Zhafira Nayara Humaira, gadis berparas cantik, namun yatim piatu. Memiliki kepribadian lembut, ramah dan tegas dalam bersikap. Kini sedang berkuliah lewat jalur beasiswa.
Tak sedikit Mahasiswa yang ingin menjadikan pacar tapi selalu ia tolak secara halus, karena ia tak ingin fokusnya terganggu. Hingga ia menerima Bryan, pria yang selalu ada untuknya. Mereka memutuskan untuk menikah siri dan tinggal di aparteman yang sama.
Setelah wisuda selesai, Bryan izin pulang ke Jakarta, Zhafira sering mual dan muntah. Di tengah ketidaknyamanan, Zhafira tak sengaja menyaksikan siaran langsung di TV. Brian, suaminya sedang melangsungkan pertunangan dengan wanita cantik, elegan.
Seketika dadanya seperti tertusuk jarum besar, perih dan menyakitkan. Bersamaan itu ia baru saja mengetahui kalau dirinya sedang hamil.
Bagaimana ia menghadapi kenyataan pahit itu? Mampukah ia bertahan demi nyawa yang dikandungnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 BENTUK APRESIASI
SELAMAT MEMBACA !!!
Sesampainya di depan Butiknya, Fira dan Amara turun dari mobil, lalu melangkah menuju pintu Butik.
"Selamat pagi!" sara Fira yang masuk duluan.
"Selamat pagi, Dek. Ini Ibunya yang dari tadi marah-marah, Dek!" seru Rubi menghampiri Fira dan Amara yang baru masuk ke dalam Butik.
Fira menganggukan kepalanya, berusaha untuk tersenyum. "Ada yang bisa saya bantu?" tanya Fira dengan lembut.
Ibu menelisik Fira dari kaki sampai rambut dan tersenyum sinis, "Dalam hatinya berkata hanya gadis kemarin sore rupanya."
"Saya mau komplen dengan Butik ini. Kemarin saya beli baju di sini, saya minta yang baru tapi ternyata sampai rumah saya buka tak sesuai dengan contoh yang dipajang di gantungan. Lihat bajunya tak sesuai!" serunya agak sedikit berteriak, membuat para pengunjung lainnya ikut berkumpul.
Fira yang melihat baju yang ditunjukan oleh Ibu itu tersenyum, "Kak Rubi bawalah contoh baju yang dipajang itu!" perintah Fira kepada sang asisten.
Rubi yang diperintah Fira mengambil baju yang dibuat contoh dan menyodorkannya pada Fira, "Ini, Dek," ujarnya.
Fira mengambil baju itu, "Apa, Ibu tau? Dimana perbedaan baju yang Ibu bawa dengan baju yang saya buat?" tanya Fira menatap ke arah Ibu itu.
Ibu tak mau kalah, segera menjawabnya dengan lantang. "Pokoknya tak sama dengan contohnya."
"Berarti kalau hanya bentuk tak sama, seharusnya Ibu tau dong? Apa yang membedakan baju khas buatan Butik ini dan buatan Butik lain?" Fira kali ini menatap tajam Ibu itu.
Ia melanjutkan ucapannya lagi, "Apa di sini para pengunjung tau apa perbedaan baju yang di Butik Kembar dengan Butik lainnya? Jika ada yang bisa menjawab dan jawaban itu benar akan saya kasih hadiah?"
Para pengunjung saling berbisik dengan yang lainnya, tapi ada satu Ibu yang terlihat Ibu sosialita banget, ia juga sebagai pelanggan Butik Kembar.
"Saya yang akan menjawabnya, Nona. Jika Ibu ini komplen dengan baju yang dibelinya kemarin, dan mengatakan modelnya tak sama dengan yang dipajang itu memang benar," ucap Ibu itu menjeda ucapannya.
Ibu yang komplen tadi senyum cerah, merasa di atas angin karena komplennya akan membuat pelanggan Butik Kembar akan pergi dan Butik Kembar akan sepi.
"Tapi ada yang membuat saya janggal dengan baju yang dibawa Ibu ini. Perhatian warnanya sama dengan yang dipajang, kalau kalian pelanggan setia Butik Kembar pasti langsung tau dimana letak perbedaannya.
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkannya lagi dengan penuh keyakinan.
"Saya yakin baju yang dibawa Ibunya ini bukan berasal dari Butik Kembar. Saya itu orangnya sangat teliti jika membeli baju, dan yang paling aku suka dari Butik ini adalah desainnya unik serta ada ciri khas di dalam bajunya selalu ada, jahitan asli berlogo nama Butik Kembar, bukan sekedar sablonan.
Deg jantung Ibu itu berdebar dengan kencang, ia ceroboh kenapa tak melihat detail dari baju yang ia bawa tadi.
Ibu yang menjawab tadi mengulurkan tangannya meminta baju yang dibawa Ibu itu untuk diperiksanya. Tapi baju itu tak kunjung diberikannya.
"Ayo, Bu. Berikan kepada saya, biar saya yang kasih paham, walaupun sebenarnya saya tak mau ikut campur, tapi melihat ketidakadilan di depan mata saya, tak mungkin kan harus menutup mata!" pintanya lagi.
Karena sudah terlanjur membuat masalah, Ibu itu memberikan baju yang dibawanya.
Ibu yang berani membela Fira lagi langsung membalikan bajunya dan traaattaa...kosong dibagian bawahnya.
"Lihatlah Ibu-ibu, coba perhatikan baju ini! Benar sih yang dikatakan Ibunya. Kalau bajunya tak sama dengan baju yang dipajang di Butik ini. Tapi jangan marahnya ke Butik ini, Bu," ucapnya dengan tatapan tajam, ia tak suka ada orang yang suka mencari masalah.
Ia melanjutkan ucapannya lagi, "Ini baju milik Butik lain, bukan kesalahan Butik ini atau karyawan yang salah mengambilkan bajunya, Bu. Anda bisa dituntut dengan pasal pencemaran nama baik, Bu!" serunya lagi.
Ibu itu langsung pergi sudah kepalang malu dengan semua orang yang ada di Butik itu.
"Huu...huuu malukan!! Makanya jangan suka cari masalah!" sorak semua orang yang ada di dalam Butik kepada Ibu itu.
"Terima kasih sudah mau membela kami, Bu. Seperti yang saya ucapkan tadi, Ibu boleh mengambil baju satu sebagai hadiahnya. Itu pun bebas mau ambil baju yang mana!" seru Fira dengan tersenyum ramah.
Prok! Prok! Prok
Tepuk tangan menggema di Butik itu, semua orang semakin kagum dengan kepribadian Fira, tanpa mempermasalahkan harga, ia menepati janjinya tadi.
"Wah benarkah, Nyonya?! Saya boleh mengambil baju apa saja?!" serunya tak bisa menyembunyikan kegembiraan, matanya berbinar cerah.
Meskipun sebenarnya dia sanggup membelinya sendiri. Tapi siapa yang tak senang diberi hadiah gratis, apalagi baju yang begitu cantik dan berkualitas? Tak ada yang mau menyia-nyiakannya kesempatan ini.
Fira tersenyum menganggukan kepalanya, "Iya, silahkan, Nyonya. Silahkan ambil satu baju untuk hadiahnya," jawab Fira dengan lembut.
Fira menoleh kebagian kasir. "Kak Lusi, tolong baju yang diambil Ibunya ini, nanti diberikan gratis ya," ujarnya sambil pamit kembali ke ruangannya.
Begitu masuk, ia bisa bernafas lega, karena permasalahannya bisa di atasi, tapi ia harus kehilangan satu bajunya sebagai apresiasi kepada orang yang berani membuktikan kebenaran.
"Kamu ini, Dek. Apa tak sayang, dengan satu bajumu. Ibunya tadi tentu akan memilih baju yang paling mahal!" seru Amara dengan sedikit tak rela kehilangan bajunya Fira.
Fira tersenyum melihat wajah Amara yang masih tampak tak rela, ia menggenggam tangan Amara untuk menenangkannya.
"Sudah, Kak... Iklaskan saja. Itu bentuk apresiasiku kepada Ibunya. Biar suatu saat nanti, jika ada yang membuat masalah lagi, banyak orang yang akan bersedia untuk mengungkap kebenarannya."
Fira tersenyum, menatap wajah Amara denga penuh keyakinan. "Tenang saja, Kak, nanti aku akan desain baju yang lebih unik dan indah lagi. Mumpung aku lagi banyak ide, Kak. Ikhlas hanya satu baju saja, Kak hehehe!" seru Fira dengan semangat sambil menenangkan hati kakaknya itu.
Rubi yang berada di tengah-tengah mereka jadi tersenyum sendiri, yang satu penuh keikhlasan memberikan baju untuk apresiasinya kepada orang yang telah mengungkapkan kebenarannya. Yang satu lagi tak rela jika orang tadi disuruh memilih sesuka hatinya tentu dia akan memilih yang paling bagus.
"Kak Rubi, tolong gambar ini serahkan ke penjahit, tolong diusahakan dua hari sudah jadi ya!" perintah Fira sambil menyodorkan selembar kertas desain baju princessnya Calista.
Rubi mengangguk, lalu ia mengambil kertas itu kemudian izin keluar dari ruangan Fira.
Fira langsung fokus ke kertas yang sudah diambilnya tadi, ia menuangkan idenya ke dalam desain baju yang akan ia jual di Butiknya.
☆☆☆♡♡♡☆☆☆
Seminggu telah berlalu, Fira, Amara dan Haikal bersiap untuk menghadiri acara pesta ulang tahunnya Calista.
Haikal sendiri mendapat undangan resmi dari kliennya Tuan Fernando, Papanya Calista.
"Ayo, kita berangkat! Takut acaranya keburu di mulai!" ajak Haikal kepada kedua wanita yang di sayanginya dengan porsi yang berbeda.
Mereka naik mobil yang dikendarai Haikal sendiri. Tiga puluh menit kemudian mobil Haikal sudah sampai di depan rumah yang megah milik Tuan Fernando. Mobilnya Haikal diminta oleh sopir untuk di parkirkan ke tempat yang sudah di sediakan oleh Tuan Fernando.
Calista yang melihat kedatangannya Fira dan Amanda, ia berlari menghampirinya.
"Aunty Fira, Aunty Amara!" teriaknya, sebagian orang yang mendengar teriakannya Calista menoleh ke arah tujuan Calista.
"Sayang, jangan berlari!" tegur Fira dengan pelan.
Calista yang mendengar teguran Fira, langsung berhenti dan berjalan pelan menghampiri mereka.
"Aunty Fira, kedua adik bayi bagaimana kabarnya?" tanyanya sambil memegang perutnya Fira yang bergerak-gerak.
"Hore...hore adiknya bergerak-gerak!" serunya lagi, di belakang Calista datanglah Nyonya Celine dan Tuan Fernando.
"Maafkan putri saya, Tuan Haikal, Nyonya Amara dan..."
"Fira, Pa. Panggil Fira beliau adiknya Tuan Haikal!" seru Nyonya Celine kepada suaminya.
"Maafkan putri saya yang lancang memegang perutnya Nyonya Fira!" ucap tulus Tuan Fernando merasa tak enak dengan kelancangan putri satu-satunya itu.
Haikal tersenyum, "Tak perlu minta maaf, Tuan Fernando. Adik saya ini memang menyukai anak kecil jadi wajar saja kalau Nona Calista menyukai adik saya," jawab Haikal.
"Aunty, ayo aku kenalkan kepada teman-temanku!" ajak Calista sambil menggandeng tangannya Fira dan Amara menuju ke arah teman-temannya Calista.