Meski telah 10 tahun saling mengenal dan sempat hidup bersama dalam pernikahan, nyatanya Rastadira dan Farhan harus menyerah pada takdir perpisahan. Berbagai kemelut hadir sejak ia memutuskan pergi dari kehidupan Farhan dan keluarga. Namun, siapa yang menyangka banyaknya kemelut malah mengantarkannya pada kisah yang lebih hangat dan nyaris sempurna? Sanggupkah ia beralih rasa tanpa ada bayangan masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pandutmia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Telepon
Ponselku berdering, membuat semua lamunan tentang malam itu sirna. Nomor tak dikenal muncul di layar ponsel. Kumasukkan kembali ponsel itu ke dalam tas, aku curiga yang meneleponku adalah Mas Fariq. Nomornya sendiri sudah kublokir, maka setiap ada nomor baru yang masuk selalu kukira Mas Fariq.
Tentang Mas Fariq aku sendiri mengenalnya cukup lama saat masih kuliah. Tapi hanya sekedar kenal, tidak sampai menyelami bagaimana sifat dan karakternya. Ia pacar temanku satu kos, Mbak Jeni. Entahlah, kabar yang beredar mereka berdua adalah sepasang kekasih. Tapi, setiap keluar Mbak Jeni hampir tidak pernah dijemput Mas Fariq. Lucunya, Mas Fariq malah meminta Mbak Jeni supaya aku yang mengantarkan. Saat bertemu pun mereka tidak mesra layaknya kekasih, Mbak Jeni yang cenderung aktif dalam memulai obrolan, sedang Mas Fariq hanya menjawab sekedarnya.
Sebelumnya, aku tidak pernah tahu jika Mas Fariq adalah kakak kandung Farhan. Fakta itu baru kuketahui saat Farhan melamarku, seluruh keluarganya hadir termasuk Mas Fariq. Namun, seingatku tidak ada tegur sapa antara aku dan Mas Fariq dalam prosesi lamaran itu, padahal kami saling mengenal sebelumnya. Ia terlihat menjauh dari rombongan, menghisap rokok dan membuang pandangannya ke arah lain, bukan ke arah acara.
Sempat aku menyapanya, tapi tidak ada balasan, hanya senyum masam tanpa basa basi bertanya apa kabar atau yang lainnya. Melihat reaksinya yang seperti itupun aku enggan menceritakan pada Farhan jika aku mengenal kakaknya, pun aku enggan mengajak Mas Fariq untuk berbincang lebih banyak. Hatiku terlanjur gondok, aku pura-pura tidak mengenalnya kala itu.
Kejutekan Mas Fariq masih berlanjut saat momen pernikahanku yang digelar selang dua bulan setelah lamaran. Ia tidak muncul sebagaimana mestinya seorang kakak hadir dalam pernikahan adiknya. Sempat aku mengira Mas Fariq marah karena Farhan melangkahinya dalam urusan pernikahan, namun hal itu dibantah Farhan. Menurut Farhan, kakak sulungnya itu sedang mendapat masalah dalam pekerjaan sehingga suasana hatinya sedang kurang baik.
Kulirik si pipih di tangan, ada lima panggilan tidak terjawab dari nomor yang sama. Agak penasaran juga sebenarnya, khawatir jika itu telepon yang penting. Ragu, namun akhirnya kupencet juga tombol telepon. Sayangnya nomor itu sedang sibuk, aku gagal mengetahui siapa yang berkali meneleponku barusan.
Hanya selang beberapa detik, ponselku berbunyi kembali dan menampilkan nomor yang sama. Kugeser logo hijau dan telepon pun langsung terhubung.
“Iya, halo.” Sapaku. Hening, tidak ada sahutan, hanya suara hembus nafas yang cukup keras. Sepertinya si penelepon sedang mengatur nafas supaya bisa berbicara dengan tenang.
“Dira,” ucap suara di seberang sana. Dan aku tahu sedang berbicara dengan siapa.
“Dira tolong jangan ditutup dulu, kita perlu bicara. Tolong ijinkan aku menemui kamu, Ra.” Mohon pria itu. Ya, siapa lagi yang memanggilku dengan sebutan ‘Ra’ jika bukan Mas Fariq.
Tepat dugaanku, laki-laki itu pasti meneleponku, apalagi setelah mengetahui fakta yang baru kuberitahukan tadi. Entah merasa menyesal, merasa bersalah atau malah ingin mengancamku sehingga ingin bertemu denganku. Aku bergeming, membiarkan telepon terus tersambung dalam suasana hening.
“Maaf aku sudah pulang.” Jawabku datar.
“Kamu tinggal dimana sekarang, Ra? Di Surabaya? Atau luar Surabaya? Aku kesana sekarang, ya.” Bujuknya perlahan.
"Untuk?" Kulontarkan pertanyaan sambil memijat pelan pelipisku.
"Ra, boleh aku tahu dimana kamu tinggal sekarang?" Mas Fariq masih mengharap kesediaanku.
Mana mungkin aku menyanggupinya, sedangkan selama ini aku bersusah payah menghindarinya. Jangan harap Rastadira bisa dengan mudah berbaik hati.
"Nggak perlu sekhawatir itu, Mas. Sudah ya, jangan ganggu aku lagi." Pungkasku. Jujur aku lelah menghadapi drama dua kakak beradik hari ini. Mimpi apa aku sampai terjebak dalam pusaran ini.
“Mbak turun Jombang, kan? Ini sudah sampai terminal, lho.” Tegur seorang ibu di sampingku. Kami sempat berbincang tadi dan saling menginformasikan tujuan kami masing-masing, sebab itulah si ibu mengingatkan bahwa bis sudah berada di lokasi yang kutuju.
“Iya, Bu. Terima kasih.” Jawabku sambil tersenyum. Segera kumasukkan ponsel ke dalam tas dan beranjak dari tempat dudukku.
Seusai turun dari bis, aku langsung mencari Mas Tomo di warung kopi dekat pangkalan ojek pintu keluar.
“Mas Tom!” Yang kupanggil langsung menoleh dan bergegas merampungkan transaksinya dengan penjaga warkop.
“Mbak Raras nggak ke rumah Mbak Indah dulu?” tanya Mas Tomo sambil memberikan helm penumpang untukku. Pria berprofesi sebagai tukang ojek itu adalah satu-satunya orang yang memanggilku dengan nama Raras.
“Indah?” aku kembali bertanya.
“Iya tadi Mbak Indah pesan kalau Mbak Raras pulang langsung ke rumahnya aja soalnya lagi ada pengajian di rumah Mbak Indah,” terang Mas Tomo.
“Aku pulang ke kos dulu aja deh, Mas. Bersih-bersih badan dulu baru nanti habis isya’ ke rumah Indah.” Kuputuskan demikian karena aku perlu berganti baju terlebih dulu sebelum bertandang ke rumah Indah. Tidak sabar juga rasanya untuk menceritakan semua kejadian yang kualami hari ini pada Indah.
“Oke deh, Mbak. Tapi nanti kalau ke Mbak Indah telepon saya lagi ya, Mbak. Hehehe,” Mas Tomo nyengir.
“Beres.” Sahutku cepat, hanya Mas Tomo yang bisa kuandalkan 24 jam jika ingin kemana-mana. Sikapnya yang selalu sopan dan humoris membuatku nyaman berlangganan dengannya selama berada di Jombang.
Motor Mas Tomo melaju santai keluar dari halaman terminal. Suasana sore sudah berubah menjadi gelap, azan magrib pun sudah berkumandang sekitar lima belas menit lalu. Kutarik nafas perlahan, ada senyum kecil yang kuukir saat ini. Entah mengapa melihat raut penyesalan di wajah Mas Fariq cukup menyentuh hatiku, ucapan maaf juga nada kekhawatirannya barusan di telepon membuatku yakin bahwa ia tidak sedang berbohong.
Semoga penyesalan yang kusaksikan benar-benar berasal dari hatinya. Jika itu terjadi, setidaknya aku bisa berdamai dan menjalin hubungan baik demi calon bayi yang berada di rahimku.
Tak terasa Mas Tomo sampai juga di depan kosku, kusampaikan padanya untuk kembali lagi menjemputku jam 8 dan ia pun setuju. Aku berinisiatif memberi kabar pada Indah tentang niatku datang ke rumahnya jam 8 nanti, kurogoh ponsel di dalam tas sambil membuka pintu kosku. Kunyalakan lampu ruangan dan benda pipih itu kini berada di genggamanku. Ya Tuhan, layarnya masih menyala! Ternyata sambungan telepon dengan Mas Fariq sejak dari bis tadi belum terputus.
Kudekatkan layar ponsel ke telinga, kusapa kembali orang yang ada di seberang sana untuk memastikan apa dia masih stand by dengan sambungan telepon ini.
“Halo.” Ucapku perlahan.
“Dira. Ra, apa benar kamu di Jombang? Rumah Indah? Indah teman kos kamu dulu?”