Indonesia
NovelToon NovelToon
Enemy To Lovers: Tersangkut Cinta Musuh Bebuyutan

Enemy To Lovers: Tersangkut Cinta Musuh Bebuyutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Idola sekolah / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: theonlywaaannn_

Kiara cuma punya satu impian di sekolah barunya: lulus dengan tenang tanpa drama.

​Sayangnya, takdir malah melemparnya tepat ke lingkaran kehidupan Khafi Mahendra—cowok paling jahil, menyebalkan, dan susah ditebak di SMA Cahaya Permata.

​Dua kepala batu. Dua pendirian kuat. Satu hubungan tanpa komitmen yang dipenuhi provokasi. Ketika benci menjadi satu-satunya bahasa yang mereka pahami, seberapa jauh mereka bisa saling menghindar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon theonlywaaannn_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 : Efek Perut yang Sakit, Kok Otak Lo yang Nggak Beres?

   ​Pagi itu, kelas XI IPS 2 yang biasanya ricuh mendadak heboh dua kali lipat begitu pintu kelas terbuka. Sosok Khafi—dengan seragam putih yang dimasukkan rapi ke celana abu-abu dan tas yang tegantung di satu bahu—berjalan masuk. Meskipun wajahnya masih sedikit pucat, gaya jalannya tetap sok cool seolah tidak pernah terjadi tragedi di toilet selama dua hari.

​Prok! Prok! Prok!

​Ferdi yang berdiri di atas kursi guru langsung memimpin tepuk tangan heboh, disusul Kevin yang memukul-mukul meja menggunakan tempat pensil.

​"SELAMAT DATANG KEMBALI, SANG LEGENDA SEBLAK LEVEL LIMA!" teriak Ferdi lantang menggunakan gulungan buku sebagai mikrofon. "KITA SAMBUT, KHAFI MAHENDRA! MANUSIA DENGAN USUS BAJA PALA BATU!"

​"Hormat grak!" sahut Kevin sambil membungkuk dramatis ke arah Khafi.

​Anak-anak sekelas langsung meledak dalam tawa. Neona sampai tertawa menepuk-nepuk mejanya, sementara Rian cuma bisa menggeleng-gelengkan kepala.

​Khafi menghentikan langkahnya di tengah kelas, mendengus pelan sambil membuang muka demi menutupi rasa malunya. "Bacot lo pada. Diem nggak? Gue lempar penghapus papan tulis ini muka lo pada hilang." ucapnya seraya memegang penghapus papan tulis dengan gesture seolah akan melempar.

​"Elah, Khaf, jagoan kita udah sehat nih!" ledek Pandu yang duduk santai di bangkunya, merentangkan tangan seolah mau memeluk Khafi. "Udah berapa kali bolak-balik toilet tadi pagi, Sultan?"

​"Satu kali lagi lo nanya, ban motor lo gue kempesin," ancam Khafi santai lalu melangkah menuju bangkunya di belakang Pandu.

​Dari mejanya di barisan tengah, Kiara menopang dagu menatap Khafi yang sibuk melayani ledekan anak-anak cowok. Senyum kecil yang tersembunyi sempat muncul di bibir Kiara—ada rasa lega melihat cowok itu sudah bisa masuk sekolah lagi.

​Neona yang menyadari tatapan Kiara menyenggol lengannya pakai siku. "Ehem... yang lega musuhnya udah masuk sekolah, senyumnya ditahan dong, Kia, melar tuh pipi!"

​"Apaan sih Ona! Siapa juga yang senyum!" elak Kiara cepat, langsung menegakkan badannya dan membuang muka ke arah papan tulis.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

    ​Saat bel istirahat pertama berbunyi, kelas perlahan mulai sepi karena anak-anak berhamburan ke kantin. Tinggal tersisa Geng Anak Pojok dan Kiara di dalam kelas.

​Kiara yang ingat membawa helm milik Khafi yang dipinjamnya semalam, melangkah menghampiri meja Khafi. Di tangannya, tas kain berisi helm hitam milik Khafi terangkat.

​"Nih, Khafi. Helm lo," kata Kiara menyodorkan tas kain itu ke meja Khafi. "Makasih udah dipinjemin semalam."

​Khafi yang sedang sibuk memainkan ponselnya menoleh. Matanya menatap tas helm itu, lalu beralih menatap wajah Kiara.

​Sebelum Khafi sempat menjawab, Ferdi yang sedang memainkan ponselnya langsung membelalakkan mata heboh.

​"EHEM! BENTAR, BENTAR!" potong Ferdi memajukan badannya. "Ini ada acara serah terima benda bersejarah tapi kok flat banget?! Nggak ada adegan tatap-tatapan tiga detik gitu? Nggak ada musik slowmo-nya?!"

​"Iya nih! Kurang romantis, Kia! Ulangi dong, harusnya lo pasrahin helmnya sambil bilang 'Jangan sakit lagi ya, Khafi-ku'," tambah Kevin sambil menirukan suara cewek dibuat-buat, langsung dihadiahi tawa ngakak dari Pandu.

​"Diem ya kalian bertiga!" semprot Kiara dengan muka yang mulai memerah akibat godaan mereka. "Gue lempar botol nih!"

​Khafi melirik ketiga temannya dengan tatapan tajam yang bikin mereka pura-pura sibuk melihat langit-langit kelas. Lalu, Khafi meraih tas helm dari tangan Kiara.

​Bukannya langsung mengambilnya secara biasa, dengan jahil, jari-jari Khafi sengaja menyentuh buku-buku jari Kiara selama beberapa detik, membuat Kiara refleks membeku di tempat.

​Khafi memajukan sedikit badannya, lalu berbisik pelan dengan suara berat khasnya yang cuma bisa didengar oleh Kiara.

​"Makasih udah mau balikin helmnya..." Khafi jeda sejenak, menyunggingkan senyum tipis yang bikin jantung Kiara mendadak maraton. "...lain kali kalau mau pinjam yang punya helmnya sekalian juga boleh kok, Ara."

​Deg!

​Wajah Kiara seketika terbakar. Merah padam sampai ke ujung telinganya.

​"G-GAK JELAS LO KHAFI!" cetus Kiara gagap salah tingkah, buru-buru menarik tangannya dan berbalik cepat melangkah keluar kelas meninggalkan tempat itu.

​Di belakangnya, gelak tawa Ferdi, Kevin, dan Pandu kembali meledak heboh melihat Kiara yang kabur dengan wajah merah, sementara Khafi cuma menyeringai puas memegangi helmnya

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

    Kiara melangkah cepat, hampir seperti berlari, menuju koridor yang lebih sepi. Napasnya memburu, bukan karena lelah, tapi karena jantungnya sedang melakukan maraton di dalam dada. Ia terus mengelus dadanya yang terasa berdegup terlalu kencang.

​Gila. Gila. Gila.

​"Woi, Kia! Lo kenapa sih lari-lari kayak dikejar penagih utang?"

​Suara Neona menghentikan langkah Kiara. Teman sebangkunya itu muncul dari arah perpustakaan dengan wajah bingung.

​Kiara berhenti, berusaha mengatur napasnya agar tidak kelihatan seaneh itu. "Eh, Ona... nggak, gue... gue cuma pengen ke kamar mandi aja."

​Neona menyipitkan mata, menatap Kiara dari ujung kaki sampai ujung kepala. Ia kemudian tertawa kecil, menyenggol bahu Kiara dengan sikutnya. "Bohong. Muka lo merah banget, Kia. Habis diapain sama si Khafi itu? Tadi pas mau ke perpus gue lihat dari jauh lo ngobrol sama gengnya si Khafi, terus tiba-tiba sekarang lo lari."

​"Nggak diapa-apain! Dia cuma ngomong... ya, cuma omong kosong khas cowok gila aja," elak Kiara berusaha bersikap natural, meski telinganya masih terasa panas.

​"Omong kosong yang bikin lo salting sampai telinga lo merah gitu?" goda Neona. "Udah lah, ngaku aja. Lo lagi ada 'sesuatu' kan sama Khafi? Curiga banget, sekarang bisik-bisik di kelas. Hati-hati, Kia, nanti kena 'serangan jantung' beneran loh."

​Kiara cuma bisa memutar bola matanya malas, meski dalam hati ia membenarkan omongan Neona. Ia pun segera menarik lengan Neona untuk pergi ke kantin sebelum pertanyaan-pertanyaan makin meluas.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

    ​Di dalam kelas, suasana justru makin berisik. Khafi yang masih duduk di bangkunya dikepung oleh Ferdi, Kevin, dan Pandu.

​"Gila, Gila, Gila!" Ferdi memukul-mukul meja dengan heboh. "Suhu! Ajarin gue! Itu tadi bisik-bisik apa? Kok si Kia langsung kabur kayak disambar petir? Lo pake jurus pelet apa, Khaf?"

​Khafi tidak langsung menjawab. Ia sengaja memakai helm hitamnya—yang tadi dikembalikan Kiara—lalu meletakkannya kembali ke atas meja dengan gerakan santai. Ia tersenyum tipis, senyum kemenangan yang membuat teman-temannya semakin penasaran.

​"Rahasia dapur," jawab Khafi singkat sambil mengambil ponselnya.

​"Sialan, pelit banget lo!" Kevin menimpuk Khafi dengan jaketnya yang dijadikan bantal. "Gue perhatiin ya, tatapan mata lo pas tadi itu udah beda. Bukan tatapan 'lo musuh gue', tapi tatapan 'lo punya gue'. Merinding gue liatnya!"

​"Ya emang mau gue jadiin pacar, masalah buat lo?" tantang Khafi dengan nada bercanda, namun sorot matanya terlihat serius.

​"Anjay! Akhirnya keluar juga dari mulutnya!" Pandu bersiul nyaring. "Tapi ingat, Khaf, perut lo belum sembuh total. Jangan sok gagah dulu. Nanti kalau lo lagi nge-date terus lo mencret di tengah jalan, tamat riwayat keromantisan lo."

​"Bacot lo, Ndu!" Khafi melempar botol air mineralnya ke arah Pandu yang langsung tertawa ngakak sembari menghindar.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

    ​Jam istirahat kedua di kantin selalu menjadi medan perang bagi siswa-siswi. Suara bising penjual yang sedang masak, desingan kipas angin plafon yang berputar lambat, dan bau gorengan memenuhi ruangan.

​Kiara dan Neona baru saja mendapat meja kosong di pojokan. Baru saja Kiara akan menyuapkan sesendok nasi goreng, tiba-tiba sebuah kursi ditarik tepat di sampingnya.

​"Ramai banget, penuh semua. Gabung sini ya?"

​Kiara mendongak. Di sana, Khafi berdiri dengan gaya sok santai, diikuti oleh tiga sahabatnya yang sudah membawa mangkuk masing-masing.

​"Eh, kursi lo kan banyak di sana, kenapa harus di sini?" tanya Kiara, padahal dalam hati ia malah merasa... senang? Ah, sudahlah.

​"Kaki gue masih lemes, kalau duduk di sana nanti malah nabrak orang yang lewat," jawab Khafi enteng. Ia duduk tepat di samping Kiara, aromanya—perpaduan maskulin dan minyak kayu putih yang samar—langsung tercium oleh Kiara.

​"Lelet banget alesan lo, Khaf," cibir Ferdi yang duduk di seberang mereka.

​Khafi tidak menanggapi. Ia menatap mangkuk bakso di depannya dengan tatapan waspada, lalu menatap Kiara. "Ara, ini baksonya pakai sambal nggak ya?"

​Kiara menoleh, menatap Khafi yang sekarang terlihat agak cemas dengan makanan pedas. "Ya mana gue tahu. Tapi kalau lo mau aman, mending lo pesan susu kotak aja deh sana. Nanti kalau sakit lagi, Tante Siska beneran kunciin lo di kamar mandi selamanya."

​Teman-temannya yang mendengar itu sontak tertawa lepas.

​"Dengerin tuh, Khaf! Saran dari orang terkasih!" ledek Kevin.

​Khafi malah menatap Kiara dengan tatapan teduh, tidak memedulikan ledekan teman-temannya. "Ya udah, temenin gue ke warung Bu Indah buat beli susu. Gue takut sendirian, nanti ada yang naruh sambel di bakso gue."

​"Dih, manja banget!"

​Meski mulutnya protes, Kiara tetap berdiri dari kursi. Khafi pun ikut berdiri, berjalan selangkah di samping Kiara menuju kasir. Di tengah hiruk-pikuk kantin yang penuh sesak, entah kenapa bagi Kiara dunia seakan melambat.

​"Besok-besok," bisik Khafi saat mereka sedang menunggu antrean, "kalau lo mau ngetawain gue lagi gara-gara seblak, ketawain aja di depan muka gue. Jangan di chat. Gue lebih suka lihat ekspresi lo pas ngetawain gue secara langsung."

​Kiara berhenti melangkah, menatap Khafi yang kini menunduk untuk menatap matanya. "Kenapa?"

​Khafi tersenyum—kali ini senyum yang tulus, bukan senyum jahil. "Karena pas lo ketawa, menurut gue itu hal paling cantik yang gue liat hari ini."

​Boom.

​Kiara merasa jantungnya benar-benar berhenti berdetak. Ia terdiam kaku di depan etalase kantin, sementara Khafi dengan santainya memesan dua kotak susu cokelat, seolah baru saja mengatakan hal yang biasa-biasa saja.

"Najis ih, dangdut banget sih dari tadi, geli gue dengernya. Perut lo yang sakit kenapa jadi otak lo yang nggak beres!" kilah Kiara seraya menggeplak bahu tinggi Khafi, sedangkan Khafi hanya meringis disertai tertawa.

​Dasar Khafi Mahendra. Kiara mendesah pelan, tapi sudut bibirnya justru terangkat naik. Sepertinya, hari ini dia resmi kalah telak oleh cowok yang kemarin dia anggap sebagai musuh bebuyutan itu..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!