagi celah bagi Putra Mahkota Marcus untuk membela sang budak wanita.
Fitnah itu dimulai dari sebuah laporan palsu yang disebarkan secara sistematis ke seluruh kompi militer dan kalangan bangsawan. Dewan Senat sengaja memutarbalikkan fakta, menyatakan bahwa Callista bukanlah sekadar pelayan biasa, melainkan seorang mata-mata dari suku pemberontak luar yang sengaja disusupkan ke dalam istana untuk meracuni pewaris takhta kekaisaran.
Di dalam bilik isolasi bawah tanah, Callista yang meringkuk kedinginan mendengar bisik-bisik para penjaga yang berganti shift pagi itu. Hatinya mencelos.
"Kau dengar berita itu?" bisik seorang penjaga kepada rekannya di balik teralis besi. "Katanya wanita budak di bilik nomor tiga ini adalah agen rahasia dari faksi pemberontak. Ia menggunakan ilmu sihir hitam untuk memikat hati Putra Mahkota agar kekaisaran kita runtuh dari dalam."
"Pantas saja Dewan Senat mempercepat hukuman buangnya," sahut penjaga satunya dengan nada jijik. "Bahkan dikabarkan ada rencana untuk melenyapkannya di tengah jalan agar ia tidak bisa membongkar rahasia atau diringankan hukumannya oleh sang pangeran."
Callista menutup kedua telinganya dengan tangan gemetar. Air mata yang sejak semalam hampir mengering kembali tumpah membasahi pipinya. Fitnah keji itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada cambukan fisik apa pun. Mereka tidak hanya ingin membuangnya, tetapi juga ingin menghancurkan harga dirinya dan membuat namanya tercemar selamanya di dalam lembaran sejarah kekaisaran, seolah kehadirannya di sisi Marcus adalah sebuah kutukan maut yang membahayakan seluruh negeri.
Sementara itu, di sayap barat istana, Putra Mahkota Marcus mendapatkan laporan tersebut dari salah satu mata-mata kepercayaannya di jajaran pengawal istana.
Brak!
Meja kayu mahoni di hadapan Marcus hancur berkeping-keping setelah dihantam kepalan tangan sang pangeran. Amarah yang selama ini ia pendam meledak hebat, menciptakan gelombang kejut di dalam ruangan kerja pribadinya. Manik mata hazelnya menyala bagai bara api yang membakar hangus segala kewarasannya.
"Bajingan-bajingan tua keparat itu..." desis Marcus dengan suara bergetar hebat, rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menonjol keluar. "Mereka tidak cukup puas dengan mengasingkannya? Sekarang mereka menciptakan fitnah busuk untuk membunuh karakternya sepenuhnya?!"
Marcus menyadari bahwa ini adalah sebuah perangkap politik tingkat tinggi. Jika ia menyerbu ruang senat saat ini dan mengamuk, para senator akan menggunakan alasan "gangguan jiwa akibat pengaruh sihir budak" untuk melengserkannya secara sah di hadapan sang kaisar dan seluruh rakyat Roma. Mereka menjebaknya dalam pilihan yang mustahil: diam dan membiarkan wanita yang dicintainya difitnah serta dihancurkan, atau bergerak dan kehilangan segalanya tanpa bisa menyelamatkan siapapun.
Namun, Marcus bukanlah pria yang akan menyerah begitu saja pada takdir buatan para pengecut berdubah putih. Dengan gerakan cepat, ia menyambar jubah kebesarannya, mengenakan belati perunggu terbaik di pinggangnya, dan melangkah keluar dari ruangan dengan tekad membara yang siap meruntuhkan tembok kekaisaran demi satu nama: Callista. Waktu semakin menipis, dan permainan licik Dewan Senat harus dihentikan sebelum gerbang pengasingan benar-benar tertutup rapat untuk selamanya.
*•*
*•*
*•*
*•*
*•*