Yamada adalah seorang jenius.
Ia mampu memahami hampir segala sesuatu dengan cepat—akademik, olahraga, teknologi, strategi, bahkan berbagai keterampilan yang dianggap sulit oleh orang lain.
Masalahnya hanya satu.
Dia terlalu malas untuk menggunakannya.
Bagi Yamada, hidup yang ideal hanyalah hidup tenang tanpa masalah.
Tidak perlu menjadi nomor satu.
Tidak perlu mendapat perhatian.
Tidak perlu berusaha lebih keras dari yang diperlukan.
Sampai suatu hari, kehidupannya berakhir.
Ketika membuka mata kembali, Yamada mendapati dirinya berada di dunia yang tidak pernah ia kenal.
Lebih aneh lagi, ia tidak terlahir sebagai bayi.
Ia terbangun dalam tubuh seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun.
Tubuh itu memiliki kehidupan, keluarga, kenangan, dan sebuah rahasia yang tidak diketahui Yamada.
Kemudian sebuah suara terdengar di kepalanya.
[System Initialization.]
[Host detected.]
[Synchronization rate: 17%.]
[Warning.]
[This body already possesses an owner.]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardyan1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Rival
Keesokan harinya, jam 9 pagi, sesuai tantangan Leon kemarin di koridor. Langit akademi cerah, angin sejuk, hari yang ideal untuk tidur siang di bawah pohon ek, bukan untuk duel di depan ratusan orang.
Arena latihan akademi, arena batu melingkar yang biasanya dipakai untuk turnamen resmi, hari itu dipenuhi siswa. Bukan hanya siswa kelas B yang ingin mendukung Leon, juara 2 turnamen pedang, tapi juga siswa kelas F yang ingin melihat apakah rumor "Mana 0 yang mengalahkan Level 27" itu benar, siswa kelas S yang penasaran dengan Aria yang duduk di luar arena, dan bahkan beberapa guru yang pura-pura lewat sambil membawa buku.
Semua karena satu poster kecil yang ditempel Leon semalam di papan pengumuman: DUEL RESMI: LEON AGNIS (Kelas 1-B, Mana 110) VS YAMADA (Kelas 1-F, Mana 0) - ARENA UTAMA JAM 9 PAGI - UNTUK MENENTUKAN SIAPA YANG LEBIH KUAT!
Leon berdiri di tengah arena dengan gagah, dengan pedang baja sungguhan yang sudah diasah mengkilap, dengan seragam latihan merah yang rapi, dengan rambut merahnya yang disisir ke belakang agar terlihat lebih keren, dengan posisi kuda-kuda pedang keluarga Agnis yang sudah dia latih sejak umur 5 tahun. Wajahnya penuh semangat, penuh tekad, penuh api rival.
Di hadapannya, 5 meter jauhnya, Yamada berdiri dengan wajah mengantuk, dengan seragam latihan yang kebesaran karena dia meminjam milik Elena, dengan pedang kayu latihan yang kemarin patah dan kini sudah diperbaiki dengan lakban oleh penjaga gudang, dengan rambut yang berantakan karena baru bangun tidur 20 menit lalu, dan dengan satu tangan menutupi mulut karena menguap.
"Kenapa aku setuju? Kenapa aku ada di sini? Bukannya aku bilang aku sibuk tidur?" Tanya Yamada pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada siapa pun, dengan wajah yang benar-benar menyesal sudah bangun pagi.
Aria berdiri di luar arena, di barisan depan penonton, di sebelah Elena yang membawa poster kecil bertuliskan "YAMADA TIDUR SAJA" — poster dukungan yang sangat Elena. Aria membawa dua cangkir teh hangat seperti biasa, satu untuk dirinya, satu untuk Yamada nanti kalau duelnya selesai cepat.
"Karena kau bilang kemarin malam ingin menguji kemampuanmu setelah naik Level 8, ingin tahu seberapa kuat tubuhmu sekarang tanpa Absolute Calculation." Jawab Aria, dengan suara yang cukup keras untuk didengar Yamada di dalam arena.
Yamada menoleh ke arah Aria, dengan wajah bingung.
"Aku bilang begitu? Kapan aku bilang begitu? Aku ingatnya aku bilang 'aku mau tidur' bukan 'aku mau uji kemampuan'."
Aria tersenyum, senyum manis yang sedikit licik, senyum yang baru dipelajarinya dari Yamada.
"Ya. Kau bilang begitu. Tadi malam di atap, setelah janji kelingking, kau bilang 'aku penasaran seberapa kuat aku sekarang'. Jadi aku sampaikan ke Leon bahwa kau setuju duel jam 9 pagi. Dia sangat senang."
"...Aku menyesal. Sangat menyesal. Seharusnya aku tidak minum cokelat panas malam itu, jadi tidak mengantuk dan tidak mengigau." Gumam Yamada, menatap Aria dengan tatapan pasrah, menyadari bahwa dia dijebak oleh gadis berambut biru keperakan yang terlihat tenang tapi ternyata cukup licik.
Guru pengawas duel, Guru Bela, guru pedang wanita dengan rambut pendek dan bekas luka di pipi, yang ditugaskan untuk mengawasi duel agar tidak ada yang mati, mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, dengan bendera merah.
"Aturan duel latihan: tidak boleh membunuh, tidak boleh sihir tingkat tinggi, sampai salah satu pedang jatuh atau salah satu menyerah. Mengerti?"
Leon mengangguk semangat, "Mengerti!"
Yamada menguap, "Mengerti..."
Guru mengayunkan bendera ke bawah dengan cepat.
"Mulai!"
Leon langsung menyerang, tanpa basa-basi, tanpa ancang-ancang panjang seperti di novel, karena dia tahu Yamada itu licik dan malas, jadi harus diserang cepat sebelum Yamada sempat tidur.
Cepat. Sangat cepat untuk ukuran siswa tahun pertama. Pedang baja keluarga Agnis menebas dari samping kanan, dengan suara swish yang membelah udara, mengarah ke bahu Yamada.
Yamada mundur setengah langkah, dengan gerakan minimal, tidak berlebihan, hanya cukup untuk membuat ujung pedang Leon lewat 2 sentimeter di depan bajunya.
Tebasan kedua, dari kiri, lebih cepat, dengan putaran pergelangan tangan.
Yamada mundur lagi, setengah langkah, dengan kaki yang hampir tidak bergerak, hanya memiringkan tubuh.
Tebasan ketiga, dari atas, tebasan vertikal yang kuat, yang bisa membelah kayu.
Yamada melangkah ke samping kiri, 30 sentimeter, dengan wajah masih mengantuk.
Tebasan keempat, tusukan lurus ke dada, serangan andalan keluarga Agnis.
Yamada memiringkan badan 15 derajat, tusukan itu lewat di samping ketiaknya, hanya merobek sedikit seragam kebesarannya.
Empat tebasan, empat kali menghindar, tanpa mengangkat pedang kayu sekalipun. Arena yang tadinya bersorak untuk Leon, kini mulai terdiam, karena mereka melihat sesuatu yang aneh: Yamada tidak terlihat seperti sedang bertarung, tapi seperti sedang... menghemat energi.
Leon mulai kesal, napasnya mulai terengah, karena empat serangan penuh tenaganya tidak mengenai sama sekali, padahal dia sudah berlatih 4 jam pagi ini untuk duel ini.
"Berhenti lari! Berhenti menghindar! Lawan aku dengan pedangmu! Jangan jadi pengecut!" Teriaknya, dengan wajah memerah, rambut merahnya yang rapi kini berantakan karena gerakan cepat.
"Kenapa harus berhenti lari? Menghindar itu tidak pakai energi banyak, menyerang itu pakai energi banyak. Aku sedang menghemat energi. Itu strategi." Jawab Yamada, dengan jawaban yang sangat jujur dan sangat malas, sambil masih memegang pedang kayunya di bawah, tidak terangkat.
"Lawan aku! Bertarung seperti kesatria! Bukan seperti tikus!" Kata Leon, dengan nada kesatria yang khas keluarga Agnis.
"Aku sedang melawanmu. Aku sedang bertarung. Aku membuatmu lelah. Itu juga bagian dari bertarung. Di buku pedang yang kubaca, ada yang bilang, musuh yang lelah adalah musuh yang mudah dikalahkan. Jadi aku membuatmu lelah dulu." Jawab Yamada, dengan logika yang diambil dari buku "Cara Malas Menang Duel Tanpa Capek" yang dia baca di perpustakaan.
Leon menggeram, tidak mau mendengar logika malas lagi, dia meningkatkan kecepatannya, mana merahnya mulai menyala di sekitar pedangnya, membuat pedang baja itu sedikit berpijar, tanda dia menggunakan skill keluarga Agnis: Flame Edge.
Namun Yamada yang Level 8, dengan Basic Magic Analysis Lv.2 dan Danger Sense Lv.2, dan dengan otak Lazy Genius yang sudah berevolusi sedikit setelah Absolute Calculation, sudah membaca polanya sejak tebasan pertama.
Langkah kaki Leon yang selalu dimulai dengan kaki kiri sebelum tebasan kanan.
Gerakan bahu kanannya yang naik 2 sentimeter sebelum tebasan vertikal.
Arah matanya yang selalu melihat ke tempat yang akan dia tebas 0.2 detik sebelumnya.
Semuanya terlihat jelas, seperti garis-garis biru yang muncul di matanya saat Absolute Calculation, tapi kali ini tanpa cahaya, hanya dengan perhitungan otak murni.
[Combat Analysis activated - Passive. Reading opponent's movement pattern.]
[Pattern recognized: Agnis Sword Style - Basic Form 4 attacks. Predictability: 78%.]
[Weakness found: Right wrist - open after third attack.]
Yamada yang dari tadi hanya menghindar, akhirnya bergerak. Bukan mundur, tapi maju, satu langkah kecil ke depan, masuk ke dalam jarak pedang Leon, jarak yang seharusnya berbahaya.
Leon terkejut, tidak menyangka Yamada akan maju, mencoba menebas lagi, tapi tebasannya terlambat 0.1 detik.
Yamada kemudian, dengan pedang kayu berlakban di tangan kanannya, tidak menebas, tapi memukul, memukul pergelangan tangan kanan Leon dengan ujung pedang kayunya, dengan kekuatan yang tidak besar, tapi dengan presisi yang sempurna, tepat di urat nadi pergelangan tangan, titik yang membuat tangan mati rasa sesaat.
Pukulan kecil, efisien, tidak boros energi.
Pedang baja Leon terlepas dari tangannya yang mati rasa, berputar di udara, lalu jatuh ke lantai batu arena dengan suara keras.
Clang! Suara logam bertemu batu yang menggema di seluruh arena yang sunyi.
Arena sunyi total. Ratusan siswa yang tadinya bersorak, kini diam, dengan mulut terbuka, menatap pedang baja yang tergeletak di lantai, dan Yamada yang masih memegang pedang kayu berlakban dengan wajah mengantuk.
Leon membeku, menatap tangan kanannya yang masih bergetar, mati rasa, lalu menatap pedang yang jatuh, lalu menatap Yamada.
Yamada menunjuk pedang yang jatuh di lantai dengan ujung pedang kayunya, dengan gerakan malas.
"Sudah? Sudah selesai? Pedangmu jatuh, berarti aku menang, kan? Sesuai aturan guru."
Leon menatapnya, dengan mata yang melebar, dengan napas terengah, dengan keringat di dahi, tapi bukan dengan wajah marah atau malu, melainkan dengan wajah... kagum.
"Kau... kau membaca semua gerakanku? Kau tahu aku akan tebas dari atas setelah dua tebasan samping? Bagaimana? Aku bahkan tidak sadar aku punya pola."
Yamada menguap lagi, menguap yang kelima hari itu, karena duel ini membuatnya lebih mengantuk daripada kelas teori.
"Kalau mau menang, jangan terlalu mudah ditebak. Langkah kakimu, bahumu, matamu, semua bilang mau kemana pedangmu sebelum pedangmu bergerak. Kalau kau mau jadi rival yang merepotkan, minimal jangan kasih tahu musuh mau nyerang kemana dari 0.2 detik sebelumnya." Jawab Yamada, dengan nasihat yang tulus, nasihat dari seorang pemalas yang tidak suka buang energi untuk menebak-nebak.
Leon mengepalkan tangan kirinya yang masih bisa bergerak, tapi bukannya marah atau menangis karena kalah di depan ratusan orang—
dia tersenyum. Senyum lebar, senyum yang tulus, senyum yang membuat wajah tampannya yang memerah karena malu kini terlihat bersinar.
"Bagus. Bagus sekali. Itu baru rival yang pantas."
"Apa? Aku baru saja mengalahkanmu dengan satu pukulan ke pergelangan tangan. Seharusnya kau marah, bukan senyum." Kata Yamada bingung.
"Mulai sekarang aku benar-benar akan menjadi rivalmu. Bukan rival main-main seperti kemarin, tapi rival seumur hidup yang sesungguhnya. Aku akan belajar agar gerakanku tidak mudah ditebak, aku akan berlatih agar kau tidak bisa membaca polaku, dan suatu hari aku akan mengalahkanmu dengan pedangku sendiri, bukan dengan trik!" Kata Leon, dengan tekad yang lebih membara daripada sebelum duel, api di matanya menyala lebih terang daripada Flame Edge di pedangnya.
Yamada menghela napas, napas panjang yang kesekian kalinya dalam dua hari, napas yang mengandung semua kelelahan dunia karena mendapat rival yang tidak mau menyerah.
"Kenapa aku? Kenapa harus aku yang jadi rivalmu? Di akademi ini ada ratusan siswa yang lebih kuat, lebih bersemangat, lebih cocok jadi rival. Kenapa yang mana 0 dan pemalas seperti aku?"
Aria yang berdiri di luar arena, yang melihat seluruh duel dari awal sampai akhir, yang melihat Yamada menang hanya dengan satu pukulan efisien, tertawa dari luar arena, tawa kecil yang renyah.
"Selamat, Yamada. Kau mendapat rival sejati. Dan penggemar sejati. Dua dalam satu paket."
Yamada menatapnya dari dalam arena, dengan pedang kayu berlakban di tangan, dengan wajah yang benar-benar ingin tidur.
"Aku tidak butuh selamat. Aku butuh bantal. Dan teh. Dan tempat sepi tanpa rival."
Leon memungut pedangnya dari lantai, dengan tangan kanan yang masih sedikit bergetar, tapi dengan senyum yang tidak hilang.
"Besok kita latihan lagi! Jam 5 pagi! Di lapangan yang sama! Aku akan tunjukkan form baru yang tidak mudah ditebak!"
Yamada yang sudah berjalan keluar arena, hampir tersandung mendengar jam 5 pagi.
"Tidak. Jam 5 pagi itu waktu tidur yang ideal. Tidak."
"Jam 6 pagi!"
"Tidak."
"Jam 7 pagi! Aku akan bawakan roti!"
"...Jam 7 pagi dengan roti masih bisa dipertimbangkan. Tapi cuma 10 menit."
"Sepakat!"
Dan begitulah, di hari kedua setelah serangan, Yamada yang hanya ingin tidur siang di bawah pohon ek, resmi mendapatkan seorang rival berambut merah yang akan membangunkannya jam 7 pagi setiap hari dengan roti, sebuah rutinitas baru yang sangat, sangat merepotkan.
[Quest: Defeat Rival - Complete]
[New Quest: Train Rival - Leon Agnis - Persistence is high, teach him not to be predictable.]
[Combat Analysis proficiency increased: Lv.1 -> Lv.2]