Indonesia
NovelToon NovelToon
My Sweety Sugar Mommy

My Sweety Sugar Mommy

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Romantis
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: julian rifai

Di balik senyum humoris pemuda 18 tahun, ada tekad nekat untuk memenangkan hati seorang janda beranak satu yang trauma akan cinta.
Vino, koki kedai berpenghasilan pas-pasan, jatuh hati pada Evita (30 tahun), pemilik butik anggun yang membentengi hatinya rapat-rapat akibat masa lalu yang kelam. Diapit cinta segitiga dengan adik Evita dan kejaran pria dewasa yang mapan, Vino memilih menghilang. Bukan untuk menyerah, melainkan memantaskan diri. Lima tahun berlalu, ia kembali bukan lagi sebagai remaja biasa, melainkan pria yang siap meruntuhkan tembok trauma Evita dan melawan stigma dunia. Bisakah ketulusan dan kehangatan Vino menyembuhkan luka masa lalu Evita, ataukah perbedaan usia dan restu keluarga akan merenggut kebahagiaan mereka?
Ikuti kisah romantis antara Evita dan Arvino dinovel ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cermin yang Terbalik

Siang itu, rumah keluarga besar Haris di kawasan Gayungan, Surabaya, terasa begitu sepi. Di dalam kamar utama lantai dua, Evita berdiri di depan cermin tinggi, menatap pantulan dirinya sendiri.

Ingatannya melempar ke belakang, lima tahun lalu. Saat itu, ia adalah wanita matang yang mapan, sementara Arvino hanyalah pemuda 18 tahun serba terbatas yang kebetulan datang ke butik untuk menyewa jas kelulusan SMA, teman seangkatan adiknya, Yunita, yang saat itu masih berusia 18 tahun.

Kini, roda takdir berputar drastis. Di usianya yang ke-23, Arvino telah menjelma menjadi Principal Architect sukses yang cemerlang dan dihormati banyak orang. Sementara dirinya? Evita meremas pinggiran gaunnya. Rasa minder merayap tebal, membisikkan bahwa dirinya yang penuh celah ini sama sekali tak lagi seimbang jika disandingkan dengan pria seperti Vino.

Saat ponselnya bergetar menampilkan pesan dari Vino yang hendak menjemput Keyra untuk bermain sesuai janji, Evita menghela napas panjang. Ia melangkah keluar kamar dan menghampiri Yunita yang sedang membaca jurnal medis di ruang keluarga.

"Yun..." panggil Evita pelan. "Nanti yang menemani Keyra main sama Vino, kamu saja ya?"

Yunita mendongak, alisnya bertaut bingung. "Lho? Kenapa aku, Mbak Vita? Kan Vino mau main sekalian ketemu Mbak."

"Mbak... ada urusan bahan butik yang harus dicek mendadak," dalih Evita halus, menyembunyikan getar ragu di suaranya. "Lagian kalian kan teman sekelas waktu SMA. Kalian lebih nyambung kalau jalan bareng Keyra."

Sebelum Yunita sempat memprotes lebih jauh, suara deru mobil yang berhenti di halaman depan menghentikan percakapan mereka. Tak lama kemudian, ketukan tegas terdengar di pintu depan.

Vino berdiri di teras dengan setelan kemeja linen abu-abu yang tergulung rapi hingga siku, membawa sebuah kotak kayu berisi maket edukatif untuk Keyra. Jantungnya berdebar kencang. Ia sudah mempersiapkan mental untuk bersikap se-gentleman dan sematang mungkin di hadapan Evita.

Namun, ketika pintu kayu jati tebal itu terbuka, bukan Evita yang berdiri di sana.

Sesosok pria paruh baya berbadan tegap dengan rambut beruban dipotong papak melangkah keluar. Sorot matanya tajam dan intimidatif. Haris, pensiunan perwira polisi senior yang terkenal sangat disiplin dan berwatak keras menatap Vino dari atas ke bawah.

"Siapa kamu?" tegur Haris dengan suara berat berwibawa, menyilangkan kedua tangannya di dada.

Vino seketika berdiri tegak seperti prajurit yang sedang diinspeksi. Aura bos arsitek yang biasa memimpin belasan staf di Yogyakarta mendadak luruh tak berbekas. Sisi pemuda 18 tahun yang dulu pernah beberapa kali bertegur sapa dengan rasa segan pada perwira polisi ini seketika bangkit kembali.

"S-Selamat sore, Om Haris," sapa Vino cepat, menyalami tangan Haris dengan sangat sopan. "Saya... maksud saya, aku Arvino, Om. Teman SMA-nya Yunita."

Haris menyipitkan mata, mengingat-ingat. "Arvino... Pemuda yang dulu suka bantu Yunita di acara sekolah itu?"

"Betul sekali, Om! Daya ingat Om Haris luar biasa presisi seperti Thermal Sniper!" sahut Vino terlalu bersemangat karena gugup. Ia merogoh saku kemejanya, hendak mengambil kartu nama profesionalnya, tetapi karena tangannya gemetar, kartu nama itu justru terjatuh ke lantai teras.

Vino dengan sigap membungkuk mengambilnya, wajahnya memerah padam. "Aduh, Vino... mana wibawa bos arsitekmu?" rutuknya dalam hati.

Haris menerima kartu nama tersebut, membaca tulisan bersepuh emas itu dengan dahi berkerut. "Lazuardi Design... Arsitek Utama? Jadi kamu sekarang sudah punya bisnis sendiri di Jogja?"

"Siap, betul, Om Haris!" sahut Vino spontan menggunakan salam khas kepolisian karena terlalu terintimidasi oleh gestur Haris. "Kami bergerak di bidang perancangan hunian dan komersial. Pertumbuhan aset perusahaan kami stabil di angka delapan belas persen per kuartal!"

Haris tertegun sejenak, lalu sudut bibirnya terangkat tipis melihat respons kaku namun sangat sopan dari pria di depannya. "Saya tidak tanya laporan keuanganmu, Arvino. Saya cuma tanya bisnismu."

"Ah... i-iya, Om. Maaf, terbawa suasana rapat investasi," ujar Vino seraya menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal dengan wajah serba salah.

Saat ketegangan itu berlangsung, Yunita melangkah keluar membawa Keyra yang sudah tampil cantik dengan gaun pastel.

"Papa, jangan galak-galak dong sama Vino," potong Yunita seraya tertawa pelan. "Vino ini mau ajak Keyra main sebentar ke taman."

"Om Vino!" seru Keyra riang, langsung menghampiri Vino tanpa ragu.

Vino seketika berlutut satu kaki di atas lantai teras, tanpa peduli celana kain mahalnya kotor demi menyamakan tingginya dengan Keyra. "Halo, Cantik. Sudah siap bikin kastil lampu?"

Keyra mengangguk antusias. Yunita bertekuk lutut di samping Vino, membantu merapikan tali sepatu Keyra yang agak longgar. Dari arah pintu dalam, Manda, ibu dari Evita dan Yunita ikut keluar membawa nampan berisi cangkir teh.

Manda dan Haris berdiri berdampingan di teras, memperhatikan kebersamaan anak muda itu. Yunita dan Vino yang sebaya dengannya tampak begitu serasi secara visual. Keduanya sama-sama berpendidikan tinggi, memegang karier yang cemerlang di usia muda, dan terlihat begitu luwes serta padu saat mengurus Keyra bersama.

"Jadi itu, teman Yunita waktu SMA yang sering dia ceritakan." bisik Manda pelan pada suaminya seraya tersenyum mengamati mereka. "Anaknya santun, pekerja keras, dan sukses di usia muda. Sama Yunita kelihatan serasi banget ya, Pa? Umurnya sepadan, sama-sama dua puluh tiga tahun."

Haris mengangguk pelan, menyetujui ucapan istrinya. "Iya. Arvino ini cocok untuk mendampingi Yunita yang calon dokter."

Candaan dan pujian orang tuanya meluncur begitu saja di udara teras. Vino yang sedang mengikat tali sepatu Keyra sempat tertegun mendengar ucapan tersebut. Ia hendak meluruskan kesalahpahaman itu, namun lidahnya mendadak kaku saat melihat bayangan seseorang di lantai dua.

Di balik tirai jendela kamar lantai dua yang agak terbuka, Evita berdiri mematung.

Matanya menatap lurus ke arah teras bawah. Ia menyaksikan bagaimana Vino, Yunita, dan Keyra tertawa bersama. Ia mendengar jelas setiap kata dari mulut ibunya dan anggukan setuju dari ayahnya yang terkenal pemilih.

Kata-kata itu menghantam dadanya seperti palu godam.

Yunita, seorang calon dokter muda dengan masa depan bersih tanpa noda. Vino, seorang arsitek muda yang sukses dan sedang mengangkasa. Mereka sebaya, sepadan, dan berada di panggung kehidupan yang sama.

Sementara dirinya? Evita meraba wajahnya sendiri. Usianya sudah 35 tahun. Ia adalah wanita yang pernah gagal dalam pernikahan, memiliki anak berusia 8 tahun, dan membawa rasa trauma masa lalu yang berat.

"Sudahlah Vit, Lagi pula kamu sendiri yang menolaknya dulu" bisik Evita di dalam hatinya yang hancur.

Dari sudut mata Evita yang mulai berkaca-kaca, ia melihat mobil Vino perlahan bergerak meninggalkan halaman rumah, membawa Yunita dan Keyra yang melambai riang.

Rasa minder yang merayapi jiwa Evita kini telah mengkristal menjadi sebuah kesimpulan yang teramat pahit namun rasional bagi pikirannya Arvino tidak diciptakan untuk wanita penuh cela seperti dirinya. Pria cemerlang itu... jauh lebih pantas dan hanya cocok untuk bersanding dengan adiknya, Yunita.

1
mawarsendu
bagus
Alnilam Mintaka: terimakasih kak
total 1 replies
mawarsendu
semangat ya kak

btw jangan lupa mampir di novel ku ya judulnya "AKU BUKAN SIMPANAN" terimakasih 🙏👍
the virtuso
saling support yah thor jangan lupa🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!