“Jadi ini wanita yang akan menjadi istri ku?” Suara nya rendah penuh cemooh. “Ayah benar benar berhasil menemukan wanita yang paling membosankan untuk ku”
Dreven Orsley Dastan, pewaris keluarga Dastan, dikenal sebagai pria kasar, pengacau, sekaligus cassanova yang tak pernah serius pada wanita mana pun. Namun, sebuah kecelakaan membuatnya harus duduk di kursi roda—tanpa sedikit pun mengubah sifat liarnya.
Sampai akhirnya, sang ayah menjodohkannya dengan Elnara Sevana, gadis dingin dan cerdik yang terkenal mampu membungkam siapa pun dengan tatapan dan kata-katanya. Ia bukan wanita yang mudah dipermainkan. Setiap serangan lawan selalu dipatahkan sebelum sempat menjadi ancaman.
Elara diminta untuk melahirkan pewaris untuk keluarga Dastan , dan sebagai gantinya Saham perusahaan.
Elara terkekeh sinis, "Sepertinya tidak adil. Bagaimana jika kesepakatannya begini. Aku rubah putramu menjadi anak anjing penurut dan hadiahnya adalah perceraian untukku. Ini terdengar menguntungkan bagiku"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Suara pintu kayu yang diukir dengan megah terbuka sangat lebar begitu Elara akan masuk.
Bahkan tuan Ratore yang terbiasa memandang siapapun dengan angkuh sekarang langsung membungkukkan badan begitu melihat Elara sudah berdiri di depan pintu. Hal itu membuat para pelayan ikut membungkuk meskipun masih bingung dengan status Elara sampai-sampai tuan besar mereka membungkuk pada seorang wanita muda.
"Silahkan masuk, Nona. Maafkan saya yang tak menyambut anda dengan baik."
Elara tersenyum tipis, melangkah masuk dengan anggun seolah sudah terbiasa menerima penghormatan semacam itu.
"Tak masalah, Tuan Ratore. Aku juga datang tanpa pemberitahuan," jawabnya santai, tatapannya menyapu interior mansion mewah itu.
Ratore segera mengisyaratkan para pelayan untuk membawa teh terbaik mereka, sementara dia sendiri mengundang Elara untuk duduk di ruang pertemuan pribadi.
"Nona, saya tidak menyangka Anda akan datang secara langsung. Jika saya tahu, tentu saya tidak akan berani menolak," katanya dengan nada penuh kehormatan.
Elara menyesap teh yang baru saja disajikan sebelum menatap pria itu dengan dingin. "Kalau begitu, aku ingin tahu... kenapa proyek Dastan bisa jatuh ke tangan orang lain? Apa yang mereka tawarkan sehingga kau berani menolak keluarga yang selama ini berdiri di belakangmu?"
Ratore menelan ludah, jelas tak menduga Elara akan langsung ke inti permasalahan.
"Tentu bukan karena keinginan saya sendiri, Nona…"
Elara menyandarkan tubuhnya ke kursi, menunggu jawaban yang lebih memuaskan.
"Tapi… Kenapa anda mengurus urusan Dastan? Apakah anda benar-benar menjadi menantu keluarga itu?"
Elara tersenyum tipis mendengar pertanyaan itu, "Apakah sekarang kau menjawab pertanyaanku dengan sebuah pertanyaan?"
Ratore terkekeh pelan, menyadari kesalahannya. "Tentu tidak, Nona. Saya hanya terkejut. Dastan dan keluarga Anda... selama ini tidak pernah benar-benar berkaitan."
Elara menyesap tehnya lagi sebelum meletakkan cangkirnya dengan tenang. "Aku bertanya, tuan Ratore. Apa yang mereka tawarkan?"
Pria itu menghela napas, lalu akhirnya mengaku, "Seseorang dari Grup Valmont datang dengan tawaran yang lebih besar. Mereka menjamin keuntungan dua kali lipat dari yang Dastan bisa berikan."
Elara menyipitkan matanya. "Valmont?"
Ratore mengangguk. "Gustav Valmont secara pribadi yang datang."
Mendengar nama itu, Elara tersenyum kecil—tapi bukan senyum yang ramah.
"Ah...begitu," katanya sambil mengambil sebuah plakat lain, "Bisa berikan plakatku sebelumnya?"
Tuan Ratore dengan cepat memberikan plakat itu dengan sangat sopan, lalu Elara mengambilnya dan mengganti dengan plakat dari perusahaan arsitektur dan desain interior miliknya yang telah berkembang pesat.
"P-plakat ini..."
"Ini adalah plakat perusahaan Aurum Design. Dengan plakat ini semua proyek arsitektur dan desainmu akan mendapatkan prioritas dari tim terbaikku. Asal kau memberikan keluarga Dastan proyek kembali ke Dreven, aku akan memberikan keuntungan ini selama satu tahun."
Tuan Ratore terdiam, menatap plakat di tangannya dengan ekspresi tak percaya. Aurum Design—perusahaan yang dalam beberapa tahun terakhir telah mendominasi industri desain interior dan arsitektur di beberapa negara, tanpa ada yang mengetahui siapa pemilik sebenarnya.
Dia menelan ludah. "N-Nona... ini tawaran yang sangat menggiiarkan."
Elara menyilangkan kakinya dengan santai. "Lebih menggiiarkan daripada janji Valmont, bukan?"
Ratore langsung mengangguk. "Tentu saja. Jika saya bisa mendapat keuntungan ini selama setahun, maka tak ada alasan bagi saya untuk tetap bekerja sama dengan Valmont."
Elara tersenyum tipis. "Bagus."
Tuan Ratore langsung berdiri dan memberi hormat. "Saya akan segera menyiapkan dokumen untuk mengembalikan proyek kepada tuan Dreven."
Elara bangkit dari duduknya, merapikan mantelnya. "Aku akan menunggu kabar baik darimu. Dan ingat rahasiatan pertemuan kita pada siapapun. Bahkan saat kita bertemu anggap saja kau tak pernah mengenalku."
Dengan itu, dia melangkah keluar dari kediaman Ratore dengan anggun, meninggalkan pria itu yang masih terpukau dengan apa yang baru saja terjadi.
---
"Tuan! Proyek kembali!" Suara Tony yang begitu semangat tak terlalu didengarkan oleh Dreven.
Sudah hampir tiga hari ini dia tak tidur atau bahkan berselera makan sedikitpun, mata yang merah dan kantung mata yang menghitam menjelaskan betapa stresnya dia saat ini. Dari kursi rodanya, Dreven yang tengah duduk di belakang meja besar hanya mengusap wajahnya dengan kasar.
"Apa katamu?" Suaranya serak, penuh kelelahan.
"Proyek kembali, Tuan! Ratore memutus kontrak dengan Valmont dan menyerahkan kembali proyek itu pada kita!"
Mata Dreven yang semula redup perlahan menunjukkan ketajamannya. Dia menatap Tony, mencoba memastikan bahwa ini bukan sekadar halusinasi akibat kurang tidur. "Kau yakin?"
Tony mengangguk cepat. "Dokumen resmi sudah dikirim ke kantor hari ini. Kita hanya perlu menandatangani kontrak ulang!"
Dreven bersandar ke kursinya, menghela napas panjang. Ini seperti beban berat yang akhirnya terangkat dari pundaknya. "Tapi kenapa mereka tiba-tiba berubah pikiran?"
Tony menggeleng, "Saya belum menyelidikinya tuan, tapi bukankah ini bagus?"
Dreven mengangguk mengerti, "Tapi tetap selidiki, aku tak ingin ini hanya jebakan."
"Baik, saya akan segera memberikan kabar jika menemukan petunjuk. Tapi anda ingin kemana?" Tanya Tony saat melihat Dreven menggerakkan kursi rodanya sepertinya akan pergi.
"Pulang," jawabnya dengan dingin.
"Anda tak ingin beristirahat saja disini? Anda tidak tidur berhari-hari, akan berbahaya jika anda mengemudi sendiri."
Dreven menatap Tony dengan tajam, seolah tidak ingin ada perdebatan lebih lanjut. "Aku bilang, aku pulang."
Tony hanya bisa menghela napas dan mengangguk. "Baiklah, kalau begitu biarkan supir yang mengantar—"
"Aku akan menyetir sendiri."
Tak ada gunanya berdebat lebih lanjut. Tony akhirnya hanya membungkuk dan membuka pintu untuk tuannya, membantu Dreven masuk ke dalam mobil yang telah dimodifikasi khusus untuknya.
---
Saat Dreven tiba di mansion, waktu sudah hampir tengah malam. Lampu-lampu di beberapa sudut rumah masih menyala, menandakan ada orang yang masih terjaga.
Begitu kursi rodanya masuk, seorang pelayan yang berjaga langsung menyambut. "Selamat datang, Tuan. Nyonya masih di ruang baca."
Dreven mengangguk tanpa menjawab, lalu menggerakkan kursi rodanya menuju ruang baca. Pergerakannya terhenti sejenak di depan pintu yang setengah terbuka.
Di dalam, Elara duduk santai di sofa dengan secangkir teh di tangan. Matanya fokus pada sebuah buku, ekspresinya tenang seolah tak peduli pada dunia luar.
Dreven menghentikan kursi rodanya di ambang pintu, menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, lalu bersuara dengan nada datar.
"Kau yang melakukannya, kan?"
Bersambung..
karaktermu ini duduk di kursi roda loh. kurang-kurangi memakai kalimat yang merepresentasikan bahwa dia bisa berjalan dong. biar ga cacat logika./Frown/